SBY Raih People of The Year  

Tuesday, 23 December 2008  

SERAHKAN PENGHARGAAN, Pemimpin Umum Harian Seputar Indonesia Hary Tanoesoedibjo 
menyerahkan penghargaan People of The Year 2008 bidang politik kepada Presiden 
Susilo Bambang Yudhoyono di Kantor Kepresidenan, Jakarta, kemarin. 

JAKARTA(SINDO) – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kemarin menerima 
penghargaan People of The Year (POTY) 2008 bidang politik yang diberikan Harian 
Seputar Indonesia (Koran SINDO). 

Dewan Juri menilai Presiden SBY memiliki kontribusi positif di bidang politik 
selama 2008 serta memiliki integritas dan jiwa pengabdian pada bangsa dan 
negara. Penghargaan POTY 2008 diserahkan langsung oleh Pemimpin Umum Harian 
SINDO Hary Tanoesoedibjo kepada Presiden SBY di Kantor Kepresidenan, 
Jakarta,kemarin.

Pada saat menerima penghargaan, Presiden SBY didampingi Menteri Sekretaris 
Negara Hatta Rajasa, Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi, dan Menteri Komunikasi 
dan Informatika Muhammad Nuh. Para juri yang turut hadir dalam penyerahan 
penghargaan adalah Hikmahanto Juwana,Taufiequrrahman Ruki, Taufik Abdullah, 
Ikrar Nusa Bhakti, Bambang PS Brodjonegoro,Winny E Hassan,dan Arswendo 
Atmowiloto.Dari SINDO, hadir pula Wakil Pemimpin Umum Syafril Nasution, dan 
Pemimpin Redaksi Sururi Alfaruq. 

Presiden SBY berterima kasih atas penghargaan yang diberikan kepadanya. ”Saya 
bersyukur dan mengucapkan terima kasih kepada SINDO. Ini penghargaan yang 
pertama kali saya terima langsung,” ujar Presiden SBY. Sebelumnya Presiden 
mengaku pernah menerima penghargaan di Hong Kong. 

Namun penerimaan penghargaan itu diwakili oleh Boediono yang saat itu menjabat 
menteri koordinator bidang perekonomian.Presiden mengatakan, penghargaan POTY 
yang diberikan kepadanya sangat kredibel. 

”Saya senang kalau juri independen,apalagi penilaiannya objektif. Ini bukan 
pesanan, saya percaya dengan metodologi POTY ini,” kata Presiden. Pemimpin Umum 
Koran SINDO Hary Tanoesoedibjo mengatakan, tujuan diselenggarakannya POTY 
adalah untuk menggali apresiasi masyarakat terhadap tokohtokoh yang dinilai 
telah memainkan peranan penting sepanjang tahun 2008 di empat bidang, yaitu 
politik, ekonomi, hukum dan budaya. 

Untuk mengukur penilaian publik siapa tokoh yang paling berperan dalam empat 
kategori tersebut SINDO menggunakan survei di sembilan kota besar di 
Indonesia,yaitu Jakarta,Bandung,Semarang, Surabaya,Yogyakarta,Makassar, Medan, 
Pelembang, dan Denpasar dengan jumlah responden sebanyak 1.620 orang. 

Hasilnya, untuk kategori bidang politik diraih oleh Presiden SBY.Untuk kategori 
bidang ekonomi diraih Sri Mulyani Indrawati, kategori bidang hukum oleh 
Suciwati, dan kategori budaya diraih Deddy Mizwar. Hary mengatakan, issue of 
the year yang paling populer adalah pemberantasan korupsi. 

Sementara isu lainnya adalah kenaikan harga minyak dunia,musibah lumpur 
Lapindo, krisis finansial global, anggaran pendidikan,anjloknya pasar saham 
anjlok, bencana alam, dan bantuan langsung tunai (BLT). Ketua Tim Juri 
POTY,Hikmahanto Juwana, mengatakan survei yang dilakukan selama sebulan lebih 
dari 20 Oktober–28 November 2008 itu menghasilkan lima besar tokoh dalam 
kategori politik. 

Kelima orang tokoh itu adalah Susilo Bambang Yudhoyono (59,75%),Sri Sultan 
Hamengku Buwono X (16,48%),Megawati Soekarnoputri (6,17%), Jusuf Kalla (3,76%) 
dan Abdurrahman Wahid (3,58%). 

”Bisa dilihat dari hasil perolehan angkanya,SBY memiliki persentase angka yang 
jauh lebih tinggi dibanding tokoh-tokoh lain,” ujar profesor bidang hukum dari 
Universitas Indonesia ini. Budayawan Arswendo Atmowiloto menambahkan, 
penghargaan yang diberikan ini merupakan suara masyarakat.” Ternyata suara di 
masyarakat dan suara juri hampir sama persis dalam memilih siapa penerima POTY 
2008 di bidang politik,”ujarnya. 

Pemimpin Redaksi Koran SINDO Sururi Alfaruq mengatakan, untuk penerima 
penghargaan lain,yaitu Sri Mulyani Indrawati,Suciwati Munir,dan Deddy 
Mizwar,akan disampaikan dalam waktu dekat ke kediaman masing-masing. POTY 
merupakan acara rutin yang digelar SINDO setiap tahun, dimulai tahun 2005, dan 
terus berlanjut hingga kini.

Pada tahun pertama, pemilihan pemenang penghargaan hanya dibatasi pada tiga 
bidang, yakni politik, hukum serta agama. Sistem penentuan pemenang yang 
diterapkan pun murni berdasarkan suara terbanyak dari survei masyarakat. 
Seiring bergulirnya waktu, bidang yang diusung juga melebar hingga ekonomi dan 
budaya. Metode penentuan penghargaan pun ikut berubah. 

Selain partisipasi masyarakat, sistem POTY juga melibatkan para juri (panel 
experts) untuk menentukan peraih penghargaan.Pada tahun ketiga pula ajang POTY 
semakin berwarna dengan kehadiran kategori lain selain memilih tokoh, yakni 
Issue of The Year. (rarasati syarief)  
 http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/198361/38/


      

Kirim email ke