Jurnal Toddopuli:
TEMA "10 JAM UNTUK SASTRA INDONESIA", PARIS:
"PARLER DE SOI, PARLER AUX AUTRES"
2
Lengkapnya tema yang dibahas pada acara "10 Jam Untuk Sastra Indonesia" di
Paris pada tanggal 07 Desember 2008 adalah "De la shpère privèe à l'espace
public: autofiction ou image de soi revisitée? La part autobigraphique dans
l'oeure littéraire" [Dari lingkup pribadi ke ruang publik: otofiksi atau
melihat ulang citra diri? Bagian otobiografis dalam karya sastra], di singkat
menjadi "parler de soi, parler aux autres" [dari diri, kepada yang lain 1].
Tema inilah yang dibicarakan oleh Laksmi Pamuntjak dalam makalahnya yang telah
saya siarkan dan dalam forum hanya dikhtisarkannya. Dalam konteks tema ini juga
maka filem karya Djenar Maesa Ayu "Mereka Bilang, Saya Monyet" diputar pada
akhir acara. Christine Jordis [sekarang sedang berkunjung ke Indonesia] dan
Bernard Chambaz, penulis-penulis terkemuka kekinian Perancis memfokuskan
pembicaraan mereka dalam forum. Demikian juga Vincent Bardet, penulis yang
pernah terlibat langsung dalam
Revolusi Kuba, ketika mewawancarai Sitor Situmorang. Pertanyaan-pertanyaan
Badet menjurus ke penguraian tema pokok di atas dengan menimba pengalaman Sitor.
"Parler de soi", atau "l'ecriture de soi" [dari diri atau tulisan diri],
menurut Johanna Leederer, seniscayanya tidak dikacaukan dengan "l'écriture sur
soi" [tulisan tentang diri sendiri]". "L'écriture de soi", menurut
Johanna Lederer , Ketua "Pasar Malam"yang sarjana tentang sastra Amerika
Serikat itu, telah menyemai lahirnya karya-karya penting dalam sastra Barat
dengan populeritas yang besar. Ia mengambil contoh karya-karya Apollinaire,
Charlote et Emily Brontë, Charles Dickens, D.H. Lawrence, John Le Carré, Léon
Tolstoï, Marcel Proust, Salman Rushdie, Alexandre Soljenitsyne, Walter
Mosley, berlanjut dengan buah pena Bernard Chambaz atau Christine Jordis [dua
penulis terakhir ini turut berbicara dalam Forum "Pasar Malam" kali ini]..
Dari pendapat Johanna ini, yang ingin saya garis bawahi adalah pendapatnya
agar jangan mengacaukah antara "parler de soi" atau "l'écriture de soi" dengan
"l'écriture sur soi". Kata "de" dan "sur" di sini mengandung pengertian dan
dampak berbeda dalam karya.. "De", bisa berarti "dari", sedangkan "sur",
berarti "mengenai" ,"tentang".
Apakah pembedaan "de" dan "sur" merupakan hal yang "njelimet" ataukah petunjuk
bahwa bahasa itu merupakan saranapengungkap pikiran dan perasaan, bahwa pemakai
bahasa itu mempunya kesadaran berbahasa? Adanya kesadaran berbahasa akan
membuat pemakai bahasa berusaha secermat mungkin menggunakan kosa kata dan
berbahasa. Kosa kata dan kalimat yang dilontarkan digunakan, akan mencerminkan
alur pikir dan perasaan serta tingkat pemikiran pemakai bahasa. Cermat, saya
kira, tak terelakkan dari njelimet. Njelimet mengandung pengertian atau ciri
cermat. Tentu saja "njelimet" beda dengan gaya berketiak ular atau "thang pa
ku", gaya delapanan ,, jika menggunakan terminologi Tiongkok Kuno. Memberikan
uraian, data sebagai bukti , alasan dan dasar teori atau hipotesa, saya kira
tidak tergolong pada gaya delapanan atau ketiak ular.Statement yang serius pun
memerlukan hal-hal demikian.
Untuk memahami tema otofiksi, "parler de soi, parler aux autres" ini lebih
lanjut, saya akan membandingkan pendapat Johanna dengan pendapat
penulis-penulis lain yang hadir acara "Sepuluh Jam Untuk Sastra Indoesia".
Masalah ini merupakan salah satu topik yang cukup hangat dibicarakan dalam
dunia Perancis dewasa ini, baik dalam majalah-majalah sastra atau pun
diskusi-diskusi dalam bentuk buku.
Terhadap soal ini, Claude Hagège, salah seorang angota Pasar Malam [?] antara
lain menulis bahwa "Hampir pasti, jika kita membayangkan bahwa sastra tidak
membantu kita dalam menangani masalah tekanan gas di suatu otoklaf atau tidak
juga memberi andil pada pemecahan masalah-masalah perhitungan diferensial,[
dengan mengakui bahwa pekerjaan-pekerjaan ilmiah demikian bertautan dengan
kreativitas individual] hal ini disebabkan karena kerja sastra merupakan suatu
tualang manusiawi [l'aventures humaines]. Untuk menjelaskan pendapatnya,
Hagège mengambil mengambil contoh roman "Madame Bovary" karya Gustave
Flaubert. "Madame Bovary adalah saya" sebagaimana yang dikatakan oleh
Flaubert, dianggap oleh Claude Hagège sebagai perumusan yang berkelebihan
untuk menyeipkan diri di dalam karya-karyanya.
Setelah mengamati karya-karya mulai dari karya-karya Madame de Lafayette,
Amélie Nothomb saloai ke karya-karya Balzac, Hagège lebih cenderung melihat
bahwa cerminan diri dan pendapat pengarang dalam karya-karya sastra
sekaligus menggambarkan keadaan masyarakat dan perkembangannya pada zaman si
pengarang. Karya-karya itu merupakan kesaksian pribadi pengarang dalam bentuk
sastra. Kesaksian yang oleh Hagège dipandang lebih berharga dari pekerjaan
sastrawan. Lebih-lebih karya puitik yang oleh Hagège disebut sebagai jantung
keusastraan karena karya-karya puitik menggambarkan kenyataan atau realita
secara memukau lebih dari karya-karya sastra yang menuturkan rangkaian
kejadian.Karya-karya puitik lahir dari kecemasan atau mimpi tak kesampaian yang
bergetar dan menggema dalam karya-karya sekalipun penulisnya sudah tiada.
Getar dan gema yang merupakan hasrat abadi Kesaksian pengarang atas zamannya
dirumuskan oleh Hagège sebagai
kesaksian yang retak [la fissure du .témoinage].
Dari pendapat Claude Hagège ini, saya menangkap dua titik yaitu bahwa 1. karya
sastra merupakan kesaksian pribadi pengarang. Dalam kesaksian ini bisa terjadi
unsur biografis dan pribadi terselip, tapi ia beda dengan otobiografis; 2.
Kesaksian pribadi ini bersifat retak. , artinya kesaksian pribadi ini bukanlah
potret keyataan.
Jika disambungkan dengan pendapat Johanna di atas, maka "parle de soi" bisa
dimaknai sebagai kesaksian pribadi atas zaman. Dengan kesaksian pribadi
berbentuk karya sastra inilah, pengarang berbicara kepada yang lain [parle aux
autres]. Apakah karya sebagai suatu kesaksian zaman ini yang melahirkan
otofiksi? Ramuan dari subyektivitas dan obyektivitas?
Tentu saja "otobiografi" pun berbicara tentang zamannya saat penulis
otobiografi berbicara tentang dirinya [parle sur soi atau l'écriture sur soi]
untuk berbicara dengan yang lain [parle aux autres]. Hanya saja sifatnya
berbeda dengan otofiksi.
Apakah "l'eécriture sur soi" bisa dimasukkan ke dalam kategori karya sastra?
Pertanyaan ini pun muncul dalam acara "Sepuluh Jam Untuk Sastra Indonesia"
ini.
Bernard Chambaz, Christine Jordis, dan Georges Voisset juga Vincent Bardet
serta Laksmi Pamuntjak telah menyentuh dalam waktu yang terbatas pertanyaan
ini. George Voisset dengan tanpa keraguan sedikit pun memasukkan otobiografi,
"l'écriture sur soi" sebagai salah satu bentuk karya sastra. Alasannya? Karena
yang disebut "realita" pada dasarnya terdiri dari hal-hal imajiner, sebagai
kenyataan dari kekosongan [le réel de vide] seperti krisis finansial sekarang.
Menulis tentang diri sendiri, apakah kurang mendalam dibandingkan ketika kita
menulis tentang "orang lain" [tous les autres], tentang kehidupan kolektif
entah ia bernama kolektif ataukah zaman? Di sinilah lalu Georges Voisset
melihat sambungan antara oto dan fiksi. Imajinasi adalah unsur penting dalam
kesusasteraan, ujar Voisset, sambil menyitat kata-kata Soekarno dalam "An
autobiography as told to Ciny Adam": "Telah kureguk semua sejarah ini. Aku
hidupi hidup mereka. Sehingga pada
kenyatannya , aku telah menjadi Voltaire. Aku telah menjadi Danton, pejuang
besar revolusi Perancis".
Istilah Soekarno tentang "minum" dan sejarah" oleh Georges Voisset dipandang
sebagai bentuk dari "l'écrire sur soi", memperlihatkan hubungan antara
kenyataan dan imajinasi. Kenyataan kosong atau kekosongan yang nyata dan diisi
oleh imajinasi.
***
Acara-acara "Pasar Malam" tentang sastra Indonesia, yang berlangsung dari
tahun ke tahun, selain memperkenalkan sastra Indonesia kepada dunia sastra
Perancis, ia bersifat menawarkan pertanyaan teoritis dan praktis. Tawaran acuan
dan pertanyaan yang bukan untuk disimpulkan tapi direnungkan sebagai sangu
pulang. Arti pentingnya barangkali akan terasa jika kita sepakat bahwa
bertanya pun , apalagi mengajukan pertanyan yang mengena, bukanlah hal mudah.
Peranyaan membantu kita mencari dan menemukan jawab.***
Perjalanan Kembali, Musim Dingin 2008.
-------------------------------------------------------
JJ. Kusni
Keterangan foto:
* Luna Vidya dan Lily Yulianti di Temu Sastra 07 Desember 2008, Paris; Suasana
Temu Sastra 07 Dsember 2008 di Maison des Cultures du Monde, Paris; Johanna
Lederer, Ketua Lembaga Persahabatan Perancis-Indonesia "Pasar Malam"tengah
menikmati tari Bali yang digelarkan pada Temu Sastra 07 Desember 2008. [Foto
dan Dok. JJ. Kusni].
1. "parler de soi, parler aux autres", tidak saya terjemahkan secara harafiah
karena terasa janggal, karena itu maka saya Indonesiakan menjadi "dari diri,
kepada yang lain".
Adding more friends is quick and easy. Import them over to Yahoo! Mail
today! http://www.trueswitch.com/yahoo-sg
[Non-text portions of this message have been removed]