http://www.kompas.com/read/xml/2009/01/11/05151620/mengapa.israel.tak.mungkin.menang

*Mengapa Israel Tak Mungkin Menang*

Perang Israel melawan *Hamas* telah menjadi semakin berisiko. Israel tetap
menggempur Jalur Gaza kendati Dewan Keamanan PBB telah mengeluarkan Resolusi
Nomor 1860 yang menyerukan gencatan senjata. Bagaimana konflik di Jalur Gaza
itu akan berakhir?

Majalah Time menurunkan laporan mengenai mengapa Israel tidak bisa memenangi
pertempuran itu.

Faktanya, apa yang didapat Israel tampaknya semakin kecil dibandingkan
dengan ongkos yang semakin besar. Ketika melancarkan serangan ke Jalur Gaza
pada 27 Desember 2008, "cita-cita" Israel adalah melihat para komandan Hamas
keluar dari bungker-bungker di bawah tanah dengan tangan terangkat ke atas.

Sayangnya, yang didapat Israel pada akhirnya justru tidak memuaskan. Akhir
yang realistis paling-paling hanya gencatan senjata yang menyisakan Hamas
yang terluka tetapi tetap hidup dan mampu bangkit kembali. Israel pun hanya
bisa sementara waktu aman dari gangguan.

Serangan membabi buta ke Jalur Gaza hanya akan menurunkan kemampuan Hamas
untuk menembakkan roket ke Israel. Namun, serangan itu tidak akan bisa
memadamkan semangat ideologi Hamas.

Kalaupun ada keuntungan bagi Israel, jika benar-benar bisa menghentikan
tembakan roket Hamas, adalah bagi para politisi yang akan maju pemilu
nasional, bulan depan, seperti Menteri Luar Negeri Tzipi Livni atau Menteri
Pertahanan Ehud Barak. Tidak lebih.

Barangkali, yang lebih mengancam Israel saat ini bukanlah tembakan roket itu
sendiri, melainkan kekuatan untuk menggertak (power of detterence) Israel
yang mulai diragukan.

Semula kekuatan penggertak itulah yang menjadi kunci bagi Israel untuk
menjaga lawan-lawannya tetap berada di sudut yang jauh. Kekuatan itu mulai
terkikis tahun 2006 saat Hezbollah di Lebanon selatan mampu bertahan dari
gempuran Israel.

Seperti halnya Hezbollah, Hamas akan menyatakan dirinya menang. Hamas
menunjukkan diri mampu bertahan menghadapi gempuran langsung dari kekuatan
militer yang jauh lebih besar.

Justru Israel berisiko kehilangan sekutu-sekutu Arab, yang semula telah
melunak dan bersedia mengakui Israel. Bagaimana mungkin kini mereka mau
bekerja sama dengan Israel saat mendapati saudara-saudara Arab mereka
dibantai di Jalur Gaza.

Tidak kalah

Satu hal yang perlu diakui para pemimpin Israel adalah Hamas tidak akan bisa
dikalahkan dengan kekuatan militer. Pelajaran dari serangan terhadap *
Hezbollah* tentu tidak mudah dilupakan Israel.

Israel harus merangkul Hamas secara politik. Itu artinya, Israel harus
bersedia berurusan dengan semacam pemerintahan persatuan yang meliputi Hamas
di dalamnya.

Apalagi Israel juga harus menghadapi kenyataan bahwa negara yang
dicita-citakannya, negara Yahudi yang terbentang dari Sungai Yordan hingga
Laut Mediterania, tidak akan terwujud tanpa berdirinya negara Palestina yang
merdeka.

Israel harus berhitung dengan populasi Yahudi di negaranya yang suatu saat
bisa kalah jumlah oleh bangsa Arab di tanah itu. Israel, yang mendefinisikan
diri melalui kepercayaannya, yaitu Yahudi, tentu tidak ingin melihat kaumnya
menjadi minoritas di tanah mereka sendiri.

Mantan PM Israel yang paling keras sekalipun, Ariel Sharon, takut akan hal
ini. "Jika kita ingin melestarikan Yahudi dan demokrasinya, kita harus
melepaskan sebagian tanah air kita," katanya.

Kompromi menyakitkan

Artikel di majalah Newsweek edisi 12 Januari 2009 menyebutkan, ada empat
persoalan utama yang perlu segera diselesaikan, yaitu soal wilayah,
keamanan, status Jerusalem, dan pengungsi Palestina. Mengurai persoalan dan
mencari solusi menang-menang harus dimulai kembali dari keempat persoalan
pokok itu yang kini malah terabaikan sejak tahun 2000.

Kompromi yang menyakitkan bagi kedua pihak harus ditempuh jika perdamaian
abadi ingin diwujudkan. Fakta bahwa Ehud Olmert bersedia bernegosiasi,
Presiden Palestina Mahmoud Abbas juga bersedia berunding, menggarisbawahi
hubungan keduanya. Yakni, hanya ada satu jalan menuju perdamaian, kedua
pihak mengetahui jalan itu, tetapi keduanya tidak bersedia untuk
menjalaninya.

"Waktu tidak lagi berada di pihak Israel," demikian Newsweek.

Sejauh ini, pertumpahan darah di Gaza tidak banyak mengubah perimbangan.
Hamas kehilangan banyak secara fisik, tetapi dia memenangi simpati. Namun,
bukan tidak mungkin warga Gaza juga mempertanyakan, untuk apa semua
penderitaan yang mereka alami.

Majalah The Economist edisi 3-9 Januari 2009 menyebutkan, ada konsesi yang
diperoleh warga Gaza, seperti pelonggaran blokade oleh Israel yang telah
membuat mereka menderita secara ekonomi. Gerbang perbatasan dengan Mesir pun
kemungkinan akan dibuka.

Selama 60 tahun, konflik mendera tanpa ada akhir. Dewan Keamanan PBB
sekalipun tidak digubris. Kekerasan akan menjadi lingkaran yang tidak
terputus di wilayah itu selama tidak ada ruang bagi kompromi dan ketulusan.
(fro)


Sumber : Kompas Cetak


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke