26/12/08 06:18

Indonesia Negeri Ijazah

Oleh A Jo Seng Bie

Jakarta (ANTARA News) - Baharuddin (42) memprotes keras kerani atau mandor di 
perkebunan sawit Semenanjung Malaysia karena menyebutnya pendatang haram.

"Saya marah kepada kerani. Saya katakan, saya muslim. Mana mungkin muslim 
haram," seru Baharuddin di kedai nasi padang kelolaan bersama istrinya dalam 
kompleks perumahan kaum marjinal kota, di Baloi Kebun, Batam, Kamis (25/12-08).

Beberapa perkebunan kelapa sawit di Selancar III (Pahang), Kota Tinggi dan 
Segamat dan perusahaan gudang di Pasir Putih (Johor Bahru) adalah tempatnya 
mencari ringgit selama 1984-1994, diselingi enam bulan mengumpulkan baht selaku 
buruh traktor sawah di Thailand.

Ia bekerja bertahun-tahun di negeri rantau hanya berbekal kartu penduduk 
Tanjungpinang, dan karenanya menjadi mangsa aparat Malaysia yang menangkapi 
pekerja asing tanpa izin atau pekerja asing degil (bandel).

Tahun 1996, Bahar, demikian ia biasa dipanggil, pulang kampung ke Tanjungpinang 
setelah merasakan betapa pedihnya dua cambukan rotan dan dua tahun penjara di 
Malaysia.

"Selepas dari penjara, saya masih ditahan satu tahun di Imigrasi Malaysia," 
kata Bahar yang setibanya di Batam membeli bangunan rumah di Baloi Kebun 
seharga Rp3 juta dan mengusahakan warung yang dimodali adik iparnya.

Menurut ayah dua anak itu, bekerja di Malaysia sangat mudah. Di sana, orang 
tidak ditanya ijazah ketika melamar ke pabrik atau perkebunan.

"Di Malaysia, yang terpenting adalah skill (keterampilan), bukan ijazah," ujar 
Bahar yang putus sekolah sejak kelas empat SD di Tanjungpinang, kota 
kelahirannya.

Selain sebagai operator fork lift, di negeri itu, Baharuddin pernah menjadi 
pengemudi truk gandeng. Keterampilan itu didapatnya dari teman-teman pekerja 
dari Indonesia.

Ketika melamar pekerjaan, Bahar hanya ditanya bisa apa, lalu diuji.

Untuk menjadi pengemudi truk gandeng, misalnya, ujian pertama adalah "Coba kamu 
start engine (hidupkan mesin)."

Kalau pelamar langsung memutar kunci kontak truk gandeng, dijamin lamarannya 
langsung ditolak. Seharusnya, ia memeriksa terlebih dulu keadaan minyak hitam 
(oli) dan mesin.

Lulus dari ujian pertama, pelamar harus menjalankan truk gandeng ke arah 
belakang kira-kira 50an meter. Harus bisa memundurkan kendaraan dengan lurus. 
Kalau mampu, pekerjaan baru sudah di tangan.

Lain di Malaysia, lain di negerinya. Lamarannya ke beberapa perusahaan di kota 
kelahirannya tak membuahkan hasil, hanya karena tak berijazah. Ia akhirnya 
hanya bisa menjadi pengojek.

Mulai 2005, Bahar bersama Ardiati, istrinya, hijrah, mengadu nasib di Kota 
Batam yang ternyata juga menuntut selembar ijazah kepada pelamar pekerjaan 
formal.

"Di sini pun sama.  Waktu melamar yang ditanya adalah ijazah. Indonesia, negeri 
ijazah," keluh Bahar.

Ia lalu berandai-andai, jika saja ijazah bukan yang utama di negerinya, 
pastilah orang pandai mengemudi truk gandeng seperti dirinya atau 
teman-temannya yang terampil mengelas, yang mendapat pekerjaan.  (*)

COPYRIGHT © 2008


http://antara.co.id/arc/2008/12/26/indonesia-negeri-ijazah/




      

Kirim email ke