Salam,

1. Kelak, jika saya bersempatan menghadap Illahi dan mendapat izin
untuk berdialog dengan Allah SWT, maka ini akan menjadi pertanyaan
saya: Mengapa Allah Yang Maha Pengasih menciptakan orang Yahudi, yang
di satu sisi begitu dibenci (tersebar dalam banyak ayat Al Quran),
namun di sisi lain begitu pintar, membuat karya nyata,  dan banyak
berjasa bagi kemanusiaan? Membuat karya-karya yang "Rahmatan Lil Alamin" ?

2. Saya mengagas untuk melokalisir pertikaian. Silakan Hamas bertarung
dengan tentara Israel. Tapi di lokasi yang jauh dari penduduk. Sesama
penggemar perang silakan saling membunuh, sebagaimana petinju yang
memang senang bertarung. Biar sama-sama puas. Tapi mungkinkah? 

3. Di mana pun, lokasinya, bahkan di Afrika atau Amerika Latin, yang
tak terkait sejarah dengan kita - Bangsa Indonesia -- perang yang
mengorbankan kaum sipil, warga tak berdosa,  wanita dan anak-anak,
patut disesalkan dan wajib dicegah. Apalagi di Palestina, yang
memiliki kaitan sejarah dengan kita. Namun seandainya bayi-bayi dan
anak-anak Yahudi yang tewas, juga harus disesalkan. 

4. Israel dan Palestina sepatutnya malu pada Indonesia dalam mengatasi
konflik dengan GAM-Aceh. Apakah menunggu bencana tsunami yang
memusnahkan ratusan ribu orang, wearga kedua belah pihak, sehingga
mereka yang bertikai akhirnya meletakkan senjata dan berdamai seperti
yang kita di NAD sekarang?

5. Kita di Indonesia sepatutnya berpikir jernih. Jangan mengekspor
konflik Palestina ke Indonesia. Simpati harus. Bantuan kemanusiaan
sepatutnya dikirim. Tapi memerangi Israel, Amerika di sini, hanya
merusak citra kita sebagai bangsa cinta damai dan beradab, selain
tidak cerdas. Bangsa Arab lah yang pertama-tama berkewajiban membantu
langsung, baik, fisik, dana maupun kemanusiaan di Palestina. Bukan kita. 


Wassalam,



Dimas. 



--- In [email protected], Ananto <pratikno.ana...@...> wrote:
>
> .....Satu-satunya harapan adalah jika kedua belah pihak lelah dan bosan
> perang, lalu dengan "sadar" meletakkan senjata dan saling jabat
tangan....
> 
> 
> 
> salam,
> 
> ananto
> 
> =====
> 
> 
> 
> Tentang bangsa Yahudi dan konflik Palestina-Israel
> 
> Oleh: UAA
> 
> 
> Saya kadang-kadang berpikir, jangan-jangan konflik Palestina-Israel
tidak
> akan selesai "ila yaum al-qiyamah", sampai hari kiamat. Satu-satunya
harapan
> adalah jika kedua belah pihak lelah dan bosan perang, lalu dengan
"sadar"
> meletakkan senjata dan saling jabat tangan. Tetapi titik-lelah itu belum
> kelihatan hingga sekarang. Kita harus siap untuk melihat jatuhnya korban
> terus-menerus di waktu-waktu mendatang. Sudah berkali-kali usaha untuk
> mendamaikan kedua belah pihak dilakukan oleh komunitas
internasional, tetapi
> gagal terus.
> 
> 
> Masing-masing pihak mempunyai versinya masing-masing kenapa usaha
diplomatik
> itu gagal. Pihak Israel sudah tentu menyalahkan pihak Palestina,
sejak zaman
> PLO di bawah Arafat hingga sekarang ini di mana Hamas muncul ke
permukaan
> menggantikan popularitas PLO. Pihak Palestina dan negara-negara Arab,
> kemudian diamini juga oleh dunia Islam, tentu menyalahkan pihak Israel
> sebagai biang kegagalan usaha diplomatik itu.
> 
> 
> Saat perang atas terorisme dikumandangkan oleh Presiden Bush dari
> Washington, semua negara makin punya alasan untuk menjadikan momen
ini untuk
> meningkatkan aksi-aksi militer mereka, tentu dengan alasan untuk
memerangi
> terorisme. Rusia dan Cina telah melakukan itu. Kini Israel, sebelum Bush
> lengser beberasa saat lagi, seperti "kejar tayang" untuk menyelesaikan
> "masalah Hamas" dengan melakukan agresi besar-besaran.  Seperti
sudah bisa
> kita duga, aksi Israel ini didukung "tanpa syarat" oleh Presiden Bush.
> 
> 
> Mari kita lihat konflik ini dalam perspektif yang lebih luas
sehingga kita
> bisa lebih "tenang" memahaminya. Tak ada dalam sejarah manusia di mana
> sebuah bangsa dibenci secara sistematis, menjadi sasaran prasangka
buruk,
> stereo-type, rasialisme, dan persekusi seperti dialami oleh bangsa
Yahudi.
> Itulah sebabnya di Eropa di mana bangsa Yahudi mengalami banyak
persekusi
> dan diskriminasi selama berabad-abad dikenal istilah "Jewish question",
> masalah Yahudi. Debat menganai "Jewish question" ini berlangsung
lama sekali
> di Eropa dan baru tuntas pada pertengahan abad ke-20.
> 
> 
> Secara kuantitas, bangsa Yahudi tidaklah besar jumlahnya. Total
jumlah orang
> Yahudi di seluruh dunia saat ini mungkin tak lebih dari 15 juta orang.
> Sebagian besar mereka tinggal di Israel dan Amerika. Selebihnya mereka
> terserak-serak sebagai koloni kecil-kecil di berbagai belahan dunia,
mulai
> dari Eropa, Amerika Latin, Asia, termasuk di negeri-negeri Arab sendiri.
> Tetapi bangsa yang kecil jumlahnya ini menjadi sasaran prasangka
buruk dan
> kebencian oleh banyak pihak sejak zaman dahulu.
> 
> 
> Pertama-tama yang layak kita sebut adalah pihak Kristen. Selama
> beradad-abad, bangsa Yahudi menjadi sasaran diskriminasi dari pihak
Kristen.
> Konflik antara Kristen dan Yahudi sudah berlangsung sejak awal,
bahkan sejak
> kelahiran agama Kristen itu sendiri. Pertikaian antara orang-orang
Yahudi
> dan Kristen bukan sekedar pertikaian politik biasa, tetapi juga
pertikaian
> yang dijustifikasi secara teologis melalui ajaran agama.
> 
> 
> Lalu datang Islam. Sejak awal, pertikaian antara Islam dan Yahudi sama
> sekali tak terhindarkan. Pada saat Nabi Muhammad datang di Madinah, ada
> sejumlah koloni orang-orang Yahudi di sekitar Madinah. Karena
konflik dengan
> Nabi dan umat Islam saat itu, orang-orang Yahudi ditumpas habis dan
sebagian
> lagi diusir secara total dari kawasan itu. Pada saat Islam berjaya
sebagai
> kekuatan politik di kawasan Arab pada rentang antara abad 8 hingga
abad 15
> Masehi, bangsa Yahudi sebetulnya menikmati suasana yang lebih
bersahabat di
> dunia Islam ketimbang di dunia Kristen.
> 
> 
> Tetapi, kebencian pada Yahudi sebagai sebuah agama tetap bertahan secara
> endemik dalam Islam. Bangsa Yahudi digambarkan sangat negatif dalam
beberapa
> ayat di Quran, dan kemudian disokong pula dengan sejumlah hadis. Contoh
> kecil saja: sebuah hadis terkenal menyebutkan bahwa pada akhir zaman
nanti
> Nabi Isa (atau Yesus) akan turun kembali ke bumi (persis dengan
keyakinan
> dalam Kristen). Menurut hadis itu, tugas Nabi Isa pada saat itu, antara
> lain, adalah untuk menghancurkan salib dan membunuhi orang-orang Yahudi.
> 
> 
> Sebuah hadis lain menyebutkan bahwa dua frasa di ujung Surah
al-Fatihah (bab
> pembuka dalam Quran) merujuk kepada orang Kristen dan Yahudi. Dua
frasa itu
> adalah: "al-maghdub 'alaihim" (orang-orang yang dibenci oleh Tuhan) dan
> "al-dallin" (orang-orang yang sesat).  Orang yang dibenci Tuhan
maksudnya,
> sebagaimana dijelaskan oleh hadis itu, adalah orang Yahudi, sementara
> orang-orang yang sesat adalah orang-orang Kristen. Karena pengaruh Kitab
> Suci sangat mendalam pada umatnya, kita bisa membayangkan bagaimana dua
> frasa yang diulang-ulang setiap salat oleh seluruh umat Islam ini
memiliki
> pengaruh dalam membentuk prasangka buruk terhadap bangsa Yahudi.
> 
> 
> Baik agama Kristen atau Islam mengandung unsur-unsur ajaran yang bisa
> membiakkan kebencian pada bangsa Yahudi. Ini bukan kebencian biasa,
tetapi
> kebencian yang dijustifikasi oleh firman dan ajaran Tuhan sehingga
> pengaruhnya sangat mendalami. Tak heran sekali jika kebencian pada
agama dan
> bangsa Yahudi bertahan selama berabad-abad. Kalau kita baca sejarah,
tidak
> ada bangsa yang mengalami korban sebagai sasaran kebencian selama dan
> seserius seperti dialami oleh bangsa Yahudi. Yang mengherankan, jumlah
> mereka sangat kecil sekali, tetapi kebencian pada mereka sungguh tak
> sebanding dengan jumlah itu. Atau justru karena mereka kecil lah dengan
> mudah menjadi "kambing hitam" di mana-mana. Persis seperti dialami
oleh kaum
> minoritas di manapun yang cenderung dijadikan sasaran demonisasi dan
> pengambing-hitaman.
> 
> 
> Kalau kita baca sejarah Amerika, hingga pertengahan abad 20,
diskriminasi
> dan perlakuan yang tak menyenangkan dialami oleh bangsa Yahudi secara
> konsisten. Seorang profesor Yahudi yang pernah belajar di Universitas
> Harvard dan sekarang sudah pensiun pernah bercerita pada saya bahwa
hingga
> tahun 60an, orang-orang Yahudi mendapat kesulitan untuk memperoleh
posisi
> sebagai profesor di Universitas Harvard. Menurut dia, seorang ekonom
Yahudi
> yang sangat kondang dan pernah memenangkan hadiah Nobel, Paul Samuelson,
> ditolak lamarannya sebagai profesor di Universitas Harvard pada
tahun 40an.
> Menurutnya, Samuelson ditolak terutama karena keyahudiannya.
Akhirnya, MIT
> (Massachusetts Institute of Technology) menampung dia. Saat di MIT
itulah
> Samuelson mendapatkan hadiah Nobel. Saya kira, Universitas Harvard malu
> dengan kejadian ini.
> 
> 
> Di dunia Islam, jelas orang-orang Yahudi saat ini merasa kurang
nyaman. Oleh
> karena itu, sejak berdirinya negara Israel pada tahun 1948, jumlah orang
> Yahudi yang tinggal di kawasan Arab merosot tajam. Mereka kurang merasa
> nyaman tinggal di lingkungan yang kurang bersahabat dengan mereka. Dalam
> periode pra-modern, memang dunia Islam memperlakukan bangsa Yahudi jauh
> lebih baik ketimbang dunia Kristen di Eropa. Tetapi secara umum, kondisi
> orang-orang Yahudi di dunia Islam pun pada zaman dahulu tetap menjadi
> sasaran diskriminasi dan kebencian. Sebagaimana sudah saya sebut,
kebencian
> pada Yahudi dalam Islam tertanam melalui ajaran Islam itu sendiri,
> sebagaimana juga dalam Kristen. Kebencian itu mendalam sekali karena
> dijustifikasi dengan ajaran agama.
> 
> 
> Sekarang ini, di dunia Islam, terutama di Indonesia, istilah "antek
Yahudi"
> adalah kata-kata kotor yang dipakai untuk menyerang siapa saja yang
dianggap
> "memusushi" Islam -- sama kotornya dengan istilah "antek PKI".  Dulu,
> almarhum Prof. Nurcholish Madjid pernah dijuluki oleh sebuah media
kalangan
> Islam fundamentalis di Jakarta sebagai "antek Yahudi". Majalah itu
> menggambarkan Cak Nur melalui sebuah karikatur yang menarik: nama
Cak Nur
> dibelit oleh ular yang membentuk bintang David. Kita tahu apa maksud
> karikatur itu: Cak Nur adalah antek Yahudi yang terperangkap dalam
belitan
> "ular" Yahudi.
> 
> Hingga saat ini, bahkan di Amerika sekalipun, kita menyaksikan
beredarnya
> sebuah teori konspirasi tentang "rencana Yahudi" untuk menguasai
dunia. Buku
> "Protocols of Zion", misalnya, yang merupakan karangan palsu dinas
rahasia
> Rusia beredar luas di Eropa, Amerika, dan meluber pula sampai ke dunia
> Islam. Buku itu sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan
basaha-bahasa
> lain itu dunia Islam.  Buku itu juga dipercayai oleh banyak kalangan
sebagai
> dokumen otentik yang didasarkan pada fakta-fakta sejarah tentang rencana
> bangsa Yahudi untuk menguasai dan menghancurkan dunia. Buku semacam ini
> jelas dengan gampang menyebarkan rasa kebencian pada bangsa Yahudi yang
> jumlahnya sangat kecil itu.
> 
> 
> Tak hanya itu. Henry Ford, pendiri perusahaan mobil Ford yang
terkenal itu
> menulis buku yang sangat anti-Yahudi berjudul "The Jews". Beberapa tahun
> yang lalu, saat usai memberikan ceramah di Malaysia, seorang audiens
> memberikan saya buku itu seraya berkata, "Bapak harus membaca buku ini".
> Hingga sekarang, sentimen anti-Yahudi masih bertahan di banyak
kalangan di
> Amerika.
> 
> 
> Poin yang ingin saya sampaikan adalah bahwa bangsa Yahudi yang kecil
> jumlahnya itu menjadi sasaran kebencian dari banyak pihak. Anda bisa
> bayangkan, bagaimana perasaan sebuah bangsa kecil yang dibenci oleh dua
> agama besar selama berabad-abad, yaitu Kristen dan Islam. Sekarang ini,
> jumlah pengikut kedua agama itu boleh jadi lebih dari 2,5 milyar. Dari
> jumlah sebanyak itu, ada persentasi yang cukup besar, sekurang-kurangnya
> dari sebagian kalangan Islam, yang sangat membenci, atau minimal kurang
> bersahabat, dengan bangsa Yahudi. Tentu keadaan semacam ini
menciptakan rasa
> yang sangat tidak aman bagi orang-orang Yahudi.
> 
> 
> Bagaimana mungkin orang Yahudi yang hanya berjumlah tak lebih dari
15 juta
> itu bisa merasa aman di tengah-tengah bangsa-bangsa yang membenci dan
> mempunyai stereo-type negatif mengenai mereka? Jangan lupa,
kebencian ini
> sudah berlangsung berabad-abad, dan karena itu sudah merasuk ke
dalam psyche
> bangsa-bangsa yang membenci orang-orang Yahudi itu. Ini yang menjelaskan
> kenapa bangsa Yahudi, terutama di Israel, mempunyai instink yang
sangat kuat
> untuk membangun pertahanan diri, kadang-kadang instink itu bekerja
secara
> berlebihan, meskipun hal itu bisa kita pahami. Sebab bangsa Yahudi
mempunyai
> memori yang sangat buruk mengenai masa lalu mereka. Jika mereka
kehilangan
> negara Israel yang sudah berhasil mereka dirikan dengan susah payah itu,
> mereka khawatir akan kembali kepada "zaman kegelapan" yang
berlangsung sejak
> berabad-abad sebelumnya.
> 
> 
> Ini yang menjelaskan kenapa Israel bersikap tanpa kompromi pada
Hamas sebab
> kelompok ini memiliki misi khusus untuk menghancurkan negara Israel.  Di
> mata Israel, Hamas jelas semacam mimpi-buruk yang menghantui mereka.
Bangsa
> Yahudi jelas tak mau jatuh ke masa silam yang buruk, ke zaman pogrom dan
> holocaust.
> 
> 
> Tetapi justru di sini letak kelemahan bangsa Yahudi di Israel dan di
manapun
> saat ini. Karena terlalu dihantui oleh masa lampau yang pahit,
reaksi mereka
> terhadap ancaman saat ini terlalu berlebihan. Yang menjadi korban adalah
> bangsa Palestina. Sebagai sebuah negara, Israel, negara Yahudi itu,
saat ini
> sudah cukup kuat dan sangat makmur. Memang kita bisa paham kenapa Israel
> selalu merasa tidak was-was dan tidak aman selama ini, sebab ia dikepung
> oleh tetangga-tetangga yang sangat membenci keberadaannya.
> 
> 
> Kalau di awal tulisan ini saya mengtakan bahwa konflik Palestina-Israel
> boleh jadi tak akan pernah selesai, di ujung tulisan ini saya ingin
> mengemukakan sebuah harapan. Salah satu harapan itu adalah jika
pihak bangsa
> Yahudi dan bangsa Arab, terutama Palestina, bisa mengatasi "masa lalu"
> mereka masing-masing. Bangsa Yahudi harus melepaskan diri dari
"mentalitas
> diaspora" yang membuat mereka merasa terancam terus dan selalu
mencurigai
> tetangga-tetangganya. Jika mentalitas ini tak bisa diatasi, maka negara
> Israel akan terus mencari musuh dengan tetangga-tetangga dekatnya
seperti
> kita saksikan sekarang ini.
> 
> 
> Dari pihak bangsa Arab, tantangan terbesar adalah mengatasi "rasa
> superioritas" mereka sebagai bangsa yang pernah berjaya selama
berabad-abad
> di  kawasan Arab dan sekitarnya, dan merasa bahwa bangsa Yahudi tak
punya
> hak untuk mendirikan negara di tanah Palestina, sebab hal itu akan
melukai
> rasa superioritas itu.
> 
> 
> Dari pihak umat Islam sendiri secara keseluruhan juga ada tantangan yang
> sangat berat jika mereka benar-benar ingin ikut menyelesaikan masalah
> Palestina-Israel ini. Selama ini, kita semua tahu, ajaran yang membenci
> bangsa Yahudi diajarkan terus di sekolah-sekolah agama di seluruh dunia
> Islam, sejak zaman klasik hingga sekarang. Waktu saya di pesantren dulu,
> setiap guru saya menerangkan ayat-ayat dalam Quran yang membenci bangsa
> Yahudi, maka mereka memahaminya dengan tidak kritis, sehingga secara tak
> sengaja, mereka mengajarkan kebencian turun-temurun terhadap bangsa
Yahudi.
> Bagaimana mungkin dunia Islam mau menyelesaikan masalah Palestina-Israel
> jika ajaran-ajaran yang membenci bangsa Yahudi ini terus ditularkan dari
> satu generasi ke generasi berikutnya?
> 
> 
> Menurut saya, harus ada reinterpretasi ulang atas sejumlah ayat dan
hadis
> yang membenci bangsa Yahudi dan selama ini diajarkan di lembaga-lembaga
> Islam. Jika tidak, maka selamanya akan terjadi kebencian dan permusuhan
> antara umat Islam dan bangsa Yahudi. Saya tak percaya bahwa umat
Islam akan
> berhenti membenci bangsa Yahudi seandainya pun yang terakhir itu,
misalnya,
> dengan sukarela membubarkan negara Israel lalu pergi dari tanah
Palestina.
> Menurut saya, masalahnya lebih serius dari sekedar masalah "tanah". Yang
> bermasalah adalah doktrin dalam agama itu sendiri.
> 
> 
> Apa yang saya tulis ini jelas tak populer di kalangan Islam saat
ini. Boleh
> jadi, tulisan ini dianggap sebagai bagian dari konspirasi Yahudi pula.
> Silahkan saja. Dengan terus terang saya katakan, saya bukan "fan" atau
> pendukung ringan, apalagi berat, negara Israel. Saya benci dan
jengkel pada
> tindakan dan kebijakan pemerintah Israel selama ini terhadap bangsa
> Palestina. Tetapi kita juga harus jujur melakukan otokritik pada
diri kita
> sendiri. Ada sikap-sikap yang salah dan tak tepat juga di kalangan umat
> Islam terhadap bangsa Yahudi yang jumlahnya sangat kecil itu.
Sikap-sikap
> yang berdasarkan pada doktrin agama itu harus dikritik jika umat Islam
> memang benar-benar ingin menegakkan perdamaian di bumi Palestina.[]
> 
> 
> Wallahu a'lam bissawab.
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke