tuch khan apa kate bang pitung tempo doeloe, bahwa orang2 liberalis
fundamentalis extrimis ntu emang 'PELACUR'. Klo perempuan2 biasanya melacurkan
diri & tubuhnye, klo orang liberalis melacurkan 'ilmu'nye. Tujuannye siy sama,
cari uiiit hehe mau kaya tp ga mau susah, ya tipikalnya dech
bntr lg ada yg 'gonggong'in bang pitung nih :p
"Bal’am Kontemporer" dan Prototype Penghancur Islam
Adalah Bal’am ibn Ba’ura. Seorang
alim yang memiliki ilmu mumpuni di kalangan Bani Isra’il. Hujjah-hujjah
dan dalil-dalilnya dalam mengeluarkan ilmu sangat luar biasa. Karena
dia diberi pemahaman mendalam tentang Taurat oleh Allah s.w.t.
Namun
akhirnya, dia menyalah-gunakan keilmuannya demi kepentingan duniawi.
Dia gunakan keilmuannya bukan untuk kepentingan umat, tapi kepentingan
pribadi dalam menumpuk-numpuk kenikmatan sesaat, palliative..
Oleh karenanya, Rasulullah s.a.w. ketika di Madinah, diperintah oleh
Allah untuk menceritakan kisah Bal’am ini kepada orang-orang Yahudi di
Madinah sebagai pelajaran berharga bagi ummat, setidaknya agar tahu
kerusakan ilmu yang telah dilakukan Bal’am.
Pelacuran Intelektualitas
Orang-orang beilmu sebenarnya dipilih Allah. Karena Dialah sumber ilmu:
al-‘alim, al-‘allam.
Dengan ilmu itu Allah menginginkan pemiliknya menjadi orang-orang yang
terangkat derajatnya (Qs. Al-Mujadilah: 11). Namun jika disalahgunakan,
ilmu pun menjadi malapetaka. Karena yang lahir adalah “pelacuran”
intelektualitas. Dan Bal’am adalah contohnya. Di mana, di zaman
Rasulullah saja, kerusakan ilmu dan “pelacuran” intelektual sudah ada.
Kejahilan
ilmu dan “pelacuran intelektual” seperti Bal’am diibaratkan oleh Allah
seperti “anjing”. Kenapa harus anjing? Karena anjing itu bermental
penjilat dan pragmatis. Jika dihalau, anjing akan menjulurkan lidahnya,
dan jika dibiarkan dia akan tetap menjulurkannya lidahnya. Mental
penjilat dan pribadi pragmatis –dalam keilmuan—dimana pun sama. Mereka
adalah “anjing-anjing” penjilat dan penjual kebenaran, melacurkan ilmu
pengetahuan dan intelektualitas mereka.
Bagaimana
tidak? Dia sudah mengetahui kebenaran yang diberikan oleh Allah.
Pemahaman terhadap Alkitab (Islam: Al-Quran) tapi dia jual ayat itu
dengan harga yang sangat murah (tsamanan qalilan).
Bukan
sedikit, ilmuwan agama (baca Islam) saat ini menukar ilmu dengan
sekeping dollar yang jelas-jelang efeknya untuk menghancurkan Islam.
Dia jual ayat Allah, hadits Nabi s.a.w. dan pendapat ulama Islam demi interest
pribadi, kelompok dan golongan. Bahkan tidak segan-segan memutar-balikkan
fakta. Kata Imam ‘Ali karrama Allah wajhah, “Kalimat haqqin yuradu biha
bathil.”
Al-Quran sangat keras dan mengecam tipe makhluk seperti ini. “Dan
bacakanlah kepada mereka berita orang yang Telah kami berikan kepadanya
ayat-ayat kami (pengetahuan tentang isi Al-Kitab), Kemudian dia
melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan
(sampai dia tergoda), Maka jadilah dia termasuk orang-orang yang
sesat.” Dan kalau kami menghendaki, Sesungguhnya kami tinggikan
(derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia
dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, Maka
perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya
lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga).
Demikian Itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat
Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka
berfikir. Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan
ayat-ayat kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim.” [QS.
Al-A’raf [7]: 175-176]..
Sejak lama, prototype ilmuan dan intelek model itu sudah digambarkan oleh
Khalifah ‘Umar ibn
al-Khattab. Diceritakan oleh Ziyad ibn Hudayr bahwa ‘Umar bertanya
kepadanya: “Tahukah engkau apa yang dapat menghancurkan Islam?
Tidak,” jawab Hudayr. “Tergelincirnya seorang alim (intelek, ilmuwan),
seorang munafik yang berdebat menggunakan dalil-dalil Al-Kitab
(Al-Quran) dan para aparat pemerintah (imam) yang menyesatkan.” [Diriwayatkan
oleh Al-Darimi].
Ketiga
tipe penghancur Islam yang disebutkan oleh Khalifah ‘Umar sudah muncul
di tengah-tengah umat Islam. Para ulama yang tergelincir sudah banyak.
Ada yang menghalalkan bunga bank dengan alasan maslahat. Ada seorang hafizh
Al-Quran yang masih percaya kepada “klenik” dan khurafat. Ada ilmuwan yang
berani mengatakan bahwa Kong Hu Chu adalah “Ahli Kitab”. Ada juga yang GR
‘berijtihad’ bahwa kawin sesama jenis (homoseks, lesbian) adalah
“islami dan humanis’. Bahkan kawin Musliman dengan non-Muslim sudah tak
zamannya untuk diperdebatkan
Orang-orang munafik yang berdebat menggunakan ayat-ayat Al-Quran banyak
bermunculan. Dalam sebuah debat di salah satu channel TV lokal, seorang
akitvis Jaringan Islam Liberal (JIL) menyitir satu ayat Al-Quran untuk
mematahkan lawan debatnya yang mendukung adanya khilafah Islamiyah. Dengan
penuh percaya diri aktivis itu mengatakan, “Tahsabuhim jami’an wa qulubuhum
satta”
[Kalian kira mereka itu bersatu padu, padahal hati mereka
berpecah-belah]. Dengan tegas dia mengatakan, “Itu lah Hizbut Tahrir.”
Padahal dalil yang digunakannya tidak tepat sama sekali. Tapi dia
berani untuk menyerang saudara seiman dan seakidahnya, hanya untuk
kemasyhuran. Inilah yang diibaratkan Al-Quran sebagai sosok “anjing-anjing”
yang mengulur-ulurkan lidahnya.
Tidak
sedikit orang-orang bergelar intelektual (bahkan dijuluki TV sebagai
intelek Muslim) yang menyalahkan nabi Luth ketika melarang umatnya
melakukan homoseks. Alasannya macam-macam. Ada yang menyatakan bahwa
ayat-ayat yang berbicara tentang nabi Luth tidak secara eksplisit
“mengharamkan” praktek “homoseks”.
Tidak
sedikit mereka menyalah-nyalahkan para Sahabat Nabi dan para Tabi’in.
Sedang Allah menjamin mereka di dalam surga karena ketaatan pada agama
dan akhlaq luhur-nya. Boleh dibilang, hanya seujung jari
untuk membandingkan para Sahabat Nabi dan Tabi’in dengan para
intelektual --yang oleh Al-Quran—diumpamakan sebagai “anjing-anjing”
ini.
Peringatan Nabi
Yang
jelas, fenomena “pelacuran intelektualitas” dan penyesatan para
pemimpin umat yang diceritakan di atas, karena bersumber dari
“kerusakan ilmu”. Dan itu sudah terjadi sejak lama, sejak zaman Bani
Isra’il.
Dan
orang-orang yang muncul dewasa ini tak lain hanyalah “Bal’am-Bal’am
kontemporer”. Model intelek “anjing penjilat” dan pragmatis. Yang rela
“dibayar” dan “dibeli” idealisme dan loyalitas kepada Islam untuk
kepentingan duniawi. Dan ini adalah imitasi terhadap model keilmuan
umat sesat, Yahudi.
Imbas
dari “pelacuran intelektual” seperti ini adalah: ngambangnya pemahaman
umat terhadap Islam. Yang lahir kemudian adalah faham “bingungisme”. Umat
dibuat tak punya pegangan pasti. Karena para inteleknya “rusak” dan tak
bermoral.
Sufyan ibn ‘Uyainah dalam satu statemennya menegaskan, “Man fasada min
ulama’ina fafihi syibhun min al-Yahud. Wa man fasada min ‘ibadina, fafihi
syibhun min al-Nashara”
[Siapa saja yang “rusak” dari kalangan intelek (ilmuwan, ulama) kita
maka pada diri mereka ada titik kesamaan dengan Yahudi. Dan siapa saja
dari umat (hamba, orang awam) yang rusak, maka dalam dirinya ada
kemiripan dengan Nashrani).
Makanya,
sejak dari surah al-Fatihah Allah sudah memberikan stempel negatif
kepada kedua kelompok Ahli Kitab itu. Yahudi disebut oleh Allah sebagai
kelompok al-maghdhub ‘alayhim, karena yang rusak adalah para
ulamanya. Kemudian diikuti oleh kerusakan orang awamnya. Dan kelompok
Nashrani disebut oleh Allah sebagai al-dhallun (tersesat). Karena tak mau
mengikuti kebenaran berdasarkan ilmu, padahal sudah jelas dan terang dibuktikan.
Fenomena
dekonstruksi Islam sekarang ini adalah bukti konkret kerusakan ilmu. Di
mana, ilmu-ilmu Islam tak lagi dipahami sebagai satu hal yang inheren dengan
amal. Karena tak lagi inheren dengan amal, maka menjadi tidak integral dengan
moralitas. Pada
gilirannya, ilmu-ilmu yang dipelajari dan dimiliki tak lagi “membumi”.
Akibatnya,
ilmu-ilmu itu hanya menjadi alat “penghujat”, pembodohan umat,
penyalah-gunaan jabatan dan pembebebakan kepada ‘sang tuan pemberi
donasi’.
Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya mengatakan, satu peradaban inferior
cenderung “membebek” kepada peradaban yang superior”.
Makanya tak sedikit dari kaum intelek kita yang mengaku “dibayar” oleh
pihak Barat dalam menyebarkan dan menjajakan wacana-wacana destruktif ke
tengah-tengah umat.
Banjirnya
wacana-wacana “sekularisme”, “pluralism” dan “liberalism” diasongkan
dimana-mana adalah salah satu buktinya. Lahir kemudian faham relativisme. Tak
heran jika kemudian Al-Quran dihujat, Rasulullah dilecehkan, hukum
Islam didekonstruksi, feminisme dan gender dijadikan “wirid” di
mana-mana. Bahkan sebagaikan memaksakan menjadi “materi wajib”
pendidikan. Seolah sebegitu pentingnya.
Maka penting kiranya peringatan Rasulullah s.a.w. berikut ini dicermati dan
direnungkan. “Sungguh,
kalian akan mengikuti perilaku umat-umat sebelum kalian: sedepa demi
sedepa, sehasta demi sehasta dan sejengkal demi sejengkal. Meskipun
mereka masuk ke dalam lubang biawak, kalian akan mengikutinya.” Apakah
mereka itu kaum Yahudi dan Nashrani wahai Rasul?” tanya para sahabat.
Siapa lagi kalau bukan mereka,” jawab Rasulullah singkat. [HR. Al-Bukhari dan
Muslim].
Semoha Allah terus menjaga dan menjauhkan kita dan keluarga kita agar
tak terjerumus dalam lingkaran setan bernama “Bal’am kontemporer” yang
ada. Wallahu a’lamu bi al-shawab.
*
Penulis peserta Program Kaderisasi Ulama (PKU) di Center for Islamic
and Occidental Studies (CIOS) di Institut Studi Islam Darussalam,
Gontor-Ponorogo, Jawa Timur
[Non-text portions of this message have been removed]