www.sriti.com
Sepercik Hantaran Yanusa Nugroho identik dengan cerpen dan novel wayang. Lalu ketika cerpennya Hikayat Gusala dimuat di Kompas 23 November 2008 silam, kami kedatangan lebih dari 22 email yang bertanya ini-itu. Intinya cerpen Yanusa kali ini membuat mereka terinspirasi. Jangankan kedatangan 22 email, hanya satu emailpun akan kami tanggapi. Lalu kami minta Yanusa yang tengah dijerat kesibukan menyelesaikan novel terbarunya itu meluangkan proses penciptaan karya tersebut. Itung-itung berbagi pengalaman. Pembaca budiman, berikut adalah proses kreatif bagaimana sebuah cerpen "Gusala" lahir. Semoga kisah di balik terciptanya cerpen ini bias menjadi jawaban bagi 18 orang (dalam 22 email) yang sudah bersusah-payah bertanya ini-itu tadi. Di zaman secanggih ini, ternyata cerpen "Gusala" karya Yanusa Nugroho ini masih punya tempat yang nyaman... Selamat menikmati Chusnato - Sriti.com Lahirnya "Hikayat Gusala" Oleh: Yanusa Nugroho Sebetulnya, cerpen "Hikayat Gusala" (HG) yang dimuat di Kompas Minggu, 23 November 2008, tersebut adalah bagian dari novel saya yang masih dalam proses: Karna. Hanya saja, tentu saja, ada bagian-bagian yang harus saya 'rampingkan', atau saya 'belokkan', agar sesuai dengan halaman yang tersedia di harian tersebut. Mau tidak mau, memang saya harus melakukannya. Mengapa? Pertama karena-- tentu saja 'Gusala' asli, alias versi novel, membutuhkan deskripsi detil yang jauh lebih memakan halaman. Kedua, jika tanpa 'penyesuaian' maka kisahnya benar-benar tidak bisa nyambung, sebagai sebuah cerpen yang otonom. *** Saya juga mendapat banyak tanggapan berupa sms maupun percakapan langsung, dari begitu banyak kawan yang kebetulan membaca HG. Apalagi, ketika pada hari berikutnya, Senin 24 November 2008, saya diminta memberikan bimbingan menulis cerita bagi rekan-rekan guru di Bogor, maka banyak pertanyaan seputar HG bermunculan. Ada yang mengomentari bahwa sebetulnya HG adalah sebuah pergulatan manusia ketika harus menyampaikan kebenaran, ada pula yang sambil berbisik berkata bahwa HG mengingatkannya pada hakikat 'ke-Jawaan-nya'; yang katanya mulai memudar. Banyak pula yang bereaksi 'tidak rela' Gusala dimatikan, dst. Apapun pendapat seputar HG, saya terima dengan senyum saja. Saya senang lantaran HG tidak bermakna tunggal bagi pembacanya.. *** HG memang cuplikan dari novel Karna; salah seorang tokoh dalam epos Mahabarata yang jalan hidupnya memikat begitu banyak orang( termasuk saya). Singkatnya, Karna saya gambarkan-sejak masa kanak-kanak, hidup dan tumbuh di tengah masyarakat yang memiliki tata nilai 'ekstrim'. Bayangkan saja, di masa kecilnya, Karna bersahabat dengan seorang raksasa-yang oleh masyarakat manusia, dianggap sebagai bangsa yang tidak bisa dipercaya. Saat itu, di berbagai belahan bumi ini, saya gambarkan setiap negara memang memiliki rakyat-paling tidak-dari dua golongan ini: kaum manusia dan kaum raksasa. Negeri Pringgadani, misalnya, secara mayoritas terdiri dari kaum raksasa, sehingga manusia adalah kelompok minoritas. Hastina sebaliknya, mayoritasnya manusia dan minoritasnya raksasa. Nah, Negara Awangga, yang kemudian menjadi kekuasaan Karna, sebelumnya memiliki raja dari golongan raksasa. Secara kebetulan pula, komposisi manusia-raksasa di negeri tersebut adalah 50%-50%. Di Awangga inilah Gusala hidup, di bawah kepemimpinan Karna. Sebagaimana yang sudah bisa kita duga, komposisi manusia-raksasa, sebetulnya memiliki potensi konflik, karena masing-masing memang punya kepentingan untuk saling menguasai. Peristiwa yang membuat Gusala akhirnya mengalami peristiwa 'cinta yang aneh' dan seterusnya adalah salah satu bentuk kongkret konflik yang terjadi di Indone.. eh, Awangga. * Untuk membaca cerpen Hikayat Gusala karya Yanusa Nugroho silahkan ke: Hikayat Gusala : http://sriti.com/story_view.php?key=2894 Get your new Email address! Grab the Email name you've always wanted before someone else does! http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/ [Non-text portions of this message have been removed]

