http://www.republika.co.id/berita/23310.html
Relawan Internasional Berangkat ke Jalur Gaza
NIKOSIA -- Sekelompok dokter relawan dan pekerja bantuan internasional
meninggalkan pelabuhan Larnaca di Siprus selatan, Senin malam, menuju Jalur
Gaza yang sedang terkepung, dengan membawa berton-ton pasokan medis yang sangat
diperlukan rakyat Palestina yang menghadapi serangan udara Israel.
Mereka berlayar naik kapal Dignity, yang telah mengangkut bantuan kemanusiaan
dalam beberapa bulan belakangan ke Jalur Gaza, dalam pembangkangan terhadap
blokade Israel.
Para pekerja hak asasi manusia dan kemanusiaan internasional itu berasal dari
Siprus, Australia, Irlandia, Inggris, Tunisia dan Amerika Serikat, kata Gerakan
Gaza Bebas yang berpusat di AS.
Tiga dokter Siprus berencana menjadi relawan di beberapa rumah sakit lokal jika
mereka dapat sampai ke Jalur Gaza.
"Kami akan berusaha mengangkut sedikitnya tiga ton bantuan medis tapi
kelihatannya jumlahnya terlalu banyak untuk ukuran perahu tersebut. Dalam
setiap kasus, kami akan membawa barang yang paling diperlukan," kata Eleni
Theocharous, ahli bedah dan anggota parlemen Siprus.
Ia mengatakan mereka mengetahui bahwa perahu itu mungkin dicegat oleh tentara
Israel. Jika tidak, Dignity dapat tiba di Jalur Gaza, Selasa dini hari.
Cinthya McKinney, wanita mantan anggota Kongres AS, juga ikut dalam kapal
tersebut. "Ada waktu ketika bungkam untuk tak terlibat dan tak-bertindak,
(sebuah sikap yang) tak dapat diterima lagi," demikian antara lain isi siaran
pers penyelenggara perjalanan itu.
Mereka menyebut operasi yang dilakukan Israel sebagai pembantaian militer
terhadap penduduk sipil di Jalur Gaza, tempat lebih dari 330 orang, termasuk
perempuan dan anak-anak, tewas oleh serangan udara Israel dan lebih banyak lagi
menderita luka parah.
Pesawat tempur Israel telah membom gedung Kementerian Dalam Negeri yang
dikelola HAMAS, serangan udara pertama dengan target bangunan pemerintah dalam
serangan Israel, kata satu kelompok Palestina.
HAMAS menyatakan satu serangan udara Israel menghancurkan satu bangunan
laboratorium di Islamic University, lambang budaya penting HAMAS. Israel telah
menuduh HAMAS "menggunakan instalasi tersebut untuk membuat bahan peledak dan
senjata". - ant/xinhua/oana/ah
[Non-text portions of this message have been removed]