"Di
tengah kutukan akan kekejaman militer Israel terjadi hampir di seluruh
penjuru dunia – malah di Venezuela dan Bolivia, Duta Besar Israel
diusir – tulisan Ulil dan Luthfi sungguh tanpa rasa sungkan sedikit pun".

wajarlah..yg namanya pelacur dmana2 byk yg ga py rasa malu ataupun sungkan, yg 
pnting urusan perut kenyang, mereka akan tetep menjajakan dirinye, ga peduli 
siang, pagi, mlm, ujan2, pokoke jual diri, ga da bedanye ma 'pelacur' 
intelektual dari kalangan liberalis fundametalis :)

kliatan bodohnya khan? hehe..


Kenapa Ulil, Lutfi dan Carter Beda


sejak
perang di Gaza memasuki pekan kedua, kian jelas Israel akan mengulang
apa yang dialaminya dengan Hizbullah di Lebanon pada 2006: kegagalan.
Pendapat seperti itu, antara lain, bisa dibaca dari tulisan Jackson
Diehl, wartawan The Washington Post.


Dalam sebuah artikel berjudul Hard Lesson for Israel (Pelajaran pahit bagi 
Israel) di korannya 9 Januari lalu, Diehl menulis
bahwa tujuan serangan Israel adalah mengurangi kemampuan militer Hamas
secara substansial, dan kemudian memaksa Hamas menyetujui gencatan
senjata dengan berbagai keuntungan buat Israel.

Ternyata
Hamas bisa bertahan. Walau kecil, korban di pihak Israel sudah jatuh.
Lebih dari itu Israel dikecam dunia karena serangannya mengakibatkan
jatuhnya banyak korban sipil – seperti wanita dan anak-anak -- yang
tersiar ke seluruh dunia melalui layar televisi. Citra negeri Yahudi
itu hancur-hancuran..
Maka
akhirnya Israel harus mengumumkan gencatan senjata sepihak dalam
kondisi yang tak memuaskannya. Dan ini terjadi 18 Januari lalu, hanya
beberapa hari sebelum Amerika dipimpin pemerintah baru Barack Obama
yang lebih cerdas, lebih menyukai perdamaian.

Serangan
Israel sejak 27 Desember lalu, memang dilakukan seperti mengejar
setoran, mumpung George Bush masih Presiden Amerika Serikat. Serangan
mengakibatkan puluhan masjid porak-poranda – Israel sengaja mengebom
masjid dengan dalih tempat suci itu dijadikan Hamas ajang penyimpanan
senjata dan amunisi – sejumlah sekolah, termasuk sekolah internasional
Amerika (American International School) dan sekolah PBB (United Nations School),
kantor pers, rumah sakit, berbagai fasilitas umum, rumah-rumah pribadi.
Sekitar 1245 orang Palestina tewas, lebih separuhnya adalah orang
sipil, terutama wanita dan anak-anak. Lebih 5300 orang cedera.
Belakangan
tank Israel malah menembaki markas PBB. Juga dihancurkan fasilitas air
minum dan listrik. Tampaknya Israel ingin menjadkan Gaza yang sekarang
pun sudah amat miskin dan menderita, kembali hidup seperti di zaman
batu. Tanpa fasilitas apa pun. 
Jon Alterman, Ketua Program Timur Tengah di Center for Strategic and 
International Studies (CSIS) Washington, berpendapat serangan dipaksakan Israel 
karena mereka
tak yakin pada reaksi Barack Obama bila serangan dilakukan setelah
Obama dilantik menjadi presiden.
Penasehat politik Obama, David Axelrod, dalam sebuah acara di jaringan televisi 
CBS,
mengatakan Obama akan bekerjasama erat dengan Israel. Negeri itu adalah
sekutu terdekat Amerika di kawasan. ‘’Tapi Obana akan melakukannya
dengan mempromosikan perdamaian, bekerja sama dengan Israel dan
Palestina untuk mencapai tujuan itu,’’ katanya.
Agaknya
Obama harus realistis pada kondisi negerinya. Ekonominya morat-marit
dilanda krisis. Utangnya 11,3 triliun dollar, merupakan yang terbesar
di dunia. Belakangan ada tanda-tanda China mulai enggan membeli
obligasi Amerika Serikat. Selama ini China merupakan negara pembeli
obligasi atau surat utang dari Amerika terbesar – selain negara di
Timur Tengah dan Jepang.
Entah
kemana lagi Amerika Serikat menambah utang bila China dan Timur Tengah
telah menghindar. Padahal program Obama untuk melawan krisis
membutuhkan dana ratusan milyar dollar, antara lain, untuk pembangunan
proyek-proyek infra-struktur.
Dalam
kondisi seperti ini tentu tak realistis Obama memperluas peperangan di
Timur Tengah demi mendukung nafsu Israel, misalnya, dengan menyerang
Iran dan Suriah, dua negara yang konsisten mendukung perjuangan Hamas.
Obama
malah akan menarik tentaranya dari Iraq, sekaligus menciptakan
perdamaian di Timur Tengah, salah satu program yang dijajakannya waktu
kampanye. Artinya, masa-masa Israel merajalela selama 8 tahun
kepemimpinan George Bush agaknya sudah berakhir.

Kelompok Neokon

Israel
memang perkasa secara militer. Dia satu-satunya negara di Timur Tengah
yang memiliki senjata nuklir. Tapi ia adalah sebuah negeri kecil dengan
7 jutaan penduduk yang terkepung oleh negara-negara Arab. Tanpa Amerika
Serikat, Israel bukanlah apa-apa. Tanpa Amerika, Israel sudah kalah
dalam perang Oktober 1973. Dan tanpa bantuan Amerika, Israel tak akan
semaju sekarang.
Buku The Israel Lobby and U.S. Foreign Policy (Farrar, Straus & Giroux, 2007) 
yang ditulis dua akedemisi ternama,
Profesor John Mearsheimer (University of Chicago) dan Profesor Stephen
Walt (Kennedy School of Government, Harvard University) membuat
sinyalemen seperti itu.
Sejak
Perang Oktober 1973, Washington sudah memberi bantuan kepada Israel
sebesar 140 milyar dollar. Tak satu pun negara di dunia yang pernah
diberi bantuan sebesar itu oleh Amerika. Tidak juga negera-negara Eropa
yang menjadi sekutu Amerika Serikat di dalam NATO. Sejak 1976 sampai
sekarang, setiap tahun Amerika memberikan bantuan langsung sebesar 3
milyar dollar, kira-kira seperenam dari keseluruhan budjet bantuan luar
negerinya. Bantuan terus diberikan walau Israel sudah menjadi negara
industri dengan income per capita lebih kurang sama dengan Korea
Selatan atau Spanyol.
Israel
diberi akses informasi ke sejumlah peralatan canggih seperti heli
tempur Blackhawk dan jet F-16. Begitu pula akses intelijen, yang justru
ditutup Amerika untuk sekutu NATO-nya di Eropa. Amerika pura-pura tak
tahu Israel membangun senjata nuklir di Dimona, Gurun Negev, dekat
perbatasan dengan Jordania.
Washington
menjadi pelindung konsisten Israel dalam urusan diplomatik. Sejak 1982,
negeri itu sudah memveto 32 resolusi Dewan Keamanan PBB yang merugikan
Israel. Amerika mengganjal upaya negara-negara Arab untuk memasukkan
senjata nuklir Israel ke dalam agenda badan atom dunia, IAEA. Sikap
Amerika ini sungguh munafik ketika kemudian ia meributkan proyek nuklir
Iran.
Berkat
veto-veto itulah sampai sekarang Palestina tetap menjadi jajahan
Israel. Belakangan pemerintahan Presiden Bush yang dikelilingi kelompok
Neo Konservatif (Neokon), yaitu intelektual Amerika keturunan Yahudi
yang menginginkan Amerika menjadi satu-satunya kekuatan utama dunia,
kalau perlu itu dicapai dengan kekuatan senjata.
Mereka
mempengaruhi Presiden Bush untuk merencanakan peta baru Timur Tengah,
utamanya demi kepentingan strategis Israel. Maka untuk itulah Iraq
dihancurkan, Lebanon dikacaukan, Iran dan Syria menunggu giliran.
Karenanya
tulisan para tokoh Jaringan Islam Liberal (JIL) di internet, seperti
Ulil Abshar-Abdalla dan terutama Luthfi Assyaukanie, lebih terasa
sebagai upaya untuk meningkatkan citra Israel yang terpuruk habis di
mata internasional akibat serangannya yang mengorbankan begitu banyak
manusia tak berdosa di Gaza.
Ulil
misalnya mengingatkan penaklukan dan ekspansi wilayah dengan
pencaplokan melalui aksi militer yang begitu luas yang dilakukan kaum
Muslim pada zaman baheula. Itu terjadi karena Islam sebagaimana halnya
Kristen, menurut Ulil, memiliki watak imperial, misionaris, dan
ekspansif.
Itu
bertolak belakang dengan agama Yahudi. Menurut Ulil, agama ini sama
sekali tak pernah berambisi mendakwahkan agamanya di luar bangsa
Yahudi. Bangsa dan agama Yahudi tak pernah berambisi melakukan ekspansi
wilayah. Ide keyahudian terikat pada wilayah kecil sebagai fondasi
agama itu, yaitu Yerusalem dan kawasan di sekitarnya, yang sama sekali
tak signifikan dibandingkan dengan luasnya wilayah yang dicaplok umat
Islam di zaman lampau.
Jadi
dengan tulisan itu, Ulil mengesankan perlakuan Israel terhadap penduduk
Gaza sekarang adalah wajar karena orang Islam dulu tukang caplok,
ekspansif, misionaris alias ingin menjadikan seluruh ummat manusia
menjadi Islam. Ummat Islam di Gaza sekarang, kiranya di dalam benak
Ulil, harus menerima azab dosa turunan para pendahulunya.
Luthfi
membuat reportase dari kunjungannya ke Israel. Yang ingin dikesankan
dari reportase itu, ummat Islam sama dengan kebodohan, kemiskinan, dan
kusam, sementara orang Yahudi pintar, kaya, dan bersinar.
Di
tengah kutukan akan kekejaman militer Israel terjadi hampir di seluruh
penjuru dunia – malah di Venezuela dan Bolivia, Duta Besar Israel
diusir – tulisan Ulil dan Luthfi sungguh tanpa rasa sungkan sedikit pun.

Khalifah Umar Bin Khatab

Ulil
tak akurat ketika menuduh Islam dan Kristen ekspansif karena watak
agamanya yang misionaris. Padahal yang sesungguhnya terjadi, sejarah
manusia memang penuh peristiwa penaklukan dan ekspansi dimulai zaman
Hannibal atau sebelumnya.
Pelajarilah
sejarah Yunani kuno, Sparta dan Athena, semua penuh peperangan dan
penaklukan, padahal Kristen dan Islam waktu itu belum ada. Romawi
adalah sejarah tentang sebuah imperium. Begitu pula kisah bangsa Mongol
yang menggetarkan dan menakutkan itu. Mereka bukan Islam atau Kristen
tapi mereka ekspansif. Mereka sang penakluk.
Islam
yang datang kemudian, juga melakukan peperangan atau penaklukan daerah
asing. Setelah Rasulullah wafat, para sahabat dipimpin Khalifah Umar
Bin Khattab memperluas wilayah mereka dengan mengalahkan Persia,
Byzantium, dan kemudian Jerusalem.
Tapi seperti ditulis Karen Amstrong, wanita penulis produktif yang mengagumkan 
dari Inggris, di dalam Jerusalem, One City, Three Faiths (Random House, Inc, 
1996), penaklukan yang dilakukan Khalifah Umar atas
Jerusalem terhitung yang paling damai dan minim darah. Begitu penguasa
Kristen di Jerusalem dipimpin Kepala Pendeta Sophronius menyatakan
menyerah, pertempuran pun berakhir.
Tak
ada pembunuhan, tak ada penjarahan, tak ada perusakan properti, tak ada
pengusiran atau perampasan harta, tak ada pembakaran simbol-simbol
agama lawan, dan tak ada pemaksaan terhadap penduduk Jerusalem untuk
memeluk Islam. Seluruh rumah ibadah Kristen atau pun Yahudi aman.
Khalifah
sengaja membangun masjid di dekat Masjidil Aqsa, untuk tak mengganggu
rumah ibadah agama lain. Itulah yang kini dikenal sebagai Masjid Umar.
Dibandingkan dengan penaklukan Jerusalem sebelumnya, menurut Karen
Amstrong, ‘’Islam memulai masanya yang panjang di Jerusalem dengan
sangat baik.’’
Agaknya
setelah mengalami dua kali perang dunia, ada kesadaran para pemimpin
dunia bahwa penjajahan dan penaklukan harus dihapuskan. Maka setelah
Perang Dunia II, negara-negara terjajah, terutama di Asia-Afrika,
memperoleh atau merampas kemerdekaannya.
Saat
ini Palestina merupakan satu-satunya kawasan di dunia yang masih
terjajah. Karenanya pantas Hamas memperjuangkan kemerdekaannya dari
Israel. Dan bangsa Indonesia harus mendukung Hamas karena pembukaan UUD
1945 jelas-jelas bersikap anti-penjajahan dan penindasan.
Ada
pun reportase yang dibuat Luthfi Assyaukanie adalah contoh pekerjaan
jurnalistik yang paling buruk. Ia tuliskan apa yang dia lihat dan
rasakan, tanpa perlu mengetahui apa yang terjadi di balik semuanya.
Karena itu reportasenya gagal menggambarkan apa yang sebenarnya terjadi
di sana.
Kalau Luthfi membaca PALESTINE: Peace, Not Apartheid (Simon & Schuster, 2006) 
ditulis Jimmy Carter, mantan Presiden
Amerika Serikat dan pemenang Nobel Perdamaian 2002, akan tahulah dia
bahwa kemiskinan dan kusamnya permukiman Arab yang dikunjunginya itu
tak lain akibat penjajahan Israel.
Dalam
hal ini, Jimmy Carter pasti lebih layak dipercaya daripada Luthfi.
Soalnya semasa menjadi Presiden Amerika Serikat dan sesudahnya, dia
terus aktif dalam upaya perdamaian Arab-Israel. Carter yang paling
berjasa merealisasikan Perjanjian Camp David, September 1978, yang
mempertemukan Presiden Mesir Anwar Sadat dengan Perdana Menteri Israel
Menachem Begin di meja perundingan. Sedang Luthfi cuma orang yang
berkunjung ke Israel karena undangan.
Menurut
Carter di bukunya, Pemerintah Israel melakukan politik apartheid
terhadap orang Palestina di Gaza, Tepi Barat, dan Jerusalem Timur,
seperti yang terjadi dulu di Afrika Selatan. Negeri itu diduduki,
dirampas, dan dikolonisasikan oleh para pemukim Israel.
Carter mencatat, pertama berdiri di tahun 1948, wilayah Israel hanya 56% dari 
kawasan yang disebut holy land,
antara Jordania dengan Laut Tengah. Sekarang Israel menguasai 77%
kawasan itu. Palestina cuma mendiami sisanya, 23%, termasuk Jalur Gaza
dan Tepi Barat.
Orang
Palestina dari Gaza bila pergi ke Tepi Barat harus melintasi kawasan
Israel sejauh 45 km. Jangan lupa di berbagai lokasi di Tepi Barat
terdapat pula pemukiman-pemukiman Yahudi yang sampai sekarang
dipertahankan Israel.
Bukan
hanya itu. Dengan dalih sekuriti Israel membangun tembok-tembok.
Jalan-jalan mulus tak boleh dilintasi orang Palestina. Yang paling
menderita penduduk Gaza. Selama dua tahun ini Gaza praktis diblokade
Israel, tertutup dari dunia luar. Menurut Carter di bukunya, itu
mengakibatkan kemiskinan meningkat 70%. Busung lapar menyerang Gaza
seperti yang terlihat di kawasan termiskin di dunia saat ini, Sahara
Selatan.
Gaza
diblokade karena di sana ada Hamas. Dan Hamas dimusuhi Israel dan
Amerika Serikat karena mereka memenangkan pemilihan umum Palestina
secara jujur dan adil. Dalam pandangan para pemimpin Amerika Serikat
dan Israel, Hamas tak boleh menang karena mereka “teroris”, sebagaimana
kelompok Hizbullah di Libanon. Aneh, “teroris” ikut pemilihan umum, dan
menang pula.
Bayangkan,
Hamas dan Hizbullah yang memperjuangkan kemerdekaan negerinya dituduh
“teroris”. Berarti di mata mereka ini pejuang kemerdekaan seperti
Pangeran Diponegoro dan Bung Tomo juga “teroris”. 



      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [email protected]
5. No-email/web only: [email protected]
6. kembali menerima email: [email protected]
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke