mudah2an 'anjing-anjing kampung' zionis tobat & kembali ke jln yg benar, yah 
klo ga mau kembali ke jln yg benar, mudah2an segera kembali kpd Allah swt, amin!


Mengapa Kita Tidak Perlu Mendukung Palestina (dan Bantahannya)
http://akmal.multiply.com/journal/item/715



assalaamu’alaikum wr. wb.
 
Konflik di Jalur Gaza belakangan ini memunculkan wacana yang sangat menarik.  
Barangkali
baru sekaranglah orang-orang bisa mengungkapkan pendapatnya secara
lugas, bahkan dengan resiko dikucilkan dari pergaulan sesama Muslim.  Di
Indonesia, sebagian umat Muslim pun tidak canggung untuk menyatakan
ketidaksetujuannya terhadap usaha-usaha mendukung Palestina.  Artikel ini insya 
Allah akan membantahnya dengan cara sebaik mungkin.
 
Hak Historis Bangsa Yahudi

Ini adalah argumen ‘standar’ untuk membenarkan pendirian negara Israel.  Bangsa 
Yahudi senantiasa mengklaim bahwa mereka berhak atas tanah Palestina.  Konon, 
mereka sudah tinggal di negeri itu sejak jamannya Nabi Ya’qub as.  
 
Argumen ini sebenarnya sangat lemah, karena pada jaman Nabi Ya’qub as., agama 
Yahudi belum lagi ada.  Bani Israil adalah nama yang diberikan kepada keturunan 
beliau, namun nama itu baru dikenal setelah masa kehidupannya.  Tambahan
lagi, Nabi Ya’qub as. dan keluarganya bermigrasi ke Mesir secara
sukarela saat Nabi Yusuf as. menjadi bendahara negara pada masa itu.  Karena 
mereka pindah secara sukarela, maka tanah asalnya tentu tak bisa diklaim lagi.  
Lagipula,
kalau yang diklaim adalah peninggalan Nabi Ya’qub as., maka umat Islam
akan merasa lebih berhak, karena di dalam ajaran Islam, pertalian aqidah lebih 
kental daripada hubungan darah.
 
Klaim ‘kepemilikan’ bangsa Yahudi juga tidak jelas.  Andaikan bangsa Yahudi 
memang pernah tinggal di sana, maka mereka bukanlah satu-satunya penghuni 
negeri itu.  Bangsa Romawi dan bangsa asli Palestina pun sudah tinggal di sana 
sejak lama.  Jika
tidak ada hitam di atas putih, maka bangsa Yahudi tak boleh mengklaim
tanah (apalagi seluas satu negara) sebagai miliknya sendiri.  Tambahan lagi, 
jika bangsa Yahudi mengklaim tanah Palestina atas dasar sejarah, maka benua 
Australia dan Amerika pun mesti dikembalikan ke pemilik sahnya, yaitu bangsa 
Aborigin dan Indian.
 
Tanah yang Dijanjikan

Kaum
Zionis mengklaim bahwa tanah Palestina adalah tanah yang dijanjikan
kepada mereka, dan klaim ini juga sering didukung oleh umat Nasrani.  Namun 
memaksakan klaim ini adalah sebuah tindakan pemaksaan agama, karena yang setuju 
hanyalah umat Yahudi dan Nasrani.  Kalau
boleh menguasai suatu wilayah hanya dengan modal ‘janji Tuhan’, maka
umat Islam bisa mengklaim seluruh Bumi, karena Allah SWT telah
mengangkat mereka sebagai khalifah fi al-‘ardh.  Tentu saja, kalau umat Islam 
mengklaim sebuah kota saja dengan alasan demikian, maka pasti akan muncul label 
fundamentalis, radikalis, teroris, atau literalis.
 
Bangsa Tanpa Negeri

Ada juga yang bersikap lebih ‘humanitarian’ dengan mengatakan bahwa
orang-orang Yahudi pada Perang Dunia II terpaksa lari ke tanah
Palestina karena didesak oleh NAZI di Eropa.  Namun kini beredar teori 
konspirasi antara NAZI dan kaum Yahudi Zionis.  Konon,
kaum Yahudi yang pro-Zionisme (yang ketika itu masih minoritas)
bekerjasama dengan NAZI untuk membantai saudaranya sendiri, agar mereka
mau diyakinkan untuk pindah ke ‘tanah yang dijanjikan’.  Namun dengan 
mengabaikan teori konspirasi ini, argumennya masih saja lemah.
 
Orang yang lari karena negerinya dilanda konflik adalah pengungsi.  Atas nama 
kemanusiaan, umat Islam pasti akan menerima warga pengungsi dengan tangan 
terbuka.  Sebuah
Masjid di Perancis dikenal telah memberikan perlindungan kepada warga
Yahudi pada Perang Dunia II, dan masih banyak contoh lainnya.  Jika statusnya 
adalah pengungsi, insya Allah Palestina akan menerima dengan tangan terbuka 
(walau perlu
dipertanyakan : apa iya tidak ada negara lain yang lebih dekat untuk
tempat berlabuhnya para pengungsi?).  Tapi layaknya pengungsi yang baik, 
setelah negerinya damai kembali, hendaknyalah kembali ke rumah masing-masing.  
Dalam
kasus Palestina, ‘para pengungsi’ malah semakin kurang ajar, menembaki
warga tuan rumah, dan berusaha mendirikan negara di dalam negara.  Karena itu, 
kita tidak perlu lagi memandang kaum Zionis dengan pandangan penuh iba sebagai 
pengungsi yang tak punya tanah air.  Eropa dan AS membuka pintu lebar-lebar 
kepada mereka, mengapa harus di Palestina?
 
Perang Antar Negara, Bukan Agama

Kalau dikatakan perang antar agama (yaitu antara Islam dan Yahudi), nampaknya 
memang tidak.  Rasulullah saw. sendiri tak pernah mengobarkan perang dengan 
umat Yahudi secara keseluruhan.  Umat Yahudi pun terbelah dua dalam menyikapi 
Zionisme Internasional ; ada yang pro dan ada yang kontra.
 
Namun sebutan ‘perang antar negara’ pun sangat ceroboh, karena statement ini 
mesti didahului dengan pengakuan terhadap Israel sebagai sebuah negara yang 
sah.  Padahal,
kasus yang terjadi adalah penjajahan Palestina oleh Inggris, kemudian
Inggris secara sepihak memberikan sebidang tanah kepada kaum Zionis.  Kaum
Zionis kemudian menerima bantuan dari berbagai negara, termasuk
senjata, kemudian mulai mengobarkan peperangan dengan Palestina.  Inilah fakta 
yang dengan susah payah berusaha dikaburkan oleh sebagian pihak.
 
Bagaimanapun,
jika dikatakan bahwa ini adalah perangnya warga Palestina, dan bukan
perangnya umat Islam, maka orang yang berkata demikian telah cacat aqidah-nya.  
Islam tidak mengenal garis perbatasan negara.  Selama masih Muslim, maka ia 
adalah saudara kita ; senasib dan sepenanggungan.  Membela
umat Muslim yang ditindas adalah kewajiban kita semua, karena
Rasulullah saw. menjelaskan bahwa kita adalah bagaikan satu tubuh.  Tidak ada 
pengecualian.  Mereka
yang tidak ‘gerah’ menyaksikan penderitaan umat Islam di Palestina
sebaiknya mulai mengkhawatirkan kondisi keimanannya sendiri,
kalau-kalau dalam waktu dekat akan dipanggil Allah SWT.
 
HAMAS yang Memulai

Sebagian orang berkata bahwa HAMAS-lah yang merusak gencatan senjata dengan 
menyerang duluan.  Cukup
mengherankan melihat betapa banyak orang menggarisbawahi ‘pelanggaran
gencatan senjata’ kali ini (andaikan memang itu yang terjadi),
sementara mereka dulu diam sejuta bahasa ketika kaum Zionis berulang
kali melanggar perjanjian.  Namun dalam menanggapi masalah apa pun, hendaknya 
diingat bahwa dalam kasus Palestina yang terjadi adalah pencaplokan wilayah.  
Tentunya kaum pejuang bebas menyerang penjajah kapan pun mereka bisa.  Bangsa 
Indonesia harusnya tahu betul tentang itu.
 
Yang Dekat Duluan
Ada juga yang dengan tidak tahu malunya berkata, “Ngapain urus Palestina, 
mending urus saudara di Indonesia dulu?”  Secara prinsip memang benar, yang 
dekat lebih prioritas untuk diurus.  Namun menentukan prioritas bukan hanya 
dengan mempertimbangkan faktor jarak.  Dalam buku Fikih Prioritas, Syaikh Yusuf 
al-Qaradhawi telah memaparkan panjang lebar mengenai hal-hal yang
mesti dipertimbangkan sebelum menentukan skala prioritas.  Misalnya, jika ada 
tetangga yang miskin, tentu ia lebih berhak untuk kita sedekahi.  Akan tetapi 
jika ada warga di kota lain yang terancam nyawanya, sementara tetangga kita 
bisa menunggu
sebentar, maka tentu yang lebih gawat urusannyalah yang harus
didahulukan.
 
Kontradiksinya akan kelihatan jelas di lapangan.  Mereka yang menggunakan 
pernyataan di atas biasanya hanya menghindar dari kewajiban.  Mereka bilang 
lebih baik mengurus yang dekat, padahal yang dekat pun tak pernah mereka urusi. 
 Dalam
acara debat di sebuah stasiun televisi, sangat menggelikan melihat
sebuah parpol menyuruh parpol lain agar jangan fokus ke Palestina, dan
lebih baik mengurusi warga Indonesia dahulu.  Padahal
parpol yang dikritiknya itu adalah parpol yang paling rajin menggelar
aksi sosial, baik untuk urusan umat di dalam negeri maupun umat di luar
negeri.  Parpol yang mengkritik justru jarang kelihatan aksinya ; di dalam dan 
di luar negeri.  Demikian pula jika ada orang yang menggunakan argumen serupa, 
sebaiknya dikembalikan pada mereka : “Apa yang sudah antum perbuat untuk 
saudara-saudara antum di dalam negeri?”.  Faktanya, dalam hal aksi sosial, yang 
terjadi adalah 4L (lu lagi, lu lagi).  Yang mengurusi musibah di Aceh, 
Sidoarjo, dan Palestina, biasanya yang itu-itu juga orangnya.  Dan yang 
bermalas-malasan dan mengajukan seribu pembenaran untuk tidak berbuat apa-apa 
biasanya juga yang itu-itu saja.
 
Eksploitasi Isu Untuk Kampanye

Sebenarnya
ketimbang mempertanyakan mengapa demo mendukung Palestina yang diadakan
oleh PKS 2 Januari yang lalu itu banyak menggunakan atribut PKS, lebih
baik mempertanyakan kemana perginya parpol-parpol lain yang kocek-nya jauh 
lebih tebal?  Parpol-parpol yang sanggup pasang iklan di televisi dengan durasi 
dan pengulangan yang sangat banyak di prime-time seharusnya merasa malu dengan 
kecilnya sumbangan mereka dalam masalah Palestina.
 
Melarang atribut parpol untuk digunakan dalam kampanye mendukung Palestina pun 
cenderung tidak masuk akal.  Atribut adalah identitas, dan fungsinya untuk 
membedakan..  Memang
perlu menunjukkan siapa yang berdemonstrasi, karena berjamaah selalu
memiliki kekuatan politis yang lebih kuat daripada bergerak
sendiri-sendiri.  Dengan menggunakan atributnya,
para kader PKS seolah mengatakan, “Hei, di Indonesia ada sebuah partai
besar yang tidak rela dengan kelakuan Zionis!  Jangan main-main!”.  Statement 
itu bertambah kuat dengan munculnya kesan solid yang ditampilkan oleh para 
pendemo.  Jika seluruh parpol, lembaga dakwah, harakah, dan ormas lainnya mau 
berdemo dengan atributnya masing-masing, maka alangkah dahsyat kesan yang 
ditimbulkannya di media massa.  Lain
dengan demonstrasi yang dihadiri oleh para demonstran bayaran, yang
entah datang dari mana, entah dari organisasi apa, entah pakai atribut
apa, dan entah bagaimana akhlaq-nya.
 
wassalaamu’alaikum wr. wb.



      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [email protected]
5. No-email/web only: [email protected]
6. kembali menerima email: [email protected]
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke