panjang2 amit ya, bilang aje kaga ada datanye hehe
________________________________ From: masdimas62 <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Sunday, November 30, 2008 5:45:48 PM Subject: [ppiindia] Re: [mediacare] Sebagian Guru Agama Islam di Jawa Belum Bisa Ajarkan Pluralitas Lu nggak level dikasi data, Tung. Lu nggak bakalan paham, apalagi percaya. Biji mata lu udah mentok di Hidayatullah. com, eramuslim.com, radio Dakta, majalah Sabili, sama koran Republika. Lu nggak bisa kemana-mana, ngloco sendiri aja. Udah dah elus-elus aja jenggot lu sambil masturbasi kehebatan Islam zaman dulu, bla..bla..bla. . terus maki-maki Yahudi, dah.. Udah kirim salam sukses belum sama, teman-teman gerombolan lu yang nyerang Bombai... ? --- In [EMAIL PROTECTED] s.com, si pitung <sipitung68@ ...> wrote: > > skali2 wartawan top kaya ente bicara pk data donk :p > ga maluu ape, biasa ne yg�nunjuk orang laen goblog ya 4jarinye lg ngacung ke diri sndiri hehe > yah khan ga smua wartawan terdidik, ini mungkin salah satunye > > > > > ____________ _________ _________ __ > From: masdimas62 <masdimas62@ ...> > To: [EMAIL PROTECTED] s.com > Sent: Friday, November 28, 2008 9:58:15 PM > Subject: [ppiindia] Re: [mediacare] Sebagian Guru Agama Islam di Jawa Belum Bisa Ajarkan Pluralitas > > > Kalau mayoritasnya goblog-goblog kayak Pitung yang nggak lah. Najis! > Bukti kegobogannya kelihatan antara lain ngaku-ngaku Irian sebagai > tanahnya muslim. Nggak malu ya diketawai orang se-dunia ?! > wuakakak..kakk. .. > Asli, muntah deh gue.... > Whhuuookk... . > > --- In [EMAIL PROTECTED] s.com, si pitung <sipitung68@ ...> wrote: > > > > wajar aje bang, namanye jg mayoritas, ngapain pulak cr pemimpin dr > kalangan minoritas. Haknya mayoritas donk :) > > lagean klo emang minoritas bs naek ke tampuk pimpinan dg mekanisme > yg diatur uu, knp engga? tp apa bisaa ya.. > > Mending ente 'ngaca' dlu ke PAPUA, di sono konon 23% penduduknya > muslim (mnurut wikipedia), 40% mnurut artikel hidayatullah, hanya 2 > kabupaten yg pimpinannya muslim bahkan di kantong2 muslim spt babo & > bintuni msh dipimpin oleh non-muslim. > > > > baca deh ni artikel.. > > > > > > Islam Atau Kristen Agama Orang Papua? > > > > Adatiga kesalahan orang memandang Papua. Pertama, Papua identik > dengan koteka, Kedua, hanya orang-orang primitiv dan Ketiga, Identik > dengan Kristen. Padahal, itu keliru [bagian pertama > > > > > > Hidayatullah. com--Untuk > > poin pertama dan kedua, fakta itu boleh jadi benar, bahwa di > > kawasan-kawasan tertentu di pedalaman bumi cenderawasih ini, hingga > > hari ini masih diketemukan masyarakat dengan pola hidup primitif, > > sebagian masih mengenakan koteka, serta menjalani hidup secara kanibal. > > Hal itu terjadi karena beberapa faktor, seperti terbatasnya > > akses informasi�atau bahkan ketiadaan informasi yang mereka > > terima--serta luasnya kawasan tersebut yang hampir 4 kali luas pulau > > Jawa. Bahkan, Papua, termasuk pulau terbesar kedua di dunia setelah > > Greenland di Denmark. Maka wajar bila fakta-fakta seperti koteka dan > > kehidupan primitif masih ditemui di Papua. > > Namun > > tentu saja hal itu tidak semuanya, mengingat sebagian dari mereka, > > kini, sudah terbiasa dengan pola kehidupan maju dan melek teknologi, > > utamanya mereka yang tinggal di kawasan perkotaan dan hidup di daerah > > pantai, baik penduduk asli maupun perantau dari luar Papua. > > Fakta > > lain yang selama ini terselimuti kabut tebal adalah perihal komunitas > > Muslim di kawasan ini. Selama ini pula, banyak orang yang > > bertanya-tanya, adakah orang Islam di Papua? Adakah komunitas pribumi > > (penduduk asli Papua) yang memeluk Islam sebagai agama mereka? > > Ironisnya, belum lagi pertanyaan itu terjawab, seolah ada ungkapan > > pembenaran bahwa: Papua identik dengan Kristen. Atau dengan bahasa yang > > lebih lugas lagi: setiap orang Papua ya mesti Kristen. > > Tentu > > saja statemen seperti ini membawa dampak negative yang kurang > > menguntungkan bagi pertumbuhan dan dakwah Islam di kawasan yang masih > > menyimpan hasil kekayaan alam yang sangat melimpah ruah ini. > > Bahkan > > saat ini jumlah komunitas Muslim di Papua sudah mencapai angka 900 ribu > > jiwa dari total jumlah penduduk sekitar 2.4 juta jiwa, atau menempati > > posisi 40 % dari keseluruhan jumlah penduduk Papua. 60% penduduk > > merupakan gabungan pemeluk agama Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan > > Animisme. > > Namun, > > di antara imej yang kurang menguntungkan seperti itu, juga "tekanan > > psikologis" suasana serba Kristen, dimana setiap mata memandang begitu > > banyak gereja-- sebagai buah dari kerja keras para missionaries, yang > > didukung dengan dana yang nyaris tak terbatas, serta ditunjang sarana > > teknologi komunikasi dan transportasi canggih, pelan-pelan komunitas > > Islam tumbuh dan menyinari bumi cenderawasih yang di lingkungan kaum > > muslimin menyebutnya sebagai kawasan Jabal an Nuar. > > Ismail > > Saul Yenu (67), seorang pendeta sekaligus kepala suku besar di Yapen > > Waropen telah masuk Islam dengan diikuti istri dan anaknya. Ismail yang > > juga Ketua Benteng Merah Putih pembebasan Irian Barat dan Ketua > > Assosiasi Nelayan Seluruh Papua telah menunaikan ibadah haji pada tahun > > 2002. > > Seorang > > pendeta di Biak Numfor bernama Romsumbre (Abdurrahman) juga telah masuk > > Islam beserta keluarga dan 4 orang anaknya. Wilhelmus Waros Gebse > > Kepala suku Marin, Merauke juga telah meninggalkan agama lamanya > > Katolik dan memilih masuk Islam bersama Istri dan anak-anakknya. Kini > > Wilhelmus sedang merintis sebuah pondok pesantren di kampung halamannya > > di Merauke. > > Saat > > ini, di desa Bolakme, sebuah distrik di Lembah Baliem, seorang pendeta > > dan kepala suku bersama 20 orang warganya ingin sekali memeluk Islam. > > Berkali-kali > > keinginan itu disampaikan ke tokoh masyarakat Muslim, akan tetapi pihak > > MUI agaknya sangat berhati-hati dalam menerima mereka. Alasannya, di > > samping faktor keamanan, juga pembinaan terhadap mereka setelah itu, > > tidak ada. "Inilah tantangan bagi kita. Tidak sedikit penduduk asli > > yang ingin masuk Islam, tapi kita kekurangan dai." tutur H.Burhanuddin > > Marzuki, ketua MUI Kabupatern Jayawijaya yang sudah 30 tahun tinggal di > > Lembah Baliem. > > Berita > > yang sempat meramaikan media massa adalah dengan masuk Islamnya "kepala > > suku perang" H. Aipon Asso pada tahun 1974.Sebelum itu, seorang tetua > > di desa Walesi bernama Marasugun telah lebih dulu masuk Islam setelah > > berinteraksi dengan para perantau di kota Wamena yang berasal dari > > Bugis-Makassar, Jawa, Madura maupun Padang. > > Keislaman > > Aipon Asso lalu diikuti oleh 600 orang warganya di desa Walesi. H. > > Aipon yang kini sudah berusia 70 tahun menjadi kepala suku yang sangat > > di segani di seluruh lembah Baliem. Wilayah kekuasaannya membentang > > hampir 2/3 cekungan mangkuk lembah Baliem. > > Ia benar-benar sosok kepala suku mujahid yang sangat diperhitungkan > di kawasan ini. > > Bahkan > > ketika ia baru pulang dari menunaikan ibadah haji (1985), dengan > > mengenakan surban dan baju gamis panjang, secara demonstratif ia turun > > ke jalan dan melakukan pawai di pusat kota Wamena sambil mengerahkan > > ratusan warganya yang masih mengenakan koteka dan bertelanjang dada. > > Teringatlah > > kita pada kisah sahabat Nabi Muhammad yakni Umar bin Khattab ketika > > akan melakukan hijrah dari Mekah ke Madinah yang tilakukannya tanpa > > sembunyi-sembunyi dan tanpa ada rasa takut. > > Saat > > kerusuhan menimpa Wamena tahun 2000 lalu, sebagian pendatang baik > > Muslim maupun Kriten dicekam rasa takut. Tidak terkecuali Muslim > > pribumi pun mengalami hal serupa. Untuk meredam situasi, pihak > > pemerintah menyelenggarkan pertemuan dengan kepala-kepala suku dan > > tokoh-tokoh agama. Dalam pertemuan dengan jajaran pemerintah daerah > > tersebut H.Aipon mengusulkan ditempatkannya aparat keamanan secara > > permanen di kawasan ini dan itu disetujui. > > Di > > ibukota provinsi Papua, Jayapura, seperti juga di kota-kota lain > > seperti Fak-Fak, Sorong, Wamena, Manukwari, Kaimana, Merauke, Timika, > > Biak dan Merauke, suasana keislaman semakin tampak, khususnya di > > kalangan pendatang. Selain jumlah rumah ibadah yang semakin bertambah, > > kegiatan halaqah juga tumbuh tidak kalah subur. Selain itu, > > bila kita jalan-jalan di pusat kota Jayapura tidak sulit kita menemui > > Muslimah berjilbab lalu lalang di antara keramaian. Termasuk di kampus > > ternama di Papua Universitas Cenderawasih, para wanita berjilbab juga > > dengan mudah kita temui. > > Penduduk Muslim di kota terdiri dari para pedagang, pagawai, > pengusaha, pelajar/mahasiswa, guru, atau buruh. > > Secara > > keseluruhan jumlah komunitas Muslim di Papua mengalami peningkatan yang > > cukup pesat, utamanya di kota kabupaten atau provinsi. Dalam catatan > > yang dikeluarkan oleh LP3ES, Papua, termasuk dari 7 kantong-kantong > > Kristen di seluruh Indonesia yang semakin penyusutan. Sebaiknya jumlah > > penduduk Muslim semakin tumbuh. > > Sebenarnya potensi Sumber Daya Manusia (SDM) Muslim di Papua tidak > kalah banyak di banding dengan ummat lain. > > Akan > > tetapi nampaknya ada semacam perasaan `tidak PD" di kalangan mereka > > untuk tampil dan terlibat langsung dalam lingkar pemerintahan. > > Akibatnya, mereka hanya menjadi penonton, atau�katakanlah- - turut > > terlibat, namun ada di `wilayah yang tidak menentukan'. > > "Ini > > tentu saja menjadi PR kita ke depan. Ummat Islam Papua harus menghalau > > rasa tidak PD-nya, dan selanjutnya bersama yang lain terlibat langsung > > membangun Papua," tutur Mohammad Abud Musa'ad MSi(42), intelektual > > Muslim Papua yang juga anggota tim penyusun UU otonomi khusus Papua. > > "Secara > > historis, keberadaan ummat Islam sebagai pendatang awal di Tanah Papua, > > sudah klir. Dan itu sudah tertuang dalam buku putih yang dikeluarkan > > oleh Pemerintah Papua." jelas Musa'ad yang tinggal di bilangan Abepura, > > Jayapuran ini. "Namun yang terpenting, kita harus segera berkarya dan > > tidak boleh asyik bernostalgia dengan sejarah,"pesannya pada Muslim > > Papua. > > Musa'ad > > juga menyadari, kendati sejumlah pertemuan tentang kedudukan ummat > > Islam di Papua pernah dilakukan, akan tetapi karena tidak adanya > > sosialisasi dan tindak lanjut dalam program, semua seolah lenyap tanpa > > bekas. > > Masih > > kata Musa'ad, bahwa peran politik ummat Islam Papua saat ini masih > > terlalu kecil, yakni tidak lebih dari 10 %. Kenyataan ini tentu saja > > sangat memperihatinkan. > > Bahkan > > dapat dibayangkan dari 900 ribu jiwa Muslim yang tersebar dalam 29 > > kabupaten/kota yang ada saat ini, hanya terdapat dua kabupaten yang > > dipimpin oleh pejabat Muslim yakni di Fak-Fak dan di Kaimana. Bahkan di > > kantong-kantong kabupaten berpenduduk asli mayoritas Muslim seperti > > Babo dan Bintuni, misalnya, saat ini dipimpin oleh non-Muslim. > > Senada > > dengan Musa'ad, menurut DR (desertasi) Toni Vm Wanggai yang juga Ketua > > Sekolah Tinggi Agama Islam Yapis Jayapura, bahwa sosialisasi dan > > pelurusan sejarah Islam di Papua harus dilakukan terus menerus. > > Hal > > itu perlu dilakukan agar ummt Islam di Papua mengetahui jati diri > > mereka, sekaligus menginformasikan kepada fihak lain yang belum faham, > > untuk tidak menganggap kaum Muslimin sebagai `tamu di Papua'. Muslim > > adalah juga pemilik sah kawasan ini, sehingga mereka memiliki porsi > > keterlibatan yang sama untuk membangun Papua. Islam hadir di Papua abad > > ke-XV sedang Kristen masuk Papua pertengahan abad ke-XIX (5 Februari > > 1855). > > Kegelisahan > > Toni, adalah seiring dengan adanya upaya dari kelompok Kristen yang > > ingin menghapuskan jejak Islam di kawasan ini, khusunya di kawasan Raja > > Ampat Di mana hama "Raja Ampat" akan dihilangkan dan diganti dengan > > nama lain. Padahal, nama Raja Ampat adalah se-monumental sejarah Papua > > sendiri. > > "Nama > > Raja Ampat diambil dari eksistensi kerajaah-kerajaan Islam yang > > berkuasa di kawasan Indonesia timur saat itu yakni: Ternate, Tidore, > > Jailolo dan Bacan.." tegas Toni yang mengambil desertasinya tentang > `Rekontruksi Sejarah Islam Papua'. > > Kendati > > masih sebatas wacana yang dipublikasikan di media lokal, namun tak > > urung informasi nyeleneh seperti itu membuat gelisah sejumlah tokoh > > Muslim. > > "Itu > > sama dengan bunuh diri." kata M Shalahuddin Mayalibit, SH, mengomentari > > gagasan itu. " Sekalipun dipublikasikan seribu kali, itu tidak akan > > terwujud." kata dosen Fakultas Hukum di Universitas Cenderawasih ini > > menjelaskan. > > " > > Raja Ampat dan Muslim sudah menjadi satu kesatuan yang sulit > > dipisahkan," tegas cucu Muhammad Aminuddin Arfan, tokoh Muslim dari > > kerajaan Salawati yang ditugasi Raja Tidore untuk mengantar CW. Ottow > > dan GJ Geissler si bapak Kristen ke Papua. > > Seiring > > dengan diberlakukannya Undang-Undang nomor 21 tahun 2001 tentang > > otonomi khusus, peluang keterlibatan Muslim di pemerintahan semakin > > terbuka lebar. (baca: Peluang dan Tantangan di Era Otonomi) Hanyasaja > > diperlukan kekompakan dari segenap elememen > > Muslim baik para intelaktualnya, ormas Islam, alim ulama, tokoh > pemuda, mahasiswa dan remaja, pondok-pondok pesantren, dll. > > Tanpa > > dengan itu mereka akan tetap terpinggirkan, dan bahkan tidak mustahil > > akan menjadi `kambing hitam politik' oleh kelompok kepentingan yang > > sudah lama ingin menguasai Papua(Kristen) . [Ali Atwa. Penulis adalah > wartawan Majalah Hidayatullah danpenulisbuku "Islam Atau Kristen > Agama Orang Irian (Papua)". Tulisan diambil dari Majalah Hidayatullah] > bersambung.. . > > > > > > > > > > > > > > ____________ _________ _________ __ > > From: mediacare <mediacare@ ..> > > To: RumahKitaBersama <RumahKitaBersama@ yahoogroups. com>; > [EMAIL PROTECTED] s.com > > Sent: Thursday, November 27, 2008 9:13:19 AM > > Subject: [ppiindia] Re: [mediacare] Sebagian Guru Agama Islam di > Jawa Belum Bisa Ajarkan Pluralitas > > > > > > > > ----- Original Message ----- > > From: Sunny > > To: Undisclosed- Recipient: ; > > Sent: Friday, November 28, 2008 4:14 AM > > Subject: [mediacare] Sebagian Guru Agama Islam di Jawa Belum Bisa > Ajarkan Pluralitas > > > > Refleksi: Dapat dimenegerti masalahnya, karena dikirim Laskar Jihad > Sunnah Wal Jamaah ke Indonesia Timur dengan restu para penguasa NKRI. > > > > http://www.detiknew s.com/read/ 2008/11/25/ 163443/1042749/ > 10/sebagian- guru-agama- islam-di- jawa-belum- bisa-ajarkan- pluralitas > > > > Selasa, 25/11/2008 16:34 WIB > > > > Sebagian Guru Agama Islam di Jawa Belum Bisa Ajarkan Pluralitas > > Andi Saputra - detikNews > > > > Jakarta - Sebanyak 62 % guru-guru agama Islam sekolah umum di Jawa > menolak orang non muslim menjadi pemimpin publik. Selain itu sebagian > guru agama Islam di Jawa juga tidak toleran dan anti pluralitas. > > > > Penolakan terhadap pemimpin non muslim menjadi pemimpin mulai dari > pemilihan kepala sekolah hingga Pemilu legislatif. "Para guru masih > belum bisa mengajarkan pluralitas dan sikap toleran. Padahal, sikap > dan pandangan Islam, guru agama harus mendukung dan berpartisipasi > dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang beragam," kata Direktur > Pusat Kajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta, Jajat > Burhanudin, di Galeri Lontar, Jalan HOS Cokroaminto, Jakarta Pusat, > Selasa (24/11/2008) . > > > > Lebih lanjut, dari data survei lembaganya, para guru yang mengajar > di sekolah umum tersebut, 68% responden menolak non muslim menjadi > kepala sekolah dan 30% responden mendukung Pemilu hanya untuk memilih > wakil rakyat yang memperjuangkan syariat Islam. > > > > Survei dilakukan terhadap 500 guru di 500 SMA/SMK di Jawa selama > kurun Oktober 2008. Responden dipilih dengan menggunakam metode random > acak sederhana. Selain itu juga dilakukan wawaancara terstruktur > terhadaap 200 siswa di 50 kota/kabupaten. "Metode simple random > sampling yang kami gunakan memiliki margin error lebih kurang 5%," > ujarnya. > > > > Sikap tidak toleran dalam beragama juga bisa dilihat 21% responden > mengaku orang yang keluar dari agama Islam harus dibunuh. Selain itu, > 79% guru melarang anak didiknya mempelajari agama non Islam. "Yang > lebih memprihatinkan, 75 % guru mengajarkan siswa muslim untuk > mengajak non muslim mempelajari Islam. Ini menunjukkan sikap beragama > yang eksklusif tidak hanya berlaku di sekolah, " tuturnya.. > > > > Pemilihan corak geografis sekolah memperhatikan corak geografis pada > umumnya SMA/SMK di Jawa. Yaitu 41% guru SMA di kotamadya, 25% guru SMA > di kabupaten dan 28% guru SMA/SMK di kecamatan. "Sisanya yang 5% > merupakan guru SMA/SMK di pedesaan,"pungkasny a.(asp/nrl) > > > > Baca juga : > > a.. Guru Agama Islam di Jawa Masih Konservatif > > b.. Pemimpin Jadi Kunci Penting Untuk Perdamaian Agama > > c.. Menag: Pengalaman Kehidupan Beragama Kita Memprihatinkan > > d.. Kalla: Agama Mudah Memecah Kita Jika Salah Pengertian > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > > > > > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > [Non-text portions of this message have been removed]

