Mimpi Baik
Oleh Asro Kamal Rokan
Namanya
Basrizal Koto. Para sahabatnya lebih suka memanggilnya dengan nama
Basko. Lelaki Minang ini lahir dari keluarga miskin, tidak memiliki
apa-apa, kecuali tekad untuk mengubah nasib. Basko menjalani hidupnya
seperti nelayan di lautan lepas. Ia tidak mengeluh pada ombak dan angin
yang dapat saja mengempas perahu cita-citanya. Basko terus mengayuh dan
berhasil mencapai pulau tujuannya. Dalam lilitan kemiskinan, Basko yang
dilahirkan di Parimanan 49 tahun lalu, tidak dapat menyelesaikan
sekolah dasarnya. Bahkan, untuk sekadar makan pada masa itu, orang
tuanya terpaksa meminjam beras dari tetangganya. Basko berusaha
melepaskan diri dari jeratan kemiskinan.
Ketika teman-temannya
tekun belajar di sekolah, Basko justru menghabiskan masa anak-anaknya
di pasar, membantu kehidupan keluarganya. Ia menjual sabun dan kerupuk
buatan ibunya. Basko terus berupaya untuk meringankan beban hidup orang
tuanya, setidaknya dia tidak menjadi beban bagi keluarganya yang
dihimpit kesulitan hidup. Berbekal doa dan deraian air mata ibunya
dalam setiap shalat tahajud, Basko yang ketika itu berusia 13 tahun,
merantau ke Pekanbaru, Riau. Di sini, dia menjadi kondektur oplet.
Semangatnya yang kuat untuk maju, kehidupan Basko berubah pelan-pelan
dan pasti.
Dalam masa sepuluh tahun di Pekanbaru, Basko yang
telah memiliki cukup modal mulai usaha mengkreditkan mobil Chevrolet
kepada sopir-sopir di Sumatra Barat. Dari ini, usahanya
berkembang.Kini, Basko saudagar besar di Pekanbaru. Selain memiliki
surat kabar Riau Mandiri, Radio Smart FM Mandiri di Pekanbaru, dan
surat kabar Sijori Mandiri Batam, Basko juga memiliki sejumlah
perusahaan di bawah Mandiri Cerya Basko (MCB), peternakan sapi seluas
300 hektare, penjualan mobil, dan jasa angkutan darat. Ketua Forum
Silaturahim Saudagar Minang (FSSM) ini juga memiliki hotel kelas
internasional Best Western Basko Hotel dan pusat perbelanjaan Minang
Plaza di Padang.
Basko tidak memiliki Lampu Aladin, yang
ketika diusap permintaannya segera terwujud. Dia tidak duduk di
pohon-pohon besar sambil membakar kemenyan dan memohon doanya
dikabulkan. Alumni ESQ ini tidak pergi ke peramal, yang kini tanpa
malu-malu mengiklankan diri di televisi seakan mereka mampu mengubah
nasib orang lain.Perjalanan hidup Basko menjelaskan banyak hal. Dia
tidak mengeluh dan menyalahkan Allah SWT di saat kemiskinan membelit
keluarganya. Dia tidak meratap di bawah pohon kamboja menyesali diri
lahir dari keluarga miskin dan tidak menamatkan pendidikan formal.
Basko justru bersikap optimistis, bahwa perubahan hanya dapat dicapai
dengan kerja keras, kemauan, tekad, dan tentu kehendak Allah SWT.
Bangsa
yang kini mulai dibelit krisis, memerlukan semakin banyak orang yang
bersikap optimistis, bekerja keras, dan yakin pada masa depan, bukan
para pengeluh dan mereka yang lebih suka menyalahkan sambil berpangku
tangan. Bangsa ini tidak bisa bangkit dan dibangun dari orang-orang
yang kalah, tidak pandai bersyukur, para peratap, dan mereka yang lebih
suka memandang dari sisi negatif. Basko tidak menyesali kemiskinan yang
mengimpitnya, tidak meratapi nasib, dan menyalahkan orang lain atas
nasib yang menimpanya. Dia berjuang dengan segenap kemampuannya
memperbaiki peruntungan dirinya. Dan, lelaki optimistis itu berhasil.
[Non-text portions of this message have been removed]