bener bang, 'perang' ga cuman di GAZA aje. Zionis menggunakan media utk memutarbalikkan fakta. dah jd Kewajiban kite utk menangkal aksi antek2 zionis yg berkedok sekularisme-pluralisme-liberalisme membuat propaganda sesat ttg zionis. biarpun mereka digelontor dana yg besar & fasilitas mewah, kite jgn gentar, 'kemampuan' mereka cuman sgitunya aje koq, dah keukur :) assalaamualaikum wr. wb. The front line is everywhere! http://akmal.multiply.com/journal/item/717 Kata-kata ini saya ciduk dari sebuah lagu Rage Against The Machine yang judulnya pun saya tak ingat. Artinya kurang lebih : Garis depan (pertempuran) ada dimana-mana! Bagi yang belum tahu, Rage Against The Machine adalah band cadas yang sangat populer di tahun 90-an dan sangat aktif dalam membicarakan isu-isu politik, termasuk lewat lirik lagu-lagunya. * * * * * * * Sebelum ke terminal Baranangsiang, kemarin, saya sempatkan berhenti di sebuah kios kecil yang menjual koran dan majalah. Perjalanan dari Bogor ke UKI yang memakan waktu sekitar tiga perempat jam kadang terasa menyiksa kalau tidak ada bahan untuk dibaca. Kebetulan beberapa hari yang lalu ust. Hepi Andi Bastoni bilang bahwa majalah Al-Mujtama yang dikelolanya telah siap edar. Lumayan, pikiran bisa sibuk dan mendapat nutrisi pengetahuan yang bermanfaat. Turunnya harga bensin bukan keajaiban yang hanya bisa dilakukan oleh SBY. Ust. Hepi dkk. pun bisa melakukan keajaiban serupa dengan menurunkan harga majalahnya menjadi sepuluh ribu rupiah saja. Berkali-kali saya mengecek harga yang tertera di sampul depan, dan akhirnya ditertawakan oleh sang Ibu penjual majalah. Tidak seperti biasanya, sang penjaga kios tidak sendiri. Ia ditemani oleh seorang perempuan lain, dan nampaknya mereka sedang asyik memperbincangkan sesuatu ketika saya datang. Sementara Ibu penjual majalah mengambilkan pesanan saya dari rak di belakangnya, rekannya melirik ke arah sampul depan majalah Al-Mujtama. Isu yang dijadikan tema utama sudah barang tentu seputar Gaza. Ibu itu pun berkomentar, Perang di Palestina kok nggak beres-beres, ya? Kapan ya Israel mau berhenti perang? Saya cuma tersenyum. Dalam hati saya berkata, Kalau berhenti perang, namanya bukan Zionis lagi, Bu! Sementara teman ngobrolnya mengambil uang kembalian, tiba-tiba ia mengejutkan saya dengan komentar berikutnya, Coba kalau Palestina mau damai ya, mungkin udah beres perangnya! Hei, hei, tunggu dulu. Meeting penting di Jakarta pun harus rela menunggu. Yang nggak pernah mau damai bukan Palestina Bu, tapi Israel! Kemarin saya lihat di koran, katanya Hamas yang menolak damai? Lha iya, soalnya Israel ujug-ujug masuk ke Gaza dan membunuh seribu orang lebih, bahkan jenazah anak-anak pun dijadikan makanan anjing. Kalau sudah dibegitukan, mana ada bangsa yang mau diajak damai? Lagipula selama ini kan Israel yang selalu melanggar perjanjian damai. (Dalam diskusi sehari-hari, saya membolehkan diri saya menyebut nama Israel; hanya demi kepraktisan, meskipun saya tidak mengakui keberadaan negara binatang yang satu itu.) Ooo gitu... Ibu rela nggak Soekarno-Hatta berdamai dengan Jepang? Atau merelakan satu propinsi diambil oleh Belanda? Atau kita merdeka, tapi statusnya negara persemakmuran Belanda? Ya nggak, lah! Anak-anak aja mereka bunuhin, terus mayatnya buat makanan anjing-anjingnya. Apa dengan bangsa yang kayak gitu kita perlu berdamai? Anak-anak? Iya, bener! Tuh, lihat aja cover majalah Sabili tuh! Astaghfirullaah... Saya pun tersenyum puas. Lumayan, satu orang terbebas dari kerancuan informasi. Sebelum saya pergi, Ibu itu masih sempat bertanya, Eh, Gaza itu di Palestina kan? Tapi pertanyaan ini tidak saya jawab, karena nampaknya yang bertanya sudah memahami jawabannya dari raut wajah saya di balik helm. Atau mungkin juga ia menyimpulkan sendiri jawabannya dari wajah rekannya yang mencibir di sebelahnya. * * * * * * * Banyak juga orang yang bertanya, mengapa saya mau sibuk mengurusi masalah pemikiran Islam, padahal bidang Teknik Sipil menjanjikan pemasukan yang jauh lebih baik. Banyak juga yang bilang kepada saya bahwa dirinya sudah bosan dengan teori konspirasi, sehingga kalau ada yang bilang bahwa informasi yang sampai ke telinganya adalah hasil rekayasa sebagian orang, ia tidak mau percaya. Ya, bidang ini mungkin memang berat, melelahkan, tidak populer, dan tidak menjanjikan penghasilan yang menarik. Tidak seperti ajaran sekularisme-pluralisme-liberalisme yang bisa memberikan income luar biasa di samping fasilitas-fasilitas lainnya yang bisa didapatkan dari para donatur yang anti-Islam. Tapi biarpun kita sudah bosan, namun tidak mungkin menutup mata dari kenyataan. Perang itu memang benar-benar ada. Anda bisa jadi pemenang, gugur terhormat, atau bisa juga hidup sebagai pecundang, hamba sahaya, atau oportunis. Mau lari kemana pun, kenyataannya perang itu memang benar-benar ada; nyata wujudnya! Kita mungkin masih bisa bersantai-santai ketika saudara di seberang lautan digempur musuh. Namun ketika rumah sudah dikepung lawan, maka yang menyebut dirinya laki-laki haruslah siap melawan. Bahkan perempuan dan anak-anak pun tidak terhalang untuk jihad, jika memang harus. Namun pertempuran bukan hanya di Gaza sana. Di Indonesia pun pertempuran tak kalah sengitnya. Mulai dari perang informasi, perang opini, hingga perang propaganda. Medan perangnya di mana-mana; dari ruang diskusi di kampus sampai di masjid, dari kantor hingga ke kios majalah. Kalau semua melempar tanggung jawab dengan alasan dirinya adalah orang awam, bukan prajurit, maka perang ini akan menjadi sangat mudah bagi lawan. Tapi kalau garis depan peperangan sudah menyentuh pagar rumah, maka semua pun harus angkat senjata. The front line is everywhere! wassalaamualaikum wr. wb. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 4. Satu email perhari: [email protected] 5. No-email/web only: [email protected] 6. kembali menerima email: [email protected] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[email protected] mailto:[email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

