orang liberal lg bingung jd diem aje, soale percume komentar, kagak ada tv & 
koran yg mau nampung ocehannye, kagak laku siy, abis bukan FPI yg bikin 
kekacauan hehe..


FPI: Kemana Suara Kaum Liberal dalam Kekerasan?



Hidayatullah.com--Meninggalnya Ketua DPRD Sumatera Utara (Sumut) Abdul 
AzizAngkat membuat Front Pembela Islam (FPI) ikut berkomentar. Peristiwa
kekerasan yang terjadi seusai Sidang Paripurna DPRD Sumut membuat FPI
bertanya-tanya.
Wakil
Ketua Bidang Dakwah FPI, Awit Masyhuri mempertanyakan bagaimana
keseriusan pemerintah, polisi, wartawan serta aktivis liberal yang
biasanya sangat lantang melawan kekerasan.
"Kami mengecam tindakan itu, dan seharusnya pemerintah segera menangkap pelaku 
beserta pemimpin aksi," ujar Awit kepada www.hidayatullah.com saat dimintai 
pendapat terhadap kasus ini.
Sikap
FPI ini didasarkan pada berbagai tindakan dan "tekanan" dan
diskriminasi berbagai kalangan; termasuk pers, polisi dan pihak asing
jika yang melakukan aksi-aksi adalah FPI. "Pemerintah dan polisi
harusnya berlaku adil dalam menegakkan hukum," ujarnya.
"Coba Anda bayangkan, jika yang melakukan itu FPI, dunia bisa geger.
Semua TV bisa melakukan ekspos khusus, bahkan presiden dan polisi bisa
langsung membubarkan ormas-ormas Islam, " ujarnya. "Ingat, ketika itu,
presiden bertindak cepat dengan mengatakan, Negara tak boleh kalah
dengan kekerasan, " tambah Awit.
Menurut Awit,  hanya satu anak liberal patah hidung sedikit,  FPI,
bisa dianggap anti-Pancasila dan meresahkan NKRI. Tapi ini menewaskan
Ketua DPRD tak ada pemimpinnya yang ditangkap dan penggerebakan massal
yang melibatkan ribuan polisi.
Sebagaimana
diketahui, Minggu 1 Juni 2008 tahun lalu, bentrokan antara massa Front
Pembela Islam (FPI) dan Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan
Berkeyakinan (AKKBB), membuat ribuan media nasional dan asing bertindak
cepat. 
Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengecam aksi kekerasan dan pelaku
kekerasan serta langsung mengadapat rapat koordinasi mendadak. Ia
mengatakan, tidak boleh ada kekerasan di negara yang berlandaskan
hukum. Karena itu, Presiden minta hukum ditegakkan dengan memberi
sanksi secara tepat. Ada kata-katanya yang sangat menarik, Negara tidak
boleh kalah dengan aksi kekerasan, ujarnya.
"Negara
tidak boleh kalah dengan perilaku kekerasan. Negara harus menegakkan
tatanan yang berlaku untuk kepentingan seluruh rakyat Indonesia," ujar
Presiden dalam jumpa pers, Senin, 2 Juni 2008 di Kantor Presiden.
Kutipan
itu diulang juru bicara kepresidenan, Andi Malarangeng. "Negara tidak
boleh kalah terhadap kekerasan dari manapun. Ini negara hukum, bukan
kekerasan," kutip Andi sebagaimana disampaikan kepada para wartawan di
depan gedung Bina Graha Sekretariat Negara Jalan Veteran, Selasa
(3/6/2008).
Esoknya, hari Rabo, sekitar 2000 aparat polisi dengan senjata lengkap mengepung 
markas Front Pembela Islam (FPI)  di
Jalan Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Selain melakukan
penggeledahan, polisi membawa sedikitnya 39 anggota FPI yang diduga
melakukan tindak kekerasan di Monas dan menahan Habib Rizieq Shihab. 
Yang
juga dipertanyakan Awit, hingga saat ini tak ada suara pakar terutama
aktivis liberal berteriak-teriak sama mengatakan bahaya kekerasan dalam
demo di DPRD Sumut. "Kemana suaramu wahai kaum liberal yang selama ini
sangat berteriak-teriak dan anti kekerasan?" tambahnya. 
[cha/www.hidayatullah.com]



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke