wajar aje bang, namanye jg mayoritas, ngapain pulak cr pemimpin dr kalangan 
minoritas. Haknya mayoritas donk :)
lagean klo emang minoritas bs naek ke tampuk pimpinan dg mekanisme yg diatur 
uu, knp engga? tp apa bisaa ya..
Mending ente 'ngaca' dlu ke PAPUA, di sono konon 23% penduduknya muslim (mnurut 
wikipedia), 40% mnurut artikel hidayatullah, hanya 2 kabupaten yg pimpinannya 
muslim bahkan di kantong2 muslim spt babo & bintuni msh dipimpin oleh 
non-muslim.

baca deh ni artikel..


Islam Atau Kristen Agama Orang  Papua?

Adatiga kesalahan orang memandang Papua. Pertama,  Papua identik dengan koteka, 
Kedua, hanya orang-orang primitiv dan Ketiga, Identik dengan Kristen. Padahal, 
itu keliru [bagian pertama


Hidayatullah.com--Untuk
poin pertama dan kedua, fakta itu boleh jadi benar, bahwa di
kawasan-kawasan tertentu di pedalaman bumi cenderawasih ini, hingga
hari ini masih diketemukan masyarakat dengan pola hidup primitif,
sebagian masih mengenakan koteka, serta menjalani hidup secara kanibal. 
Hal itu terjadi karena beberapa faktor, seperti  terbatasnya
akses informasi—atau bahkan ketiadaan informasi yang mereka
terima--serta luasnya kawasan tersebut yang hampir 4 kali luas pulau
Jawa. Bahkan, Papua, termasuk pulau terbesar kedua di dunia setelah
Greenland di Denmark. Maka wajar bila fakta-fakta seperti koteka dan
kehidupan primitif masih ditemui di Papua.
Namun
tentu saja hal itu tidak semuanya, mengingat sebagian dari mereka,
kini, sudah terbiasa dengan pola kehidupan maju dan melek teknologi,
utamanya mereka yang tinggal di kawasan perkotaan dan hidup di daerah
pantai, baik penduduk asli maupun perantau dari luar Papua.
Fakta
lain yang selama ini terselimuti kabut tebal adalah perihal komunitas
Muslim di kawasan ini. Selama ini pula, banyak orang yang
bertanya-tanya, adakah orang Islam di Papua? Adakah komunitas pribumi
(penduduk asli Papua) yang memeluk Islam sebagai agama mereka?
Ironisnya, belum lagi pertanyaan itu terjawab, seolah ada ungkapan
pembenaran bahwa: Papua identik dengan Kristen. Atau dengan bahasa yang
lebih lugas lagi: setiap orang Papua ya mesti Kristen.
Tentu
saja statemen seperti ini membawa dampak negative yang kurang
menguntungkan bagi pertumbuhan dan dakwah Islam di kawasan yang masih
menyimpan hasil kekayaan alam yang sangat melimpah ruah ini.
Bahkan
saat ini jumlah komunitas Muslim di Papua sudah mencapai angka 900 ribu
jiwa dari total jumlah penduduk sekitar 2.4 juta jiwa, atau menempati
posisi 40 % dari keseluruhan jumlah penduduk Papua. 60% penduduk
merupakan gabungan pemeluk agama Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan
Animisme.
Namun,
di antara imej yang kurang menguntungkan seperti itu, juga “tekanan
psikologis” suasana serba Kristen, dimana setiap mata memandang begitu
banyak gereja-- sebagai buah dari kerja keras para missionaries, yang
didukung dengan dana yang nyaris tak terbatas, serta ditunjang sarana
teknologi komunikasi dan transportasi canggih, pelan-pelan komunitas
Islam tumbuh dan menyinari bumi cenderawasih yang di lingkungan kaum
muslimin menyebutnya sebagai kawasan Jabal an Nuar.
Ismail
Saul Yenu (67), seorang pendeta sekaligus kepala suku besar di Yapen
Waropen telah masuk Islam dengan diikuti istri dan anaknya. Ismail yang
juga Ketua Benteng Merah Putih pembebasan Irian Barat dan Ketua
Assosiasi Nelayan Seluruh Papua telah menunaikan ibadah haji pada tahun
2002.
Seorang
pendeta di Biak Numfor bernama Romsumbre (Abdurrahman) juga telah masuk
Islam beserta keluarga dan 4 orang anaknya. Wilhelmus Waros Gebse
Kepala suku Marin, Merauke juga telah meninggalkan agama lamanya
Katolik dan memilih masuk Islam bersama Istri dan anak-anakknya. Kini
Wilhelmus sedang merintis sebuah pondok pesantren di kampung halamannya
di Merauke.
Saat
ini, di desa Bolakme, sebuah distrik di Lembah Baliem, seorang pendeta
dan kepala suku bersama 20 orang warganya ingin sekali memeluk Islam.
Berkali-kali
keinginan itu disampaikan ke tokoh masyarakat Muslim, akan tetapi pihak
MUI agaknya sangat berhati-hati dalam menerima mereka. Alasannya, di
samping faktor keamanan, juga pembinaan terhadap mereka setelah itu,
tidak ada. “Inilah tantangan bagi kita. Tidak sedikit penduduk asli
yang ingin masuk Islam, tapi kita kekurangan dai.” tutur H.Burhanuddin
Marzuki, ketua MUI Kabupatern Jayawijaya yang sudah 30 tahun tinggal di
Lembah Baliem.
Berita
yang sempat meramaikan media massa adalah dengan masuk Islamnya “kepala
suku perang” H. Aipon Asso pada tahun 1974.Sebelum itu, seorang tetua
di desa Walesi bernama Marasugun telah lebih dulu masuk Islam setelah
berinteraksi dengan para perantau di kota Wamena yang berasal dari
Bugis-Makassar, Jawa, Madura maupun Padang.
Keislaman
Aipon Asso lalu diikuti oleh 600 orang warganya di desa Walesi. H.
Aipon yang kini sudah berusia 70 tahun menjadi kepala suku yang sangat
di segani di seluruh lembah Baliem. Wilayah kekuasaannya membentang
hampir 2/3 cekungan mangkuk lembah Baliem.
Ia benar-benar sosok kepala suku mujahid yang sangat diperhitungkan di kawasan 
ini.
Bahkan
ketika ia baru pulang dari menunaikan ibadah haji (1985), dengan
mengenakan surban dan baju gamis panjang, secara demonstratif ia turun
ke jalan dan melakukan pawai di pusat kota Wamena sambil mengerahkan
ratusan warganya yang masih mengenakan koteka dan bertelanjang dada.
Teringatlah
kita pada kisah sahabat Nabi Muhammad yakni Umar bin Khattab ketika
akan melakukan hijrah dari Mekah ke Madinah yang tilakukannya tanpa
sembunyi-sembunyi dan tanpa ada rasa takut.
Saat
kerusuhan menimpa Wamena tahun 2000 lalu, sebagian pendatang baik
Muslim maupun Kriten dicekam rasa takut. Tidak terkecuali Muslim
pribumi pun mengalami hal serupa. Untuk meredam situasi, pihak
pemerintah menyelenggarkan pertemuan dengan kepala-kepala suku dan
tokoh-tokoh agama. Dalam pertemuan dengan jajaran pemerintah daerah
tersebut H.Aipon mengusulkan ditempatkannya aparat keamanan secara
permanen di kawasan ini dan itu disetujui.
Di
ibukota provinsi Papua, Jayapura, seperti juga di kota-kota lain
seperti Fak-Fak, Sorong, Wamena, Manukwari, Kaimana, Merauke, Timika,
Biak dan Merauke, suasana keislaman semakin tampak, khususnya di
kalangan pendatang. Selain jumlah rumah ibadah yang semakin bertambah,
kegiatan halaqah juga tumbuh tidak kalah subur. Selain itu,
bila kita jalan-jalan di pusat kota Jayapura tidak sulit kita menemui
Muslimah berjilbab lalu lalang di antara keramaian. Termasuk di kampus
ternama di Papua Universitas Cenderawasih, para wanita berjilbab juga
dengan mudah kita temui.
Penduduk Muslim di kota terdiri dari para pedagang, pagawai, pengusaha, 
pelajar/mahasiswa, guru, atau buruh.
Secara
keseluruhan jumlah komunitas Muslim di Papua mengalami peningkatan yang
cukup pesat, utamanya di kota kabupaten atau provinsi. Dalam catatan
yang dikeluarkan oleh LP3ES, Papua, termasuk dari 7 kantong-kantong
Kristen di seluruh Indonesia yang semakin penyusutan. Sebaiknya jumlah
penduduk Muslim semakin tumbuh.
Sebenarnya potensi Sumber Daya Manusia (SDM) Muslim di Papua tidak kalah banyak 
di banding dengan ummat lain.
Akan
tetapi nampaknya ada semacam perasaan ‘tidak PD” di kalangan mereka
untuk tampil dan terlibat langsung dalam lingkar pemerintahan.
Akibatnya, mereka hanya menjadi penonton, atau—katakanlah-- turut
terlibat, namun ada di ‘wilayah yang tidak menentukan’.
“Ini
tentu saja menjadi PR kita ke depan. Ummat Islam Papua harus menghalau
rasa tidak PD-nya, dan selanjutnya bersama yang lain terlibat langsung
membangun Papua,” tutur Mohammad Abud Musa’ad MSi(42), intelektual
Muslim Papua yang juga anggota tim penyusun UU otonomi khusus Papua.
“Secara
historis, keberadaan ummat Islam sebagai pendatang awal di Tanah Papua,
sudah klir. Dan itu sudah tertuang dalam buku putih yang dikeluarkan
oleh Pemerintah Papua.” jelas Musa’ad yang tinggal di bilangan Abepura,
Jayapuran ini. “Namun yang terpenting, kita harus segera berkarya dan
tidak boleh asyik bernostalgia dengan sejarah,”pesannya pada Muslim
Papua.
Musa’ad
juga menyadari, kendati sejumlah pertemuan tentang kedudukan ummat
Islam di Papua pernah dilakukan, akan tetapi karena tidak adanya
sosialisasi dan tindak lanjut dalam program, semua seolah lenyap tanpa
bekas.
Masih
kata Musa’ad, bahwa peran politik ummat Islam Papua saat ini masih
terlalu kecil, yakni tidak lebih dari 10 %. Kenyataan ini tentu saja
sangat memperihatinkan.
Bahkan
dapat dibayangkan dari 900 ribu jiwa Muslim yang tersebar dalam 29
kabupaten/kota yang ada saat ini, hanya terdapat dua kabupaten yang
dipimpin oleh pejabat Muslim yakni di Fak-Fak dan di Kaimana. Bahkan di
kantong-kantong kabupaten berpenduduk asli mayoritas Muslim seperti
Babo dan Bintuni, misalnya, saat ini dipimpin oleh non-Muslim.
Senada
dengan Musa’ad, menurut DR (desertasi) Toni Vm Wanggai yang juga Ketua
Sekolah Tinggi Agama Islam Yapis Jayapura, bahwa sosialisasi dan
pelurusan sejarah Islam di Papua harus dilakukan terus menerus.
Hal
itu perlu dilakukan agar ummt Islam di Papua mengetahui jati diri
mereka, sekaligus menginformasikan kepada fihak lain yang belum faham,
untuk tidak menganggap kaum Muslimin sebagai ‘tamu di Papua’. Muslim
adalah juga pemilik sah kawasan ini, sehingga mereka memiliki porsi
keterlibatan yang sama untuk membangun Papua. Islam hadir di Papua abad
ke-XV sedang Kristen masuk Papua pertengahan abad ke-XIX (5 Februari
1855).
Kegelisahan
Toni, adalah seiring dengan adanya upaya dari kelompok Kristen yang
ingin menghapuskan jejak Islam di kawasan ini, khusunya di kawasan Raja
Ampat Di mana hama “Raja Ampat” akan dihilangkan dan diganti dengan
nama lain. Padahal, nama Raja Ampat adalah se-monumental sejarah Papua
sendiri.
“Nama
Raja Ampat diambil dari eksistensi kerajaah-kerajaan Islam yang
berkuasa di kawasan Indonesia timur saat itu yakni: Ternate, Tidore,
Jailolo dan Bacan.” tegas Toni yang mengambil desertasinya tentang ‘Rekontruksi 
Sejarah Islam Papua’.
Kendati
masih sebatas wacana yang dipublikasikan di media lokal, namun tak
urung informasi nyeleneh seperti itu membuat gelisah sejumlah tokoh
Muslim.
“Itu
sama dengan bunuh diri.” kata M Shalahuddin Mayalibit, SH, mengomentari
gagasan itu. “ Sekalipun dipublikasikan seribu kali, itu tidak akan
terwujud.” kata dosen Fakultas Hukum di Universitas Cenderawasih ini
menjelaskan.
“
Raja Ampat dan Muslim sudah menjadi satu kesatuan yang sulit
dipisahkan,” tegas cucu Muhammad Aminuddin Arfan, tokoh Muslim dari
kerajaan Salawati yang ditugasi Raja Tidore untuk mengantar CW. Ottow
dan GJ Geissler si bapak Kristen ke Papua.
Seiring
dengan diberlakukannya Undang-Undang nomor 21 tahun 2001 tentang
otonomi khusus, peluang keterlibatan Muslim di pemerintahan semakin
terbuka lebar. (baca: Peluang dan Tantangan di Era Otonomi) Hanyasaja
diperlukan kekompakan dari segenap elememen
Muslim baik para intelaktualnya, ormas Islam, alim ulama, tokoh pemuda, 
mahasiswa dan remaja, pondok-pondok pesantren, dll.
Tanpa
dengan itu mereka akan tetap terpinggirkan, dan bahkan tidak mustahil
akan menjadi ‘kambing hitam politik’ oleh kelompok kepentingan yang
sudah lama ingin menguasai Papua(Kristen). [Ali Atwa. Penulis adalah wartawan 
Majalah Hidayatullah danpenulisbuku  “Islam Atau Kristen Agama Orang Irian 
(Papua)”. Tulisan diambil dari Majalah Hidayatullah]  bersambung...






________________________________
From: mediacare <[EMAIL PROTECTED]>
To: RumahKitaBersama <[EMAIL PROTECTED]>; [email protected]
Sent: Thursday, November 27, 2008 9:13:19 AM
Subject: [ppiindia] Re: [mediacare] Sebagian Guru Agama Islam di Jawa Belum 
Bisa Ajarkan Pluralitas



----- Original Message ----- 
From: Sunny 
To: Undisclosed- Recipient: ; 
Sent: Friday, November 28, 2008 4:14 AM
Subject: [mediacare] Sebagian Guru Agama Islam di Jawa Belum Bisa Ajarkan 
Pluralitas

Refleksi: Dapat dimenegerti masalahnya, karena dikirim Laskar Jihad Sunnah Wal 
Jamaah ke Indonesia Timur dengan restu para penguasa NKRI. 

http://www.detiknew s.com/read/ 2008/11/25/ 163443/1042749/ 10/sebagian- 
guru-agama- islam-di- jawa-belum- bisa-ajarkan- pluralitas

Selasa, 25/11/2008 16:34 WIB

Sebagian Guru Agama Islam di Jawa Belum Bisa Ajarkan Pluralitas
Andi Saputra - detikNews

Jakarta - Sebanyak 62 % guru-guru agama Islam sekolah umum di Jawa menolak 
orang non muslim menjadi pemimpin publik. Selain itu sebagian guru agama Islam 
di Jawa juga tidak toleran dan anti pluralitas. 

Penolakan terhadap pemimpin non muslim menjadi pemimpin mulai dari pemilihan 
kepala sekolah hingga Pemilu legislatif. "Para guru masih belum bisa 
mengajarkan pluralitas dan sikap toleran. Padahal, sikap dan pandangan Islam, 
guru agama harus mendukung dan berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat 
Indonesia yang beragam," kata Direktur Pusat Kajian Islam dan Masyarakat (PPIM) 
UIN Jakarta, Jajat Burhanudin, di Galeri Lontar, Jalan HOS Cokroaminto, Jakarta 
Pusat, Selasa (24/11/2008) .

Lebih lanjut, dari data survei lembaganya, para guru yang mengajar di sekolah 
umum tersebut, 68% responden menolak non muslim menjadi kepala sekolah dan 30% 
responden mendukung Pemilu hanya untuk memilih wakil rakyat yang memperjuangkan 
syariat Islam. 

Survei dilakukan terhadap 500 guru di 500 SMA/SMK di Jawa selama kurun Oktober 
2008. Responden dipilih dengan menggunakam metode random acak sederhana. Selain 
itu juga dilakukan wawaancara terstruktur terhadaap 200 siswa di 50 
kota/kabupaten. "Metode simple random sampling yang kami gunakan memiliki 
margin error lebih kurang 5%," ujarnya.

Sikap tidak toleran dalam beragama juga bisa dilihat 21% responden mengaku 
orang yang keluar dari agama Islam harus dibunuh. Selain itu, 79% guru melarang 
anak didiknya mempelajari agama non Islam. "Yang lebih memprihatinkan, 75 % 
guru mengajarkan siswa muslim untuk mengajak non muslim mempelajari Islam. Ini 
menunjukkan sikap beragama yang eksklusif tidak hanya berlaku di sekolah, " 
tuturnya.

Pemilihan corak geografis sekolah memperhatikan corak geografis pada umumnya 
SMA/SMK di Jawa. Yaitu 41% guru SMA di kotamadya, 25% guru SMA di kabupaten dan 
28% guru SMA/SMK di kecamatan. "Sisanya yang 5% merupakan guru SMA/SMK di  
pedesaan,"pungkasny a.(asp/nrl) 

Baca juga : 
a.. Guru Agama Islam di Jawa Masih Konservatif 
b.. Pemimpin Jadi Kunci Penting Untuk Perdamaian Agama 
c.. Menag: Pengalaman Kehidupan Beragama Kita Memprihatinkan 
d.. Kalla: Agama Mudah Memecah Kita Jika Salah Pengertian 


[Non-text portions of this message have been removed]

    


      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke