--- :
PUNAKAWAN, ROMO, DAN RAGI (2)
(SAMBUNGAN DARI 1 Semar-Pijit)
PETRUK (PET) : Maaaam, mami...!! Umi, umiii... !!!
BU PETRUK (BP) : Wathathita....kok nganeh-anehi sih pak ? Nglindur apa
? Mau gaya ya ? Mau sok barat atau ngarab ? Wong dari tadi saya disini
kok diceluk-celuk ? Lagipula, saya gak suka dipanggil begitu!
Apa-apaan? Mami, umi... mbelgedhes! Mbokyao tiru dimas Bagong itu,
beridentitas! Kalau malu manggil Mbokne...ya Ibu kan lebih pantes!
Bunda atau IBU, itu paling jitu!
PET : Oiit. Sori-sori, don wori bi hepi! Gitu aja ngambek! Ya deh, IBU
saja ya...
BP : Iya. Terus, ada apa sih ?
PET : Begini Bu... Oya, PAITO kemana ? Masak ekstrakur gak
pulang-pulang, jam berapa ini ?
BP : Lho, gimana sih Pak. Kan tadi barusan kusuruh ambil jerigen
minyak tanah di pak RT. Sudah diisikan di pangkalan, bu RT telpon.
Soalnya tadi pagi antri sepagian, truk minyak jatah para kawula Astina
tak datang-datang, ya saya pulang, titip bu RT yang berdua jongosnya.
Dasar gubernemen Astina sudah keblinger, para kawula sudah susah masih
digebuki dengan njatah bahan bakar tak becus gini!
PET : Ya wis Bu. Yang legawa, sing lila. Ya wis ben, setannya masih
pating bejajig di gubernemen, tunggu mengko lak kuwalat rakyat.
PAITO (PTO) : Asalamalekum! Pak, mak, nih minyaknya. Wah, ibu-ibu pada
ngrumpi tadi, ngrasanin tak semua kebagian jatah. Ini cuma dapat 3
liter buat seminggu. Itupun kalau minggu depan dapat lho.
BP : Lho piye ta ? Yo-opo ? Kepriben ? Kumaha ieu ?! Tiga liter ???
PTO : Memang zaman edan. Gubernemen gak mikir. Njaluk disumpel sandal
kupinge. Lagipun, emangnya biarpun orang kecukupan pakai LPJ lalu gak
perlu minyak tanah apa ? Bahan bakar gas gak selalu luwes untuk semua
tujuan kan ? Bahan bakar cair tetap perlu. Tadi baca di koran pak
guru, elpiji, batubara, kompor-kompornya, semua ternyata dijadikan
obyekan. Wah negara betara kalla tenan kok Mak, Pak! Rakyat wis pada
jerit-jerit, gero-gero niba-tangi, gubernemen gak ngeh juga Volksraad-nya.
PET : Ya wis thole, Gusti Alloh gak sare!
Setelah menaruh jerigen ke tempatnya, PAITO ngglesot didekat
bapak-ibunya. PAINEM (PNM) dan PAIJAH (PJH) lagi di ruangan belakang,
ngengkrengin wedang. Sedangkan PAIMAN (PMN) belum pulang kerja
bingkil, nglembur agaknya.
PET : PAITO, kamu belajar rajin ya. Tetap rangking sampai klas tiga
nanti. Tiru dik PAIJOnya lik Bagong. Mas dan mbakmu jadi kuli kabeh!
Paiman kuli bingkil. Painem apa itu manajer ya, yah pokoke seksi
atur-atur pabrik benik. Paijah serabutan di warteg bik Siti. Lha ya
abot gini ini....pada salah kaprah!
PTO : Pak, Mak, gak usah kuatir, Paito ini mau jadi pengusaha.
PET (magito-gito) : Weh apa thole, usaha apa, bapak disuruh
bantu-bantu apa, mumpung isih kuat baune (masih kuat tenaganya) ?
Bener nih ?!
BP : Oalah, bapakmu seneng itu ngger Paito...
PTO : Gini Pak, Mak. Tadi pak guru cerita. Desa kita banyak siwalan,
singkong, canthel (sorgum), bagus dibikin alkohol. Carane diragi,
kayak kalau di Solo dibikin ciu, di Manado dibikin cap tikus itu. Ada
bapak-bapak ilmuwan-profesional mau ngajari dan mendampingi kita semua
di desa, pemberdayaan diri!
PET : Oit, oit, masyaalloh, masyaalloh, tobil, astagfirulloh! Khamar,
haram itu! Iblis, gendruwo, dajjal, bejat, wewe gombel, bangsat!
Wathathita! Duh jagad dewa batara.... Anakku, sutaku, yogaku : ciu,
cap tikus, vodka, jenewer, bir, teler..Aduduuduuh! Alkohol bukan
memberdayakan tubuh, thole! Jangan, maksiyat itu! Maksiyat, maksiyat!!!
BP : oalah bapak, mengko sik tah, anakmu didengarin dulu. Mbokyao
jangan fanatik buta apriori dulu, nanti ditiru anak-anak lho. Untung,
Paito gak ketularan Paiman yang suka nglawan bosnya dan dibilangnya
kapir karena over workaholik. Mbokyao pada pinter semadya, bijak,
dewasa ta.... Rukun agawe santosa (rukun membuat kokoh), kaki!
PTO : Ya itulah. Terus Paito tadi obrol ama dimas Paimo waktu pulang
sekolah. Itu alkohol memang nantinya payu laris, karena gubernemen
sudah gak mampu lagi sediakan bensin solar dan minyak tanah.
Target-target yang mereka buat sendiri dan omongkan kepada kawula,
apalagi dalam bidang energi, TIDAK ADA yang paripurna tercapai! Kata
Paimo, kakangnya di Bandung, Paijo, lagi bikin proposal untuk
terobosan. Bersama tim dosennya, Paijo bikin alkohol mutu bahan bakar
dengan biaya total murah, duaribu rupiah seliter kalau tak salah, dan
akan dipatenkan! Tekniknya baru dan luwes bisa berbagai ukuran pabrik.
Bukan disuling.
PET : Popusel ? Apa itu ?
PTO : Proposal, itu lho pengajuan hitungan kelayakan dan usulan
bisnis. Usaha energi nantinya niscaya dilakukan oleh rakyat, tak boleh
lagi ada monopoli oleh BUMN gubernemen yang penuh tikus dan rayap.
Alkohol ya bikinnya harus di desa, jangan kayak biodiesel rakyat
disuruh tanam jarak tetapi yang bikin biodiesel orang lain, kayak
zaman Jepang menjajah memeras Indonesia saja ya ? Juga jangan sampai
kayak mlinjo juga, yang bikin emping dan mengekspor lagi-lagi orang
kota Astina. Orang desa dikibuli terus, disuruh kerja, duitnya
ditilepi. Ini tidak boleh diterus-teruskan. Kawasan wilayah kawula dan
negara Astina kok dikapling-kapling oleh para punggawa! Gila ya pak ?
Entut berut tenan!
PAIMO (PMO) : Asalamalekum!
PET + BP + PTO : alekumsalam! Wah Paimo, ayo masuk! Dengan siapa ?
Mana pakmu mbokmu ?
PMO : Ya pakde, budhe. Ini baru pulang dari kumpul Remaja Kristen, pas
lewat kok disini masih terang dan rame meriah, jadi mampir.
PET : Ada apa kumpul di greja ? Rencana kaderisasi kresten ya ? Mau
menghadapi siapa ? Kiri atau kanan, atau tengah ? Nglurugnya bala siapa ?!
BP : Lho kan, bapak, gak ngilo githok, asal nyemprot begitu ...
Kacamatanya kok gak lepas politik sempit. Mbokyao yang sareh, tidak
mubal-mubal nafsu suudzon begitu ah! Kok ada kiri kanan kayak
sepakbola atau tukang parkir truk saja!
PMO : Ooo gak pakde. Kaderisasi itu kan politik, dan sudah kuno,
hanya memperalat remaja atau orang pinggiran sesaat. Itu namanya
keblinger, tonil ugal-ugalan. Kami mau berbuat nyata bagi desa. Itu
lahan-lahan yang tak terurus mau kita openi dan sulap jadi kebon
energi dan pangan. Caranya dengan peRAGIan! Kita yang remaja mau
sekaligus jadi ragi, mau mengubah lingkungan agar maju! Kami ragi ke
kemajuan. Jadi bukan gaya kaderisasi, namun terjun langsung. Kami gak
mau lagi digiring milih atau nyoblos ini itu, kemudian nantinya
ditinggalkan, diabaikan, dilupakan. Kami yang di desa sudah jenuh
dengan cara-cara kolot norak begitu! Jauh panggang dari api!
PTO : Bener Paimo. Nanti remaja dari berbagai kelompok dan agama kita
guyubkan, gotong royong, gugur gunung : penghijauan dan peragian.
Bukan dibikin minuman alkohol pak, tapi dijadikan pengganti bensin,
dan dipasok jual ke puskesmas dan rumahsakit, malah ke pabrik-pabrik
obat dan jamu. Kita juga tanami polong-polongan, dibuat penganan
tradisional ragian, kalau perlu diekspor! Sudah gak zaman lagi bina
remaja eksklusif, diadudomba, dipanas-panasi, ditulari kebencian dan
suudzon! Yang penting gimana yang pada nganggur bisa kerja. Gimana
kita bisa ikut sumbangsih seperti banyak kelompok beraneka ragam di
berbagai wilayah Astina secara mandiri bangkit, tidak menunggu oknum
birokrasi gubernemen yang sudah kloloden keharaman.
BP : Ragi apa kayak ragi membuat tempe, tape atau oncom atau brem ?
Ibu-ibu pernah ngobrol resepnya kok.
PMO : Ya budhe. Sama-sama ragi tapi beda-beda jenisnya sesuai produk
yang mau kita buat. Kata kang Paijo, tempe brem oncom dll asli Astina,
tetapi kini sudah dibikin dan tersohor di Alengka dan Gujarat! Dan
lucunya, kata kang Paijo, pembuatan starter dan inokulum tempe lokal
masih dimonopoli lho, padahal konon riset awalnya pakai uang rakyat.
Ini juga perlu pendalaman dan perjuangan, agar dibongkar, tadi juga
dibicarakan di sekolah favorit kami. Kawula harus diberdayakan lagi
agar seperti di Korea, Jepang, Cina, sampai Brasil, Amerika, India.
Bapak saya, pak Bagong, paling getol kalau bicara itu dengan kang
Paijo, dan beliau 100% dukung kami untuk kelak menjadi
WIRAUSAHA-SOSIAL sukses. Itu usaha pemberdayaan usaha mikro di India,
Bangladesh sampai Meksiko, sudah mulai makin berhasil. Kok di Astina
mingkup macet terus kapan megarnya ? Dana kawula dan negara untuk
riset, hasilnya kok diobyekin, tak dibuka transparan bagi rakyat yang
mayoritas di desa ? Maka kami tak sudi kaderisasi, kita remaja maunya
terjun langsung tak pakai acara indoktrinasian yang hanya bikin orang
fanatik cupet, mendewakan kekerasan dan kemunafikan. Padahal tikus dan
rayap seolah makin dibiarkan tetap gentayangan dimana-mana,
menggerogoti kalangan usahawan, industri, sampai pertanian, kehutanan
dan nelayan. Kami emoh, kami tolak kaderisasi pola salon-sablon!
Penyadaran sejati itu di lapangan, bukan di ruangan oleh dalang
lancung yang banyak di ibukota Astina itu.
PAINEM + PAIJAH (muncul ke ruang tamu): Nah, hai apakabar, Mo! Nih
kami bikinin teh asli NAS-GI-THEL pakai cengkeh dikit, kesukaan bapak
juga. Ayo, nih teko dan cangkirnya khas Tegal lho!
PET : Nah, ini dia, ayo nDhuk, kumpul disini juga semua. Gayeng!
Inilah bahagia, pada rukun! Oya, Paimo, ini TEH kan juga diragi ya ?
Kemarin bapakmu menjelaskan, sehabis kerja keras, eyang kecapean,
katanya juga gara-gara asam laktat menumpuk di otot, karena proses
glikolisisnya peragian. Bener ya ?
PMO : Tentu saja pakdhe. Orang kini terpesona teh hijau. Padahal teh
hitam, teh beragi, juga tak kurang manfaatnya. Teh hijau atau teh
coklat-hitam, sama-sama berguna. Untuk segala sesuatu ada saat dan
tempatnya, sesuai tujuan dan lingkupnya. Saya dan Paito, dibantu kang
Paijo, sedang merangkum semua makanan minuman kita, yang diolah secara
peragian. Antibiotik, vitamin, dan banyak obat lain ya hasil peragian
lho. RAGI memang hebat ya. Dan soal eyang, betul, kalau tekor oksigen
ya bukan gula menjadi air dan karbon dioksida, namun menjadi dua
molekul laktat; jadi prosesnya rada terpaksa gitu. Daging sintetik
diet Vegetarian juga produk samping peragian! Pakde budhe juga baik
makin menjauhi makanan berdaging, karena usia lho, demi kesehatan.
Makanan hasil peragian itu sehat, lebih kaya gizi, membasmi bibit
penyakit!
Painem (PNM): Mo, bener ya, mau ada gotong-royong remaja desa
menggalakkan usaha PERAGIAN ? Yang Islam, Kresten, Hindu, Budha,
Kejawen, Sunda-wiwitan, Kaharingan, Badui-karuhun, Dalian-na-Tolu,
Konghucu dll semua bergerak menggiatkan teknologi terapan dan
wirausaha-sosial ? Secara guyub profesional ?
Paijah (PJH) : Iya, tadi sore eyang Romo Ki Lurah Semar juga
bisik-bisik, waktu saya antari tempe bacem, katanya paklik Bagong mau
ikut mendukung, bersama pak RT dan pak carik desa.
PET : Wah, lha kok ternyata sudah tersosialisasi begini ? Saya jadi
ku-per nih! Kowe ki jan tenan kok thole, Paito! Bapakmu sendiri gak
diajak omong, jadi plongah-plongoh deh! Dawala manyun, jelek banget
donk! Kok teganya kamu thole! Paimo, sampaikan ke bapakmu Bagong dan
Ki Lurah Badranaya ya, PETRUK alias Tongtongsot Dawala mau partisipasi
untuk emansipasi, bersama-sama, agar tidak eksklusif. Usaha di desa
jangan cakar-cakaran, tapi harus bersatu, inklusif (mencakup), supaya
tidak ada yang memecah-belah, mengadu-domba, mendiskriminasi. Cara
Londonya devide et impera! Ya wis, ayo pada diminum, selak keburu dingin!
PMO : Iya yu Nem, yu Jah, To, dan pakde budhe. Saya lagi approach
kang PAINO dan PAIMIN, juga yu PAIJEM, anak-anaknya pakde budhe
GARENG, untuk juga terlibat. Kang Paino kan wakil ketua seksi kegiatan
pemuda Hindudharma, kang Paimin sekretaris muda-mudi Budhidharma, yu
Paijem aktif di paguyuban perempuan juga. Lengkap, Paito dari remaja
masjid. Belum lagi kang Paijo yang selain kuliah dan kerja, juga masih
ada waktu mengurus karya sosial pesantren, mencakupi NU Muhamadiyah
dll. Saya giat di kaum muda Kristen. Lha, kan lengkap ? Jangan mau
lagi diadudomba, kami mau bangkit berdayakan desa. Topiknya PERAGIAN,
hebat kan. Tak perlu indoktrinasi-indoktrinasian sempit lagi, gak
musim! Sudah terpuruk kok malah bertengkar, ya tidak lucu kan ?
Temen-temen yu Painem di pabrik benik sepakat kan ? Orang-orang yang
pada makan di warteg bik Siti juga OK kan yu Paijah ?
PTO : Betul! Subhanalloh! Bersatu kita jaya! Bhinneka Tunggal Ika!
Jangan biarkan orang-orang diluar yang tak suka terhadap bangsa kita
pada gembira keplok-keplok hore karena kita kabruk-kabrukan tengkar
antar saudara! Kayak ayam dan jangkrik diadu! Keblinger itu! Jangan
mau lagi diadudomba para agen dajjal. Insyaalloh kita sejahtera
bersama, seperti dicita-citakan para bapak Proklamator dan para
pahlawan yang beraneka latar belakang, berbagai suku budaya dan agama
juga!
PNM + PJH : Kapan Mo, Paijo pulang dari Bandung ? Dia kuliah biotek
mikrobiologi kan ? Saya mau dengan kawan-kawan buat gerakan penggunaan
dan usaha RAGI khusus untuk perawatan kesehatan dan kecantikan wanita!
Kalau pulang kabari ya, nanti kawan-kawan saya kumpulin. Ini
teman-teman juga dari berbagai latar belakang kok, bukan eksklusif
fanatik kelompok apapun! Kami sepakat gak akan mau nyoblos calon yang
kini tak terbukti terjun di masyarakat desa langsung konkret, saat
General Election Astina nanti!
PMO : OK yu, nanti saya sms dia, ini gak bawa hp.
PET : Wah, tobil-tobil, anak-anak desa pada pakai hp, mendah
ngedab-edabi kalau dimanfaatkan untuk gotong-royong bangun desa dengan
iptek terapan! Saya mau ke pak carik ah besok! Aparat desa mesti
disadarkan!
PMO : Wah enak banget tehnya ya. NAS-GI-THEL ala Tegal. Tapi saya
mesti mohon diri dulu pakde budhe, yu Painem Paijah, dan cak Paito,
nanti mundak bapak ibu pada bingung. Salam ya buat kang Paiman kalau
datang nanti. Paito, nanti disambung lagi. Yang penting kita semua
makin bersepakat membangun desa mandiri dengan iptek terapan dan
wiraswasta-sosial. Punten lho, rebat cekap dulu. Hatur nuhun, dan
mohon doa restu!
PET + BP : Baiklah, thole Paimo. Tapi ingat ya, lain kali kita obrol
tuntas soal peragian dan manfaatnya. Juga penggunaan dalam berbagai
makanan, minuman, serta obat. Bilangin kakangmu Paijo, kalau pulang
mesti mampir ke pakde budhe! SMS ya dia, lalu kabari pakde budhe,
dimasakin opor bebek Madura kesukaannya, plus bumbu Banten. Dia
majukan anak-anak muda di ranah lain bagus, tapi lebih hebat lagi
kalau remaja di desanya sendiri yang pada nganggur juga dibangkitkan.
Jangan lupa lain kali ajak juga Paino, Paijem dan Paimin silaturahmi
ke rumah paklik buliknya, jangan nunggu setahun sekali lebaran. Salam
buat bapak ibumu juga sana. Ati-ati di jalan.
PMO : Nggih pakde budhe! Asalamalekum! Santi, rahayu, kawilujengan!
PET + BP + PNM + PJH (barengan) : Salam! Merdeka! Sentosa!
(BERSAMBUNG, ke seri 3, Gareng Semaput)
INFO :
Kisah serial PUNAKAWAN dan RAGI terjadi masa gubernemen Astina
kusut-masai penuh angkara, para PANDAWA ditundung, dan menyingkir ke
hutan. Sementara itu krisis MORAL, ENERGI, PANGAN, PENGANGGURAN dan
LINGKUNGAN, makin pekat saja, padahal General Election tak lama lagi.
Para kawula makin tertindih, terjepit, sesak nafas, penat pegal dan
kesal melihat tingkah laku para penyelenggara pelayanan publik. Para
Punakawan tinggal di padepokan desa didekat para ksatria PININGIT
mukim. Para kawula, mereka kini pintar, tidak mau lagi dipecah-belah,
diadu-domba curiga sesama saudara sebangsa. Adu domba dan
INDOKTRINASI adalah teknik kuno kaum EGOIS yang bermain kekuasaan
dunia, terutama berbaju POLITIK, EKONOMI, dan SEKTARIAN lain, yang
ujungnya kemunafikan, kekerasan, kepicikan, dan maling!
Keterangan : SEMAR-FAMILIA anak-cucu disini
SEMAR anak< GARENG, PETRUK, BAGONG
GARENG
anak< PAINO, PAIJEM, PAIMIN
PETRUK anak<
PAIMAN, PAINEM, PAIJAH, PAITO
BAGONG anak< PAIJO, PAIMO, (PAILUL)
Mintalah nasihat dari setiap
orang yang arif dan jangan kauhina nasihat yang bermanfaat.
--- End forwarded message ---