Sabtu, 06 Desember 2008 ] Republik Mimpi Tolak Intervensi Pihak Asing JAKARTA - 
Acara talk show Republik Mimpi mendapatkan poin tertinggi kedua sebagai program 
talk show paling diminati setelah Kick Andy. Meski begitu, program parodi 
politik pertama di Indonesia itu untuk kali ketiga menyatakan berhenti.

Keputusan untuk berhenti tayang lagi itu disampaikan Hafiz Syahnara, manajer 
Republik Mimpi. Alasannya, pihaknya tidak ingin bekerja di bawah tekanan dan 
merasa didiskriminasi pihak asing.

Effendi Gazali selaku penggagas acara Republik Mimpi membenarkan hal itu. 
Republik Mimpi serasa dijadikan acara kelas tiga yang syutingnya harus 
sekaligus dua episode dalam satu kesempatan.

Selain itu, kata dia, studionya terpencil dan berpindah-pindah. "Kami dianggap 
bukan prioritas. Tapi, saya tekankan, kami tidak ada masalah dengan antv 
ataupun Star TV. Divisi news sangat mendukung, terutama Uni Lubis dan Pak 
Azkarmin Zaini. Kami berutang budi," tegasnya.

Sejak awal tayang di antv, lanjut Effendi, Republik Mimpi tidak pernah bisa 
tayang siaran langsung. Namun, sebelum benar-benar berhenti, keinginan siaran 
langsung tersebut terpenuhi. Yakni, syuting di Istana Wakil Presiden dengan 
bintang tamu Jusuf Kalla pada 20 November. Itu menjadi siaran live perdana 
sekaligus terakhir karena setelah itu mereka menyatakan berhenti.

Hafiz mengatakan baru bisa tayang lagi jika indikasi pelanggaran karena ada 
intervensi pihak asing di stasiun TV Indonesia terbukti. Yakni, sosok pria 
asing bernama Brad Cox yang selama ini dikenal sebagai head of content atau 
direktur program antv dan Star TV.

Hal itu bukan sekadar karena kiprahnya, kata Hafiz, tapi lebih karena 
bertentangan dengan Undang-Undang No 32/2004 tentang Penyiaran. Pada pasal 16 
ayat 2 tertulis, orang asing tidak boleh menjadi pengurus lembaga penyiaran 
swasta di Indonesia, kecuali untuk urusan teknik dan keuangan. 

Brad Cox sudah diperiksa petugas Imigrasi dan sedang dikaji oleh Komisi 
Penyiaran Indonesia (KPI) serta Departemen Komunikasi dan Informatika. Maka, 
kata Effendi, untuk sementara Republik Mimpi lebih baik berhenti terlebih 
dahulu. "Istilahnya, mati berkalang tanah daripada dijajah orang asing," 
tuturnya.

Pengumuman rating acara talk show itu berdasar riset rating publik oleh Ikatan 
Jurnalis Televisi Indonesia bersama Yayasan SET dan The Habibie Center selama 
Oktober hingga November 2008 di sepuluh kota di Indonesia. 

Hasil riset itu dipaparkan di Hotel Sofyan Betawi Rabu (3/12). Pada kategori 
talk show, Republik Mimpi mendapatkan poin 70,8 di bawah Kick Andy yang meraih 
poin 94,3. Setelah itu, ada Dorce Show, Ceriwis, dan Empat Mata, yang 
masing-masing poinnya tidak sampai angka 50. (gen/tia) 

 http://jawapos.com/halaman/index.php?act=detail&nid=39399



      

Kirim email ke