Jurnal Toddopuli: BERLOMBA MEMBERI SUMBANGAN DALAM PEMBUDAYAAN NEGERI DAN MANUSIA [Cerita kepada Anak-anakku] <<Dengan disponsori oleh Amiq Ahyad dan Mintardjo, PPI Leiden telah melaksanakan sebuah dialog budaya pada tanggal 3 Januari 2009 bertempat di rumah Mintardjo, di Leiden. Dalam temu budaya itu selain para mahasiswa Leiden, juga kelihatan wakil-wakil dari berbagai organisasi seperti Yayasan Sejarah dan Budaya Indonbesia (YSBI), Sapulidi, Persaudaraan, Perhimpunan Dokumentasi Indonesia, Indonesia Media, Jaringan Kerja Indonesia, dll. Sementara itu juga hadir Iba Soedharosono dari Paris. Dialog budaya ini menampilkan seorang pembicara tunggal : Asahan Aidit dengan pokok pembicaraan « Sketsa Budaya Indonesia dan Budaya Migran ». Demikian Chalik Hamid, seorang penyair asal Medan, yang sekarang bermukim di Negeri Belanda antara lain menulis dalam artikel pendeknya berjudul "Dialog Budaya Di Leiden" melaporkan kegiatan budaya yang baru-baru ini berlangsung menyusul acara "Sepuluh Jam Untuk Sastra Indonesia Di Paris" diselenggarakan oleh Lembaga Persahabatan Perancis-Indonesia "Pasar Malam". Kegiatan sastra ini diselenggarakan mendahului program budaya internasional tahunan Winternachten yang juga dilangsungkan di Negeri Belanda di mana sastrawan-sastrawan dari Indonesia turut diikut-sertakan. Dalam sejarah dunia, pendekatan budaya, jamak dilakukan untuk mencapai tujuan-tujuan lain. Sadar akan keadaan ini maka ketika Orde Baru Soeharto naik ke panggung kekuasaan melalui "kudeta merangkak", ia segera mengendalikan bidang kebudayaan, antara lain dengan segera melarang Lekra dan mengangkangi dunia perwayangan yang amat populer di Jawa, sebagai pulau berpenduduk terbanyak di negeri kita. Dunia perwayangan , termasuk ketoprak dan teater-teater rakyat, merupakan suatu wilayah yang ditangani oleh Lekra dengan baik dan sangat sistematik. Konflik politik dii Republik Rakyat Tiongkok pada tahun 1960an yang berlanjut dengan dengan Revolusi Besar Kebudayaan Proletariat [Wen Hua Da Qe Min] juga dimulmai dengan debat sastra "Hai Jui Dipecat Dari Jabatyannya". Revolusi Perancis 1789 juga menunjukkan keadaan serupa. Sulit dibayangkan Penjara Bastille akan runtuh oleh serbuan rakyat, jika tidak ada pertarungan yang bermula di bidang budaya walau pun pertarungan ini tidak selalu mencapai kemenangan sehingga di di Perancis dikatakan "Bastille masih harus direbut". Barangkali karya Pulau Buru Pramoedya Ananta Toer ,yang terbit pada masa masih jayanya Orde Baru merupakan awalan dari suatu titikbalik perkembangan sastra di Indonesia. Karya Pulau Buru Pram pada mumanya beredar dlam bentuk fotokopie dari tangan ke tangan sebagaimana halnya dengan karya-karya bawah tanah pengarang-pengarang pembangkang Soviet pada masa kekuasaan Uni Soviet yang kemudian diselnndupkan ke Barat, terutama melalui Italia. Hal-hal ini sekedar mengetengahkan beberapa contoh dari premis di atas. Pendekatan kebudayaan ini, dalam melihat masalah Indonesia pada masa Orba sudah menjadi perhatian para cendekiawan dalam dan luarnegeri yang prihatin pada soal Indonesia.Antara para cendekiawan dari berbagai kalangan pada masa jaya-jayanya Orba terdapat kesepakatan tak tertulis bagaimana antara dalam dan negeri bisa dibangun sebuah jembatan pemikiran. Karena apa yang terjadi di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari konteks global. Pengucilan negeri dan bangsa dari dunia, agaknya merupakan salah satu cara mempertahankan penindasan, mencegah keluasan pandang sebagai anak manusia, pembudayaan manusia dalam arti hakiki. Kecupetan alias sektarisme, bisa berjubah sutra kiri dan kanan bahkan menggunakan nama dewa dengan mengantar pengikutnya ke lembah petaka dan kekerasan sia-sia sesia-sia penindfasan mempertahakan kelanggengan kuasanya karena manusia itu tidak akan terbunuh binasa seperti yang diucapkan oleh penyair Tiongkok Kuno bahwa "musim dingin tidak mencegah tibanya musim bunga" atau "raja turun naik silih berganti, rakyat tetap di tempatnya ada". Peran kebudayaan dan pendekatan kebudayaan begini, kiranya akan menonjol arti pentingnya, jika budayawan, sastrawan-seniman bisa mengambil posisi sebagai pemikir bebas [free thinker] yang tidak mentabukan apa pun jika menggunakan kata-kata Chairil Anwar. Bisa menjadi warga republik berdaulatan sastra-seni yang tidak segan berhadapan dengan republik politik dengan segala resikonya seperti yang diteladkan oleh Julius Fuçik atau Cak Durasim sang pemain ludruk yang sanggup menggadaikan kepala melawan militerisme Jepang. Narsisme , kecemburuan egoistik dan sejenisnya, aku kira tak ada sangkutpautnya dengan sikap Cak Durasim atau Julius Fuçik atau penyair-penyair Albania yang sanggup mempertaruhkan nyawa demi bangsa dan negeri dan manusia bisa jadi manusiawi [ Lihat:Sejarah Sastra Albania]. Free thinker, sebagai warga republik sastra-seni berdaulat yang tak asing dari kenyataan, boleh jadi , merupakan syarat penting untuk bisa mengajukan pertanyaan yang mengena sehingga kemudian bisa menjawab atau mencari jawab atas pertanyaan-pertanyaan zaman. Menjadi "anak zaman" jika menggunakan menggunakan istilah Zubir Aziz ndalam cerpennya "Anak Zaman". Keterasingan diri dari kenyataan, seperti dikatakan oleh Albert Camus atau yang disinyalir oleh Mao Zedong pada tahun 30an; akan menempatkan diri tidak lain sebagai 'l'étranger", orang asing dari kehidupan walau pun kita berada di negeri sendiri. Berada di negeri sendiri, di lapangan bukan jaminan kita kenal dan menyatu dengan keadaan. Tanpa kenal keadaan, selain kita "asing" dari negeri dan bangsa sendiri, kita gampang jatuh ke lembah dalam perbudakan mental dan pemikiran. Aku khawatir negeri dan bangsa inib masih belum bebas dari petaka slave-isme atas nama modernitas dan kemerdekaan yang serba tanggung lepas akar. Berdialog dengan bahasa budaya asing dengan dunia dan bukan menggunakan bahasa diri sendiri jika menggunakan alur pikir Paul Ricoeur tentang budaya lokal.Dalam hal ini aku jadi sangaInggris atau kata-kata James Brown penyanyi hitam Amerika yang sangat kusukai ekspresinya, "I feel good" ketika duet dengan alm tenor Italia, Marciano Pavarotti. Pernyataan tanpa kompleks dan merdeka. Kemerdekaan, pencarian dan mimpi tak terpisahkan. Budak dan slave-isme tidak memiliki ciri ini. Narsisme dan iri hanyalah bagian dari tidakadanya kemerdekaan diri. Ujud dari kecupetan juga. Bentuk dari ketidakberdayaan terselubung. Kekerdilan yang tidak diperlukan usaha pemanusiawian manusia, diri, kehidupan dan masyarakat.James Brown bangga jadi dirinya, pada kemampuannya. Aku, sebagai ayah kalian, tidak ingin kalian, tidak ingin , seorang pun dari kalian malu menjadi diri sendiri tanpa mengidap hiv jiwa: narsisme dan iri. Bangsa kita tidak memerlukan hiv jiwa ini. Aku ingin kalian bicara dengan kemampuan diri kalian, sebagai diri kalian. Dengan karya kalian. Lu Sin, pengarang Tiongkok pada tahun 30an bilang; "caci maki bukan kekuatan". Dunia menakar kalian dengan kebolehan kalian. Dunia , ruang dan waktunya mempunyai gantang penakar sendiri yang tak tergugat keadilannya.Sampah tetap sampah, emas tetap loyang mulia. Jerit jiwa kalian yang mengidap hiv jiwa tak lebih dari sipongang di lembah. Dengan alur pikiran begini, ketika melihat bahwa pada galibnya, apalagi dengan tingkat tekhnologi seperti sekarang yang makin canggih, maka kegiatan sejenis "Dialog Budaya Di Leiden" baru-baru ini, aku anggap sebagai usaha sangat positif patut dikembangkan. Tanda keberdayaan. Ujud dari hasrat membangun jembatan dalam dan luar negeri. Perlombaan sehat dalam usaha pembudayaan manusia , diri sendiri, masyarakat dan kehidupan . Berapa orang pun yang hadir pada tingkat pertama kegiatan ini, tidak menjadi soal penting karena seperti yang pernah dipesankan oleh John Russel dari SOAS London ketika menyemangatiku saat menerbitkan sebuah majalah ilmiah populer di Paris, kepadaku: "Jangan hirau bentuk, yang utama adalah isi. Bentuk akan kau temukan sesuai kemampuan dan pencarian. Saya juga mulai dari bentuk sederhana". Sejajar dengan pesan John Russel ini, maka aku kira, pengetengahan masalah menjadi peting, kecuali jika kegiatan itu hanya bersifat pamer dan pentas sesaat seperti pasarmalam atau kegiatan nostaljia atau reuni tanpa kedalaman makna-- sekalipun diperlukan --- dengan kadar hiburan. Hiburan pun diperlukan seperti ujar Ho Chiminh , presiden penyair dari Viêt Nam bahwa "bendera kecil dan besar, keduanya punya tempat". Jurnal iToddopuli kali ini adalah suatu penghargaan atas kegiatan budaya yang disponsori oleh disponsori oleh Amiq Ahyad dan Mintardjo, PPI Leiden tanggal 3 Januari lalu sambil menunggu kegiatan-kegiatan budaya berikutnya serta pengejewantahan ide kegiatan budaya bersama antara Perancis-Belanda.Mengapa tidak bahwa kemudian untuk tingkat Eropa Barat walau pun tentu secara tekhnis akan lebih kompleks. Melihat adanya preseden- prseden, barangkali kata-kata terakhir ini tidak terlalu mengambang bagai busa. Aku sedang membayangkan kegiatan budaya berbagai tingkat begini, bukan hanya insidental. Aku juga sedang membayangkannya sebagai janin dari suatu Winternachten oleh orang Indonesia. Ya, bayangan dari seorang pemimimpi karena memang aku masih saja seorang pemimpi. *** Winter Seine, 2009 ------------------------- JJ. Kusni Lampiran: Dialog Budaya Di Leiden Dengan disponsori oleh Amiq Ahyad dan Mintardjo, PPI Leiden telah melaksanakan sebuah dialog budaya pada tanggal 3 Januari 2009 bertempat di rumah Mintardjo, di Leiden. Dalam temu budaya itu selain para mahasiswa Leiden, juga kelihatan wakil-wakil dari berbagai organisasi seperti Yayasan Sejarah dan Budaya Indonbesia (YSBI), Sapulidi, Persaudaraan, Perhimpunan Dokumentasi Indonesia, Indonesia Media, Jaringan Kerja Indonesia, dll. Sementara itu juga hadir Iba Soedharosono dari Paris. Dialog budaya ini menampilkan seorang pembicara tunggal : Asahan Aidit dengan pokok pembicaraan « Sketsa Budaya Indonesia dan Budaya Migran ». Panjang-lebar diuraikan lahirnya budaya migran dari orang-orang Indonesia yang terpaksa terbuang dari tanahairnya sebagai akibat perbedaan pandangan politik dengan rejim yang berkuasa di Indonesia. Mereka terpaksa tinggal di luarnegeri dengan berbagai alasan lainnya dan tidak jarang menghadapi benturan-benturan budaya dengan budaya tuan rumah atau negeri yang mereka tinggali. Sementara itu terdapat pula budaya migran orang-orang yang terpaksa menjual tenaga seperti TKI/TKW ke lauarnegeri sebagai akibat kebijakan pemerintah yang tidak mampu menyediakan lowongan kerja di Indonesia. Khusus mengenai TKI/TKW, Asahan menekankan minimnya persiapan bagi tenaga kerja tsb dalam menghadapi budaya setempat di mana mereka harus bekerja. Pemerintah Indonesia sangat kurang memberikan perhatian pendidikan profesi bagi tenaga kerja sehingga para TKI itu senantiasa mendapat pelecehan dan bahkan sampai pada penyekapan dari pihak majikan. Dalam makalahnya Asahan juga membentangkan budaya omong, budaya latah, budaya panutan dan budaya munafik. Dalam acara tanya-jawab lahir berbagai pandangan budaya sebagai akibat kekuasaan Orde Baru, dimana terjadi pemutusan komunikasi sebagai akibat rejim penguasa melakukan sistim otoriter. Seorang mahasiswa mengajukan sebuah kenyataan baru di dunia yaitu budaya HAM. Hadirin juga ada yang berpendapat bahwa untuk melawan kekerasan yang dilakukan oleh majikan terhadap TKI/TKW sebagai buruh migran, tidak cukup dengan bentuk budaya tetapi haruslah dengan organisasi dan persatuan. Dialog-dialog dan diskusi budaya seperti ini sangat perlu dilkakukan terutama bagi generasi muda dan para mahasiswa yang mendapat kesempatan belajar di luarnegeri. Acara dialog budaya yang dipandu oleh Amiq ini berhasil dengan baik. Kita menunggu berbagai aktivitret lainnya. (Chalik Hamid). [Sumber: Chalik Hamid [email protected], "Dialog Budaya di Leiden", in:[email protected], [email protected], [email protected], "Sastra Pembebasan" <sastra-pembebasan@ yahoogroups .com>, [email protected], "Jaringan Kerja Indonesia" [email protected], Monday, 5 January, 2009, 6:16 AM]. New Email names for you! Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail. Hurry before someone else does! http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/sg/ [Non-text portions of this message have been removed]

