Reflksi: Sesuai sejarah pada tahun 1950-an diadakan kampanye pemberantasan butahuruf besar-besaran, itu zaman Orla yang dibilang tidak laku dan diganti dengan Orba. Tetapi ternyata sekarang korban buta aksara bertambah, teristimewa dikalangan kaum wanita.. Apakah politik pembutaaskaran masyarakat beradab? Masyoallah! Dirgahayu NKRI harga mati!
http://www.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=news.detail&id=48074 Wanita Dominasi Buta Aksara Senin, 15 Desember 2008 , 00:08:00 KUNINGAN, (PRLM).- Selama empat tahun terakhir buta aksara di Kabupaten Kuningan masih didominasi oleh kaum wanita. Akibatnya, hingga saat ini mereka masih menjadi sasaran warga belajar yang jumlahnya mencapai 5.604 dari jumlah sasaran sebanyak 9.340 orang dalam tahun ini. Sedangkan sasaran warga belajar pria hanya sebanyak 3.736 orang. Sesuai data yang dihimpun dari Dinas Pendidikan (Disdik) Kab. Kuningan, jumlah buta aksara keseluruhan tahun 2008 mencapai 19.457 orang, terdiri dari 13.151 wanita dan 6.303 pria. Jika dibandingkan dengan tahun 2007 lalu yang mencapai 35.064 orang terjadi penurunan sekitar 15.610 buta aksara. "Dengan adanya sasaran warga belajar sebanyak 9.340 orang yang memanfaatkan dana APBN, APBD provinsi PPK-IPM dan APBD provinsi pondok pesantren pada tahun sekarang, insya Alloh sisa buta aksara akan dituntaskan pada tahun 2009 mendatang," kata Kepala Disdik Kab. Kuningan Drs. H. Bambang T. Margono, S.H., M.M., melalui Kabid Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Drs. H. Nana Sunardi, M.Si., Minggu (14/12). Diakui Nana, semula angka buta aksara di Kuningan pada tahun 2005 lalu jumlahnya sangat banyak, yakni mencapai 39.254 orang. Penurunan angka dari tahun ke tahun tersebut, menyusul diimplemntasikannya sembilam strategis terkait dengan buta aksara. Di antaranya, sosialisasi program keaksaraan fungsional (KF) dengan memanfaatkan forum formal dan informal, memanfaatkan mass media, melaksanakan gerkan nasional pemberantasan buta aksara sesuai Inpres Nomor 5 tahun 2006 serta penyuluhan melalui pemuka agama. Selanjutnya, pembentukan kelompok kerja (pokja) pemberantasan buta aksara (PBA) baik pokja PBA tingkat kabupaten maupun tingkat kecamatan. Kerja sama multi steakholders dengan melakukan MoU dengan organisasi kewanitaan seperti PKK, GOW, Aisyiyah dan Muslimat NU, kerjasama dengan PGRI, Forum Komunikasi Pondok Pesantren, PTS dan BKPRMI. Buta aksara mapping melalui sinkronisasi data, pemetaan kantung buta aksara, pengalokasian program dengan proiritas kantung buta aksara. Kemudian, kata Nana, penguatan kelembagaan melalui pembinaan lembaga pendidikan non formal (PNF), pemberian izin satuan PNF dan pemberian stimulan kepada lembaga PNF. Pemberdayaan masyarakat melalui penyediaan sarana dan prasarana, penyediaan bantuan biaya, kesediaan menjadi tutor dan penyediaan tenaga tutor. Akselerasi program pembelajarab KF yang dilakukan dengan cara pemadatan proses pembelajaran dari enam bulan menjadi empat bulan. Program akselerasi tersebut telah dilaksanakan pada penyelenggaraan KF PPK-IPM Kab. Kuningan. Di samping itu, dilakukan pula pemberian voucher KF, implementasi strategi ini dalam bentuk pemberian program lanjutan dari program KF seperti life skill, Taman Bacaan Masyarakat (TMB) dan Kelompok Belajar Usaha (KBU). "Strategi terakhir adalah, pelaksanaan monitoring evaluasi dan pelaporan. Monitoring dan evaluasi dilakukan untuk melihat kegiatan dan tingkat keberhasilannya. Sedangkan pelaporan dimaksudkan untuk memperoleh informasi yang berguna untuk memcahkan persoalan yang ditemuai," kata Nana, menjelaskan. (A-146/A-26). [Non-text portions of this message have been removed]

