Refleksi: Dirgakayu NKRI!
http://kabarindonesia.com//berita.php?pil=26&dn=20090124193613
Daerah
Hopong, Desa Paling Terbelakang di Sumut
Oleh : Drs Mayjen Simanungkalit
25-Jan-2009, 00:40:30 WIB - [www.kabarindonesia.com]
KabarIndonesia - Percaya atau tidak, inilah fakta mencengangkan di usia
64 tahun kemerdekaan RI. Tanpa kita sadari, ternyata masih ada desa di negeri
ini yang belum pernah menikmati penerangan listrik dan penduduknya tak pernah
menonton siaran televisi.
Tak percaya? Datang saja ke Desa Hopong, Kecamatan Simangumban, Kabupaten
Tapanuli Utara (Taput). Desa ini boleh jadi merupakan desa paling terbelakang,
paling terisolir, paling terpencil, paling miskin dan paling tertinggal di
Taput, atau mungkin di Provinsi Sumatera Utara (Sumut).
Jika penilaian ini dirasakan terlalu mengada-ada, anda boleh tanya Torang
Lumban Tobing (Toluto), Bupati Taput. Bahkan Sekdaprovsu, Drs. RE Nainggolan
MM, mantan Bupati Taput, pasti mengakui hal itu. Juga Kabag Perlengkapan Pemkab
Deli Serdang, Rusdi Ritonga SH tak akan bisa membantahnya, sebab dia pernah
bertugas sebagai Camat di daerah itu ketika Hopong masih termasuk wilayah
Kecamatan Pahae Jae sebelum mekar menjadi Kecamatan Simangumban.
Apakah pemerintah tak tahu fakta ini? Bukankah Provinsi Sumut telah
memiliki APBD sebesar Rp 3,5 triliun? Mengapa masih ada warga Sumut seperti di
desa Hopong tak pernah menonton televisi?
Entahlah. Tapi ini adalah fakta tak terbantahkan. Desa Hopong berpenduduk
45 kepala keluarga itu masih tertinggal dalam berbagai hal. Rakyat di Hopong
masih lapar, masih sakit, masih bodoh, dan belum memiliki masa depan. Suatu
tantangan bagi Gubsu, H. Syamsul Arifin Silaban SE untuk merealisasikan visi
dan misinya sampai ke desa Hopong.
Hopong terletak di celah bukit barisan Taput, yang berjarak sekitar 14 KM
dari pekan Simangumban. Jarak kota Medan-Hopong lebih kurang 355 KM, dapat
dilalui lewat rute perjalanan Medan-Tarutung-Pahae Jae-Simangumban-Hopong.
Jalan Kaki
Di Hopong tidak ada Puskesmas, jika sakit mereka berobat ke dukun. Di
Hopong tidak ada Sekolah Dasar sampai kelas enam. SD Negeri di sana hanya
sampai kelas lima, dengan tenaga guru hanya dua orang saja.
Maka jika akan menamatkan pendidikan tingkat SD saja, anak desa itu harus
berangkat ke kota. Jangan heran, di sana tak laku wajib belajar, banyak anak
putus sekolah.
Warga Hopong tidak memiliki masa depan, tak tahu perkembangan dunia luar.
Desa itu gelap gulita di malam hari. Maka jangan bayangkan di desa itu ada
pesawat televisi, atau seterika maupun rice cooker. Di sana hanya ada kegelapan
dan suara jangkrik bersama kicau burung hantu yang setia menanti terbitnya
fajar. Jika pukul 20.30 WIB sudah tiba, setelah shalat Isya di masjid tua yang
terletak di ujung desa, tak ada lagi kesibukan warga. Semua penduduk sudah
mengunci pintu rumah, mendengkur hingga fajar terbit.
Hopong dapat dilalui dari dua jalan. Pertama, dari desa Padang
Mandailing, Kecamatan Saipardolok Hole, Tapsel. Tapi melalui jalan setapak
menembus hutan belantara di lereng bukit barisan. Jalan yang paling dekat
adalah melalui pekan Simangumban. Jaraknya tidak kurang dari 14 KM. Jika mau ke
pekan membeli garam dan keperluan rumah tangga, warga desa harus jalan kaki.
Kondisi jalan terjal dan jika musim hujan menjadi kubangan lumpur.
Pemerintah tak pernah membangun jalan desa. Kalaupun pernah diratakan
dengan buldozer saja, dan itu hanya untuk kepentingan mafia kayu yang mencoba
berpraktek illegal logging.
Jalan berlumpur ini memang sesekali dapat dilalui kenderaan roda empat
yang oleh penduduk disebut "Mobil Perang". Yakni kendaraan jeep bergardang dua
yang hari pekan (Senin) turun mengantar hasil pertanian penduduk. Tapi warga
takut, karena korban berjatuhan, mobil danga-danga itu sering terjun ke jurang.
Jika pun nekad dengan nyawa cadangan menaiki "Mobil Perang", jaraknya tak jauh.
Hanya sampai ke dusun Lumban Garaga, atau sekitar 5 KM dari pekan Simangumban.
Dari pekan Simangumban sampai dusun Lumban Garaga, jalannya pernah dikeraskan.
Tapi, kini hancur tak pernah dirawat.
Dari segi administrasi, Hopong adalah bagian dari Desa Dolok Sanggul,
Kecamatan Simangumban. Desa ini memiliki 4 dusun, yakni Lumban Garaga,
Hapundung, Panongkalan dan Hopong. Namun kawasan ini lebih populer disebut
sebagai desa Hopong.
Sudah Pasrah
Pemkab Taput sepertinya belum membuka mata untuk membuka terisoliran desa
ini. Upaya membangun jalan desa agar dapat dilalui kendaraan roda empat sama
sekali belum ada tanda-tanda. Isyarat untuk menyambung jaringan listrik juga
belum ada.
Warga desa juga sepertinya sudah pasrah, atau bisa jadi tak menyadari
kondisi yang mereka hadapi adalah sebuah masalah besar dalam negara yang sudah
memproklamirkan kemerdekaan. Dinas Pertambangan dan Energi (Pertamben) Sumut,
juga tak ada program untuk membangun jaringan listrik tenaga surya di Hopong.
Padahal, jika saja listrik tenaga surya disumbangkan untuk desa Hopong, akan
besar manfaatnya bagi kemajuan daerah itu. Sepertinya tahun depan, sudah wajar
Dinas Pertamben Sumut membangun listrik tenaga surya di Hopong, seperti yang
pernah sukses dibangun di desa Paluh Manan, Kecamatan Hamparan Perak, Deli
Serdang. Dananya menggunakan APBDSU tahun 2007 silam.
Dinas Tarukim Sumut juga demikian, perlu turun tangan membantu sarana
pemukiman di desa itu. Karena sebagai bagian dari NKRI, Hopong pantas dibantu.
Desa itu tidak akan berubah jika Pemerintah khususnya Pemprovsu turun tangan.
Berharap bantuan Pemkab Taput, sama saja pungguk merindukan bulan. Sia-sia dan
percuma.
Dari segi infrastruktur jalan, Pemprovsu juga perlu memikirkan pembukaan
jalan ke desa itu agar tidak terisolir. Baik dalam bentuk program Bantuan
Daerah Bawahan (BDB) maupun bantuan lain, yang bertujuan mengatasi
keterisoliran desa Hopong.
Dilihat dari potensi daerah, desa Hopong adalah mutiara terpendam. Areal
yang luas dan masih perawan, berpotensi dikembangkan menjadi daerah perkebunan.
Daerah Hopong adalah kawasan subur yang dikelilingi bukit barisan. Sejak dahulu
sampai sekarang, daerah itu adalah penghasil kemenyan, kopi dan karet di Taput.
Kondisi desa yang terisolir dengan tertutupnya akses ke dunia luar,
menjadi faktor utama membuat desa itu terbelakang. Maka, jika ingin membangun
Hopong menjadi daerah maju seperti daerah lain di Indonesia, kuncinya adalah
membangun jalan ke desa itu.
Jika sarana jalan sudah bagus, tidak akan ada lagi durian membusuk di
pohonnya, cabe dan tomat mubazir karena tak dapat diangkut ke pasar. Dengan
lancarnya transportasi, diharapkan tak ada lagi alasan bagi guru-guru SD di
desa itu untuk tidak bertugas.
Warga berharap, sebelum kiamat tiba, kenderaan roda empat dapat parkir
mulus di halaman desa Hopong. Maka satu upaya untuk itu, pemerintah diharapkan
segera membangun jalan ke desa Hopong, guna membuka keterisoliran wilayah itu.
Semoga.
***
Catatan : Mayjen Simanungkalit
[Non-text portions of this message have been removed]