http://www.republika.co.id/berita/23930.html

Gaza Krisis Makanan dan Kesehatan

GAZA -- PBB memperingatkan bahwa warga Palestina di Gaza menghadapi krisis 
makanan dan kesehatan yang parah, sementara serangan udara Israel berlanjut 
memasuki hari ketujuh.

"Keadaan darurat" itu terjadi kendati pengiriman bantuan kemanusiaan 
ditingkatkan, kata Maxwell Gaylard, kepala koordinator bantuan PBB bagi wilayah 
itu.

PBB percaya paling sedikit 100 dari 400 rakyat Palestina yang tewas akibat aksi 
Israel sejauh ini adalah warga sipil.

Israel mengatakan penduduk Gaza masih terus menerima cukup bantuan makanan dan 
obat-obatan.

Melalui sebuah pernyataan, departemen luar negeri Israel mengatakan sejak awal 
operasi militer Israel, sebanyak 335 truk berisi bantuan kemanusiaan sudah 
dikirim ke Gaza.

Departemen luar negeri Israel mengungkapkan pihaknya bekerja sama dengan 
berbagai organisasi internasional di Gaza termasuk berbagai pemerintah "untuk 
menilai kebutuhan kemanusiaan" dan memberikan tanggapan yang diperlukan.

Semua laporan menunjukkan bahwa terdapat bahan makanan serta obat-obatan yang 
diperlukan di Gaza, kata pernyataan itu.

Maxwell Gaylard dari PBB mengatakan " Memang betul perbekalan sudah masuk ke 
Jalur Gaza, kemungkinan lebih banyak daripada minggu-minggu sebelumnya!"

Sebuah yayasan internasional terkenal, Oxfam, yang menjalankan sebuah program 
di Gaza, memperingatkan bahwa setiap hari situasinya semakin buruk", sementara 
air bersih, bahan bakar dan makanan sangat kurang.

Menurut Oxfam, rumah-rumah sakit sudah tidak bisa menampung para korban, dan 
melaporkan bahwa air selokan melimpah ke jalan-jalan di beberapa wilayah.

Israel memperketat pengendaliannya atas apa saja yang boleh masuk dan keluar 
dari Jalur patantai yang ramai itu setelah Hamas, yang terpilih dalam pemilihan 
umum, mengambil wilayah itu dari pasukan Fatah 18 bulan lalu.

Sejak itu PBB mengungkapkan prasarana semakin buruk, begitu pula dengan 
berbagai pelayanan pokok, dengan 80 persen dari 1,4 juta penduduk tidak bisa 
memenuhi kebutuhan hidup mereka sendiri.

Dukungan diam-diam

Lima orang Pelestina termasuk, tiga anak-anak, tewas akibat serangan udara 
israel yang baru. Pasukan Pertahanan Israel, menyerang lecih dari 500 sasaran 
Hamas di Gaza sejak operasi militer dimulai.

Menurut PBB, sampai saat ini, sekitar 2000 warga Palestina menderita luka-luka.

Militan Palestina masih terus melancarkan serangan, menembakkan lebih dari 60 
roket dalam waktu 24 jam. Empat orang luka-luka di kota Ashkelon, Israel 
selatan.

Empat warga Israel tewas akibat serangan roket yang sedang dicegah oleh Israel.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Condollezza Rice, mengimbau agar diadakan 
'gencatan senjata jangka lama yang bisa bertahan' - gencatan senjata yang tidak 
akan memungkinkan terjadinya status quo' yang memberi peluang kepada Hamas 
untuk meneruskan serangan roket ke luar Gaza.

Wartawan BBC Kim Ghatas di Washington mengatakan belum jelas apa yang 
dimaksudkan oleh Rice dengan 'gencatan senjata yang bisa bertahan' itu, dan 
bagaimana mencapainya.

Tetapi hal itu oleh banyak kalangan ditafsirkan sebagai dukungan diam-diam yang 
diberikan Washington kepada Israel untuk terus melancarkan operasi militer 
sebanyak mungkin.

Sementara itu, ribuan warga Palestina di Tepi Barat, ikut serta dalam unjuk 
rasa hari Jumat setelah seruan Hamas untuk menunjukkan kemarahan atas serangan 
Israel terhadap Gaza.

Para wartawan mengatakan para pengunjuk rasa mengarahkan kemarahan mereka bukan 
hanya kepada Israel tetapi juga terhadap berbagai pemerintah Arab serta para 
pemimpin mereka sendiri karena tidak menghentikan serangan Israel itu.

Unjuk rasa juga dilancarkan di seluruh kawasan Timur Tengah dan di beberapa 
negara di Asia, termasuk Australia dan Kenya.

Aksi protes dilancarkan setelah satu serangan udara Israel menghantam rumah 
Nizar Rayan, salah seorang pemimpim Hamas yang menolak untuk bersembunyi, 
menewaskannya dan beberapa orang anggota keluarganya.

Dalam satu perkembangan terpisah, sekitar seratus orang pemegang paspor asing, 
terutama wanita yang menikah dengan orang-orang Pelestina, serta anak-anak 
mereka, diperbolehkan Israel untuk meninggalkan Gaza.

Wartawan BBC di Timur Tengah, Jeremy Bowen, mengatakan selama satu minggu 
pemboman yang dilancarkan Israel tidak berhasil menghentikan tembakan roket 
Hamas, dan sekarang Israel harus memutuskan apakah akan mengerahkan apakah akan 
mengerahkan pasukan darat.

Israel tidak mengizinkan para wartawan internasional masuk ke Gaza, kendati 
Mahkamah Agung mengizinkan para wartawan masuk ke wilayah itu dalam jumlah 
terbatas. - ah






























      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke