http://www.surya.co.id/2008/12/12/hot-news/wartawan-surya-juara-adiwarta-sampoerna/index.html
*SURABAYA | SURYA Online *- Wartawan Harian *Surya *kembali meraih prestasi di ajang *Anugerah Adiwarta Sampoerna *<http://anugerahadiwarta.org/2008/12/11/ini-dia-para-pemenang-anugerah-adiwarta-sampoerna-2008/>(AAS). Kali ini Marta Nurfaidah, lewat tulisan berseri dengan judul *Kehidupan Pengungsi Sampit di Pasar Keputran*<http://www.surya.co.id/2008/12/12/berita_terkini/kehidupan-pengungsi-sampit-di-pasar-keputran-1-7/index.html>ditetapkan dewan juri sebagai juara pertama reportase *features* kategori humaniora bidang sosial. Pengumuman AAS 2008 digelar di Hotel Crowne Plaza Jakarta, Kamis (11/12) malam, berakhir pukul 22.00 WIB. AAS 2008 resmi mengumumkan nama-nama jurnalis terbaik di tahun penyelenggaraan ke tiga ini, termasuk nama Marta. "Meskipun karya-karya yang masuk sudah cukup baik secara keseluruhan, namun masih ada beberapa elemen yang belum lengkap, seperti kekuatan dan akurasi data, dalam karya-karya tersebut untuk dapat disebut sebagai karya reportase investigatif, khususnya di bidang seni dan budaya serta olah raga," kata Effendi Gazali, dewan Juri Final AAS 2008. Anugerah Adiwarta Sampoerna adalah ajang penghargaan dan kompetisi bergengsi bagi jurnalis Indonesia. Ajang yang diadakan oleh Sampoerna sejak 2006 ini bertujuan menghargai karya-karya jurnalistik yang diharapkan dapat memotivasi para jurnalis dan pewarta foto untuk meningkatkan kualitas karya mereka. Untuk kategori bidang sosial, Marta berhasil menyisihkan 300 karya lain dari 40 media berbeda se-Indonesia. Tahun ini, AAS 2008 menerima 1.057 karya yang dikirimkan oleh 274 jurnalis dari sekitar 100 media di Indonesia. Media-media yang merajai nominasi tahun ini adalah *Kompas *dengan enam finalis, *Gatra *dengan lima finalis, dan empat finalis dari *Pantau *(Aceh dan Jakarta). Dengan kemenangannya, Marta berhak menerima trofi, sertifikat dan uang tunai Rp 18 juta. Sedangkan para finalis mendapatkan sertifikat dan uang tunai sebesar Rp 3 juta. Tahun lalu, wartawan *Surya*, *Kuncarsono Prasetyo*<http://anugerahadiwarta.org/aas-sebelumnya/aas-2007/karya-finalis/hardnews/hukum/siapa-membakar-pasar-turi-22-benang-merah-sudah-jelas-polisi-harus-bertindak-kuncarsono-prasetya-suryaenter-page-title-here/>, menang untuk kategori *hardnews *hukum. Kuncarsono kala itu mengirim tulisan berjudul *Siapa Membakar Pasar Turi? *Laporan Kuncarsono membeber sejumlah indikasi kuat Pasar Turi sengaja dibakar demi motif ekonomi tapi polisi Jawa Timur tak menindak-lanjuti sampai kini. Soal kemenangan kali ini, Marta mengaku semula tidak terlalu berharap mendapatkan prestasi di ajang tahunan itu. Ia bahkan baru tergerak mendaftarkan karyanya setelah seorang teman memintanya mengikuti AAS. "Saya mendaftar di saat *injury time *periode pertama, karena itulah saya pikir udah lewat, gak mungkin masuk nominasi," ungkapnya saat dihubungi dari Surabaya, Kamis (11/12) malam. Dalam tulisannya yang diterbitkan secara bersambung selama tujuh hari mulai 11 Januari 2008 itu, Marta mengisahkan kehidupan warga etnis Madura yang kabur dari Sampit, Kalimantan Tengah, kemudian mengadu nasib lagi di Pasar Keputran, Surabaya. Sosok Mat 'dui dan Masiroh mewakili pengungsi etnis Madura dari Sampit menjadi tokoh sentral dalam tulisan bersambung itu. Lewat penggambaran sikap dan kisah pelarian dua tokoh itu dipaparkan bagaimana perjuangan mereka bertahan hidup baik saat menyelamatkan diri dari kerusuhan di Sampit hingga saat mereka di penampungan. "Saya memerlukan observasi tiga hari dan untuk melakukan wawancara, saya menyempatkan waktu pagi hari atau sore hari di sela liputan," ujar gadis berperawakan kecil itu. *dyan rekohadi* Kehidupan Pengungsi Sampit di Pasar Keputran naskah lengkap: http://www.surya.co.id/2008/12/12/berita_terkini/kehidupan-pengungsi-sampit-di-pasar-keputran-1-7/index.html [Non-text portions of this message have been removed]

