http://www.ranesi.nl/arsipaktua/indonesia060905/sby_mega_sultan20090206 <http://www.ranesi.nl/arsipaktua/indonesia060905/sby_mega_sultan20090206\ >
ABS: SBY Bukan Hanya Hadapi Mega Sultan ABOEPRIJADI SANTOSO 06-02-2009 SBY Bukan Hanya Hadapi Mega Sultan <http://download.omroep.nl/rnw/smac/cms/tossi_abs_20090206_44_1kHz.mp3> Hampir sepekan sejak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memperingatkan adanya kampanye ABS, "Asal Bukan S", empat mantan pimpinan angkatan kemarin menegaskan bahwa TNI tetap netral. Upaya meredam isu ABS ini menunjukkan, TNI masih mencemaskan elit perwiranya terpolitisasi. Isu ABS itu sendiri mengisyaratkan kristalisasi tiga kubu politik: SBY, Mega dan Wiranto-Prabowo. [ABS_AFP-SBY-Wir-July-_200jp.jpg] Mantan panglima TNI Jenderal purnawirawan Endriartono Sutarto mengeluarkan pernyataan keempat mantan pimpinan angkatan tersebut, hanya sehari setelah menyatakan hal yang sama kepada Radio Nederland. TNI tetap netral dan netralitas itu final. Artinya, korps militer tidak akan membiarkan dirinya digiring, digoyang, untuk mendukung jenderal purnawirawan mana pun dalam pemilu. Menurut Endriartono, peringatan SBY kepada ABS membawa pesan yang sama, yaitu TNI tidak boleh dipermainkan. Namun banyak mantan perwira tinggi mengkritik pernyataan SBY. Soal ABS tak perlu diangkat, seharusnya presiden cukup memerintahkan Panglima TNI agar menindak kelompok ABS, komentar Sutiyoso senada Endriartono, sebab, TNI tak boleh menjadi ajang politik. Saurip Kadi menyebut permainan SBY "kuno", tak pantas lagi pada saat TNI telah direformasi. "Bodoh apabila SBY menganggap isu ABS itu serius," ujar Endriartono, karena itu, menurut pendapatnya, SBY hanya mengingatkan akan sesuatu yang tak ada. Kelompok ABS Maka, jelas yang dimaksud dengan 'S' dalam ABS adalah Presiden SBY. Anehnya, para mantan perwira itu menyangkal adanya kelompok ABS yang bertekad mencegah SBY terpilih kembali. Kalau demikian, mengapa SBY dengan pesona dramanya perlu menunjuk adanya ABS? Lagi pula, bukankah sudah menjadi tradisi retorika pimpinan negara, TNI dan Angkatan Darat untuk memperingatkan agar TNI netral. SBY sering menyatakan itu, begitu pula Endriartono. Endriartono yang menjabat panglima TNI semasa isu hak pilih anggota TNI ramai, menganjurkan agar penggunaan hak itu ditunda, karena menurutnya TNI belumlah siap. Kalau Soeharto dulu akhirnya terancam dan harus berhadapan dengan ABRI, kini hal itu dapat terulang dengan SBY, tapi sekarang TNI tak mudah bermain politik karena sebenarnya tak boleh. Dengan kata lain, TNI belum juga mampu mempercayai perwiranya sendiri untuk berpolitik tanpa mengajak atau memanfaatkan korps dan anggotanya yang aktif. Wiranto semasa jadi capres Golkar tahun 2004 memakai truk truk TNI untuk berkampanye. Sekarang, lebih dari semua itu, ada kelompok mantan perwira yang ingin menggantikan SBY melalui pemilu. Krisis partai [megawati] Sebuah sumber Radio Nederland memastikan sekitar dua minggu lalu sebuah kelompok Pepabri, pertama kali, mempertemukan capres Partai Hanura, Wiranto, dan mantan Letjen Prabowo Subianto, capres Partai Gerindra yang pada 98 dipecat Wiranto. Ada sepakat antara keduanya, demikian sumber tadi, jika Hanura menang, Prabowo dan Gerindra akan membantunya, dan sebaliknya jika Gerindra menang, Wiranto dan Hanura akan mendukung Prabowo. Hanura sudah kehabisan dana kampanye, sedang Gerindra kabarnya duitnya berlimpah berkat saham-saham Prabowo dan kakaknya, Hashim, di perminyakan di Kazakhstan. Prabowo tidak popular di dalam TNI, sedangkan Wiranto lebih mantap dan organisasi partainya lebih rapi. Wiranto dan Prabowo keduanya memiliki cacat cacat HAM yang serius, namun banyak sektor bakal mendukungnya, karena kharisma dan isu-isu populistisnya Gerindra. Permadi, mantan tokoh PDI-P, malah menganggap Prabowo itu "Sukarno kecil". Maka, aliansi Hanura-Gerindra pasca pemilu April dapat mengubah peta politik Pilpres Juli mendatang. SBY yang semula menghitung Megawati dan Sultan Hamengku Buwana X, sekarang harus menimbang Wiranto-Prabowo. Krisis kepemimpinan Golkar memberi peluang kepada semua pihak untuk menggandeng tokoh pilihannya dari Golkar. Megawati yang ketika kalah pilpres 2004 menangis tersedu-sedu di dada seorang jenderal, kini bertekad menggusur SBY dari istana. Tekat yang sama dengan Wiranto dan Prabowo. Dikeroyok PDIP dan ABS,SBY boleh jadi makin memerlukan Golkar, seperti Jusuf Kalla memerlukan SBY di kala Golkar sedang krisis. [Non-text portions of this message have been removed]

