Betapa dungunya muslim yang ANTI Barat. Lha wong, yang dipakai dari
ujung kepala sampai ujung kaki produk Barat. Dari bangun tidur sampai
tidur lagi, nggak misah dari produk Barat.
Munafik kwadrat, mau produknya, ogah nilai-nilainya...
Kalau mau kembali ke ke zaman kegelapan, ke padang pasir, nggak usah
ngajak-ngajak. 
Silakan tidur di tanah, susah air, kemana-mana naik onta...
Dungu..alangkah dungunya muslim yang anti Barat....
Dungu kwadrat....
Memangmya Islam memproduksi apa?
Tasbeh aja sekarang diimpor dari China !!



--- In [email protected], si pitung <sipitun...@...> wrote:
>
> betapa bodohnya seorang MUSLIM yg bgitu mengagung2kan BARAT (baca:
amerika) lalu meninggalkan islam dari dlm jiwanya. bagaimana mungkin
ada seorang muslim yg kluar dari rmhnya dg 'melepas' keislamannya dari
seluk beluk kehidupannya baik di jalan, di kantor, di sekolah, kampus,
di mana saja dia berada???
> betapa bodohnya jika ada muslim yg berpikiran bahwa urusan agama
hanya di MESJID atau di hari2 Raya saja, memisahkan agama (baca:islam)
dari politik, negara, aspek kehidupan lainnya. bener2 bodoh kuadrat..
> 
> 
> Peradaban: Beda Antara Islam dan “Rambo IV”
> Oleh: Hasib Amrullah *
> 
> Setiap ucapan biasanya hasil pengaruh  dari worldview nya. Bagaimana
ia memaknai hidup dan bagiamana ia melihat dunia.  Maka tidak ada
sebuah pendapat yang  bebas
> nilai. Di belakang apa yang tersurat selalu ada sesuatu yang tersirat.
> Ada target dan tujuan dari pandangan hidup peradaban tertentu yang
> terbawa dalam misi sebuah kata.
> 
> Amerika,
> sebagai sebuah negara yang perkembangan teknologinya cukup pesat.
> Bahkan amat pesat. Menjadi sombong, dan merasa peradabaannya lah yang
> terbaik. Karena itu harus ditransmisikan bagi pembentukan peradaban
> dunia. Mereka menyebut orang-orang timur adalah bangsa traditional. Dan
> menyebut bangsa yang belum mengenal peradaban Barat adalah bangsa
> bar-bar.
> 
> Hal tersebut nampak dalam alur cerita film Rambo ini,
> dan film film lainnya garapan sutradara Amerika. Dalam film Rambo IV,
> begitu bengisnya gambaran serdadu Burma memperlakukan manusia. Membunuh
> dan membombardir penduduk satu desa tanpa keterlibatan perasaan.
> Memperkosa dan memenggal kepala manusia tanpa melihat kecil besarnya.
> Semua di habisnya tanpa sisa. Seakan-akan mereka bukan manusia.
> 
> Sesungguhnya pesan yang
> ingin disampaikan Amerika melalui film ini adalah menunjukan kepada
> dunia. Betapa bar-barnya mereka yang tidak mengenal hak asasi manusia
> (HAM). Penonton digiring untuk mengidolakan Amerika sebagai penolong,
> yang mengangkat harkat kemanusiaan sebuah bangsa. Inilah bangsa yang
> mempunyai peradaban, kira-kira begitu. Bangsa yang menghargai kehidupan
> manusia yang lainnya. Karena itu, timur harus menirunya, jika ingin
> menjadi bangsa yang besar seperti Amerika. Meniru bagaimana mereka
> memandang kehidupan. Meniru worldview (pandangan hidupnya). 
> 
> Inilah kenapa gerakan Barat kepada Timur disebut civilization.
> Sebuah gerakan untuk menjadikan bangsa bar-bar dan traditionalis timur
> menjadi bangsa yang berperadaban. Peradaban Amerika tentunya. 
> Secara
> tidak langsung, Amerika menganggap Peradaban Islam â€"karena ia lahir di
> Timur- sebagai peradaban bar-bar juga. Di mana harus dicivilaiz-kan.
Agar menjadi bangsa yang berperadaban tinggi seperti mereka.
> 
> Sebuah peradaban tidak bisa dilepaskan dari cara pandang hidup
masyarakatnya. Dan lahirnya pandangan hidup dalam pikiran kita. 
> Dr. Hamid Zarkasy dalam jurnal Islamia vol III no 2 mengatakan, 
‘pembaratan’
> dilakukan melalui kultur, teknologi, pemikiran keilmuan, keagamaan dan
> spekulasi yang diperoleh dari pendidikan atau upaya sadar dalam mencari
> ilmu. 
> Karena
> itulah, Barat --terutama Amerika-- begitu semangat membiayai
> gerakan-gerakan LSM di ASIA. Dengan uang yang dimiliki, mereka
> bersusah-payah. Bukan untuk apa-apa, tujuannya sudah jelas, untuk
> merubah cara pandang masyarakat (Islam) terhadap hidup dan kehidupan.
> Agar  masyarakat timur (baca Islam) menerima cara pandang mereka
> (Barat). Dan usaha yang mereka lakukan adalah dengan merubah kultur,
> teknologi, pemikiran, keagamaan yang ada. Salah satunya dengan membuat
> tulisan di media masa. Menggiring opini dan pesan-pesan melalui film
> dan semacamnya.
> 
> Maka ungkapan “Live for nothing, or die for something” bukan
tanpa makna.  Itu  sesungguhnya
> cermin bagaimana sesungguhnya Barat (baca; Amerika) memandang kehidupan
> ini. Sangat jauh antara langit dan bumi dengan slogan-slogan dan
> kata-kata berhikmah dari dunia Islam. Baik dari Al-Quran, al-hadist
> atau atsar para sahabat dan ulama. 
> Ungkapan “Isy kariman au mut syahiidan”
> (hidup mulia atau mati syahid di jalanNya) adalah lahir dari cara
> pandang Islam. Bagi Islam, hidup lebih mulia jika “berjuang” di
Jalan
> Allah disbanding hidup biasa-biasa saja tanpa tujuan dan tanpa
makna.  Apa yang mampu kita baca, mana yang lebih bersih cara pandangnya?
> 
> Yang pertama mencerminkan bahwa hidup adalah urusan masing-masing
> individu. Orang tidak boleh mengklaim bahwa cara dia mengisi hiduplah
> yang paling baik. Maka, mabuk adalah hak individu. Selagi orang yang
> mabuk itu tidak mengganggu hak orang lain, it’s not problem. Ciuman di
> tempat umum adalah fine. Sebab ia mencium orang yang mau dicium. Ciuman
> baru menjadi masalah, kalau yang ia cium orang yang tidak dikenal.
> Karena itu melanggar wilayah private orang lain. Melanggar hak asasi
> orang lain. Menyalakan motor pagi hari bisa jadi masalah. Kalau suara
> motor kita mengganggu tetangga sebelah. Ia bisa menelpon kekomisi HAM..
> Karena suara motor kita menganggu hak dia untuk istirahat. Dan kita
> bisa ditahan karena tuduhan melanggar hak orang lain.
> 
> Masyarakat Amerika sesungguhnya hatinya kosong, hatinya hampa. Karena
> tidak ada nilai kebenaran yang absolute yang mereka yakini. Kehampaan
> hidup itulah yang mereka coba untuk atasi. Karena itulah lahir
> kata-kata ‘live for nothing’ cermin dari hampanya hidup yang tumbuh
> dari budaya barat yang kosong nilai moral. Bagi mereka mati untuk
> sesuatu yang pasti, lebih baik dari pada hidup tanpa arah yang pasti.
> Seperti apa yang tercermin dalam ungkapan Stallon tersebut. Ungkapan
> yang ia tujukan untuk membakar tentara bayaran, agar mau melanjutkan
> misi penyelamatan.
> 
> Berbeda dengan ungkapan “Isy kariiman au Mut syahiidan” (Hidup
Mulia atau Syahid di JalanNya). Ini
> adalah ungkapan yang lahir dari rahim peradaban Islam. Ungkapan
> tersebut mensiratkan adanya nilai hidup yang harus diperjuangkan muslim
> dengan pengorbanan nyawanya. Bahwa hidup dalam keadaan terhormat atau
> mati menjadi syahid di jalan Allah.  
> Cobalah nikmati betapa berbobotnya sabda Rasulullah ini,  “Islam
adalah pangkal segala urusan hidup, tiang pancangnya shalat, dan ujung
tombaknya adalah jihad.” [H.R.Thabrani]. 
> 
> Hidup yang karim adalah hidup yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral
> yang diajarkan Al-Quran. Karena dalam pandangan Islam, manusia adalah
> hamba. Ia tidak berhak untuk menentukan mana yang mulia mana yang hina.
> Penetapan kemuliaan dan kehinaan hidup, adalah otoritas Allah sebagai
> kholiq. Manusia hanya menjalaninya. Pelaksanaan atas perintah dan
> penghindaran atas larangan itulah yang disebut denga Isy kariiman. Maka
> bagi muslim pilihannya dua. Hidup terhormat, dengan menjunjung tinggi
> nilai dan ajaran Tuhannya. Atau kematian yang syahid yang keduanya sama
> berbobotnya. Bagi muslim, hidup dan mati harus sama-sama bernilai.
> 
> Perbedaan Dasar
> 
> Barat dan Islam jelas memiliki worldview yang berbeda terhadap
kehidupan dunia. Barat memandang kehidupan ini
> terbatas hanya di dunia. Karena itulah mereka mengeksploitasi kehidupan
> dunia untuk mencari bahagia. Karena setiap orang memiliki kebahagiaan
> yang berbeda-beda, maka harus ada aturan untuk menghormati sesama
> manusia yang sama-sama menghendaki untuk bahagia. Lahirlah apa yang
> kemudian menjadi spirit sistem hidup mereka, liberte, egalite dan
fraternite. 
> 
> Bahwa manusia sama-sama memiliki kebebasan untuk menentukan kebahagiaan
> masing-masing. Masing-masing individu tidak boleh mengganggu harus
> saling menghormati; inilah liberte (kebebasan). Karena
> sama-sama manusia, satu dan yang lainya harus memiliki hak yang sama
> pula. Bahwa setiap orang terlahir dengan hak-hak dasar  (natural
right)yang
> tidak boleh dirampas. Hak-hak dasar itu meliputi; hak untuk hidup, hak
> untuk memiliki sesuatu, kebebasan membuat opini, beragama dan
> berbicara. John Locke dalam bukunya  Two Treatises of Government
(1690) menyatakan; “tugas utama pemerintahan adalah menjamin hak-hak
> dasar tersebut, dan jika ia tidak menjaga hak dasar tersebut, rakyat
> berhak untuk melakukan revolusi. Inilah yang menjadi cara pandang barat
> terhadap kehidupan di mana Hak Asasi Manusia menjadi tolak ukurnya.”
> 
> Berbeda dengan Islam. Baginya, dunia tidaklah segalanya. Ia adalah
> kehidupan sementara. Sebagai perantara dan ujian untuk mendapatkan
> kehidupan selanjutnya. Sebuah kehidupan yang diyakini seorang Muslim
> lebih panjang dan abadi dari kehidupan dunia. Seperti apa yang
> disebutkan dalam Al-Quran, “Wa ma hayatu addunya illa la’bun wa
lahwun, wala darul akhiroh khoirun lilladzina yattaquun. Afala
ta’qilun”
> (Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda
> gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi
> orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya).
[al-An’am; 32]. 
> Karena
> itu seorang Muslim tidak akan pernah memaksakan haknya, apabila itu
> bertentangan dengan ayat Tuhannya. Muslim akan menghormati saudaranya,
> dan tidak terlalu rakus untuk mencapai ambisinya, karena di hadapan
> Allah tidak ada yang mampu ia sembunyikannya. 
> 
> Alhasil, antara “Live for nothing, or die for something” dan
“Isy kariman au mut syahiidan” bagian kecil dari bagaiamana
perbedadaan mendasar antara pandangan hidup Islam dan Barat mengenai
cita-cita dan worldview.  Secara substansial keduanya sungguh sangat
berbeda. 
> Peradaban barat yang dengan “angkuh”  adalah peradaban yang
lahir dari rahim akal dan bersumber dari manusia (Hak Asasi Manusia).
Sementara peradaban Islam  berasaskan
> Al-Quran dan bersumber dari wahyu (langsung dari Allah SWT). Ibarat
> krikil dan permata, tak sebanding nilainya. Sayang, krikil itulah yang
> kini sering menjadikan orang silau padanya. Lallahu a’lam. 
> 
> 
> * Penulis adalah Peserta Kader Ulama (PKU) Pondok Pesantren Gontor,
Ponorogo. Tulisan ini dimuat di www.hidayatullah.com
> 
> 
> 
>       
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke