Jurnal Toddopuli:
AKANKAH KAU MENGIRIMI KAMI UCAPAN NATAL?
[Cerita Untuk Anak-anakku]
"Yah, malam ini, cerita baru apa lagi yang ingin Ayah tuturkan kepada
anak-anaknya?", Iwa, sulungku yang perempuan bertanya sambil ndempruk di
pangkuanku. Sedangkan adiknya sudah lama rebah di pangkuan ibunya. Sejak usia
tiga tahun, Iwa dan aku memang sering ke mana-mana berdua. Naik delman keliling
desa hingga sampai kota. Ketika ia sudah besar dan bisa bersepeda sendiri, ia
kukawal pagi-pagi liburan ke sawah dan atau ke pasar ditemani oleh anjing
kesayangannya Nelly Kusuma. Ke mana-mana kami sering berdua. Sambil berpergian,
aku selalu bercerita tentang apa saja kepadanya. Cerita tentang padi, pisang,
kelapa, pepaya, kera, tembakau, tebu, mentimun, sungai, kambing, ayam, kerbau,
kura-kura, dan apa saja...
Menjelang tidur, sambil mengeloninya, kusempatkan, membaca buku bergambar dari
berbagai negeri sesuai usianya.
Melalui cerita-cerita ini, aku ingin ia mengerti arti alam, budaya
lokal, sehingga ia tidak asing dari tanahair kampunghalamannya. Sebagai
sangu pikiran, perasaan dan ingatan dalam berdialog dengan budaya dunia. Lebih
dari itu, aku ingin imajinasinya berkembang. Imajinasi yang berkembang leluasa,
aku anggap sebagai sayap dalam menjelajah dunia. Membuatnya tidak
berputar-putar di sekitar langit kampunghalaman dan sungai lahir. Kecupetan
sering membuat orang menjadi tipe manusia "über alles" yang ternyata tidak
"über" tapi tidak lebih dari kisah katak yang mau menyaingi lembu .
Usaha mengembangkan imajinasinya ini, kuimbuhi melalui lagu-lagu
kanak-kanak kekinian dan atau yang jadul berfifat refleksif-edukatif dan
mainannya.
Sambil mencium kepalanya, pertanyaannya kujawab:
"Kalau ayah, cerita tentang Koperasi Restoran Indonesia lagi, anak bosan gak?"
Iwa mengecup pipiku berkata:
"Tergantung isi cerita dan pandainya ayah bercerita. Kalau tidak aku akan
segera mendengkur".
"Anak mendengkur, ayah kerja dong. Ayah menulis. Gampang saja". Dari jauh, ibu
anak-anak tersenyum sendiri, mendengar dialog ayah-anak.
"Cerita Yah, cerita dong. Aku suka dengar cerita Ayah". Sebelum mendengar
cerita, Iwa mengambil tikar, selimut dan bantal. Kami berdua berbaring
berdampingan. Dua kaki kecilnya berada di tubuhku. Sepasang mata warna
klengkengnya berkelap-kelip seperti bintang patendu [bintang yang menunjukkan
saat membuka ladang telah tiba], orang Dayak bilang .
"Ayo, ayah khoq malah mau tidur. Cerita dong Yah", desaknya. Dari pangkuan sang
ibu, anak kedua memandang kakaknya dengan mata kelap-kelip tenang.
Judul cerita ayah malam ini adalah "Akankah Kau Mengirimi Kami Ucapan Natal?".
Cerita ini berkisar antara seorang anak perempuan dengan ibunya. Anak
perempuannya bernama Shinta. Begitu selesai SMA di sebuah sekolah Kristen
terkenal di Jakarta, dengan menggunakan beasiswa Indonesia, Shinta dikirim
belajar ke Perancis untuk musik di sebuah konservatori. Shinta memang berasal
dari keluarga Kristen dan keluarga sangat elite. Bisa dikatakan lapisan atas
dari elit negeri kita. Sekali pun demikian, ia tidak pernah bangga dan
berkuar-kuar tentang asal dan lingkungan keluarganya. Ketika ditanya,
jawabannya: "Aku ingin menjadi diriku sendiri, tanpa terbawa oleh nama
keluarga. Aku adalah aku ", ujarnya datar. Sebelum ayah tahu, asal
keluarganya, ayah pernah sangat sewot, melihat gerakgeriknya ketika mencuci
piring sendiri sendiri.
"Nyuci piring khoq kayak nyonya dan ndoro-ndoro feodal. Terlalu biasa
segala-galanya dikerjakan oleh pembantu".
Ya, ia memang berasal dari keluarga kaya-raya dan top elite di Indonesia.
Sekali pun demikian, seperti umumnya mahasiswa di Perancis setelah mencapai
usia dewasa, keluar dari rumah orangtua dan mencari penghasilan sendiri. Shinta
pun demikian. Ia melamar kerja di Koperasi Restoran kami di mana ia sebulan
sekali menari untuk menambah penghasilan dan mempopulerkan budaya Indonesia.
Ia senang dan merasa di rumah sendiri di Koperasi. Biasa dengan cara bicara
orang di Koperasi yang langsung tanpa belat-belit.
Mendengar kata-kata ayah tadi, teman-teman lain di dapur berkomentar:
"Mas, tidak bisa begitu dong. Orang kan punya gaya masing-masing dan bisa semua
orang menggunakan gaya kerja Mas. Salah. Katanya toleran. Mana toleransi Mas,
jika demikian?"
Ayah melihat sejenak komentator itu dan menjawab:
"Gaya kerja memperlihatkan kita dari mana kita dan siapa kita. Feodalisme sudah
gak layak kita pertahankan.Gak zamani lagi.Mau mengembangkan Indonesia dengan
feodalisme nih ye. Dengan gaya feodal gitu kapan dan gimana kita bisa mengejar
kecepatan. Kalian tahu gak, kecepatan, la rapidité, orang Perancis
bilang merupakan unsur yang sering sekarang mengalahkan manusia".
"Wah, menyerah deh, kalau sudah masuk soal teori", ujar komentator pembela
Shinta. Teman-teman lain tersenyam-senyum menahan diri untuk tidak ngakak.
"Aku serius. Mengapa tersenyam-senyum?", tanyaku. Gelak pun meledak. Ayah
mencuci muka dengan air dingin menahan jengkel ditertawai. Ketika itu Iwa
mencubit belikatku.
"Ayah nakal", ujarnya. "Terus, Yah".
Setelah itu, ayah minta maaf kepada Shinta kalau ia merasa tersinggung.
"Nggak apa-apa Kek. Itu kan Kakek", ujar Shinta sambil tersenyum sambil mencium
pipinya minta maaf.
"Idihhhhhhhhh, kakek genit", ujar teman-teman dapur. Gelak-bahak pun menjadi
sebuah paduan suara.
Shinta makin merasa berada di rumah keluarga sendiri di Koperasi. Soal apa saja
ia ceritakan. Termasuk hubungan pribadinya dengan cowo-cowo. Bagaimana ia pisah
dengan pacar satu ke pacar baru. Kesimpulannya dengan orang Indonesia dan orang
bulé. Yang terakhir ini, ia rasakan sebagai "segalanya serba terpogram dan
kaku". Barangkali keadaan inilah yang disebut oleh seorang filosof Perancis
kekinian bahwa "sekarang manusia dan masyarakat dikendalikan oleh kecepatan".
Kecepatan mempengaruhi pola pikir dan mentalitas manusia dan masyarakat.
Sedangkan kita apakah sudah tanggap pada "kecepatan" ini atau masih berada pada
tingkat "alun-alun asal kelakon", konsep "mbesuk" dan "mie instant" -- nama
lain dari kemalasan berpikir dan etos kerja yang rendah? Ya, tentu saja untuk
berKKN diperlukan kemampuan menipu dan menipu membutuhkan daya pikir. Hanya
ayah melihatnya KKN lebih merupakan sisa feodalisme dan bentuk nyata neo
feodalisme. Abuse of power ,
penyalahgunaan kekuasaan yang jamak terjadi pada rezim feodal, militerisme dan
otoritarianisme di mana penguasa adalah Tuhan. Penentu hidup-mati orang, dan
gantang kebenaran. Violence, main bom, kekerasaan, sedikit-sedikit lari ke
badig, amok, adalah ujud dari primitivisme atas nama budaya tapi yang tak
berkembang, dikira sebagai sikap satria dan kepahlawanan. Seberapa jauh negeri
kita meninggalkan primitivisme budaya di tengah tingkat laju tekhnologi seperti
sekarang, barangkali perlu dikaji guna mengenal tingkat diri kita sendiri, jika
mengikuti anjuran Sun Tzu, strateg Tiongkok Kuno beken itu.
Bercerita Shinta bahwa ia pada mulanya pacaran dengan Aco seorang pemuda Padang
yang sangat Islam. Keluarga Aco ketika tahu Shina dari keluarga Kristen, secara
halus memperingatkan putera mereka dengan kata-kata "semoga Tuhan merestui
kalian". Sedangkan ibu Shinta hanya berkata: "Kalau jadi pasti kau akan
berjilbab. Tidak apa-apa, kalau itu memang pilihanmu.Kau tokh sudah bukan kanak
lagi. Bisa memutuskan apa yang baik dan tidak untuk dirimu. Mama pun tidak
keberatan kalian berciuman sebelum nikah sekali pun katanya Aco Islam. Hanya
yang Mama bayangkan dengan perasaan ngenes ketika kau jadi istri Aco yang
Islam, apakah pada hari Natal, kau masih mengirimkan kartu mengucapkan selamat
Natal kepada ayah-ibu dan adik-adikmu. Kau masih dan selamanya anak Mama?"
Perasaan ngenes sang ibu, ayah rasakan sebagai lukisan keadaan kehidupan
beragama sekaligus membangkitkan pertanyaan: Mengapa Tuhan dijadikan pemisah
hubungan ayah-ibu, dengan anak kandungnya, serta hubungan sesaudara. Campur
tangan Tuhan yang melahirkan tragedi begini sangat banyak contohnya, bukan
hanya di negeri kita , juga di luar negeri. Seorang anak perempuan Turki
dibunuh oleh keluarganya karena pacaran dengan seorang Jerman yang tidak Islam.
Masalah ini yang barangkali yang oleh Forum Internasional Tentang Hubungan
Antar Agama di Yogyakarta tahun 1999an disinyalir sebagai "hilangnya roh agama"
. Dan dalam mengomentari logika Perang Gaza sekarang ini, Jesuit Mesir Samir
Khalil Samir dalam wawancaranya dengan Harian Katolik Perancis:La Croix,
Paris [2 Januari 2009] menamakakannya sebagai logika yang kontradiktif, jauh
dari filsafat kasih. Tanpa menyelesaikan logika kontradiktif ini maka perang
dan kekerasan tak akan punya akhir, ujar Samir
Khalil Samir. "La logique de cette guerre... c'est qu'elle ne finira
jamais".
"Akankah kau mengirimi kami ucapan natal?", yang diucapkan oleh ibunya Shinta
adalah salah satu pertanyaan dan kengenesan terhadap "logika perang ini" dan
keadaan ini, yang bisa-bisa tak tertangani. Tuhan telah membuat kita saling
benci dan saling bunuh seperti halnya pritimivisme budaya. Sektarisme adalah
sejenis dengan logika begini dan bentuk dari primitivisme budaya juga, sekali
pun mengunakan label rakyat dan revolusioner. Padahal menjadi mahluk Tuhan,
ayah kira tidak lain menjadi manusia yang manusiawi. Tidakkah ini sari beradab
dan berbudaya?
Sekarang kalian tidurlah bersama ibu, tapi kelak jika lebih besar lagi, mata
hati, jiwa dan pikiran jangan kalian biarkan tidur. Jadilah kalian anak Papah
dan Mamah yang manusia dan manusiawi. Beradab dan berbudaya tanggap zaman. ***
Winter 2009
----------------
JJ. Kusni
Importing contacts has never been easier..Bring your friends over to
Yahoo! Mail today! http://www.trueswitch.com/yahoo-sg
[Non-text portions of this message have been removed]