Kronik Bulan Pambelum:
GERAKAN KEBUDAYAN
[Surat Kepada Halim HD]
Posting singkat Bung menyertakan banyak persoalan besar tak sederhana,
menunjukkan bahwa Bung masih seperti dahulu dengan segala kesulitan masih
menyetiai bidang kebudayaan yang Bung kecimbungi bertahun-tahun, dan kukira
akan terus Bung kecimpungi sebagaimana teman-teman lain yang sudah memilih
bidang ini sebagai wilayah kiprahnya.
Soal-soal besar itua antara lain evaluasi Bung tentang partai-partai politik
sekarang , cq. PKS, masalah Islam dan kebudayaan, peran pakar asing yang
disebut Indonesianis dalam pembangunan budaya nasional seperti yang
dirancangkan oleh TEPI, kasus Afrika Selatan dan Amerika Latin, elite negeri
ini dan life style serta orientasi mereka, gerakan literasi, komunitas
sastra-seni dan perannya dalam pemberdayaan masyarakat, soal pengalaman Ode
Kampung, konsep Paulo Freire dan Ivan Illich. Soal-soal besar dan tidak
sederhana ini jika dimasuki satu persatu akan menjadi suatu uraian panjang
lebar apalagi jika dipadukan dengan usaha-usaha pentrapannya di negeri kita,
termasuk pengalaman kecil diri sendiri, ditambah dengan pengalaman-pengalaman
negeri terkait itu sendiri sebagai bahan banding.
Melihat kadar permasalahan yang demikian, saya merasa tidak tahu memilih soal
mana untuk memulai surat ini. Di samping, pasti akan meminta waktu, pikiran
dan tenaga yang tidak kecil. Sedangkan jika dibicarakan secara celotehan dan
asal-asalan, serta model haha hihi, apakah akan ada gunanya. Celotehan dan
hahahihi memang suatu metode menghadapi masalah, tinggal kita memutuskan
apakah metode begini mau ditanggap atau tidak. Hal lain, sering di depan
publik, termasuk di dunia maya, ketika berbincang, para yang terlibat lebih
menjurus mencari menang dan bukan membahas soal dengan jujur. Sering ngeladrah,
orang Jawa bilang. Karena itu saya sering lebih menyukai jalur pribadi [japri]
untuk membicarakan soal-soal yang saya rasakan serius.
Terhadap soal-soal besar yang Bung ajukan di atas, selain saya memang tidak
punya kemampuan membahasnya, saya pasti tidak bisa menyediakan waktu , enerji
dan kesanggupan yang padan walau pun kira-kira apa-apa yang Bung ketengahkan
itu, bukan daerah amamt-amat asing bagi kegiatan dan studi saya dulu. Ada
rupa-rupa pengalaman pahit dan manis ketika mengejawantahkan program-pprogeam
berdasarkan wacana tertentu.
Saya tentu saja sangat berterimakasih kepada Bung atas pengetengahan soal-soal
yang Bung angkat dari Ode Kampung III di Serang awal Desember ini. Melalui
pengutaraan Bung, paling tidak saya sudah mendapatkan sebuah peta tambahan baru
tentang keadaan lokal yang sangat berguna untuk mengenal keadaan mutakhir.
Melalaui Kronik Bulan Pambelum kali ini, barangkali akan lebih sederhana bagi
saya jika membicarakan soal Ode Kampung dalam kaitannya dengan gerakan
kebudayaan.
Seperti sering saya tulis dan katakan pada berbagai kesempatan di berbagai
tempat di Indonesia, saya sangat menghargai prakarsa teman-teman Rumah Dunia
mengorganisasi penyelenggaraan Ode Kamaping secara teratur sebagaimana saya
juga menghargai Festival Lima Gunung yang diprakarsai oleh Mas Tanto dan
kawan-kawannya di Jawa Tengah sekali pun dalam skala keluasaan dan tingkat yang
berbeda. Tapi dari kedua kegiatan ini, saya mendapatkan ada satu jelujur
benang yang sewarna yaitu menggalakkan kegiatan kebudayaan dari bawah secara
mandiri. Dua-duanya diselenggarakan saban tahun.
Yang menarik dari pengalaman Festival Lima Gunung bahwa kegiatan ini
diselenggarakan sepenuhnya bersandar pada kaum tani, baik dari segi pembeyaan
mau pun pengisian acara. "Walaupn Mgawati dan Presiden SBY menyempatkan diri
hadir tapi Festival tidak menerima sepeser pun pemda atau dari kedua tokoh
politik nasional itu", ujar Mas Tanto dalam pembeibaraan telpon kami ketika
saya berada di Jawa Tengah. "Hasil sumbangan kaum tani yang tadinya bersifat
natura, setelah diuangkan, malah berkelebihan", tambahnya. Model pembeyaan
mandiri ini pun pada dasarnya juga dilakukan oleh Rumah Dunia Serang dalam
menyelenggarakan Ode Kampung.
Hal menarik pada Ode Kampung bahwa kegiatan budaya ini dihadiri oleh banyak
komunitas-komunitas sastra-seni dari berbagai daerah dan pulau. Ode Kampung
tahun ini, menurut Halim HD yang hadir dalam jumpa budaya Ode Kampung ke-3 ini
berjumlah 70 komunitas. Tentu saja jumlah ini masih sangat kecil dibandingkan
dengan angka 4000 komunitas di seluruh tanahair, jika menggunakan angka yang
pernah disiarkan oleh Gola Gong dari Rumah Dunia. Tapi jumlah ini merupakan
jumlah terbesar dari semua jumpa sastra-seni dari bawah yang pernah
diselenggatakan. Saya sepakat bahwa keadaan ini merupakan kenyataan yang
menggembirakan. Membesarkan hati karena saya melihat bahwa di negeri ini ada
kemungkinan dansama sekali bukan mustahil, menggalakkan suatu gerakan
kebudayaan, termasuk gerakan literasi [jika kita mau membedakan antara gerakan
kebudayaan dengan gerakan literasi] dari bawah. Berkumpulnya 70 komunitas
sastra-seni dari berbagai daerah dan pulau di Serang dalam
Ode Kampung Ke-3 memperlihatkan kemungkinan ini, Ode Kampung Ke-3 atau pun
Festival Lima Gunung, barangkali bisa dimaknai sebagai janin dari tumbuhnya
gerakan kebudayaan dari bawah. Memperlihatkan bagaimana gerakan kebudayaan itu
bisa tumbuh dan dikembangkan. Menurut keterangan Gola Gong kepada saya, Ode
Kampung adalah suatu jumpa sastra-seni yang bersifat terbuka, walau pun di
dalamnya terdapat orang-orang FLP -- sebuah organisasi para penulis yang
mendasari diri pada ide-ide keislaman dan yang sering kedengaran dekat pada
PKS. Saya kira prinsip keterbukaan ini perlu dipertahankan jika mau
menggalakkan suatu gerakan kebudayaan dari bawah di negeri ini. Yang saya
maksudkan dari bawah adalah gerakan kebudayaan yang bermula dan bersandar pada
penggiat-penggiat budaya dari bawah, di komunitas-komunitas, bukan dari
pemerintah. Sedangkan ketika saya mengatakan tentang gerakan kebudayaan, saya
membayangkan adanya suatu kegiatan berkelanjutan atas dasar
program, baik jangka pendek, menengah atau pun jangka panjang
serta terorganisasi atas dasar suatu orientasi budaya yang memanusiawikan diri
sendiri, manusia, kehidupan dan masyarakat. Berbeda dengan gerakan-gerakan
sporadik dan spontan. Menyerempakkan orientasi budaya dan program bersama untuk
mewujudkan orientasi inilah, barangkali salah satu peran jumpa model Ode
Kampung tanpa menyatukan komunitas-komunitas yang ada di mana-mana ke dalam
sebuah organisasi yang ketat. Kalau pun semua sepakat, paling jauh, saya kira,
lembaga tersebut bersifat federasi. Untuk mencapai tujuan ini, boleh jadi
kongres kebudayaan tahunan dari bawah akan bermanfaat. Pertama-tama
menyimpulkan pengalaman kegiatan selama ini dan menyatukan pikiran, orientasi
umum dan bagaimana kemudian melaksanakan orientasi umum yang disepakati bersama
tersebut. Saya membayangkan Kongres Kebudayaan dari bawah begini, akan jauh
punya dampak dan efektif dibandingkan Kongres-kongres
Kebudayaan dari atas yang diorganisasi oleh pemerintah. Saya juga sedang
membayangkan jika mimpi begini terwujud, jika gerakan kebudayaan [gerakan,
bukan kegiatan sporadik dan spontan!] dari bawah begini terujud maka ia,maka
gerakan kebudayaan dari bawah yang meppertahankan prinsip republiken dan
berkeindonesiaan, yang bhinneka tunggal ika, yang biar bunga mekar bersama
seribu aliran bersaing suara, akan mempengaruhi perkembangan budaya negeri
kita. Katakanlah bahwa gerakan ini akan memperkokoh Republik dan Indonesia
berdasarkan kesadaran budaya. Saling asih ,saling asuh dan saling asah antar
komunitas-komunitas akan mengurangi cekcok-cekcok tidak prinsipil. Impian
begini dalam benar saya sejajar dengan konsep sastra-seni kepulauan, membangun
dan mengembangkan pusat-pusat kebudayaan dan intelektual di berbagai pulau dan
daerah. Keadaan ini saya namakan sebagai desentalisasi budaya dan intelektual.
Tercakup dalam yang saya namakan dengan sastra-seni
kepulauan . Desentralisasi budaya dan intelektual memberi kita peluang untuk
lebih dekat pada masyarakat dan mengakar. Tidakkah akan sangat membesarkan
hati apabila misalnya jumpa budaya nasional diselenggarakan di kota dan kampung
kecil seperti Serang atau di manakah lagi dan tidak dikota-kota besar di mana
kegiatan-kegiatan nasional biasa diselenggarakan.
Kalau di atas saya menyinggung masalah federasi longgar antar komunitas ,
masalah oorientasi "biar bunga mekar bersama seribu aliran bersaing suara" dan
kemandirian , dengan ini saya membayangkan tidak ada campurtangan partai
politik mana pun. Tentu saja satu partai politik, apa pun namanya, akan tidak
segan, turuntangan, apalagi jika mereka melihat arti strategis gerakan
kebudayaan, termasuk gerakan literasi. Saya khawatir campurtangan partai
politik akan berobah menjadi pecundang gerakan kebudayaan yang majemuk ini.
Bahwa gerakan kebudayaan, bahwa kongkres kebudayaan dari bawah memerlukan dana,
tapi mengapa karena keperluan akan dana ini lalu mengorbankan prinsip? Padahal
Festival Lima Gunung, Ode Kampung dan juga pengalaan sastrawan-seniman pada
masa Soekarno dulu, kegiatan-kegiatan kesenian besar bisa diselenggarakan tanpa
jatuh keharibaan partai politik. Jika mengambil contoh Perancis, bintang filem
dan pelawak terkemuka Perancis, Coluche,
bisa menyelenggarakan pada tiap musim dingin restoran-restoran gratis untuk
kaum miskin di seluruh Perancis tanpa bergantung pada partai politik mana pun.
Yang dijual oleh Coluche untuk mendapatkan dana adalah ide dan ketulusannya.
"Ide baik akan dapat dukungan" ujar Cie Lan direktur sekolah Putera Bangsa di
Klaten, Jawa Tengah [lihat:Karya-karya tulis Cie Lan]. Contoh kecil lain lagi
adalah pengalaman kami membangun Koperasi Restoran Indonesia SCOP Fraternié di
Paris yang pada tanggal 15 Desember lalu merayakan ulta Ke-26nya. Kami
membangunnya dengan modal dengkul. Kami pnuya ide, dan ide inilah yang kami
tawarkan kepada berbagai pihak untuk mendapatkan modal awal berusaha.
Saya membayangkan gerakan kebudayaan dan gerakan literasi, terutama bersandar
pada penggiat-penggiat di bawah, di komunitas-komunitas, tidak bersandar pada
para Indonesianis atau partai politik atau mengharapkan sangat bantuan
finansial dari pemerintah. Jika hal ini diujudkan, dan pengalaman menunjukkan
mungkin, maka gerakan kebudayaan demikian akan mempunyai pengaruh terhadap
kehidupan berbangsa, bernegeri dan bernegara. Melepaskan prinsip mandiri,
mengabaikan peran penggiat-penggiat di komunitas-komunitas barangkali akan
membangun istana di atas pasir. Mulai dari dasar yang rapuh. Barangkali!
Perumusan kebijakan yang mempengaruhi langkah-langkah selanjutnya, tidak lepas
dari kejelian membaca keadaan, pola pikir dan mentalitas masyarakat. Perumusan
strategis, saya kira, tidak bisa dicampurbaurkan dengan perumusan pragmatis dan
praktis sesaat.
Demikianlah beberapa titik pemikiran saya sebagai pelajar awal dalam berbagai
bidang, dan orang yang jauh dari kampung yang tidak tahu apa-apa tentang negeri
sendiri seperti sering ditudingkan kepada saya,walau pun saya masih berpendapat
bahwa berada di suatu tempat geografis tidak menjamin kita mengenal tempat
geografis tempat kita tinggal. Tidak sedikit orang Dayak yang tinggal di Tanah
Dayak mengasingkan diri secara sukarela dari Tanah Dayak sehingga tidak tahu
tentang kampung-lahirnya. Paling-paling tahu, bahwa jalan dan lorong ini menuju
ke mana. Ke arah mana. Dan mungkin Bung tidak percaya, tahun lalu ada seorang
anak dari Jakarta baru tahu bagaimana kongkretnya ujud padi ketika datang ke
Klaten?
Tapi pasti, Bung yang "syefu" lebih tahu dari saya.Tulisan ini tidak lebih
bersifat seperti ungkapan Tiongkok Kuno berkata: "melempar batu bata untuk
mendapatkan batu giok". ***
Montmartre, Musim Dingin 2008
---------------------------------------------
JJ. Kusni
LAMPÏRAN:
taon depan, ODE KAMPUNG 4, rencananya bukan hanya sastera, tapi juga akan
ngundang orang seni pertunjukan. dan aku sudah kontak ke beberapa teman yaang
ketarik untuk gabung. acara itu, rencananya - masih kemungkinan - agustus.
kepastian akan dicanangkan pada bulan februari atau januari. disamping sastera,
seni pertunjukan, juga kita-kita sedang mikir ngundang INDONESIANIS dari
ostrali, belanda, jepang serta emberikan dan kanada, dan mungkin saja melebar
kepada indonesianis lainnya. oyaaa, tajuknya TEMU PECINTA INDONESIA (TEPI).
kita-kita akan coba mengupas tentang indonesia dar berbagai sisi kebudayaan.
sekarang teman-teman di serang-banten sedang ngumpulin bahan dan informasi
tentang siapa saja yang akan diundang sebagai pembicara, disamping ngerumusin
rincian tema pertemuan itu.
soal seni pertunjukan itu, kita akan kaitkan dengan seni pertunjukan yang
menciptakan ruang sosialnya. hal ini secara praktis untuk mengatasi dan
menanggulangi keterbatasan teknis, ketiadaan gedung pertunjukan. maka salah
satu sisi yang penting adalah bagaimana teater atau musik atau tari atau
performance yang memiliki kaitan kuat dengan lingkungan sekitarnya. jadi,
merekaa bisa maen di swah, dan musik bisa maen di beranda rumah tetangga, serta
performance bisa maen di halaman; sastera memasuki rumah-rumah dan bertemu
dengan warga di ruang sosial mereka.
ODE KAMPUNG 3 yang lalu menekankan pertemuan dengan komunitas literasi; para
pengelola dan aktivis perpustakaan komunitas. bukan maen 70-an komunitas
datang, dan 260-n orang yang hadir, dan melahirkan 9 rekomendasi. aku seneng
dengan cara teman-teman di serang yang informal dan sigap dalam menangani
kegiatan; dan tidak tergantung kepada pemda atau pemkot, walaupun mereka hadir.
juga ada seorang-dua orang partai, DR. zulkiflymansah datang dan diskusi dengan
baik, lebih baik ketimbang wakil dari pemda yang menganggap bahwa 1,7 miliar
bantuan (gileeee, bantuan!! kenapa pula dia menipu dengan istilah 'bantuan'!!)
untuk pengembangan perpustakaan sekolah daerah di banten. (tapi, anggaran rumah
tangga gubernur dan wakilnya, setahun 6-7 miliar!! gebleg banget, rada sinting
juga elite penguasa itu!!).
aku tanya kepada DR. ZULKIFLYMANSAH, legislatif dpr dari PKS, menanggapi
dukunganya kepada gerakan literasi. kutanyakan, bisakah partai melakukan
gerakan literasi ke dalam dirinya sebagai upaya bagian dari menumbuh-kembangkan
kesadaran warga kepada kebudayaannya, kesadaran politik dan sebagainya. aku
ambil contoh di amerika latina yang sekarang bergerak ke arah yang lebih
optimis. tahun akhir 1960-an dan awal 1970-an, adaolah dekade penting bagi
amerika latina yang sekarang dirasakan dengan gerakan literasi yang, salah
satunya, di mulai di brazilia oleh paolo freire, dan tentu saja dengan dukungan
sekolah eksperimental, termasuk berkaitan dengan yang di mexico, oleh ivan
illich (ingat bukunya deschooling society, medical nemesis, seiring jaman
ddengan bukunya paolo freire, pedagogy of the oppressed, cultural action for
freedom). di negeri-negeri amerika latina itu, geraakan sosial literasi menjadi
bagian dari usaha partai progresif, sama halnya dengan
ANC di afrika selatan. naaah, kutanyakan soal ini kepada bung zul, bisakah PKS
melakukan hal itu, atau adakah program itu dimasukan ke dalam rencana kerja
partai jika mendukung gerakan literasi.
(beberapa suratku kepada orang PKS juga pernah kusodorkana tentang, apa
kira-kira PKS mampu dan bisa untuk mencanangkan kepada warganya untuk tidak
masuk mall, membeli di pasar tradisional, menggunakan produk dalam negeri. jika
saja PKS mampu dan bisa melakukan hal itu, rasanya partai ini akan bisa kian
mendukung warga dan akan didukung oleh warga siapapun juga, waloupun
platformnya islam. sodoran pertanyaan dan kiriman suratku itu karena aku merasa
bahwa banyak partai hanya jadi alat pengesahan bagi sistem politik ekonomi yang
tidak berpihak kepada warga; secara praktis tapi penting untuk mengikis life
style yang membuat elite partai sudah kehilangan orientasi dan arah dalam
hubungan sosial, relasi sosialnya dengan warga).
hhd
[Sumber:halim hd [email protected], "KUSNI MASIH DI MILIS?", in:
[email protected], : Monday, 22 December, 2008, 3:43 PM].
Get your new Email address!
Grab the Email name you've always wanted before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/sg/
[Non-text portions of this message have been removed]