http://www.presidensby.info/index.php/fokus/2009/01/09/3892.html
*Presiden SBY Sambut Baik Resolusi DK PBB Tentang Palestina* Jakarta: *Presiden Susilo Bambang Yudhoyono*, Jumat (9/1) sore, telah menerima laporan bahwa Dewan Keamanan (DK) PBB pada Jumat (9/1) pukul 9.30 WIB telah mengeluarkan resolusi mengenai situasi di Palestina. Presiden SBY menyambut baik Resolusi PBB nomor 1860 tersebut. Demikian dikatakan Juru Bicara Kepresidenan, Dino Patti Djalal, dalam keterangan persnya di Kantor Presiden. "Akhir pemungutan suara itu adalah 14 suara mendukung dan 1 abstain. Yang satu itu adalah Amerika Serikat," Dino menjelaskan. "Presiden SBY menyambut baik bahwa DK PBB pada akhirnya berhasil mengeluarkan resolusi yang telah dikeluarkan hari ini, walaupun tidak bulat." Sebagaimana diketahui, sejak awal Presiden SBY mendorong dikeluarkannya resolusi ini. Bahkan ketika DK PBB baru pada tahap mengeluarkan Presidential Statement, SBY sudah menulis surat kepada Sekjen PBB maupun Presiden DK PBB. "Intinya, Indonesia menyerukan perlunya dikeluarkan suatu resolusi mengingat pada waktu itu Presiden SBY memperkirakan serangan udara dan serangan darat Israel terhadap Gaza akan terus berlanjut dan ini tidak bisa dibiarkan," Dino menambahkan. Memang resolusi DK PBB No.1860 ini isinya tidak 'sekeras' yang dikehendaki negara-negara Arab dan juga Indonesia. Namun cukup banyak mencakup elemen-elemen yang selama ini diajukan Presiden SBY. "Intinya, antara lain, menekankan pentingnya gencatan senjata dan penarikan mundur pasukan Israel dari Gaza. Ada beberapa bagian yang menekankan pentingnya bantuan kemanusiaan dan akses bagi bantuan kemanusiaan ini untuk mencapai rakyat Palestina di Gaza. Juga ada elemen yang mengutuk segala bentuk kekerasan dan permusuhan yang dialamatkan kepada penduduk-penduduk sipil dan segala aksi yang berhubungan dengan hal tersebut," Dino menerangkan. "Kemudian ada juga elemen mengenai perlunya rekonsiliasi intra Palestina dan juga mendukung upaya mediasi yang sekarang dilakukan Mesir dan Liga Arab, serta mendorong kembali diadakannya suatu dialog kearah suatu perdamaian yang komprehensif. Ujungnya adalah pembentukan dua negara demokratis Israel dan Palestina yang hidup berdampingan dalam perdamaian dan keamanan dengan batas wilayah yang jelas," Dino menagaskan. Resolusi ini juga meminta agar proses kuartet yang selama ini mandek dapat mulai diarahkan lagi di Moskow pada tahun 2009. "Ini adalah elemen-elemen yang ada dalam resolusi DK PBB. Meskipun Indonesia sudah tidak lagi menjadi anggota DK PBB, namun Indonesia terus melakukan dorongan dalam bentuk upaya untuk mengadakan emergency special session di Sidang Majelis Umum PBB. Memang kalau dalam Sidang Majelis Umum DK PBB lebih kepada kekuatan moral. Tapi dengan adanya perkembangan di DK PBB ini upaya untuk mengadakan emergency special session yang didorong Indonesia untuk sementara ditangguhkan, namun tetap on," kata Dino. "Kita ingin melihat apakah resolusi DK PBB ini dapat membawa dampak yang berarti di lapangan. Jadi sementara itu proses di Majelis Umum tetap berlaku namun sementara itu akan ditangguhkan. Tadinya memang direncanakan Sidang Darurat Majelis Umum ini tanggal 8 Januari jam 17.30 waktu New York, tapi ditangguhkan," jelasnya. Kepada wartawan Dino juga menjelaskan bahwa Sabtu (10/1) pukul 17.15 besok, Presiden akan menerima telepon dari Presiden Perancis Nicholas Sarkozy. "Presiden Sarkozy adalah salah satu tokoh dunia yang sekarang sangat aktif terlibat dalam menyelesaikan konflik di Timur Tengah. Beliau baru saja mengunjungi beberapa negara di Timur Tengah. Hari Senin (12/1), Presiden SBY akan menerima kunjungan PM Syria Muhammed Naji Otri. Beliau akan datang hari Minggu malam dan akan mengadakan pertemuan bilateral dengan Presiden SBY," ujar Dino. (osa) [Non-text portions of this message have been removed]

