http://www.tnial.mil.id/tabid/61/articleType/ArticleView/articleId/1264/Default.aspx
*BIOGRAFI LAKSAMANA MUDA JOHN LIE: MEMENUHI PANGGILAN IBU PERTIWI* *Kepala Staf Angkatan laut (Kasal) Laksamana TNI Tedjo Edhy Purdijatno, SH*yang diwakili Inspektur Jenderal dan Perbendaharaan Angkatan Laut (Irjenal) Laksamana Muda TNI Moch. Sunarto, SE menjadi pembicara pada Peluncuran Buku Biografi Laksamana Muda John Lie, Memenuhi Panggilan Ibu Pertiwi dan Seminar bertema Nilai-Nilai Kepahlawanan John Lie, dengan Makalah berjudul: "Laksamana Muda TNI (Purn) Jahja Daniel Dharma / John Lie Berjuang Dengan Keyakinan" yang diselenggarakan di Auditorium Nurcholis Madjid, Universitas Paramadina, Jakarta, Rabu (04/02). Kasal, sebagaimana disampaikan oleh Irjenal, menyampaikan bahwa Bangsa dan Negara Indonesia memerlukan para pejuang, entah dari mana dia berasal, dari golongan apa, dari agama apa dan dari etnis apa. Bangsa ini telah berikrar bahwa dengan "Bhinneka Tunggal Ika", bangsa Indonesia akan mampu keluar dari segala kesulitan, mampu menghadapi segala tantangan serta mampu menjunjung tinggi kehormatannya untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan menuju masyarakat adil dan makmur berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Laksda TNI John Lie merupakan salah satu dari pejuang-pejuang TNI AL yang telah turut memberikan sumbangsihnya secara ikhlas, penuh dedikasi dan tanpa mengharap pamrih apapun demi tetap tegaknya kedaulatan NKRI sejak masa Perang Kemerdekaan 1945-1949 hingga masa mempertahankan keutuhan NKRI 1950-1959. Di masa Perang Kemerdekaan, John Lie, mantan pelaut Maskapai Pelayaran Kolonial Belanda KPM (Koninklijke Paketvaart Maatschappij), dengan menggunakan kapal motor cepat bernama "The Outlaw" telah dengan gagah berani menembus blokade laut yang dilakukan AL Belanda di sekitar perairan Selat Malaka. Antara kurun waktu 1947 hingga 1949, John Lie berhasil memasok sejumlah besar senjata, amunisi dan obat-obatan ke para pejuang dan rakyat di Sumatera. Berkat keberaniannya tersebut, "The Outlaw" dijuluki Radio BBC Inggris "The Black Speedboat" karena kemampuannya beroperasi di malam hari tanpa penerangan dan tidak pernah tertangkap Belanda. Kiprah John Lie tidak sebatas masa Perang Kemerdekaan, namun hingga masa konsolidasi pun tetap melaksanakan tugasnya sebagai prajurit TNI AL yang Pancasilais dan Saptamargais dengan turut mengatasi sejumlah pemberontakan di beberapa daerah, seperti RMS di Maluku, Darul Islam di Jawa barat, PRRI di Sumatera dan Permesta di Sulawesi. Pengabdian dan kepahlawanan John Lie atau dikenal juga Jahja Daniel Dharma itulah yang diangkat dalam buku biografi yang ditulis oleh M. Nursam dan dalam seminar tentang nilai-nilai kepahlawanannya tersebut. Harapannya, buku biografi Laksda John Lie dapat kian memperkaya khasanah referensi mengenai jasa dan pengabdian luar biasa dari para pahlawan bangsa, khususnya pejuang TNI AL, sehingga dapat menjadi pembangkit semangat bagi generasi muda untuk meneruskan jejak langkah mereka dalam memberikan darma-bhakti yang terbaik bagi bangsa dan negara Indonesia. Kegiatan Peluncuran Buku dan Seminar terselenggara atas kerjasama Universitas Paramadina dengan Yayasan Nation Building (Nabil). Acara dihadiri oleh sejumlah pejabat TNI AL, mantan Kasal Laksamana TNI (Purn) Waloeyo Soegito dan Laksamana TNI (Purn) Bernard Kent Sondakh, tokoh-tokoh masyarakat, Ketua Legiun Veteran RI Letjen TNI (Purn) Rais Abin dan beberapa anggota LVRI, staf Departemen Sosial RI dan LSM demikian dikatakan lebih lanjut oleh Kadispenal, Laksma TNI Iskandar Sitompul. Demikian berita Dinas Penerangan Angkatan Laut. [Non-text portions of this message have been removed]

