Refleksi: Kalau tak salah ialah wayang kulit berasal dari kebudayaan kafir. Mengapa hingga kini kaum pandai ilmu surgawi tidak mengeluarkan fatwa? Apakah ada kekecualian?
http://www.kompas.com/read/xml/2009/01/10/16532023/wayang.kulit.semalam.suntuk.pt.bogasari Wayang Kulit Semalam Suntuk PT Bogasari IGN SAWABI Wakil Presiden Direktur PT Bogasari menyerahkan tokoh Bima dan Puntadewa kepada Ki Manteb Sudharsono sebagai pertanda dimulainya pertunjukan wayang kulit di halaman parkir PT Bogasari Jumat malam hingga Sabtu dini hari. /Sabtu, 10 Januari 2009 | 16:53 WIB JAKARTA - Jumat malam hingga Sabtu dini hari tadi, PT Bogasari, Cilincing, Jakarta Utara menggelar pertunjukan wayang kulit. Ribuan penggemar seni tradisional Jawa itu memadati halaman parkir. Pertunjukan wayang kulit dengan dalang Ki Manteb Sudharsono menggelar lakon, Wirata Parwa. Yakni, kisah perjuangan hidup Pandawa di masa pembuangan sebagai konsekuensi kekalahan mereka saat berjudi melawan Kurawa dalam peristiwa Pandawa Dadu. Wakil Presiden Direktur PT Bogasari, Franki Welirang tampak sibuk menemui tamu-tamu. Bahkan Emha Ainun Nadjib bersama Noe (vokalis Letto) datang menyaksikan pergelaran. "Ini pergelaran yang ke-10, karena sejak tahun 1999, kami rutin menggelar wayang kulit, setahun sekali," katanya. "Saya menikmati pertunjukan Ki Manteb," kata Cak Nun, sapaan akrab Emha. Malam itu, sebagian halaman parkir perusahaan makanan itu mirip pasar rakyat. Puluhan pedagang kaki lima menggelar dagangan khas Jawa, seperti wayang kulit, stiker wayang, pakaian-pakaian Jawa. Bahkan makanan yang dijual pun sangat bernuansa Jawa, seperti jadah tempe bacem, misalnya. Sementara itu, di depan kelir, Ki Manteb mempertontonkan kebolehannya. Dalang yang dijuluki Dalang Setan itu tak lupa menyelipkan ajakan untuk menggunakan hak pilih dalam pemilu mendatang. "Golput itu boleh saja, tapi akan lebih baik kalau tidak golput," kata Manteb melalui tokoh Cangik, pada adegan Limbukan. Ki Manteb pun meski mulai memasuki usia senja, masih memperlihatkan keterampilan yang mumpuni dalam memainkan wayang kulit. Dalam adegan perang atau adegan yang lain, karakter Ki Manteb masih begitu kuat, sehingga memuaskan penonton yang tak henti-hentinya memberikan tepuk tangan. Melihat kepuasan penonton yang datang dari berbagai wilayah Jakarta dan sekitarnya, Franki pun tampak gembira. [Non-text portions of this message have been removed]

