Jurnal Toddopuli:
SASTRA NUSANTARA ADALAH SASTRA KEPULAUAN
Les Insolindes, Insulinde, barangkali adalah istilah lain dari Nusantara yang
menunjukkan kepada suatu kawasan yang terdiri dari berbagai pulau. Pengertian
sempitnya, barangkali identik dengan wilayah yang sekarang menjadi wilayah
negara Republik Indonesia dan budaya Melayu sehingga mencakup Malaysia Barat &
Timur serta Brunei. Mungkin termasuk juga Filipina Selatan dan Muangthai
Selatan serta Timor Leste.
Sedangkan dalam dunia sastra, saya kira istilah ini menunjukkan kepada
karya-karya seni yang menggunakan berbagai bahasa di berbagai pulau dan daerah
di wilayah Republik Indonesia sebagai sarana utama pengungkapan diri,
pengungkapan rasa dan karsa. Jika pemahaman begini benar maka konsekwensi
nalarnya, bahwa yang disebut sastra Nusantara, tidaklah sebatas karya-karyaa
sastra yang ditulis dalam bahasa Indonesia. Sastra berbahasa Indonesia hanyalah
menjadi salah satu saja dari sastra Nusantara atau sastra Indonesia.
Jika kita sepakat dengan pengertian Nusantara seperti ini maka kita akan
memasukkan karya-karya besar seperti I La Galigo dari TanahBugis, Sansana
Bandar Bandar,Sansana Kayau Pulang dari Tanah Dayak, pantun-pantun, gurindam
dan seloka Melayu , karya-karya yang ditulis oleh warga dari etnik Tionghoa
atau Indo sebagai bagian dari sastra Nusantara dan bukan hanya membatasinya
pada karya-karya yang ditulis dalam bahasa Indonesia "Modern" yang secara usia
sangat pendek usianya dibandingkan dengan karya-karya tersebut dan yang kita
sangat kurang indahkan. Sedangkansastra Indonesia jauh lebih tua usianya
daripada sastra berbahasa Indonesia. Membatasi cakupan sastra Nusantara pada
yang berbahasa Indonesia "modern" lebih memperlihatkan kepongahan , kekenesan
dan kecupetan atau sektarisme pandangan. Barangkali. Terdapat masalah jika
dilihat secara otntologi sebagai sisa atau varian dari pandangan
hegemonik "modernitas" dan yang disebut besar dan puncak
sebagaimana yang dirumuskan dalam UUD '45 dahulu.
Nusantara dan Indonesia adalah dua istilah berbeda makna jika dilihat dari
periodisasi sejarah. Nusantara ada jauh sebelum Indonesia lahir. Sedangkan
Indonesia dilihat dari segi politik menunjuk kepada wilayah Rempublik
Indonesia. Wilayah Republik Indonesia ini, jika kita mau jujur dan realis, juga
terdiri dari berbagai pulau dengan budaya masing-masing. Dengan sastra
masing-masing pula. Kalau kita mengakui yang disebut Indonesia itu adalah
wilayah Republik Indonesia maka sastra yang hidup dan terdapat di berbagai
daerah dan pulau, termasuk sastra Indonesia juga, tidak hanya sebatas sastra
berbahasa Indonesia. Tidak ada dominasi suku dan budaya besar atau kecil
-- yang bertentangan dengan prinsip bhinneka tunggal ika yang secara singkat
disebut Indonesia dengan nilai republiken sebagai perekat. Saya khawatir bahwa
di sekolah-sekolah dan di publik justru pandangan sempit inilah yang dominan
dan diajarkan.Pandangan menyempitkan yang disebut sastra
Indonesia begini sama sekali tidak representatif. Kita fasih menyebut
Indoneisia, republik, bhinneka tunggal ika tapi apakah maknanya belum dikhayati
benar. Pendekatan dan pemahaman salah tentang prinsip-prinsip ini , apalagi
hanya sebatas barang hapalan, akan menjalar dan berdampak negatif ke berbagai
bidang, terutama pendidikan dan pengajaran. Dari segi ini, saya melihat karya
Prof Teeuw yang dijadikan pegangan dalam pengajaran sastra Indonesia menjadi
sangat timpang. Sastra lokal sama sekali diabaikan. Padahal di segi lain,
dalam kurikulum sekolah-sekolah, terdapat yang disebut "muatan lokal".
Barangkali pelaksanaan kurikulum ini ada tautannnya dengan penyediaan bahan
lokal, kebijakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan lokal, dan tidak kurang
pentingnya, mungkin pada soal cara ajar-mengajar sastra di sekolah. Tidak
kurang pentingnya adalah tulisan-tulisan apresiasi terhadap karya-karya sastra
di suratkabar, radio dan televisi. Tapi di atas
segalanya, barangkali yang perlu disepakati dahulu apakah yang disebut sastra
Indonesia itu. Apakah hanya sebatas yang disebut karya-karya yang ditulis dalam
bahasa Indonesia ataukah juga yang dituangkan dalam bahasa-bahasa lokal Apakah
sastra yang berbahasa Sunda dan Jawa yang sekarang cukup berkembang, baik
melalui majalah, koran dan radio bisa dihitung sebagai sastra Indonesia atau
tidak? Apakah sastra lisan seperti misalnya sansana kayau yang masih hidup di
Tanah Dayak bisa dimasukkan sebagai bagian dari sastra Indonesia atau tidak?
Apakah soal sastra lokal ada disentuh-sentuh oleh Prof. Teeuw? Mengapa kita
harus menggunakan karya Teeuw sebagai bukan pegangan dan bukan karya yang kita
susun sendiri dan lebih mewakimi Indonesia dan bersifat republken? Sekedar
pertanyaan.
Saya sendiri memandang bahwa semua sastra, baik yang ditulis dalam bahasa
Indonesia atau pun bahasa daerah, termasuk yang ditulis oleh orang-orang
Indonesia di negeri orang, seniscayanya tergolong sastra Indonesia dan sastra
Nusantara. Demikian juga sastra cyber -- sebagai suatu perkembangan baru di
dunia sastra kita. Tentu saja perkembangan dan keadaan ini, akan membuat
pekerjaan pengamat sastra Indonesia akan makin tidak sederhana jika mereka
berniat bekerja cermat saat berbicara tentang sastra Indonesia dalam pengertian
saya di atas. Tapi dengan kecermatan demikian agar ketika berbicara tentang
Indonesia, agar benar bahwa Indonesia itu terlukiskan secara represntatif,
mendorong kita untuk lebih mengenal diri sendiri, tanahair sendiri di
samping mengenal sastra dari bagian-bagian dunia lain sebagai pembanding sesuai
prinsip bhinneka tunggal ika dari skala global.
Sastra Nusantara, termasuk sastra Indonesia, pada prinsipnya adalah
kebhinnekaan, ika dalam kemanusiaan. Kebhinnekaan, tidak berati pengurungan
diri di bawah langit satu dua pulau atau kampung kecil ketika dunia menjadi
sebuah kampung kecil dunia dan sejarah pun menunjukkan bahwa sastra berkembang
tidak karena kecupetan tapi karena keterbukaan. Saya bahkan berhipotasa bahwa
pada dasarnya nilai yang didukung oleh sastra itu bersifat universal yang
dituang dengan warna-warna lokal. Karena pada galibnya kebudayaan etnik,
nasional dan dunia, saya lihat tak obah sebuah bénang dinding [patch works].
Etnik dan bangsa hanyalah perbatasan semu bagi kemanusiaan yang dilahirkan oleh
kondisi sejarah tertentu sehingga kita perlu mengindahkannya guna
mengejawantahkan kemanusiaan itu sendiri sesuai perkembangan dan proses.
Saya membayangkan bahwa dengan menterapkan sastra Indonesia sebagai sebuah
konsep luas yang mengakui adanya perkembangan sastra di berbagai pulau dan
daerah sebagai dasar, maka sastra negeri kita akan makin marak dan kian
berwarna. Kian mengakar dan tidak terkucil. Sastra menjadi suatu keperluan
masyarakat seperti halnya sansana kayau di Tanah Dayak merupakan ungkapan diri
masyarakat, mulai dari penangkap ikan, penakik karet, pendulang emas, sampai
kepada pemotong rotan di hutan-hutan dan jumpa orang sekampung. Sansana kayau
sebagai salah satu bentuk sastra sama sekali tidak terasing dari
kehidupan,tidak menjadi milik hanya segelintir kelompok masyarakat yang sering
sibuk dan asyik dengan diri sendiri serta menilai lebih diri mereka dari yang
lain. Dunia seakan berputar di sekitar diri mereka. Karena itu saya masih
melihat bahwa sastra Nusantara [les insulindes], termasuk sastra Indonesia,
pada dasarnya adalah sastra kepulauan. Membatasi sastra
Indonesia hanya pada yang berbahasa Indonesia, barangkali menyangkal ciri
Indonesia itu sendiri dan menyederhanakan apa yang dinamakan Indonesia. Saya
selalu merasa terilhami dan batin saya diperkaya, saban membaca puisi-puisi
lokal dari daerah dan pulau mana pun di Nusantara, termasuk pulau-pulau dan
daerah-daerah di tanahair. Universal dalam nilai, berwarna-warni dalam bentuk
penuangan. Barangkali penyelenggara negara , cq bagian kebudayaannya, perlu
mempertimbangkan penerapan politik kebudayaan yang memang republiken dan
berkeindonesiaan, demikian juga para sastrawan-seniman sebagai aktor-aktris
kebudayaan, kiranya perlu menjawab apakah sastra-seni Indonesia itu
sesungguhnya? Saya lebih menekankan pengembangan kebudayaan dari bawah. Seperti
yang dikatakan oleh penyair Tiongkok Kuno, "raja satu dan yang lain turun silih
berganti, tapi rakyat tetap rakyat, tak bergonta-gonti". Bzrangkat dari
pandangan inilah saya menghargai prakarsa-prakarsa
seperti Ode Kampung, Tour de Java Sastra Makassar, Festival Lima Gunung, dan
kegiatan-kegiatan sejenis. ***
Perjalanan Kembali, Musim Dingin 2008.
--------------------------------------------------------
JJ. Kusni
Yahoo! Toolbar is now powered with Search Assist.Download it now!
http://sg.toolbar.yahoo.com/
[Non-text portions of this message have been removed]