Lu nggak level dikasi data, Tung. Lu nggak bakalan paham, apalagi
percaya.  Biji mata lu udah mentok di Hidayatullah.com, eramuslim.com,
radio Dakta, majalah Sabili, sama koran Republika.
Lu nggak bisa kemana-mana, ngloco sendiri aja. Udah dah elus-elus aja
jenggot lu sambil masturbasi kehebatan Islam zaman dulu,
bla..bla..bla.. terus maki-maki Yahudi, dah..
Udah kirim salam sukses belum sama, teman-teman gerombolan lu yang
nyerang Bombai... ?

--- In [email protected], si pitung <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> skali2 wartawan top kaya ente bicara pk data donk :p
> ga maluu ape, biasa ne yg�nunjuk orang laen goblog ya 4jarinye lg
ngacung ke diri sndiri hehe
> yah khan ga smua wartawan terdidik, ini mungkin salah satunye
> 
> 
> 
> 
> ________________________________
> From: masdimas62 <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [email protected]
> Sent: Friday, November 28, 2008 9:58:15 PM
> Subject: [ppiindia] Re: [mediacare] Sebagian Guru Agama Islam di
Jawa Belum Bisa Ajarkan Pluralitas
> 
> 
> Kalau mayoritasnya goblog-goblog kayak Pitung yang nggak lah. Najis!
> Bukti kegobogannya kelihatan antara lain ngaku-ngaku Irian sebagai
> tanahnya muslim. Nggak malu ya diketawai orang se-dunia ?! 
> wuakakak..kakk. ..
> Asli, muntah deh gue...
> Whhuuookk....
> 
> --- In [EMAIL PROTECTED] s.com, si pitung <sipitung68@ ...> wrote:
> >
> > wajar aje bang, namanye jg mayoritas, ngapain pulak cr pemimpin dr
> kalangan minoritas. Haknya mayoritas donk :)
> > lagean klo emang minoritas bs naek ke tampuk pimpinan dg mekanisme
> yg diatur uu, knp engga? tp apa bisaa ya..
> > Mending ente 'ngaca' dlu ke PAPUA, di sono konon 23% penduduknya
> muslim (mnurut wikipedia), 40% mnurut artikel hidayatullah, hanya 2
> kabupaten yg pimpinannya muslim bahkan di kantong2 muslim spt babo &
> bintuni msh dipimpin oleh non-muslim.
> > 
> > baca deh ni artikel..
> > 
> > 
> > Islam Atau Kristen Agama Orang Papua?
> > 
> > Adatiga kesalahan orang memandang Papua. Pertama, Papua identik
> dengan koteka, Kedua, hanya orang-orang primitiv dan Ketiga, Identik
> dengan Kristen. Padahal, itu keliru [bagian pertama
> > 
> > 
> > Hidayatullah. com--Untuk
> > poin pertama dan kedua, fakta itu boleh jadi benar, bahwa di
> > kawasan-kawasan tertentu di pedalaman bumi cenderawasih ini, hingga
> > hari ini masih diketemukan masyarakat dengan pola hidup primitif,
> > sebagian masih mengenakan koteka, serta menjalani hidup secara
kanibal. 
> > Hal itu terjadi karena beberapa faktor, seperti terbatasnya
> > akses informasi�atau bahkan ketiadaan informasi yang mereka
> > terima--serta luasnya kawasan tersebut yang hampir 4 kali luas pulau
> > Jawa. Bahkan, Papua, termasuk pulau terbesar kedua di dunia setelah
> > Greenland di Denmark. Maka wajar bila fakta-fakta seperti koteka dan
> > kehidupan primitif masih ditemui di Papua.
> > Namun
> > tentu saja hal itu tidak semuanya, mengingat sebagian dari mereka,
> > kini, sudah terbiasa dengan pola kehidupan maju dan melek teknologi,
> > utamanya mereka yang tinggal di kawasan perkotaan dan hidup di daerah
> > pantai, baik penduduk asli maupun perantau dari luar Papua.
> > Fakta
> > lain yang selama ini terselimuti kabut tebal adalah perihal komunitas
> > Muslim di kawasan ini. Selama ini pula, banyak orang yang
> > bertanya-tanya, adakah orang Islam di Papua? Adakah komunitas pribumi
> > (penduduk asli Papua) yang memeluk Islam sebagai agama mereka?
> > Ironisnya, belum lagi pertanyaan itu terjawab, seolah ada ungkapan
> > pembenaran bahwa: Papua identik dengan Kristen. Atau dengan bahasa
yang
> > lebih lugas lagi: setiap orang Papua ya mesti Kristen.
> > Tentu
> > saja statemen seperti ini membawa dampak negative yang kurang
> > menguntungkan bagi pertumbuhan dan dakwah Islam di kawasan yang masih
> > menyimpan hasil kekayaan alam yang sangat melimpah ruah ini.
> > Bahkan
> > saat ini jumlah komunitas Muslim di Papua sudah mencapai angka 900
ribu
> > jiwa dari total jumlah penduduk sekitar 2.4 juta jiwa, atau menempati
> > posisi 40 % dari keseluruhan jumlah penduduk Papua. 60% penduduk
> > merupakan gabungan pemeluk agama Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan
> > Animisme.
> > Namun,
> > di antara imej yang kurang menguntungkan seperti itu, juga "tekanan
> > psikologis" suasana serba Kristen, dimana setiap mata memandang begitu
> > banyak gereja-- sebagai buah dari kerja keras para missionaries, yang
> > didukung dengan dana yang nyaris tak terbatas, serta ditunjang sarana
> > teknologi komunikasi dan transportasi canggih, pelan-pelan komunitas
> > Islam tumbuh dan menyinari bumi cenderawasih yang di lingkungan kaum
> > muslimin menyebutnya sebagai kawasan Jabal an Nuar.
> > Ismail
> > Saul Yenu (67), seorang pendeta sekaligus kepala suku besar di Yapen
> > Waropen telah masuk Islam dengan diikuti istri dan anaknya. Ismail
yang
> > juga Ketua Benteng Merah Putih pembebasan Irian Barat dan Ketua
> > Assosiasi Nelayan Seluruh Papua telah menunaikan ibadah haji pada
tahun
> > 2002.
> > Seorang
> > pendeta di Biak Numfor bernama Romsumbre (Abdurrahman) juga telah
masuk
> > Islam beserta keluarga dan 4 orang anaknya. Wilhelmus Waros Gebse
> > Kepala suku Marin, Merauke juga telah meninggalkan agama lamanya
> > Katolik dan memilih masuk Islam bersama Istri dan anak-anakknya. Kini
> > Wilhelmus sedang merintis sebuah pondok pesantren di kampung
halamannya
> > di Merauke.
> > Saat
> > ini, di desa Bolakme, sebuah distrik di Lembah Baliem, seorang pendeta
> > dan kepala suku bersama 20 orang warganya ingin sekali memeluk Islam.
> > Berkali-kali
> > keinginan itu disampaikan ke tokoh masyarakat Muslim, akan tetapi
pihak
> > MUI agaknya sangat berhati-hati dalam menerima mereka. Alasannya, di
> > samping faktor keamanan, juga pembinaan terhadap mereka setelah itu,
> > tidak ada. "Inilah tantangan bagi kita. Tidak sedikit penduduk asli
> > yang ingin masuk Islam, tapi kita kekurangan dai." tutur H.Burhanuddin
> > Marzuki, ketua MUI Kabupatern Jayawijaya yang sudah 30 tahun
tinggal di
> > Lembah Baliem.
> > Berita
> > yang sempat meramaikan media massa adalah dengan masuk Islamnya
"kepala
> > suku perang" H. Aipon Asso pada tahun 1974.Sebelum itu, seorang tetua
> > di desa Walesi bernama Marasugun telah lebih dulu masuk Islam setelah
> > berinteraksi dengan para perantau di kota Wamena yang berasal dari
> > Bugis-Makassar, Jawa, Madura maupun Padang.
> > Keislaman
> > Aipon Asso lalu diikuti oleh 600 orang warganya di desa Walesi. H.
> > Aipon yang kini sudah berusia 70 tahun menjadi kepala suku yang sangat
> > di segani di seluruh lembah Baliem. Wilayah kekuasaannya membentang
> > hampir 2/3 cekungan mangkuk lembah Baliem.
> > Ia benar-benar sosok kepala suku mujahid yang sangat diperhitungkan
> di kawasan ini.
> > Bahkan
> > ketika ia baru pulang dari menunaikan ibadah haji (1985), dengan
> > mengenakan surban dan baju gamis panjang, secara demonstratif ia turun
> > ke jalan dan melakukan pawai di pusat kota Wamena sambil mengerahkan
> > ratusan warganya yang masih mengenakan koteka dan bertelanjang dada.
> > Teringatlah
> > kita pada kisah sahabat Nabi Muhammad yakni Umar bin Khattab ketika
> > akan melakukan hijrah dari Mekah ke Madinah yang tilakukannya tanpa
> > sembunyi-sembunyi dan tanpa ada rasa takut.
> > Saat
> > kerusuhan menimpa Wamena tahun 2000 lalu, sebagian pendatang baik
> > Muslim maupun Kriten dicekam rasa takut. Tidak terkecuali Muslim
> > pribumi pun mengalami hal serupa. Untuk meredam situasi, pihak
> > pemerintah menyelenggarkan pertemuan dengan kepala-kepala suku dan
> > tokoh-tokoh agama. Dalam pertemuan dengan jajaran pemerintah daerah
> > tersebut H.Aipon mengusulkan ditempatkannya aparat keamanan secara
> > permanen di kawasan ini dan itu disetujui.
> > Di
> > ibukota provinsi Papua, Jayapura, seperti juga di kota-kota lain
> > seperti Fak-Fak, Sorong, Wamena, Manukwari, Kaimana, Merauke, Timika,
> > Biak dan Merauke, suasana keislaman semakin tampak, khususnya di
> > kalangan pendatang. Selain jumlah rumah ibadah yang semakin bertambah,
> > kegiatan halaqah juga tumbuh tidak kalah subur. Selain itu,
> > bila kita jalan-jalan di pusat kota Jayapura tidak sulit kita menemui
> > Muslimah berjilbab lalu lalang di antara keramaian. Termasuk di kampus
> > ternama di Papua Universitas Cenderawasih, para wanita berjilbab juga
> > dengan mudah kita temui.
> > Penduduk Muslim di kota terdiri dari para pedagang, pagawai,
> pengusaha, pelajar/mahasiswa, guru, atau buruh.
> > Secara
> > keseluruhan jumlah komunitas Muslim di Papua mengalami peningkatan
yang
> > cukup pesat, utamanya di kota kabupaten atau provinsi. Dalam catatan
> > yang dikeluarkan oleh LP3ES, Papua, termasuk dari 7 kantong-kantong
> > Kristen di seluruh Indonesia yang semakin penyusutan. Sebaiknya jumlah
> > penduduk Muslim semakin tumbuh.
> > Sebenarnya potensi Sumber Daya Manusia (SDM) Muslim di Papua tidak
> kalah banyak di banding dengan ummat lain.
> > Akan
> > tetapi nampaknya ada semacam perasaan `tidak PD" di kalangan mereka
> > untuk tampil dan terlibat langsung dalam lingkar pemerintahan.
> > Akibatnya, mereka hanya menjadi penonton, atau�katakanlah- - turut
> > terlibat, namun ada di `wilayah yang tidak menentukan'.
> > "Ini
> > tentu saja menjadi PR kita ke depan. Ummat Islam Papua harus menghalau
> > rasa tidak PD-nya, dan selanjutnya bersama yang lain terlibat langsung
> > membangun Papua," tutur Mohammad Abud Musa'ad MSi(42), intelektual
> > Muslim Papua yang juga anggota tim penyusun UU otonomi khusus Papua.
> > "Secara
> > historis, keberadaan ummat Islam sebagai pendatang awal di Tanah
Papua,
> > sudah klir. Dan itu sudah tertuang dalam buku putih yang dikeluarkan
> > oleh Pemerintah Papua." jelas Musa'ad yang tinggal di bilangan
Abepura,
> > Jayapuran ini. "Namun yang terpenting, kita harus segera berkarya dan
> > tidak boleh asyik bernostalgia dengan sejarah,"pesannya pada Muslim
> > Papua.
> > Musa'ad
> > juga menyadari, kendati sejumlah pertemuan tentang kedudukan ummat
> > Islam di Papua pernah dilakukan, akan tetapi karena tidak adanya
> > sosialisasi dan tindak lanjut dalam program, semua seolah lenyap tanpa
> > bekas.
> > Masih
> > kata Musa'ad, bahwa peran politik ummat Islam Papua saat ini masih
> > terlalu kecil, yakni tidak lebih dari 10 %. Kenyataan ini tentu saja
> > sangat memperihatinkan.
> > Bahkan
> > dapat dibayangkan dari 900 ribu jiwa Muslim yang tersebar dalam 29
> > kabupaten/kota yang ada saat ini, hanya terdapat dua kabupaten yang
> > dipimpin oleh pejabat Muslim yakni di Fak-Fak dan di Kaimana.
Bahkan di
> > kantong-kantong kabupaten berpenduduk asli mayoritas Muslim seperti
> > Babo dan Bintuni, misalnya, saat ini dipimpin oleh non-Muslim.
> > Senada
> > dengan Musa'ad, menurut DR (desertasi) Toni Vm Wanggai yang juga Ketua
> > Sekolah Tinggi Agama Islam Yapis Jayapura, bahwa sosialisasi dan
> > pelurusan sejarah Islam di Papua harus dilakukan terus menerus.
> > Hal
> > itu perlu dilakukan agar ummt Islam di Papua mengetahui jati diri
> > mereka, sekaligus menginformasikan kepada fihak lain yang belum faham,
> > untuk tidak menganggap kaum Muslimin sebagai `tamu di Papua'. Muslim
> > adalah juga pemilik sah kawasan ini, sehingga mereka memiliki porsi
> > keterlibatan yang sama untuk membangun Papua. Islam hadir di Papua
abad
> > ke-XV sedang Kristen masuk Papua pertengahan abad ke-XIX (5 Februari
> > 1855).
> > Kegelisahan
> > Toni, adalah seiring dengan adanya upaya dari kelompok Kristen yang
> > ingin menghapuskan jejak Islam di kawasan ini, khusunya di kawasan
Raja
> > Ampat Di mana hama "Raja Ampat" akan dihilangkan dan diganti dengan
> > nama lain. Padahal, nama Raja Ampat adalah se-monumental sejarah Papua
> > sendiri.
> > "Nama
> > Raja Ampat diambil dari eksistensi kerajaah-kerajaan Islam yang
> > berkuasa di kawasan Indonesia timur saat itu yakni: Ternate, Tidore,
> > Jailolo dan Bacan.." tegas Toni yang mengambil desertasinya tentang
> `Rekontruksi Sejarah Islam Papua'.
> > Kendati
> > masih sebatas wacana yang dipublikasikan di media lokal, namun tak
> > urung informasi nyeleneh seperti itu membuat gelisah sejumlah tokoh
> > Muslim.
> > "Itu
> > sama dengan bunuh diri." kata M Shalahuddin Mayalibit, SH,
mengomentari
> > gagasan itu. " Sekalipun dipublikasikan seribu kali, itu tidak akan
> > terwujud." kata dosen Fakultas Hukum di Universitas Cenderawasih ini
> > menjelaskan.
> > "
> > Raja Ampat dan Muslim sudah menjadi satu kesatuan yang sulit
> > dipisahkan," tegas cucu Muhammad Aminuddin Arfan, tokoh Muslim dari
> > kerajaan Salawati yang ditugasi Raja Tidore untuk mengantar CW. Ottow
> > dan GJ Geissler si bapak Kristen ke Papua.
> > Seiring
> > dengan diberlakukannya Undang-Undang nomor 21 tahun 2001 tentang
> > otonomi khusus, peluang keterlibatan Muslim di pemerintahan semakin
> > terbuka lebar. (baca: Peluang dan Tantangan di Era Otonomi) Hanyasaja
> > diperlukan kekompakan dari segenap elememen
> > Muslim baik para intelaktualnya, ormas Islam, alim ulama, tokoh
> pemuda, mahasiswa dan remaja, pondok-pondok pesantren, dll.
> > Tanpa
> > dengan itu mereka akan tetap terpinggirkan, dan bahkan tidak mustahil
> > akan menjadi `kambing hitam politik' oleh kelompok kepentingan yang
> > sudah lama ingin menguasai Papua(Kristen) . [Ali Atwa. Penulis adalah
> wartawan Majalah Hidayatullah danpenulisbuku "Islam Atau Kristen
> Agama Orang Irian (Papua)". Tulisan diambil dari Majalah Hidayatullah]
> bersambung.. .
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > ____________ _________ _________ __
> > From: mediacare <mediacare@ ..>
> > To: RumahKitaBersama <RumahKitaBersama@ yahoogroups. com>;
> [EMAIL PROTECTED] s.com
> > Sent: Thursday, November 27, 2008 9:13:19 AM
> > Subject: [ppiindia] Re: [mediacare] Sebagian Guru Agama Islam di
> Jawa Belum Bisa Ajarkan Pluralitas
> > 
> > 
> > 
> > ----- Original Message ----- 
> > From: Sunny 
> > To: Undisclosed- Recipient: ; 
> > Sent: Friday, November 28, 2008 4:14 AM
> > Subject: [mediacare] Sebagian Guru Agama Islam di Jawa Belum Bisa
> Ajarkan Pluralitas
> > 
> > Refleksi: Dapat dimenegerti masalahnya, karena dikirim Laskar Jihad
> Sunnah Wal Jamaah ke Indonesia Timur dengan restu para penguasa NKRI. 
> > 
> > http://www.detiknew s.com/read/ 2008/11/25/ 163443/1042749/
> 10/sebagian- guru-agama- islam-di- jawa-belum- bisa-ajarkan- pluralitas
> > 
> > Selasa, 25/11/2008 16:34 WIB
> > 
> > Sebagian Guru Agama Islam di Jawa Belum Bisa Ajarkan Pluralitas
> > Andi Saputra - detikNews
> > 
> > Jakarta - Sebanyak 62 % guru-guru agama Islam sekolah umum di Jawa
> menolak orang non muslim menjadi pemimpin publik. Selain itu sebagian
> guru agama Islam di Jawa juga tidak toleran dan anti pluralitas. 
> > 
> > Penolakan terhadap pemimpin non muslim menjadi pemimpin mulai dari
> pemilihan kepala sekolah hingga Pemilu legislatif. "Para guru masih
> belum bisa mengajarkan pluralitas dan sikap toleran. Padahal, sikap
> dan pandangan Islam, guru agama harus mendukung dan berpartisipasi
> dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang beragam," kata Direktur
> Pusat Kajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta, Jajat
> Burhanudin, di Galeri Lontar, Jalan HOS Cokroaminto, Jakarta Pusat,
> Selasa (24/11/2008) .
> > 
> > Lebih lanjut, dari data survei lembaganya, para guru yang mengajar
> di sekolah umum tersebut, 68% responden menolak non muslim menjadi
> kepala sekolah dan 30% responden mendukung Pemilu hanya untuk memilih
> wakil rakyat yang memperjuangkan syariat Islam. 
> > 
> > Survei dilakukan terhadap 500 guru di 500 SMA/SMK di Jawa selama
> kurun Oktober 2008. Responden dipilih dengan menggunakam metode random
> acak sederhana. Selain itu juga dilakukan wawaancara terstruktur
> terhadaap 200 siswa di 50 kota/kabupaten. "Metode simple random
> sampling yang kami gunakan memiliki margin error lebih kurang 5%,"
> ujarnya.
> > 
> > Sikap tidak toleran dalam beragama juga bisa dilihat 21% responden
> mengaku orang yang keluar dari agama Islam harus dibunuh. Selain itu,
> 79% guru melarang anak didiknya mempelajari agama non Islam. "Yang
> lebih memprihatinkan, 75 % guru mengajarkan siswa muslim untuk
> mengajak non muslim mempelajari Islam. Ini menunjukkan sikap beragama
> yang eksklusif tidak hanya berlaku di sekolah, " tuturnya..
> > 
> > Pemilihan corak geografis sekolah memperhatikan corak geografis pada
> umumnya SMA/SMK di Jawa. Yaitu 41% guru SMA di kotamadya, 25% guru SMA
> di kabupaten dan 28% guru SMA/SMK di kecamatan. "Sisanya yang 5%
> merupakan guru SMA/SMK di pedesaan,"pungkasny a.(asp/nrl) 
> > 
> > Baca juga : 
> > a.. Guru Agama Islam di Jawa Masih Konservatif 
> > b.. Pemimpin Jadi Kunci Penting Untuk Perdamaian Agama 
> > c.. Menag: Pengalaman Kehidupan Beragama Kita Memprihatinkan 
> > d.. Kalla: Agama Mudah Memecah Kita Jika Salah Pengertian 
> > 
> > 
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
> 
>  
> 
> 
>       
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke