Dalam keadaan apapun hendaknya anggaran pertahanan jangan sampai berkurang,
karena pertahanan merupakan elemen penting bagi suatu bangsa.

-----------------------------------------------------------------------------------------------
http://www.dephan.go.id/modules.php?name=News&file=article&sid=8607


*TNI AD BATASI PENGADAAN ALUTSISTA*

*Jakarta - Kasad Jenderal TNI Agustadi Sasongko Purnomo* mengatakan,
pihaknya akan membatasi pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) dan
pengurangan kuantitas latihan rutin prajurit menyusul penurunan anggaran
pertahanan pada 2009.

"Dengan penurunan anggaran tersebut, kita akan melakukan konsolidasi ke
dalam mengkaji semua kebijakan, termasuk pelatihan bagi prajurit dan
pengadaan alutsista berat seperti tank," katanya, di Jakarta, Kamis.

Agustadi menambahkan, program latihan rutin bagi prajurit akan dilakukan
pada tingkat satuan saja, tidak sampai pada latihan gabungan.

"Anggaran pertahanan TNI AD dari semula Rp16 triliun kini menjadi Rp15
triliun saja. Itu untuk gaji prajurit dan rutin, sisanya hanya Rp2,2
triliun," ujarnya.

Alutsista TNI AD titik beratnya pada persenjataan Infanteri, Artileri, dan
Kavaleri.

Kemampuan pertahanan TNI AD antara lain bertumpu pada kendaraan tempur
(Ranpur) berbagai jenis dengan kondisi siap hanya sekitar 60 persen dan
pesawat terbang dengan kondisi siap hanya sekitar 50 persen.

Kebutuhan alat komunikasi yang merupakan pendukung utama kemampuan
pertahanan TNI AD juga belum dapat terpenuhi dan masih menggunakan teknologi
yang sangat rawan penyadapan .

Secermat mungkin

Sebelumnya, Menteri Pertahanan (Menhan) Juwono Sudarsono mengatakan,
Indonesia tetap perlu melakukan modernisasi militernya, namun dilakukan
secara bertahap dan selektif karena terbatasnya anggaran pertahanan.

"Modernisasi harus dilakukan, karena itu berpengaruh terhadap daya tangkal
yang dimiliki Indonesia, dan dapat memompa semangat juang prajurit,"
katanya.

Ia mengatakan, penurunan anggaran pertahanan pada Tahun Anggaran (TA) 2009
dibandingkan TA 2008 bagaimana pun sangat berpengaruh terhadap kesiapan
operasional militer Indonesia.

"Alokasi anggaran pertahanan sebesar Rp33,6 triliun, membuat rencana
modernisasi persenjataan, pemeliharaan persenjataan, peningkatan
kesejahteraan prajurit dan lain-lain harus dilakukan secermat mungkin,"
tuturnya.

Juwono menambahkan, kedatangan tiga pesawat jet tempur Sukhoi pada 2009,
empat kapal perang jenis Korvet Sigma Class dan enam helikopter angkut serbu
Mi-17, setidaknya telah dapat meningkatkan daya tangkal trimatra terpadu
guna menjamin paritas atau kesetaraan teknologi persenjataan dengan negara
lain.

"Meski jumlah persenjataan yang kita miliki tidak banyak, namun jika
teknologinya setara dengan persenjataan negara lain, maka tidak jadi
masalah. Jadi, paritas teknologi persenjataan ini yang akan kita fokuskan
dan tingkatkan. Karena kita memang belum bisa untuk melakukan modernisasi
militer secara besar-besaran," tutur mantan wakil gubernur Lembaga Ketahanan
Nasional (Lemhannas) itu.


Sumber : Antara


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke