--- In [email protected], Jamaluddin Mohammad <cerbon_w...@...>
wrote:

Ketika Jurnalisme dibungkam 
�
Menanggapi kecurigaan Kang Wawan soal adanya boikot terhadap media
ketika acara Mukerwil Thariqoh kemarin, saya juga berasumsi sama. 
�
Sebetulnya, upaya �boikot media� tidak sekali dilakukan. Ketika kami
mengadakan seminar tol bertajug �Tol Trans Jawa: Antara Kepentingan
Kapital dan Kearifan Lokal� (14/8/08), tidak ada satupun media yang
memberitakan acara tersebut. Padahal, pada saat acara berlangsung,
saya melihat ada beberapa teman wartawan yang hadir. 
�
Awalnya saya menganggap biasa-biasa saja. Saya berasumsi, mungkin
acara tersebut tidak �marketable�, tidak layak jual, sehingga media
enggak tertarik untuk memberitakannya. Namun, saya mengendus ada
banyak sekali kejanggalan,� tanda-tanda ketidakberesan, dan kecurigaan.
�
Ya, untuk media televisi, saya sedikit memaklumi. Sebab, media yang
satu ini, memang agak rewel. Mereka lebih suka memburu berita-berita
yang sifatnya �sensasional�, insidental, dan agak �seksi� (populer).
�
Namun, untuk ukuran media cetak, terutama media cetak lokal,� saya
sendiri tidak habis pikir. Apakah acara tersebut kurang menarik?
Lantas, apa alasannya?
�
Menurut penilaian saya sebagai jurnalis amatiran, acara tersebut
sebetulnya terhitung menarik dan layak jual. Alasannya, pertama, acara
tersebut berkenaan dengan �isu nasional� yang sedang menjadi sorotan
publik. 
�
Kedua, yang menjadi pembicara dalam acara tersebut bukanlah �orang
sembarangan�. Mereka merupakan tokoh-tokoh nasional yang memiliki
kompetensi dibidangnya masing-masing. Pembahasan di dalamnya pun
mewakili pelbagai kepentingan (steakholder).
�
Acara yang dipadati ratusan santri putra-putri tersebut dihadiri
Hermanto Dardak (Dirjen BPJT), perwakilan pemerintah mewakili Djoko
Kirmanto, Sandiaga Uno (investor/direktur LMS), Ahmad Baso (Komnas
HAM), Khalisah Khalid (WALHI), Munim DZ (PBNU/pemerhati pesantren),
dan Adnan Anwar (LP3ES/pengamat kebijakan publik). 
�
Dan ketiga, sebagai bentuk �audit sosoial� sekaligus �pendidikan
politik� buat masyarakat, acara tersebut layak dipublikasikan,
disebarluaskan, sekaligus dinikmati publik. Sehingga masyarakat luas
bisa menilai, mengawasi, sekaligus bisa belajar dari kasus ini.
�
Namun, sekali lagi, saya tidak mengerti mengapa tidak satupun media
yang mengabadikan �perhelatan penting� tersebut. Saya jadi curiga ada
pihak-pihak tertentu yang sengaja �- meminjam istilah Kang Wawan �-
�memboikot media� untuk tidak memblow-up acara tersebut. 
�
Kejadian serupa terulang pada saat Mukerwil Ahlit Thariqah
al-Mu�tabarah an-Nahdliyyah dan Manaqib Kubra se Jawa, lantaran
sebelumnya beredar isu bahwa acara ini akan digiring menyikapi
persoalan tol.� 
�
Ekspresi ketakutan
�
Pada zaman Orde Baru, ketika kebebasan masih menjadi barang mahal,
media seringkali di bawah bayang-bayang negara. Pada waktu itu, media
tunduk di bawah kontrol dan pengawasan negara. Setiap ada perlawanan
selalu dibungkam dan dilenyapkan. 
�
Sekarang, pada saat harga kebebasan diobral murah, kontrol dan
pengawasan itu, salah satunya, diambil alih oleh pemodal. Contohnya
bisa kita lihat pada kasus tol. Setiap momen apapun yang berhubungan
dengan tol, akses ke media akan ditutup. Mereka khawatir jika kasus
ini terus dibiarkan menggelinding di media, maka suatu saat akan meledak. 
�
Ini sebetulnya salah satu bentuk ketakutan mereka. Mereka takut
kalau-kalau rakyat yang memenangkan pertarungan ini. 
�
Apalagi, saat ini, kasus tol sudah� beranjak pada tahap �kompromi� dan
�negosiasi�. Untuk meredam perlawanan Pesantren Babakan, pemerintah
��berkolaborasi dengan pemodal�� mencoba menawarkan pelbagai
kompensasi, mulai dari pembangunan pesantren beserta fasilitasnya
sampai harga tanah yang dilipatgandakan. 
�
Tidak itu saja, pemerintah juga mengirimkan orang-orang �khusus� untuk
membujuk Pesantren Babakan agar merelakan tanahnya. Mulai dari Menteri
PU sendiri, Djoko Kirmanto, yang sudah dua kali datang ke pesantren,
Menteri Agama, Maftuh Basuni, sampai KH. Solahuddin Wahid (Gus Solah)
yang dalam satu minggu dua kali bolak-balik Cirebon-Jakarta hanya
untuk membujuk Kiai Makhtum agar tunduk ke pemerintah. 
�
Untungnya masih ada orang seperti KH. Makhtum Hannan yang masih
memegang kuat-kuat prinsip, komitmen, dan� idealismenya. Baginya,
kompensasi adalah �godaan syetan yang terkutuk�, sehingga perlu
disingkirkan jauh-jauh. Kiai Makhtum bukanlah tipe kiai yang mudah
�ejekluasi dini� ketika melihat senyum� menggoda tumpukan uang ratusan
ribu.
�
Alasan penolakan Kiai Makhtum mencerminkan perlawanan tradisionalisme
terhadap modernisme. Menurutnya, �tanah yang akan dilalui tol adalah
tanah leluhur yang diwasiatkan hanya untuk kepentingan pendidikan
(pondok pesantren).� 
Dalam logika modern, alasan seperti ini dinggap tidak rasional,
irasional, alias mengada-ada. 
�
Namun, Kiai Makhtum tidak sedang mencari pembenaran lewat argumentasi
rasional. Baginya, alasan tersebut sudah cukup merepresentasikan
keberatan sekaligus penolakan beliau menjual tanahnya. 
�
Menurut logika modern, tanah tidak lebih hanyalah sebuah tanah
(komoditas). Layaknya sebuah komoditas, tanah memiliki dua nilai:
nilai tukar dan nilai pakai. Kedua nilai tersebut bisa
digantikan/dipertukarkan dengan komoditas lain yang memiliki nilai
yang sama, semisal melalui tukar guling atau dijual kemudian dibelikan
dengan tanah yang lebih baik. Terhadap pemilikiknya, tanah tidak
memiliki ikatan apa-apa selain kepemilikan.
�
Namun, bagi Kiai Makhtum, pertalian dengan tanah tersebut melampaui
ikatan kepemilikan. Dalam diri Kiai Makhtum tertanam ikatan sejarah
dan ikatan emosional yang begitu kuat terhadap tanah tersebut. Nilai
yang terkandung di dalamnya pun tidak sebatas pada nilai tukar dan
nilai pakai, melainkan mengandung nilai spiritual-transendental yang
tidak dimiliki oleh tanah lain.
�
Inilah bentuk resistensi tradisionalisme yang ditunjukkan Kiai Makhtum
sebagai ikon pesantren melawan hegemoni modernisme yang tampil melalui
kebijakan pemerintah membangun tol trans Jawa. 
�
Sama seperti penolakan �Gus Dur terhadap PLTN. �Di sana ada makam mbah
saya (Sunan Muria)�, kata cucu pendiri NU ini ketika dimintai alas an
penolakan beliau.Kiai Makhtum dan Gus Dur sama-sama menggunakan
kearifan local untuk melawan represi dan hegemoni kekuasaan. 
�
Sehingga tidak aneh apabila dalam sejarahnya �santri� pernah melakukan
pemberontakan �petani Banten�, mengobarkan �perang Cirebon� dan
�perang Dipenogoro�. Akankan perlawanan itu akan kembali
berdarah-darah�.. kita tunggu episode sejarah selanjutnya.
�
�
Sekarang, kita sedang memulai sejarah itu, menulisnya untuk anak cucu
kita. Biarlah mereka yang rakus dan ceroboh, yang tidak punya nurani,
mementingkan diri-sendiri.

--- End forwarded message ---


Kirim email ke