http://www.detiknews.com/read/2009/01/05/105549/1063054/159/berjihad-ke-palestina-dengan-nyali

Merespons Serangan Israel
Berjihad ke Palestina dengan Nyali 
Ronald Tanamas - detikNews

 
5 Pendekar Unjuk Kesaktian di Kedubes AS 
Jakarta - Nyali kuat, tapi kemampuan diragukan. Begitulah 

gambaran orang-orang yang berniat berjihad ke Palestina 

untuk merespons kebiadaban Israel yang menyerang Palestina 

secara membabi buta. Nyali mereka kuat untuk ke Palestina, 

karena yakin akan mati syahid. 

Teriakan 'Allahu Akbar' menggema dan menggelegar disambut 

terik panas matahari. Seragam serba putih dan topeng seperti 

ninja menghiasi wajah-wajah para pentakbir. Mereka adalah 

laki-laki dari Front Pembela Islam (FPI). Salah seorang di 

antara mereka memperlihatkan buku yang menjadi pegangannya 

yang berjudul 'Mati Syahid'. 

Ratusan laki-laki itu, Rabu 31 Desember 2008 lalu, 

menyatakan siap berjihad ke Palestina. Pernyataan tersebut 

disampaikan di pekarangan masjid Istiqlal Jakarta Pusat 

tepat pukul 11.00 WIB. 

Salah satu dari puluhan orang itu adalah Slamet (32), kurir 

di sebuah perusahaan di Jakarta. Pria bersuara tegas ini 

masih lajang. Ikut berperang melawan Israel di Palestina, 

bagi Slamet, adalah panggilan nurani terhadap Allah. Sebagai 

muslim, dia sangat tersentuh dengan kondisi rakyat Palestina 

yang hancur lebur dihajar Israel.

Agresi Israel terhadap Palestina memang telah melukai rasa 

kemanusiaan dan keadilan. Konflik antara kedua negara ini 

memang terus terjadi. Semua ini dinilai hanya karena 

keserakahan dan tidak inginnya Palestina menjadi negara yang 

merdeka. Agresi ini dinilai paling besar sepuluh tahun 

terakhir.

Sudah lebih 1 minggu penyerangan Israel di jalur Gaza, 

Palestina dilakukan dan telah menewaskan lebih dari 400 

orang. Korban tewas mayoritas adalah warga sipil. Bahkan 

Israel juga tega membantai anak-anak yang tak berdosa. Siapa 

pun yang mengikuti, apalagi menyaksikan berita agresi Israel 

ini, akan tercabik-cabik hatinya. Terlebih lagi muslim yang 

selalu mengidentikkan Israel sebagai musuh utama. Meski 

sebenarnya, penduduk Palestina bukan hanya orang muslim, 

tapi ada sekitar 10 persen kaum nasrani koptik. 

Namun, tetap saja. Di Indonesia, rasa keprihatinan ini telah 

mengobarkan solidaritas terhadap Palestina. Tidak hanya demo 

besar-besaran mengecam Israel dan Amerika Serikat (AS), tapi 

posko jihad pun bermunculan. Selain Majelis Mujahidin 

Indonesia (MMI) di Jakarta, posko jihad FPI juga berdiri di 

seluruh kota besar yang ada di Indonesia.

Menjadi syuhada atau mati syahid dengan berperang membela 

Islam merupakan cita-cita tertinggi para relawan jihad. 

Mereka memahami benar Tuhan akan memberikan ganjaran tiada 

tara bagi orang-orang yang bersedia mati syahid. Selain 

masuk surga, para syuhada akan mendapat ganjaran mulia 

lainnya.  

Masuk surga sebagai syahid juga diyakini Imron (25). Bapak 

dua anak ini bahkan tidak mencemaskan kehidupan keluarganya 

kelak bila ia mati di Palestina. Imron percaya Allah akan 

selalu menolong hambanya yang berjuang membela agama. 

Keluarga Imron yang tidak berkecukupan juga tidak keberatan 

dengan niatan jihad itu karena sudah diberi pemahaman 

tentang jihad. 

Namun Imron sedikit khawatir mengenai biaya keberangkatan ke 

Palestina. Karena pria ini mengaku tidak mempunyai biaya 

untuk berangkat ke Palestina. Yang ia punya, hanyalah tekad, 

nyali, dan keinginan mati syahid saja.

"Ada hadits yang mengatakan bahwa jika kita mati syahid kita 

bisa memberikan syafaat dengan izin Allah kepada 60 

keluarganya. Tentunya yang beriman, itu motivasinya," kata 

Imron.

Ganjaran bagi para syuhada memang dijelaskan dalam hadits 

yang diriwayatkan Tirmidzi. Dalam hadis itu, Nabi Muhammad 

menjelaskan 7 ganjaran bagi orang yang mati syahid. Pertama, 

diampuni dosanya sebelum darah menetes ke bumi. Kedua, 

diselamatkan dari siksa kubur. Ketiga, diselamatkan dari 

siksaan sengatan panas matahari di Padang Mahsyar. Keempat, 

diperlihatkan istananya di surga seperti melihat bintang di 

langit. Kelima, diberi mahkota syuhada di kepalanya yang 

harga satu mutiaranya lebih mahal daripada dunia dan 

seisinya. Keenam, diizinkan memberi syafaat ampunan kepada 

70 anggota keluarganya. Dan ketujuh, dikawinkan dengan 72 

bidadari yang sangat cantik.

Lantas, bagaimana mereka akan ikut berperang melawan Israel, 

kalau hanya berbekal nyali? Para relawan yang mendaftar 

jihad itu mengaku tidak gentar menghadapi senjata canggih 

Israel. Mereka sudah menyiapkan jiwa dan raga membela 

saudaranya sesama muslim yang tengah mengalami kezaliman. 

Bagi muslim, umat Islam di manapun berada adalah saudara 

yang harus dibela. "Kita sebagai umat Islam melihat 

keluarganya dibantai ya kita harus melawan dan membela," 

kata Imron.

Nah, agar para relawan jihad tidak hanya bermodal nyali, FPI 

pun akan menyelenggarakan latihan fisik dan strategi.  Entah 

seperti apa latihan yang akan digelar FPI. Namun, secara 

matematis, tentu diyakini tidak akan bisa menandingi 

senjata-senjata Israel. 

FPI membeberkan 10 syarat bagi setiap relawan jihad yang 

mendaftar, termasuk harus mengikuti latihan 'militer' itu. 

"Kami membuka kesempatan kepada siapa saja yang memenuhi 

syarat," ujar Koordinator aksi FPI, Awid Mashuri. 

Persyaratan tersebut adalah beriman, takwa, dan berahlakul 

karimah. Kedua, siap mati syahid. Ketiga, mendapatkan izin 

dari orangtua atau wali. Keempat, bagi yang sudah 

berkeluarga harus ada izin dari istri. Kelima, Kartu Tanda 

Penduduk masih berlaku. Keenam, mengisi formulir 

pendaftaran. Ketujuh, sehat jasmani dan rohani. Kedelapan, 

bersedia mengikuti tahapan seleksi. Kesembilan, bersedia 

mengikuti latihan fisik dan strategi. Terakhir siap 

diberangkatkan kapan saja tanpa meminta pulang.

"Posko pendaftaran kami buka di setiap kantor cabang FPI di 

seluruh Indonesia," tegas dia.(ron/asy) 
 







      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke