Suara Hati Mustafa  

Oleh Asro Kamal Rokan

Ketika
menyebut nama Badan Urusan Logistik, maka yang selalu terlintas dalam
pikiran banyak orang adalah sisi negatifnya: gagal menstabilkan harga
beras, birokrasi yang buruk dan korup. Bulog juga kerap dituding
merugikan masyarakat miskin dan petani.

Tidak mudah bagi Mustafa
Abubakar melepaskan kesan buruk itu. Namun, direktur utama Perum Bulog
ini percaya, dengan kerja keras, kesungguhan, dan perpegang pada amanah
yang nantinya akan dipertanggungjawabkan kepada Allah--kesan buruk itu
bisa berubah menjadi positif.

Langkah awal yang dilakukan mantan
Pelaksana Tugas Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam ini bukan
mengobrak-abrik layaknya seorang penguasa yang menganggap perubahan
adalah peniadaan masa lalu. Ia justru datang untuk membangun
kepercayaan diri seluruh pegawai yang sempat runtuh. Mustafa percaya,
setiap orang memiliki dasar jiwa yang bersih, memiliki keinginan untuk
berbuat baik. Ia berpikir positif dan mendorong setiap jajaran Bulog
berpikir positif.

Energi positif inilah yang dibangkitkannya.
Pada ulang tahun ke-40 Bulog, Mei 2007, Mustafa yang saat itu baru dua
bulan dipercaya memimpin Bulog, melakukan pendekatan bersumber dari
hati itu--unsur paling utama dalam pembentukan watak manusia. Ia
mengundang Komisi Pemberantasan Korupsi berceramah di hadapan pejabat
Bulog, mengundang Wapres Jusuf Kalla untuk memberikan motivasi, dan
bersama jajaran manajemen menandatangani fakta integritas antikorupsi. 

Mustafa kemudian mengajak seluruh jajaran manajemen mengikuti training 
Emotional Spritual Quotient (ESQ). Ia berupaya membangkitkan kecerdasan
emosional dan spiritual seluruh lapisan pejabat Bulog. Ia berharap
setiap orang berada dalam orbit--mengikuti suara hati tetang kebenaran
dan kebaikan. 

Melalui pendekatan itu, Bulog mulai bergerak
menuju berbagai perbaikan. Pada 2007, penyerapan beras dalam negeri
dari target 1,5 juta ton tercapai 1,76 juta ton. Ini sekaligus
mengurangi impor yang semula direncanakan 1,5 juta ton. Tahun ini,
penyerapan gabah/beras dari petani naik menjadi 3,1 juta ton, meningkat
dari yang ditergetkan 1,76 juta ton. Capaian ini merupakan yang
tertinggi sepanjang sejarah Bulog, yang oleh sebagian orang dianggap
suatu yang mustahil.

Sukses ini jelas memberikan dampak positif.
Sejak tahun ini, pemerintah tidak lagi mengimpor beras dan ini berarti
penghematan devisa sangat besar. Stabilitas harga beras nasional juga
terjaga di saat meroketnya harga pangan dunia. Program beras untuk
orang miskin juga relatif baik, meski tetap ada penyebaran yang kurang
pada sasarannya.

Apabila produksi beras di dalam negeri
mengalami surplus hingga lima juta ton, Bulog optimistis tahun depan
bisa mengekspor beras kualitas super sebanyak 1-1,5 juta ton ke
Malaysia, Timor Leste, Hong Kong, dan Jepang.
Bangsa ini
sesungguhnya memiliki potensi besar untuk bangkit karena selalu ada
orang-orang yang bekerja dalam orbit suara hatinya, tidak semata-mata
karena pikirannya, apalagi karena nafsunya. 

Bangsa ini dapat
keluar dari berbagai persoalan, bukan melalui pemimpin berhati sempit
dan mengotori hatinya, melainkan melalui pemimpin yang berpikir positif
dan senantiasa membersihkan hatinya: ".... Berbahagialah orang yang
menyucikannya, dan sesungguhnya rugilah siapa yang mencemarkannya." (QS
Asy Syams).



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke