> LAPORAN DARI WASHINGTON DC
> Obama Kutip Hadist Nabi Muhammad
> Sabtu, 07 Februari 2009, 09:11:46 WIB
> 
> 
> Laporan: Teguh Santosa
> 
> 
>      
> Washington DC, myRMnews. Tidak ada seorang pun diantaramu
> yang beriman sampai dia mendoakan saudaranya seperti ia
> mendoakan dirinya sendiri. 
> 
> Salah satu hadist Nabi Muhammad SAW seperti yang
> diriwayatkan Imam Al Bukhari itu dikutip Presiden Amerika
> Serikat Barack Hussein Obama, Jr. saat memberikan sambutan
> pada National Prayer Breakfast di Hotel Hilton, Washington
> DC, Kamis pagi (5/2) atau Rabu dinihari WIB (6/2). 
> 
> Dengan mengutip hadist ini Obama hendak menegaskan kembali
> keyakinannya bahwa tak ada satu agama pun yang menjadikan
> kebencian sebagai inti dari ajarannya, serta tidak ada Tuhan
> yang memperbolehkan umat-Nya menghabisi hidup manusia lain. 
> 
> Obama mengajak para pemuka agama dan tokoh bangsa serta
> politisi dari berbagai negara yang menghadiri National
> Prayer Breakfast itu untuk tetap mengingat bahwa kebencian
> dan konflik yang terjadi di era modern ini seringkali
> diakibatkan oleh kesalahan dan kekeliruan dalam membaca dan
> memahami teks kitab suci. Seringkali pula agama dan ajaran
> agama dijadikan alasan suci yang tak terbantahkan untuk
> melakukan kekerasan kepada kelompok lain. 
> 
> Semua agama, sebut Obama, baik Islam, Kristen, Yahudi,
> Hindu dan Budha, Konghucu, maupun penganut ajaran kemanusian
> memiliki hukum emas (Golden Rule) yang sama, yakni mengajak
> para pemeluknya untuk mencintai dan menghargai sesama
> manusia. 
> 
> "Apapun yang kita pilih sebagai keyakinan kita,
> marilah kira mengingat bahwa tidak ada agama yang menjadikan
> kebencian sebagai inti dari ajarannya," ujar Obama. 
> 
> Wakil Presiden Jusuf Kalla, Ketua PP Muhammadiyah Din
> Syamsuddin dan mantan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN)
> Syarif Hidayatullah, Azyumardi Azra, termasuk di antara
> sekitar seribu tokoh agama dan politisi yang diundang
> menghadiri kegiatan itu. 
> 
> Kehadiran Obama yang baru belasan hari memimpin negeri
> adidaya ini dalam NPB pertama yang diadakan di masa
> pemerintahannya sempat simpang siur. Maklumlah, saat ini
> Obama tengah menghadapi saat-saat yang terbilang genting di
> awal pemerintahannya. 
> 
> Setidaknya, empat dari kandidat menteri yang diusulkannya
> kepada Kongres AS terganjal kasus korupsi dan pengemplangan
> pajak di masa lalu. Sementara rancangan stimulasi ekonomi
> yang diusulkannya ke Kongres mendapat perlawanan ketat dari
> kubu Republikan walau akhirnya disetujui pada hari Jumat ini
> waktu setempat (6/2) atau Sabtu dinihari WIB (7/2) . 
> 
> Namun akhirnya Obama menyempatkan diri untuk hadir dan
> memberikan sambutan dalam kegiatan yang telah menjadi
> tradisi sejak puluhan tahun silam. National Prayer Breakfast
> diselenggarakan setiap hari Kamis pertama bulan Februari.
> Dalam kesempatan ini, para pemimpin Amerika duduk bersama
> untuk memanjatkan doa agar negeri itu dapat menghadapi
> berbagai persoalan yang menghadang mereka. Beberapa tahun
> terakhir, tokoh agama dan politisi dari berbagai negara pun
> dilibatkan dalam kegiatan ini. 
> 
> Seperti biasa, senyum Obama mengembang saat memasuki ruang
> pertemuan. Obama melambaikan tangannya ke arah peserta.
> Perhatiannya sempat berhenti saat melihat Wapres Jusuf Kalla
> yang berdiri di barisan depan, di meja nomor 4. Kalla pun
> melambaikan tangan ke arah Obama. 
> 
> Kehadiran Kalla dalam National Prayer Breakfast ini menjadi
> istimewa karena dia adalah tamu negara pertama yang diterima
> oleh pemerintahan Obama. Sehari sebelumnya, Jusuf Kalla
> mengadakan pertemuan dengan Wapres AS Joe Biden di West
> Wing, White House, Washington DC. Dalam pembicaraan tersebut
> Joe Biden berkali-kali mengatakan betapa Obama baik secara
> pribadi maupun sebagai presiden Amerika Serikat memberikan
> perhatian luar biasa kepada Indonesia dan peranannya di
> panggung politik internasional. Bukan saja karena Indonesia
> adalah negara berpenduduk Muslim terbanyak di dunia, namun
> juga karena dalam satu dekade terakhir Indonesia berhasil
> menempatkan diri sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di
> dunia setelah AS dan India. Dunia internasional pun
> diharapkan dapat belajar dari pengalaman berharga yang
> dimiliki Indonesia dalam menghadapi konflik dan kekerasan
> komunal di sejumlah daerah di Indonesia. 
> 
> Jusuf Kalla pun diberi kesempatan menjadi pembicara kunci
> dalam santap siang yang dilakukan sehari sebelum National
> Prayer Breakfast (4/2). Dalam pidatonya, Jusuf Kalla membagi
> cerita mengenai pekerjaan besar Indonesia menghadapi dan
> menyelesaikan konflik secara damai di sejumlah daerah. 
> 
> Tafsir yang sempit terhadap ajaran agama, kata Kalla, pun
> seringkali menjadi faktor pendorong yang memperparah
> konflik. Dalam sejumlah kasus, tokoh agama tidak bertindak
> sebagai jurudamai, sebaliknya menjadi pendorong utama
> kekerasaan dengan, antara lain, menjanjikan surga di akhirat
> bagi pemeluk agama yang mau melakukan kekerasan dan bahkan
> menghabisi hidup manusia lain yang kebetulan berbeda
> keyakinan. 
> 
> Adapun Obama meminta agar pemerintahannya, terutama Menteri
> Luar Negeri Hillary Rodham Clinton tidak melupakan Indonesia
> sebagai salah satu negara kunci dan negara penting di Asia.
> Itu pula sebabnya, Hillary Clinton segera mengajukan
> permohonan visa Indonesia ke KBRI di Washington DC segera
> setelah dirinya dilantik dan disumpah menjadi Menlu AS
> menggantikan Condoleezza Rice. 
> 
> "Eh, jangan lupa, Indonesia juga (harus
> dikunjungi)," kata Obama kepada Hillary saat dia dan
> Hillary tengah membahas rencana perjalanan Hillary ke Asia.
> Cerita mengenai hal ini juga disampaikan Joe Biden dalam
> pertemuan dengan Jusuf Kalla itu. 
> 
> Dengan arah baru politik luar negeri Amerika Serikat ini,
> dapat dipahami bila kemudian Obama memilih tema keberagaman
> agama dalam sambutannya pada National Prayer Breakfast kali
> ini. 
> 
> "Kita mengimani keyakinan yang berbeda. Kita terikat
> pada keyakinan mengapa kita di sini, dan akan kemana kita
> pergi. Sebagian dari kita memilih untuk tidak percaya sama
> sekali. Tetapi, apapun yang kita pilih untuk kita yakini,
> marilah kita semua mengingat bahwa tidak ada agama yang
> menjadikan kebencian sebagai inti dari ajarannya," ujar
> Obama. 
> 
> Obama yang lahir dan besar di Hawaii serta pernah
> menghabisi masa kanak-kanaknya di Indonesia ini berjanji
> bahwa pemerintahannya tidak akan menjadi alat kekuasaan bagi
> sekelompk penganut agama tertentu untuk menaklukan penganut
> agama lain. Juga tidak menjadi alat dari kelompok agama
> untuk mengalahkan kelompok sekular. 
> 
> Pada bagian lain dia juga bercerita tentang latar belakang
> agama keluarga yang membesarkannya. 
> 
> "Saya tidak dibesarkan di keluarga yang religius. Saya
> memiliki ayah yang dilahirkan sebagai orang Islam tapi
> kemudian menjadi atheis, kakek dan nenek yang tidak
> mempraktikan ajaran Methodist dan Baptist, dan ibu yang ragu
> terhadap agama yang diorganisir. Namun demikian, dia (ibu
> saya) adalah orang yang paling religius yang pernah saya
> tahu. Dia adalah orang yang mengajarkan kepada saya sejak
> saya kecil bahwa manusia harus mencintai sesama,"
> cerita Obama. 
> 
> Dia menambahkan dirinya baru menjadi penganut Kristen
> setelah pindah ke Chicago, Illinois. Dia memeluk agama
> Kristen bukan karena indoktrinasi atau tercerahkan secara
> tiba-tiba. Namun, kata Obama lagi, karena dia selama
> bertahun-tahun bekerja dengan organisasi gereja untuk
> membantu orang-orang kurang beruntung di sekitar
> lingkungannya, terlepas dari warna kulit mereka juga agama
> dan keyakinan mereka. 
> 
> "Hal itu terjadi di jalanan, di lingkungan yang kurang
> beruntung seperti itu, saat pertama kali spirit Tuhan
> menghampiri saya. Disitulah saya merasakan sesuatu yang saya
> sebut tujuan yang lebih tinggi, yakni tujuan Tuhan,"
> demikian Obama. [guh]
> 
> http://www.rakyatmerdeka.co.id/indexframe.php?url=situsberita/index.php?pilih=lihat_edisi_website&id=71106
> --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
> 


      

Kirim email ke