Remaja Indonesia : SEX, LIES and Video Games!

Pernahkah Anda menghitung, berapa usia yang tepat bagi anak-anak
kandung Anda untuk mulai berhubungan seks? Pertanyaan ini akan sangat
bernada provokatif dan kontroversial ketika Anda mencoba menolak
kenyataan, bahwa saat ini, jutaan remaja Indonesia telah melakukan
seks pra nikah.pada usia sekolah. Data statistik menyebutkan, setiap
tahun, sekitar 2,5 juta kasus aborsi di Indonesia terjadi dan 60%nya
dilakukan oleh remaja. Data ini hanya mengungkap kasus penyimpangan
seksual yang berujung pada tindakan aborsi yang jelas merupakan
kejahatan. Sementara data anak muda Indonesia yang aktif melakukan
hubungan seksual pra nikah, adalah kenyataan sehari-hari yang suatu
saat menjadi bom waktu menuju ledakan aborsi di masa depan.
Seharusnya, alarm kewaspadaan sudah harus dinyalakan.Umur remaja yang
mulai melakukan hubungan seksual pertama kali kini semakin muda
usianya. Indikatornya dapat kita lihat dari berbagai macam kasus
kejahatan dan penyimpangan aktifitas seksual yang direkam setiap menit
di media massa dan internet.

Coba saja Anda ketikkan kata kunci "Anak SMP" pada mesin pencari
Google, maka Anda akan mendapatkan data sebanyak 1.190.000 hasil
pencarian yang dilakukan secara massal oleh para pengakses Internet di
awal tahun 2009. Lihat pada peringkat satu hingga sepuluh, sebagian
besar berisikan tautan halaman situs tentang aktifitas mesum dan
seksual para siswa yang masih bercelana pendek biru. Angka 1.190.000
menggambarkan, adanya sejuta lebih para pengakses internet yang dengan
'setia' haus mengkonsumsi materi seksual dan adegan mesum
remaja-remaja usia dini. Dunia seks dan penyimpangannya, kini tidak
melulu milik para orang dewasa, mereka-mereka sedang mendapatkan
mainan baru, anak-anak usia dini yang siap diperdagangkan layaknya
sate kambing muda yang selalu diburu orang.

Miris? Penulis harus menahan napas berkali-kali, ketika pada suatu
waktu di bulan April 2008, penulis bersama teman-teman dari sebuah
majalah remaja, mengadakan acara diskusi tentang remaja dan seks di
sebuah SMP ternama di kawasan Jakarta Selatan. Seorang siswa perempuan
menanyakan, kapan sebaiknya anak remaja seusianya boleh melakukan
'French Kiss'. Ini pertanyaan yang sangat menohok dan tidak mudah
untuk menjawabnya. Seni memagut bibir ala orang dewasa yang
mencampurkan ledakan nafsu berahi adalah sebuah masalah rumit bila
dilakukan di usia dini. Penulis bahkan mendapatkan pernyataan dari
kepala sekolah SMP tersebut, bahwa ia berusaha membuat peraturan bagi
para siswanya, untuk tidak berciuman di dalam kelas. Hah?

Penulis saat ini sedang melakukan penelitian di berbagai kota di
Indonesia dan menemukan fenomena aneh, tentang meningkatnya aktifitas
telepon berkonotasi seksual yang dilakukan banyak anak muda usia
sekolah. Beberapa responden mengatakan, mereka menikmati permainan
telepon seks, dengan cara menelpon teman-teman lawan jenis dalam satu
sekolah. Mereka melakukan fantasi berhubungan seks lewat telepon.
Ajaibnya, hal ini terjadi justru setelah para operator telepon seluler
menurunkan tarif percakapan. Dan anak-anak muda yang kebablasan ini
menjadikan aktifitas tersebut sebuah hobi yang dilakoni setiap hari.
Walaupun penulis belum mendapatkan data akibat langsung dari aktifitas
ini, namun kenyataan di atas menjadikan sebuah indikasi, bahwa ada
sebuah aktifitas untuk saling merangsang secara seksual yang dilakukan
tanpa henti oleh remaja kita. Mereka menggunakan teknologi informasi
dan merubahnya menjadi kenakalan-kenakalan seksual.

Baru-baru ini, kita dikejutkan dengan berita terjaringnya "20 anak SMP
yang menjadi Pekerja Seks Komersial". Sebuah kegilaan bentuk baru yang
memukul ruang batin kita dan memaksa mata para orang tua untuk terbuka
lebar melihat keadaan terkini. Bahwa sesungguhnya, ada kesalahan cara
berpikir dan bertindak yang melanda remaja Indonesia, menjadikan
hubungan seksual sebagai alat kesenangan belaka. Ketika hubungan seks
diselewengkan menjadi bentuk komersial, maka sesungguhnya kita sedang
berhadapan dengan penyimpangan seksual lainnya yang dibalut dengan
lebih halus dan sulit terdeteksi. Ketika anak-anak kita yang baru saja
memasuki masa puber mulai berani mencoba melakukan aktifitas
berpacaran (dating) yang menggunakan segenap sensor indra peraba dan
penglihatan, maka pintu menuju pemercepatan ke arah hubungan seksual
sudah terbuka lebar. Aktifitas dating yang semula hanya berupa sebuah
perilaku saling menyayangi, bisa berubah menjadi sebuah gejolak
keinginan berhubungan seksual ketika mendapatkan alat dan rangsangan.
Ketika pornografi internet dan berbagai macam informasi media massa
yang membuat otak para anak muda untuk selalu berpikir tentang seks,
maka sebenarnya kita sedang menciptakan zombie-zombie baru yang di
masa depan, melulu tergantung terhadap seks.

Anak-anak muda kita membungkusnya dengan cermat menjadi pola hubungan
backstreet. Mereka bercumbu dibalik seragam dan menutupinya dengan
berbagai tingkah naif . Sementara para orang tua yang tidak peduli dan
menganggap bahwa anak-anak kandung mereka sedang melakukan 'cinta
monyet' sesungguhnya sedang menghadapi masalah pelik di masa depan.
Lalu, berbagai macam persoalan menggegerkan menjadi permainan berita
di media massa. Dari kasus video mesum pemerkosaan remaja SMP yang
tersebar di Internet, hingga berita awal tahun yang menampilkan 20
pekerja seks komersial yang notabene masih merupakan siswa seragam
putih biru.

Kita sedang menghadapi pekerjaan rumah yang sangat besar. Kita sedang
berhadapan dengan perubahan cara berpikir dan bertindak yang
menjadikan hubungan seksual, tidak ada bedanya dengan seni pijat
tradisional. Kita sedang berdiri di depan anak-anak muda Indonesia
yang kehilangan kendali dan bersama-sama menentang nasihat-nasihat
yang dahulu ditanamkan di benak kecil mereka. Lalu, mereka telah
kehilangan figur untuk bergerak memperbaiki nasibnya sendiri. Mereka
sedang berjalan tanpa arah, dibawah komando nafsu dan tuntutan gaya
hidup ala kaum hedonis. Dan usia korban-korban penyimpangan aktifitas
seksual semakin muda. Maka, tariklah napas panjang-panjang, bersatulah
dan berdamailah dengan anak-anak kita. Mereka membutuhkan hati tulus
kita untuk saling menolong. Mereka sedang berada di dalam bahaya.

Sony Set
Founder "Jangan Bugil di Depan Kamera!"
Penulis buku "500 Gelombang Video Porno dan Teen Dating Violence"
http://tvLab.blogspot.com



Kirim email ke