betapa bodohnya seorang MUSLIM yg bgitu mengagung2kan BARAT (baca: amerika) 
lalu meninggalkan islam dari dlm jiwanya. bagaimana mungkin ada seorang muslim 
yg kluar dari rmhnya dg 'melepas' keislamannya dari seluk beluk kehidupannya 
baik di jalan, di kantor, di sekolah, kampus, di mana saja dia berada???
betapa bodohnya jika ada muslim yg berpikiran bahwa urusan agama hanya di 
MESJID atau di hari2 Raya saja, memisahkan agama (baca:islam) dari politik, 
negara, aspek kehidupan lainnya. bener2 bodoh kuadrat..


Peradaban: Beda Antara Islam dan “Rambo IV”
Oleh: Hasib Amrullah *

Setiap ucapan biasanya hasil pengaruh  dari worldview nya. Bagaimana ia 
memaknai hidup dan bagiamana ia melihat dunia.  Maka tidak ada sebuah pendapat 
yang  bebas
nilai. Di belakang apa yang tersurat selalu ada sesuatu yang tersirat.
Ada target dan tujuan dari pandangan hidup peradaban tertentu yang
terbawa dalam misi sebuah kata.

Amerika,
sebagai sebuah negara yang perkembangan teknologinya cukup pesat.
Bahkan amat pesat. Menjadi sombong, dan merasa peradabaannya lah yang
terbaik. Karena itu harus ditransmisikan bagi pembentukan peradaban
dunia. Mereka menyebut orang-orang timur adalah bangsa traditional. Dan
menyebut bangsa yang belum mengenal peradaban Barat adalah bangsa
bar-bar.

Hal tersebut nampak dalam alur cerita film Rambo ini,
dan film film lainnya garapan sutradara Amerika. Dalam film Rambo IV,
begitu bengisnya gambaran serdadu Burma memperlakukan manusia. Membunuh
dan membombardir penduduk satu desa tanpa keterlibatan perasaan.
Memperkosa dan memenggal kepala manusia tanpa melihat kecil besarnya.
Semua di habisnya tanpa sisa. Seakan-akan mereka bukan manusia.

Sesungguhnya pesan yang
ingin disampaikan Amerika melalui film ini adalah menunjukan kepada
dunia. Betapa bar-barnya mereka yang tidak mengenal hak asasi manusia
(HAM). Penonton digiring untuk mengidolakan Amerika sebagai penolong,
yang mengangkat harkat kemanusiaan sebuah bangsa. Inilah bangsa yang
mempunyai peradaban, kira-kira begitu. Bangsa yang menghargai kehidupan
manusia yang lainnya. Karena itu, timur harus menirunya, jika ingin
menjadi bangsa yang besar seperti Amerika. Meniru bagaimana mereka
memandang kehidupan. Meniru worldview (pandangan hidupnya). 

Inilah kenapa gerakan Barat kepada Timur disebut civilization.
Sebuah gerakan untuk menjadikan bangsa bar-bar dan traditionalis timur
menjadi bangsa yang berperadaban. Peradaban Amerika tentunya. 
Secara
tidak langsung, Amerika menganggap Peradaban Islam –karena ia lahir di
Timur- sebagai peradaban bar-bar juga. Di mana harus dicivilaiz-kan. Agar 
menjadi bangsa yang berperadaban tinggi seperti mereka.

Sebuah peradaban tidak bisa dilepaskan dari cara pandang hidup masyarakatnya. 
Dan lahirnya pandangan hidup dalam pikiran kita. 
Dr. Hamid Zarkasy dalam jurnal Islamia vol III no 2 mengatakan,  ‘pembaratan’
dilakukan melalui kultur, teknologi, pemikiran keilmuan, keagamaan dan
spekulasi yang diperoleh dari pendidikan atau upaya sadar dalam mencari
ilmu. 
Karena
itulah, Barat --terutama Amerika-- begitu semangat membiayai
gerakan-gerakan LSM di ASIA. Dengan uang yang dimiliki, mereka
bersusah-payah. Bukan untuk apa-apa, tujuannya sudah jelas, untuk
merubah cara pandang masyarakat (Islam) terhadap hidup dan kehidupan.
Agar  masyarakat timur (baca Islam) menerima cara pandang mereka
(Barat). Dan usaha yang mereka lakukan adalah dengan merubah kultur,
teknologi, pemikiran, keagamaan yang ada. Salah satunya dengan membuat
tulisan di media masa. Menggiring opini dan pesan-pesan melalui film
dan semacamnya.

Maka ungkapan “Live for nothing, or die for something” bukan tanpa makna.  Itu  
sesungguhnya
cermin bagaimana sesungguhnya Barat (baca; Amerika) memandang kehidupan
ini. Sangat jauh antara langit dan bumi dengan slogan-slogan dan
kata-kata berhikmah dari dunia Islam. Baik dari Al-Quran, al-hadist
atau atsar para sahabat dan ulama. 
Ungkapan “Isy kariman au mut syahiidan”
(hidup mulia atau mati syahid di jalanNya) adalah lahir dari cara
pandang Islam. Bagi Islam, hidup lebih mulia jika “berjuang” di Jalan
Allah disbanding hidup biasa-biasa saja tanpa tujuan dan tanpa makna.  Apa yang 
mampu kita baca, mana yang lebih bersih cara pandangnya?

Yang pertama mencerminkan bahwa hidup adalah urusan masing-masing
individu. Orang tidak boleh mengklaim bahwa cara dia mengisi hiduplah
yang paling baik. Maka, mabuk adalah hak individu. Selagi orang yang
mabuk itu tidak mengganggu hak orang lain, it’s not problem. Ciuman di
tempat umum adalah fine. Sebab ia mencium orang yang mau dicium. Ciuman
baru menjadi masalah, kalau yang ia cium orang yang tidak dikenal.
Karena itu melanggar wilayah private orang lain. Melanggar hak asasi
orang lain. Menyalakan motor pagi hari bisa jadi masalah. Kalau suara
motor kita mengganggu tetangga sebelah. Ia bisa menelpon kekomisi HAM..
Karena suara motor kita menganggu hak dia untuk istirahat. Dan kita
bisa ditahan karena tuduhan melanggar hak orang lain.

Masyarakat Amerika sesungguhnya hatinya kosong, hatinya hampa. Karena
tidak ada nilai kebenaran yang absolute yang mereka yakini. Kehampaan
hidup itulah yang mereka coba untuk atasi. Karena itulah lahir
kata-kata ‘live for nothing’ cermin dari hampanya hidup yang tumbuh
dari budaya barat yang kosong nilai moral. Bagi mereka mati untuk
sesuatu yang pasti, lebih baik dari pada hidup tanpa arah yang pasti.
Seperti apa yang tercermin dalam ungkapan Stallon tersebut. Ungkapan
yang ia tujukan untuk membakar tentara bayaran, agar mau melanjutkan
misi penyelamatan.

Berbeda dengan ungkapan “Isy kariiman au Mut syahiidan” (Hidup Mulia atau 
Syahid di JalanNya). Ini
adalah ungkapan yang lahir dari rahim peradaban Islam. Ungkapan
tersebut mensiratkan adanya nilai hidup yang harus diperjuangkan muslim
dengan pengorbanan nyawanya. Bahwa hidup dalam keadaan terhormat atau
mati menjadi syahid di jalan Allah.  
Cobalah nikmati betapa berbobotnya sabda Rasulullah ini,  “Islam adalah pangkal 
segala urusan hidup, tiang pancangnya shalat, dan ujung tombaknya adalah 
jihad.” [H.R.Thabrani]. 

Hidup yang karim adalah hidup yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral
yang diajarkan Al-Quran. Karena dalam pandangan Islam, manusia adalah
hamba. Ia tidak berhak untuk menentukan mana yang mulia mana yang hina.
Penetapan kemuliaan dan kehinaan hidup, adalah otoritas Allah sebagai
kholiq. Manusia hanya menjalaninya. Pelaksanaan atas perintah dan
penghindaran atas larangan itulah yang disebut denga Isy kariiman. Maka
bagi muslim pilihannya dua. Hidup terhormat, dengan menjunjung tinggi
nilai dan ajaran Tuhannya. Atau kematian yang syahid yang keduanya sama
berbobotnya. Bagi muslim, hidup dan mati harus sama-sama bernilai.

Perbedaan Dasar

Barat dan Islam jelas memiliki worldview yang berbeda terhadap kehidupan dunia. 
Barat memandang kehidupan ini
terbatas hanya di dunia. Karena itulah mereka mengeksploitasi kehidupan
dunia untuk mencari bahagia. Karena setiap orang memiliki kebahagiaan
yang berbeda-beda, maka harus ada aturan untuk menghormati sesama
manusia yang sama-sama menghendaki untuk bahagia. Lahirlah apa yang
kemudian menjadi spirit sistem hidup mereka, liberte, egalite dan fraternite. 

Bahwa manusia sama-sama memiliki kebebasan untuk menentukan kebahagiaan
masing-masing. Masing-masing individu tidak boleh mengganggu harus
saling menghormati; inilah liberte (kebebasan). Karena
sama-sama manusia, satu dan yang lainya harus memiliki hak yang sama
pula. Bahwa setiap orang terlahir dengan hak-hak dasar  (natural right)yang
tidak boleh dirampas. Hak-hak dasar itu meliputi; hak untuk hidup, hak
untuk memiliki sesuatu, kebebasan membuat opini, beragama dan
berbicara. John Locke dalam bukunya  Two Treatises of Government (1690) 
menyatakan; “tugas utama pemerintahan adalah menjamin hak-hak
dasar tersebut, dan jika ia tidak menjaga hak dasar tersebut, rakyat
berhak untuk melakukan revolusi. Inilah yang menjadi cara pandang barat
terhadap kehidupan di mana Hak Asasi Manusia menjadi tolak ukurnya.”

Berbeda dengan Islam. Baginya, dunia tidaklah segalanya. Ia adalah
kehidupan sementara. Sebagai perantara dan ujian untuk mendapatkan
kehidupan selanjutnya. Sebuah kehidupan yang diyakini seorang Muslim
lebih panjang dan abadi dari kehidupan dunia. Seperti apa yang
disebutkan dalam Al-Quran, “Wa ma hayatu addunya illa la’bun wa lahwun, wala 
darul akhiroh khoirun lilladzina yattaquun. Afala ta’qilun”
(Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda
gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi
orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya). [al-An’am; 32]. 
Karena
itu seorang Muslim tidak akan pernah memaksakan haknya, apabila itu
bertentangan dengan ayat Tuhannya. Muslim akan menghormati saudaranya,
dan tidak terlalu rakus untuk mencapai ambisinya, karena di hadapan
Allah tidak ada yang mampu ia sembunyikannya. 

Alhasil, antara “Live for nothing, or die for something” dan “Isy kariman au 
mut syahiidan” bagian kecil dari bagaiamana perbedadaan mendasar antara 
pandangan hidup Islam dan Barat mengenai cita-cita dan worldview.  Secara 
substansial keduanya sungguh sangat berbeda. 
Peradaban barat yang dengan “angkuh”  adalah peradaban yang lahir dari rahim 
akal dan bersumber dari manusia (Hak Asasi Manusia). Sementara peradaban Islam  
berasaskan
Al-Quran dan bersumber dari wahyu (langsung dari Allah SWT). Ibarat
krikil dan permata, tak sebanding nilainya. Sayang, krikil itulah yang
kini sering menjadikan orang silau padanya. Lallahu a’lam. 


* Penulis adalah Peserta Kader Ulama (PKU) Pondok Pesantren Gontor, Ponorogo. 
Tulisan ini dimuat di www.hidayatullah.com



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke