http://www.presidensby.info/index.php/fokus/2008/12/13/3824.html


*Presiden di Padang:*

*Sekarang Bagaimana Kita Mengaktualisasikan Pandangan M. Natsir
 *

Padang: *Presiden Susilo Bambang Yudhoyono* dan *Ibu Ani* hari Sabtu (13/12)
pukul 22.00 WIB menghadiri syukuran masyarakat Sumatera Barat atas
penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada M. Natsir, di Gedung Serba
Guna PT. Semen Padang, Padang, Sumbar. M. Natsir ditetapkan sebagai Pahlawan
Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 41/TK/2008 pada tanggal 6 November
2008.

"Kami masyarakat Sumatera Barat bersyukur atas ditetapkannya M. Natsir
sebagai Pahlawan Nasional," kata Gubernur Sumatera Barat Gamawan Fauzi.
"Kami menyadari bahwa keputusan yang diambil ini bukan keputusan yang mudah
dan sederhana. Bagaimanapun sejarah selalu mencatat dan masyarakat Sumatera
Barat akan mengingat bahwa pengukuhan M. Natsir sebagai pahlawan terjadi
pada saat kepemimpinan Presiden SBY. Oleh karena itu kami mengucapkan
terimakasih yang setulus-tulusnya," lanjutnya.

Presiden SBY mengungkapkan, jika berbicara tentang M. Natsir maka tidak akan
ada habis-habisnya. "Betapa banyak apa yang telah dilakukan almarhum, dan
betapa luas cakrawala kepemimpinannya. Sekarang bagaimana kita
mengaktualisasikan apa yang menjadi pikiran, sosok kepribadian, pandangan
dan apa yang dilakukan M. Natsir," terang SBY. Dari banyak pengamatan
terhadap M. Natsir, Presiden SBY mengambil empat sisi dari sekian banyak
aspek dan dimensi yang apabila diaktualisasikan dalam kehidupan tentu akan
membawa kebaikan yang nyata.

Pertama adalah bagaimana Pahlawan Nasional, M. Natsir ini melihat dunia pada
jamannya. "Ketika dominasi kaum penjajah amat kuat. Asia, Afrika, Amerika
Latin di tangan para pemerintah kolonial, beliau anti penjajahan. Itulah
yang mendasari mengapa negara dan saya memutuskan untuk memberi gelar kepada
M. Natsir. Itulah semangat yang harus kita lestarikan dan aktualisasikan.
Dulu ketidaksukaan kita kepada penjajah kita lakukan dengan memerdekakan
diri. Sekarang ketika kita sudah merdeka, kita ingin tatanan yang ada di
dunia ini adalah tatanan yang adil," SBY menerangkan.

Nilai kedua yang bisa dipelajari adalah mosi integral Natsir. "Ketika negara
kita mengalami krisis belum memikirkan keutuhan, integritas teritorial,
kedaulatan, kesatuan kita sebagai negara nasional. Sekarang, tantangan itu
masih ada. Meskipun kita tidak mengalami serangan agresi dari negara manapun
yang mengganggu keutuhan kita, tetapi NKRI harus utuh. Tugas kita sekarang
adalah mari kita pastikan seluruh wilayah NKRI ini bisa membangun diri,
meningkatkan sejehateraan rakyat dan membangun daerahnya," kata SBY.

Nilai ketiga adalah berkaitan dengan agama dan peradaban. "Almarhum adalah
tokoh besar Islam. Kita rindu dan kita masih ingin muncul tokoh-tokoh besar
seperti itu. Kalau itu dijalankan maka kesalahpahaman tentang Islam
perlahan-lahan bisa disingkirkan," lanjutnya.

"Nilai keempat, sekarang ini kita mengenal benturan antar peradaban.
Sebenarnya ini merupakan benturan antara fundamentalis yang sesungguhnya
tidak mencirikan ajaran agama, budaya. Akibatnya benturan terjadi. Tetapi
bila semua dijalankan dengan benar seperti yang dilakukan M. Natsir maka
tidak akan terjadi benturan tersebut. Oleh karena itu yang kita perlukan
adalah jembatan dan dialog," ujar SBY.

"Kalau saya teruskan masih banyak yang bisa saya ungkapkan. Empat itulah
yang menurut saya sangat melekat pada M. Natsir. Semoga kita bisa meneruskan
perjuangannya dan generasi muda dapat mengenal beliau," tambahnya. Hadir
dalam acara tersebut antara lain, Seskab Sudi Silalahi, Menteri PU Djoko
Kirmanto, serta Jubir Presiden Dino Patti Djalal dan Andi Mallarangeng.
(osa)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke