15/12/2008 11:14
Tirulah Gaya Ibu Fatmawati, Mega!

Anton Aliabbas
 
INILAH.COM, Jakarta - Sejatinya, buku 'Mereka Bicara Mega' hanya berisi pujian 
terhadap Megawati Soekarnoputri. Tetapi, nyatanya tidak. Gaya berbusana yang 
kerap tidak mengenakan kerudung dikritik banyak pihak. Mega diminta mengikuti 
jejak sang Ibunda, Fatmawati, yang selalu mengenakan kerudung dimanapun berada.

Tulisan dalam buku yang diluncurkan 12 Desember lalu di Jakarta ini setidaknya 
melibatkan 38 tokoh lintas generasi dan latar belakang. Mulai dari politisi, 
pemuka agama hingga akademisi. Hasilnya, 10 orang ikut menyinggung hal yang 
sama, penting tidaknya Mega berkerudung.

Amien misalnya terang-terangan menyarankan Mega mengganti penampilannya. Sebab, 
citra sebagai pemimpin oposisi dirasa masih kurang efektif untuk mendongkrak 
suara. 

"Dari segi penampilan fisik, jika saja Mbak Mega mau mengenakan busana 
muslimah, saya jamin akan banyak dampak politiknya. Katakanlah bisa membantu 
meningkatkan peraihan suara dalam pemilu legislatif dan pilpres 2009," tulis 
Amien.

Dalam testimoni yang bertajuk 'Masih Ada Waktu', Amien mengakui hal yang 
bersifat simbolik (berbusana muslimah) tidak akan menggeser hal-hal yang 
bersifat substansial, bila tidak diikuti sikap, tindakan, dan kegiatan 
keagamaan yang signifikan. Malah bisa jadi kontraproduktif bagi Mega.

"PDIP yang dipimpinnya masih mengulangi kesalahan yang sama. Misalnya masih 
memasukkan daftar calon anggota legislatif secara tidak roporsional jika 
ditinjau dari segi representasi keagamaan," kata Amien.

Pengacara Mahendradatta dalam tulisannya 'Bukan Penganut Sekuler' menegaskan 
bila Mega berkerudung maka pandangan umum kepada putri sulung Bung Karno itu 
akan meningkat. Tetapi, ia mengingatkan agar Mega tetap tampil sebagai muslimah 
Indonesia bukan arab. "Kalau busana yang dikenakan tidak pas, malah bisa 
kehilangan nilai kebangsaan," cetus Mahendradatta.

Sedangkan anggota DPR, Ryass Rasyid mengatakan usul Mega berkerudung hendaknya 
dipertimbangkan. Karena, Ibu Fatmawati mengenakan kerudung dalam keseharian 
atau acara kenegaraan. 

"Apalagi Bu Mega berasal dari keluarga yang religius. Itu tidak bisa dilepaskan 
dari sentuhan sang ibunda yang sejauh ini dikenal sangat solehah," ujar Ryaas 
dalam tulisannya berjudul 'Lebih Pas Tampil Seperti Bu Fat'.

Keyakinan serupa juga dilontarkan mantan Menteri Luar Negeri Alwi Shihab. Dalam 
karyanya berjudul 'Nasionalis Islamis, Alwi mengatakan simbol kerudung memang 
bukan menjadi keharusan bagi Mega. Sebab, tidak mengenakan kerudung bukan 
berarti keislamannnya menjadi kurang. Akan tetapi, kerudung tersebut, di mata 
Alwi, sudah menjadi simbol nasional.

"Jika Bu Mega berkerudung dan tetap dikenakan saat menjadi presiden kelak, 
tentulah akan menjadi ikon wanita Indonesia abad ini," urai Alwi.

Sementara ulama Lombok, Tuan Guru Haji Hasanain Djuaini, menambahkan usul Mega 
berkerudung merupakan ide cerdas secara taktis strategis dalam menyambut pesta 
demokrasi mendatang. Dalam tulisannya berjudul 'Domain Politiknya Jelas, Tuan 
Guru mengungkapkan selain berpengaruh signifikan bagi syiar Islam, Mega 
berkerudung bisa menjadi ikon bagi PDIP maupun Baitul Muslimin Indonesia.

"Karena itu, bila sudah tahu cara memenangkan, sementara tidak mau memanfaatkan 
caranya, maka harus siap-siaplah menerima kekalahan," ujar Tuan Guru.

Pengamat politik Ikrar Nusa Bhakti berargumen, kalaupun Mega mengenakan 
kerudung, hal itu merupakan hal wajar. Karena secara kultural hal itu sudah 
menjadi adat kebiasaan di Sumatera, tempat orangtua Mega berasal. 

"Kerudung akan lebih menaikkan citra Mega sebagai sosok seorang muslimah," 
nilai Ikrar.

Isu 'keislaman' memang kerap digunakan musuh politik Mega menjelang masa 
kampanye. Pada tahun 1999 silam misalnya, ketaatan Mega dikritik seiring dengan 
beredarnya foto Mega di sebuah pura di Bali. Belum lagi, citra partai sekuler 
yang juga dilekatkan kepada Moncong Putih sering dihembuskan untuk menjegal 
Mega.

Berkerudung atau tidak memang tidak terlalu menjadi soal besar. Pilihannya 
tetap pada pribadi Megawati sendiri. Karena alih-alih berkerudung, pihak yang 
tidak suka dengan ketua umum PDI Perjuangan ini tetap saja akan menuai cibiran 
semisal kerudung politis. 

Pendapat Ketua PBNU Said Agil Siradj dalam tulisan 'Isak Tangis di Tanah Suci' 
mungkin ada benarnya. Komitmen dan integritas terhadap bangsa dan imannya lebih 
penting ketimbang gaya berpakaian. "Sekalipun mengenakan kopyah, pakai jilbab, 
atau baju gamis, tetapi kalau melakukan perbuatan jahat, anarkis dan suka 
mencaci maki maka itu bukan islami," tegas Siradj.[L4]
 
http://inilah.com/berita/politik/2008/12/15/68823/tirulah-gaya-ibu-fatmawati-mega/
 
 






Satrio Arismunandar 
Executive Producer
News Division, Trans TV, Lantai 3
Jl. Kapten P. Tendean Kav. 12 - 14 A, Jakarta 12790 
Phone: 7917-7000, 7918-4544 ext. 4023,  Fax: 79184558, 79184627
 
http://satrioarismunandar6.blogspot.com
http://satrioarismunandar.multiply.com  
 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke