makasih laluta atas kirimannya, artikel ini sangat bermanfaat buat para
pemerhati sejarah kemerdekaan indonesia.
salam, heri latief
http://progind.net/
kolektif info coup d'etat 65: kebenaran untuk keadilan
http://herilatief.wordpress.com/
http://akarrumputliar.wordpress.com/
--- On Fri, 12/26/08, [email protected] <[email protected]> wrote:
From: [email protected] <[email protected]>
Subject: Kesaksian Rudhito: RAKYAT MEMBEBASKAN BUNG AMIR
To: "Anti Fasis" <[email protected]>, [email protected], "YR Sukardi"
<[email protected]>, "Suar Suroso" <[email protected]>, "Joesoef Isak"
<[email protected]>, "Boni" <[email protected]>, "Eep Saefulloh Fatah"
<[email protected]>, "Wilson Bunga" <[email protected]>
Date: Friday, December 26, 2008, 7:42 PM
Kesaksian Rudhito:
RAKYAT MEMBEBASKAN BUNG AMIR
OLEH * RUDHITO
Latar belakang sejarah
Sesudah pembeontakan Revolusioner rakyat Indonesia tahun 1926 kalah,
maka partai dan rakyat revolusioner Indonesia di tindas secara berdarah
oleh kekuasaan Kolonial Hindia Belanda.
Pada tahun 1935 Musso pulang ke Tanah Air membangun kembali Partai
untuk mengadakan persiapan Gerakan Rakyat Anti Fasis. Musso di Tanah
Air tidak bisa bertahan lama, karena kedatangannya ke Indonesia sudah
diketahui oleh alat-alat aparat pemerintahan Kolonial Hindia Belanda.
Musso telah berhasil membangun kembali dan membentuk Central Commitee
Partai Komunis Indonesia. Disamping itu Musso juga telah berhasil
mengadakan pendidikan kader Partai di Surabaya. Hal ini sudah banyak
diuraikan oleh para ahli Sejarah Perjuangan Revolusioner di dunia.
Zaman Peralihan Kolonial Belanda ke Pendudukan Tentara Fasis Jepang.
Tanggal
3 Maret 1942 tentara Fasis Jepang mendarat di Tuban dan masuk kota
Surabaya pada waktu jam 14.00 siang hari. Di luar dugaan pasukan
pelopor tentara Fasis Jepang berkendaraan sepeda masuk kota Surabaya
dan terus menduduki tempat-tempat yang penting di dalam kota Surabaya.
Tentara Kolonial Belanda menyerah tanpa syarat kepada tentara Fasis
Jepang. Pada malam harinya, kita menyiarkan siaran Partai dan Gerakan
Anti Fasis Jepang ke seluruh kota.
Mengapa Musso membangun Central Comité Partai Komunis Indonesia di Indonesia
dan berpusat di Surabaya?
1.
Musso adalah bekas Ketua Serikat Buruh Pos&Telekominikasi (S.B.
POSTEL) di Surabaya dan dia dilahirkan di Pagu (Gurah, Kediri). Dia
punya pengalaman bekerja di kalangan massa rakyat, mengenal betul
derita rakyat, mengenal kampung-kampung dan lorong-lorong di dalam kota
Surabaya, juga mengenal betul wilayah Jawa Timur.
2.
Rakyat
Indonesia khususnya kota Surabaya sangat miskin dibanding dengan
kota-kota lainnya. Penduduk kota Surabaya terdiri dari banyak
pekerja-pekerja kasar, pengaruh pemikiran Feodalisme sudah tidak
berdominasi di kalangan masyarakat kota Surabaya.
Sebagian besar
penduduknya menjadi pekerja, misalnya Buruh Pelabuhan Tanjung Perak,
Buruh Pabrik Mesin Indutri Establishment, Buruh Dok-Kapal Marine
Establishment, Buruh Pangkalan Udara Moro Krembangan, Buruh Pabrik
Gudang Mesiu Batu Porong, Pabrik Gula, Pabrik Kulit Monocolo, Pabrik
Minyak BPM Wonokromo/ Cepu, Pabrik Sabun Colibrita,
Perusahaan-perusahaan Roti Darmo, Perusahaan Susu MELKBRON, Perusahaan
Daging Semeru, Pabrik Obat-Obatan, Bengkel Lokomotip SS, Buruh
Transport Truk, Buruh Harian dan Musiman (Kuli), Kaum Nelayan di tambak-tambak
sekitar kota Surabaya/ Sidoarjo, Buruh Perusahaan Impor/
Ekspor, Buruh Bangunan (aanemer/ Kontraktor Bangunan), dls
3.
Kapital Asing milik Belanda, Inggris, Perancis, Jepang, Kuomintang dls.
Disamping itu para kapital Asing tersebut memiliki pula pabrik-pabrik,
toko-toko besar, perusahaan-perusahaan Impor/ Ekspor,
onderneming-onderneming Teh, Kopi, Karet, Kina, Perusahaan-perusahaan
Hotel, Bioskop, tanah-tanah luas di dalam kota atau rumah-rumah besar
yang untuk disewakan.
4. Di dalam masyarakat kota Surabaya, yang
menjadi pusatnya "Orang Kaya" dan pusatnya Orang Miskin-Kota
menciptakan syarat-syarat obyektip lahirnya pemimpin-pemimpin rakyat
patriotik dan nasionalis yang gandrung akan Kemerdekaan Tanah Air dan
Rakyatnya. Tokoh-tokoh terkenalnya antara lain Musso, Tjokroaminoto, Semaun,
Dr. Soetomo, Ir. Soekarno, Kyai Dahlan, Kyai Soekri, Kyai Haji
Sirad (Gemblongan Surabaya), Doel Arnowo, Kyai Wahib Wahab, Kyai Wahid
Hasjim, Abdul Azis (Ketua CC PKI 1935), Djoko Soejono, Achmad Soemadi,
Dr. Tjoa Siek In, Siauw Giok Tjhan, Haji Fadilah, dls.
5.
Oleh Gubernur Pemerintahan Hindia Belanda Jawa Timur Ch.O. van der Plas
secara intensip melakukan politik pecah-belah ( Heers-en-Verdeeld
politiek ) dan aktip memasukkan agen-agennya ke dalam semua gerakan dan
partai-partai nasional patriotik.
Alat kekuasaan dari kolonial
yang aktip ini adalah Dinas Politieke Inlichtingen Dienst (P.I.D.),
yang di kepalai oleh Wedana Soedjono. Agen-agennya bekerja secara di
bawah-tanah, menyamar sebagai pedagang-pedagang kecil masuk
kampung-keluar kampung, mempunyai pos-pos di setiap kampung,
lorong-lorong, di sekolahan-sekolahan, surau/ langgar, kantor-kantor,
bengkel-bengkel di pabrik, dls.
Mereka membikin jaringan mata-mata di
dalam partai-partai seperti PNI, Gerindo, Barisan Pemuda Gerindo, Karya
Wirawan, Kepanduan Bangsa Indonesia, Indonesia Muda, dls. Mereka
membikin provokasi-provokasi, intrik dan penyuapan-penyuapan dan
lainnya untuk merusak dari dalam. Dengan cara demikianlah persatuan di
kalangan bangsa Indonesia tidak mudah dipersatukan dan selalu timbul
saling curiga serta berantakan dari dalam.
Zaman Pendudukan Fasis Jepang.
Setelah zaman pendudukan Jepang, maka alat kolonial Hindia Belanda tersebut
juga sepenuhnya dipakai oleh bala tentara Fasis Jepang. Untuk
mendapatkan kepercayaan dari Fasis Jepang, maka semua daftar
partai-partai dan gerakan patriotik dan revolusioner oleh P.I.D.
tersebut diserahkan kepada Fasis Jepang. P.I.D. menjadi "pelopor"
paling depan untuk menjadi tukang tunjuk nama-nama orang yang sudah
masuk daftar-hitam Pemerintah Kolonial Hindia Belanda, dan yang akan
ditangkapi oleh polisi tentara Fasis Jepang. Dengan cara demikian ini,
membikin sebagian besar tokoh-tokoh dan kader-kader militan dari
gerakan patriotik dan revolusioner yang menjadi kekuatan inti Front
Anti-Fasis terutama anggota PKI bisa ditangkapi oleh polisi tentara
Fasis Jepang (Kenpetai).
1. Cara melakukan penangkapan
Semua
orang yang nama-namanya sudah masuk daftar-hitam P.I.D. Kolonial Hindia
Belanda, di waktu malam rumah kediamannya dimasukkan siaran Anti-Fasis
Jepang yang dicetak sendiri oleh Fasis Jepang. (Siaran tersebut
bergambar palu arit. Fitnahan ini sama dengan rijksdag brandt Hitler
Jerman dan rasia Sukirman tahun 1951). Selanjutnya di rumah-rumah
tersebut yang sudah masuk daftar-hitamnya pada waktu tengah malam
antara jam 03.00 - 04. 00 secara serentak dilakukan penangkapan. Dengan
cara demikian itulah, pertama kita tidak siap menghadapinya dan ke dua
kita tidak sempat untuk memberitahukan teman-teman lainnya yang
terancam. Akibatnya, sebagian besar dari teman-teman yang sudah masuk
daftar-hitam mereka semua tertangkap.
Kemudian ternyata, apa yang pernah terjadi di Jawa Timur, juga terjadi
di Jawa Tengah, di Jawa Barat dan kota-kota besar di luar pulau Jawa.
hal ini dilakukan, terhadap siapa saja yang dicurigai oleh tentara
Fasis jepang. Penguasa Fasis Jepang, disamping menggunakan alat
Kolonial P.I.D. juga mengumpulkan nama-nama orang lain yang dicurigai
dengan menggunakan agen-agennya dari Jawatan Intelijennya sendiri.
2. Cara melakukan penahanan dan penyiksaan
Siksaan-siksaan
seperti yang terjadi dinegeri-negeri Fasis Hitler Jerman, Mussolini
Italia dan dinegeri-negeri Fasis Asia lainnya dilakukan juga oleh
penguasa Fasis Jepang terhadap tahanan politik Indonesia. Selama dalam
siksaan tersebut maka inti pimpinan PKI (anggota-anggota CC dan
Politbiro CC PKI) yang pernah dibangun oleh Musso tahun 1935 dibunuh
oleh algojo-algojo Fasis secara kejam dan biadab. Sedangkan sisa-sianya
yang masih hidup dimasukkan ke dalam penjara Kalisosok, penjara
Salatiga, penjara Sukamiskin, penjara Cirebon, penjara Nusakambangan
dan juga ditiap-tiap kota keresidenan ada beberapa orang tahanan
politik di dalam markas tentara polisi (Kenpetai) Fasis Jepang.
Para
tahanan politik selalu dipindah-pindah dengan maksud supaya keluarganya
tidak bisa mengetahui dimana tempatnya, dan yang pokok supaya tahanan
politik tersebut tidak ada hubungan dengan "penghubung" partai yang
masih berada diluar penjara. Oleh penguasa Fasis Jepang disiarkan "berita
desas-desus" bahwa si A sudah dibunuh, si B "sudah bunuh diri"
, si C sudah mengakui kesalahannya (artinya sudah jadi penghianat),
dls, Kejadian ini semua karena tidak tahan siksaan-siksaan algojo Fasis
Jepang.
Dengan cara demikian itulah, kita tidak bisa
mengikuti dimana tempat sesungguhnya anggota-anggota Partai ditawan.
Diantaranya, desas-desus tersebut ialah, bahwa bung Azis disiksa sampai
mati, bung Sukajat (anggota polit biro) mati dengan cara bunuh diri,
bung Amir Sjarifuddin hukuman mati, tapi belum dibunuh, karena atas
permintaan grasi dari empat serangkai (Ir. Soekarno, Drs. Hatta, Ki
Hajar Dewantoro dan K.H. Mansur yang ditunjuk oleh bala tentara Fasis
Jepang menjadi wakil bangsa Indonesia).
3. Melacak tawanan yang masih hidup.
Dari
info-info yang simpang-siur tersebut membikin kita sulit sekali untuk
mencari jejaknya kawan-kawan yang ada di dalam penjara. Kita secara
berhati-hati dan teliti mengikutinya dengan menggunakan segala saluran,
misalnya tukang-tukang masak di dalam penjara ketika berbelanja mencari
sayuran dan bahan-bahan makanan ke pasar untuk keperluan penjara; melalui
jururawat-jururawat yang periodik masuk penjara untuk memeriksa tahanan
politik; dengan melalui keluarga-keluarga tahanan politik,
pegawai-pegawai penjara yang "sedar" dls, Pekerjaan tersebut
membutuhkan ketekunan dan kewaspadaan yang penuh.
Dari pengalaman-pengalaman tersebut dengan cara mengumpulkan info-info
tentang kawan-kawan tahanan politik di dalam penjara; timbul pemikiran
baru, ialah: bahwa untuk pekerjaan tersebut perlu dibentuk regu petugas
tersendiri. Ide ini, kita harus berterimakasih kepada bung Wikana yang
mempunyai pikiran cemerlang dan menjangkau jauh untuk jangka panjang.
Regu-regu telah dibentuk dan diadakan pembagian wilayah dengan maksud
supaya secara kontinu mengikuti perkembangan kawan-kawan tahanan
politik di dalam penjara tentara Fasis Jepang.
Saya beserta
beberapa kawan mendapat tugas untuk mencari bung Amir Sjarifuddin dan
beberapa kawan lainnya. Regu-regu tersebut harus bertanggung jawab
langsung kepada bung Wikana. Disamping itu kita membentuk
saluran-saluran untuk menyampaikan info-info dari dalam penjara.
Setapak demi setapak saluran dan kontak-kontak kita sudah mulai
tersusun rapih. Seleksi kita adakan terus menerus, mencegah
kebocoran-kebocoran kepada musuh.
4.
Suasana perang dunia semakin genting.
Tentara Fasis Mussolini menyerah
kepada tentara sekutu di Afrika. Berturut-turut tentara Fasis Hitler
mengalami kekalahan-kekalahan di Eropa. Tentara Sekutu sudah mulai
mendarat di Philipina dan Burma. Tentara Fasis Jepang di Indonesia
mulai tampak pada siang dan malam meninggalkan pangkalan-pangkalan di
Jawa untuk digerakkan ke luar Jawa. Tetapi kekejaman tentara Fasis Jepang
semakin ganas; maka rakyat semakin tampak kebenciannya dan
keberaniannya. Jaringan gerakan Anti-Fasis Jepang di bawah tanah
semakin meluas. Tidak hanya meliputi rakyat biasa, tetapi juga di
kalangan perseorangan dalam alat-alat pemerintah Fasis Jepang yang
dahulunya takut-takut membantu gerakan kita, sekarang mulai simpati dan
berani membantu.
Kira-kira setengah tahun sebelum tentara Fasis Jepang (Kenpetai) mulai
melakukan pembunuhan-pembunuhan gelap. Tugas regu kita semakin penting
dan sulit, karena para tahanan politik banyak di pindah-pindah ke satu
tempat ke tempat lain. Tetapi, karena jaringan kita sudah meluas, semua
pemindahan para tahanan politik dalam waktu tidak sampai 3 bulan sudah
bisa kita ketahui. Disamping itu kawan yang baru dipindahkan ke dalam
penjara lain juga sudah biasa dan aktip mencari saluran-saluran kita
di dalam penjara tersebut untuk mencari hubungan keluar.
5. Menghadapi peristiwa dramatis
Pagi-pagi benar ada kurir (penghubung) dari Batu (Malang Barat), melaporkan
bahwa ada sebuah truk dari kota Malang menuju ke Pujon dan membelok ke jurusan
Coban Rondo (Air terjun dibawah kaki Gunung Kawi). Mobil truk tersebut membawa
se-onggok jenazah orang di bungkus dengan tikar dan di buang di kolong air
terjun Coban Rondo. Di daerah tersebut banyak binatang-binatang buas seperti
babi hutan (celeng), asu ajag (anjing hutan), rusa, adakalanya tampak harimau.
Binatang-binatang tersebut mencari air minum dan mandi dengan air terjun
tersebut. Maksud tentara Fasis Jepang membuang jenazah di situ, ialah supaya
jenazah-jenazah tersebut dimakan oleh binatang buas.
Segera kita pergi ke Pujon ke rumah Haji Said anggota SR (Serekat Rakyat) dari
angkatan 1926. Dengan beberapa temannya. Di waktu malam kita (di antar
oleh wak Haji Said) dapat melihat jenazah-jenazah tersebut. Ternyata jumlahnya
ada 18 orang tahanan politik yang dibunuh setelah disiksa oleh tentara Fasis
Jepang (Kenpetai). Lainnya banyak yang tidak bisa kita kenal karena wajah
mukanya "dirusak" oleh Fasis Jepang. Yang bisa kita kenal hanyalah seorang
kawan bernama pak Kusen bekas wartawan harian Asia Raya.
Tetapi yang jelas wajahnya bung Amir Sjarifuddin tidak ada. Dari dalam penjara
kita cek, bahwa yang dibunuh kawan-kawan yang ada di markas di tangan tentara
polisi Fasis Jepang (Kenpetai).
6. Pekerjaan di dalam dan di luar penjara.
Herusukarto bekas guru Taman Siswa dan pemimpin K.B.I. (Kepanduan Bangsa
Indonesia) yang ditangkap oleh tentara Fasis Jepang di penjara Lowokwaru
memberikan berita melalui keluarganya, bahwa bung Amir Sjarifuddin masih di
dalam penjara dan kesehatannya sangat buruk karena siksaan tentara Fasis
Jepang. Karena
jururawat
yang bekerja untuk penjara Lowokwaru adalah petugas dari jaringan kita, maka
kita bisa lebih banyak
membantu kesehatan bung Amir Sjarifuddin dengan vitamin dan info-info lainnya.
Berita baik ini segera kita sampaikan kepada bung Wikana untuk di minta
pendapat-pendapatnya. Bung Wikana langsung mengirim kurirnya untuk
menyaksikan sendiri kebenarannya melalui keluarga Herusukarto.
Menanyakan siapa sesungguhnya Herusukarto tersebut. Dia adalah anggota
GERINDO, maka ia sudah kenal betul dengan bung Amir. Dengan demikian
laporan kita bisa di pertanggung-jawabkan.
Kepada Herusukarto diberikan tugas utama untuk mengorganisasi dari dalam
diantara semua pegawai-pegawai penjara dan para narapidana, yang tidak sedikit
jumlahnya di dalam penjara tersebut, untuk bisa diusahakan meneliti berapa
jumlah agen-agen Fasis Jepang di kalangan orang-orang bumiputra dan
serdadu-serdadu Fasis Jepang yang ditugaskan menjaga penjara. Pada pokoknya
mulai menghitung kekuatan penjagaan, yaitu untuk menjaga keselamatan bung Amir
bila sa'atnya kita bisa membebaskannya. Ini semua adalah pengaturan dari
pekerjaan di dalam penjara.
Pekerjaan di luar penjara Lowokwaru. Di sebelah utara penjara Lowokwaru adalah
daerah pertanian dimana para narapidana dipekerjakan untuk menanam sayuran bagi
keperluan penjara sendiri. Disekitarnya ada daerah lahan pertanian lain, dimana
jawatan pertanian (Proefstation) menggunakan lahan tersebut untuk penyelidikan
pertanian dengan jumlah tidak sedikit oleh
pegawai-pegawai intelektual (ahli-ahli pertanian) yang tidak "suka" sama
penguasa Fasis Jepang. Agak ke timur, yang jaraknya tidak jauh dari penjara
tersebut tampak asrama PETA (Barisan Pembela Tanah Air) dimana persiapan
pekerjaan gerakan kita dengan melalui Bambang Supeno dan Ronopradopo sudah
berjalan "baik" .
Di sebelah utara penjara sepanjang jalan raya dari Malang ke Surabaya ada pos
penjagaan polisi istimewa (kemudian diberi nama Brigade Mobil) dengan
komandannya Soekimin yang di himpun oleh pak Saman (jagoan pemberontak-tua
angkatan 1926). Menyeberang jalan raya di depan penjara Lowokwaru dan Celaket
dimana barisan pemuda (Seinendan) di bawah pimpinan pak Said dan pak Amin sudah
sepenuhnya bisa diandalkan kekuatannya. Jadi syarat-syarat obyektip dan
materiil di sekitar penjara Lowokwaru merupakan sebagian besar menjadi sandaran
kekuatan yang sewaktu-waktu bisa ditugaskan untuk menyerbu penjara Lowokwaru.
Kekuatan-kekuatan di dalam
penjara dan di luar penjara sudah mulai berangsur-angsur dengan kesedarannya
sendiri mengerti tugasnya. Dengan kesedaran tersebut setiap orang dengan
sungguh-sungguh bisa menyimpan rahasia. Karena kebocoran berarti bencana bagi
diri sendiri. Tentara Fasis Jepang semakin kejam dan biadab; dan ini berarti
membantu kesedaran rakyat untuk semakin membenci kepada Fasis Jepang dengan
pengalamannya sendiri.
7. Hari pembebasan.
Kurir dari Jakarta sudah tiba di Malang dan Jawa Timur dengan membawa
tugas-tugas baru. Fasis Jepang sudah menyerah tanpa syarat kepada tentara
sekutu. Hal ini kita dengar pada tanggal 14 Agustus 1945. Suasana tegang dan
panas. Semua sudah siap. Orang-orang Indonesia yang menjadi agen-agen Fasis
Jepang sudah melarikan diri. Sirene tanda bahaya serangan dari udara semakin
sering dibunyikan. Tentara Fasis Jepang menunjukkan kepanikannya di depan
rakyat.
Setelah proklamasi 17
Agustus 1945 diumumkan, dari angkatan darat bala tentara Fasis Jepang mundur
berpusat di Malang Selatan (daerah Dampit dan Sumbermanjing) dan dari angkatan
laut Fasis Jepang dari Surabaya dan pangkalan-pangkalan luar Jawa berpusat di
Malang Utara di sekitar Batu Pujon. Sedangkan kota Malang pada pokoknya di
tinggalkan. Momentum tersebut kita gunakan sebaik-baiknya untuk menyerbu
penjara Lowokwaru dari luar dan pemberontakkan narapidana dari dalam.
Gerakan rakyat dengan bambu runcing yang dipimpin pemuda mengepung penjara
Lowokwaru dan aksi-aksi dari dalam penjara mendobrak pintu penjara. Ternyata,
tanpa kita tugaskan para narapidana yang "jagoan" (tamping-tamping) sudah
melucuti senapan-senapan musuh dan 21 orang serdadu Fasis Jepang yang menjaga
penjara Lowokwaru telah dibasmi. Dengan cara demikian itulah, maka semua
narapidana bisa "membebasakan" dirinya sendiri.
Bung Amir Sjarifuddin dengan selamat kita bawa ke markas Pemuda di depan
penjara
Lowokwaru. Saya bukan apa-apa. Kekuatan yang membebaskan bung Amir Sjarifuddin
adalah kekuatan para narapidana dari dalam penjara dan kekuatan rakyat serta
pemuda di sekitar penjara Lowokwaru yang dengan kesedaran tinggi mereka
membenci tentara Fasis Jepang yang biadab dan kejam terhadap rakyat Idonesia.
Oleh Residen Malang, Mr. Soenarko telah dipinjamkan mobil Jawatan kepada bung
Amir Sjarifuddin untuk pergi ke Surabaya, kemudian terus ke Jakarta dengan
kereta api. Tapi atas permintaan rakyat dan lasykar pemuda kereta api
(Sutjipto), untuk menjaga keselamatan bung Amir, lebih baik naik kereta api
ekspres ke Jakarta. Untuk tugas ini diberikan oleh para pemuda kepada saya,
mengantar bung Amir Sjarifuddin sampai di Jakarat dengan selamat. Dalam
kesempatan tersebut bagian film dari Departemen Penerangan Republik Indonesia
membikin opname sebagai dokumentasi.
Pada setiap kesempatan, di Markas Pemuda Lowokwaru, di depan stasiun kota
Malang dan di setiap stasiun antara Malang dan Surabaya banyak rakyat dan
pemuda mendengar dan ingin berkenalan dengan bung Amir Sjarifuddin. Tetapi bung
Amir Sjarifuddin di depan mereka berseru "Hidup Rakyat Indonesia!", "Hidup
revolusi Indonesia", "Hidup pemuda harapan bangsa" dan "Merdeka atau mati";
terimakasih, "Hidup-hidup" sambil melambai-lambaikan kepalnya ke atas.
Selama di dalam perjalanan bung Amir Sjarifuddin tidak berpidato, karena
kesehatannya masih lemah dan giginya banyak yang rusak karena siksaan tentara
Fasis Jepang selama ditawan di penjara. Tetapi wajahnya tampak sangat gembira
dan optimis di depan rakyat sepajang perjalanan. Kita berangkat dari kota
Surabaya jam 14.00 dan jam 09.00 esok harinya sampai di stasiun Gambir
(Jakarta), yang disambut hangat oleh para pemimpin API (Angkatan Pemuda
Indonesia) Menteng 31 Jakarta Raya. Bung Amir dibawa ke Markas API Menteng 31
dan kemudian ke Gedung Proklamasi 17 Agustus 1945 di
Penggangsaan Timur.
Sampai di sini -- tugasku selesai dengan selamat.
Selesai
Di tempat, Agustus 1980
* Rudhito Sukardi Sastrodiwirjo, lahir di Malang 19 Desember 1919. Memimpin
salah satu kompi pasukan yang ikut ambil bagian dalam pertempuran tahun 1945 di
Surabaya, kemudian menjadi salah seorang pimpinan Dewan Pusat Pesindo, ikut
long-mars dalam peristiwa Madiun, dengan pasukannya bergrilya melawan agresi
Belanda ke 2 di wilayah Malang Selatan. Zaman NASAKOM menjadi Pimpinan Pusat
Serikat Buruh Kendaraan Bermotor-SBKB. Sebagai anggota MPRS dari Angkatan 45,
bersama-sama Chairul Saleh, Wikana ikut mewakili Indonesia ke Perayaan Ulang
Tahun RRT ke XVI. Tanggal 10 Juli 1986 pada usia 66 tahun meninggal dunia di
Amsterdam.
Information
about KUDETA 65/ Coup d'etat '65, click: http://www.progind.net/
http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/
[Non-text portions of this message have been removed]