(dikutip dari milis tetangga)
Posted by: "seno narisworo" [EMAIL PROTECTED]
Sat Nov 29, 2008 12:17 am (PST)
Jelas, pesan komunikasi para teroris adalah masalah Kashmir. Teroris berusaha
membuka mata dunia, juga mengingatkan India, agar segera menyelesaikan masalah
Kashmir, wilayah berpenduduk Muslim yang masih saja "diduduki" India.
Terorisme adalah komunikasi. Dalam sebuah aksi teror selalu ada pesan (message)
dari teroris. Dengan kata lain, aksi teroris dimaksudkan untuk menyampaikan
sebuah pesan.
Terorisme adalah komunikasi dengan menggunakan kekerasan, umumnya untuk
mencapai tujuan politik. Encyclopedia Americana (1993) menyebutkan, terorisme
adalah penggunaan atau ancaman kekerasan yang terbatas pada kerusakan fisik,
namun berdampak psikologis tinggi karena ia menciptakan ketakutan dan kejutan.
Keefektifan terorisme lebih bersifat politik ketimbang militer. Aksi teroris
dimaksudkan untuk mengomunikasikan sebuah pesan.
Demikian pula aksi teror di Mumbai India, Rabu (26/11) lalu, mengandung sebuah
pesan dari para teroris. Pesan “komunikasi terorisme� itu tersirat dari
ucapan seorang teroris, Imran, yang disiarkan India TV. “Apakah kalian sadar
berapa banyak orang tewas di Kashmir seminggu ini? Apakah kalian tahu bagaimana
militer membunuh mereka?� kata Imran sebagaimana dikutip Republika (28/11).
Jelas, pesan komunikasi para teroris adalah masalah Kashmir. Teroris berusaha
membuka mata dunia, juga mengingatkan India, agar segera menyelesaikan masalah
Kashmir, wilayah berpenduduk Muslim yang masih saja “dijajah� India.
Padahal, PBB berulang kali memerintahkan India menggelar referendum di Kashmir
untuk memberikan kesempatan kepada warga Kashmir menentukan nasib sendiri (self
determination) : bergabung dengan India, Pakistan, atau bahkan menjadi negara
merdeka. Namun, India mengabaikan seruan itu, bahkan terus “memaksa� warga
Muslim Kashmir agar tetap bergabung dengan India.
Jadi, selayaknya, terorisme di Mumbai kian membuka mata dunia akan nasib naas
yang dialami komunitas Muslim Kashmir. Kita mengecam aksi terorisme di Mumbai.
Kita tidak setuju dengan “cara perjuangan� mereka yang mengorbankan warga
tak berdosa. Tapi, di sisi lain, kita tidak boleh mengabaikan “pesan teror�
mereka.
Selama puluhan tahun, Kashmir mereka berada dalam penjajahan India dan selama
itu pula banyak Muslim Kashmir yang tewas diberondong peluruh tentara India,
atau ditangkap dan disiksa. Sosiolog Muslim Pakistan, Akbar S. Ahmed dalam
Posmodernisme Bahaya dan Harapan bagi Islam (1993) mengungkapkan: "Di Srinagar,
file pencatat hak-hak asasi manusia penuh dengan catatan kejahatan tidak
manusiawi yang dilakukan atas orang-orang Kashmir," tulis Tony Allen-Mills di
Sunday Times. "Seorang pria bokongnya dilubangi dengan bor listrik selama
diinterogasi polisi paramiliter. Seorang pria lagi dilemparkan ke bak mandi
yang airnya dialiri aliran listrik. Dan ada lagi yang kemaluannya dipotong
dengan pisau."
Mungkin, itu pula yang dimaksudkan Imran: Apakah kalian tahu bagaimana militer
(India) membunuh mereka (warga Kashmir)?
Akbar S. Ahmed melukiskan kondisi Kashmir dengan baik dalam buku di atas,
sekaligus menjelaskan kondisi Muslim di Israel dan Uni Soviet: “Kashmir
benar-benar diabaikan India. Tidak mempunyai unit industri besar. Kultur dan
bahasa Kashmir dibiarkan merana. Hampir tidak pernah ada pemilu yang bebas dan
adil. Janji-janji plebisit telah dilupakan. Peluru dan tongkat komando terlalu
sering digunakan pasukan India. Cerita-cerita tentang penganiayaan dan
pemerkosaan terlalu biasa terdengar.�
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berkali-kali mengeluarkan resolusi (tahun
1948, 1949, 1952, dan 1957) yang memerintahkan India menyelenggarakan suatu
plebisit atau referendum untuk mengetahui kehendak rakyat Kashmir: bergabung
dengan India atau Pakistan. Namun, India tetap membangkang.
Warga Kashmir sudah melakukan komunikasi, namun dengan cara yang salah memang,
yakni terorisme. Tapi pesannya jelas: perhatikan nasib Kashmir!
Wallahu a'lam.*
[Non-text portions of this message have been removed]