pantesan aje ya, nalarnye orang2 liberalis radikalis sekaligus sekularis emang
99.99% rusak bin damage deh, moso' berzina kaga dose asal suka sama suka hihi
pantesan aje ad 'ulama' dari kalangan liberalis radikalis yg berfatwa zina tdk
haram asal suka sama suka, hebat ya, dasar hukumnye pasti bersumber dr primbon
atau dr kitab gatoloco & darmogandul
Muhajir dan Balon Berputing
Oleh Ahmad Tohari
Ikhwan Muhajir sedang gelisah gara-gara kondom. ''Mau berantas HIV/AIDS dengan
cara bagi-bagi kondom; itu nalar apa?''
Pertanyaan
Muhajir berkaitan dengan Hari AIDS Internasional. Ini membuat saya
teringat peristiwa 44 tahun lalu. Tahun 1964, saya duduk di SMA bersama
si Muhajir itu, tapi beda kelas.
Pagi itu ada pelajaran kosong.
Kelas agak riuh. Dan, tiba-tiba ada balon tiup meluncur di udara dari
arah belakang. Tan Swie Hing, anak pemilik apotek di kota kami,
tertawa-tawa. Dia yang meluncurkan balon itu bersama gengnya. Kelas
bertambah riuh. Balon yang di ujungnya ada semacam puting dan tidak
ikut menggembung itu jadi rebutan. Saya juga terlibat. Gadis-gadis
centil teman sekelas kami malah lebih heboh. Mereka beramai-ramai
memukuli balon tadi agar lebih tinggi mengapung di udara.
Di
belakang, Tan dan gengnya tertawa makin menjadi-jadi. Akhirnya, ketua
kelas menangkap balon itu untuk dipecahkan. Ketika tahu bahwa balon
tadi sebenarnya kondom yang ditiup sampai menggelembung, wajah saya
terasa kering. Brengsek! Dan, gadis-gadis centil itu? Ah, mungkin
mereka tidak tahu rahasia ini hingga sekarang. Juga, Muhajir.
Karena
peristiwa masa lalu itu, saya kini tidak kaget bila mendengar isu
perkondoman. Dan, saya tersenyum ketika Muhajir minta saya segera
menjawab pertanyaannya.
''Cegah HIV/AIDS dengan kondom. Bahkan, dengan Pekan Kondom Nasional, itu nalar
apa?''
''Itu
nalar kaum natural-sekularis. Para naturalis menyikapi seks dengan
pendekatan rasional dan teknis. Seks adalah hal yang alami semata.
Segala bentuk mitos, termasuk norma agama di seputar masalah birahi,
boleh disingkirkan. Norma agama hanya diberi tempat sebagai urusan
pribadi bukan urusan sosial.''
''Jadi, dalam nalar sekuler soal seks tak ada moralnya?''
''Ya,
ada. Masyarakat sekuler melaksanakan kegiatan seks sebagai kebutuhan
biologis semata. Dasarnya adalah suka sama suka. Sedangkan moralnya
ringan saja; asal kegiatan itu tidak merugikan siapa pun. Maka, mereka
perlu kondom dan menyebar kondom di mana-mana.''
Ikhwan Muhajir
berhenti kirim SMS. Saya lega. Tapi, saya membayangkan wajahnya
masygul. Dia adalah dai yang sering mengajak orang jangan mendekati
zina. Maka itu, dia pasti menentang massalisasi kondom. Bagi orang
beriman seperti Muhajir, mencegah HID/AIDS hanya ada satu cara; jangan
dekati zina dan narkoba.
Saya juga membayangkan kecemasan para
orang tua yang punya anak remaja. Bila membeli kondom semudah membeli
rokok, bukankah keberanian remaja untuk menabrak rambu-rambu dosa
menjadi berlipat ganda? Jadi, kemasygulan Muhajir adalah kemasygulan
masyarakat luas yang seharusnya ditanggapi. Jangan anggap enteng akibat
massalisasi balon berputing ini, meskipun ada kalanya untuk penggunaan
di jalan yang bersih kondom ada manfaatnya juga.
[Non-text portions of this message have been removed]