http://www.suarapembaruan.com/index.php?modul=news&detail=true&id=4334

2009-02-06 
Menyambut Hari Pers Nasional 2009, Loper dan Meningkatkan Minat Baca Bangsa


Laris Naibaho

Pada Loper's Day 2008 di Pantai Carnival Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta 
Utara, beberapa waktu lalu, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, ada dua hal 
yang pasti dilakukannya setiap pagi, yakni minum teh sajian istrinya dan 
membaca surat kabar. 

Katanya, "wartawan boleh hebat, surat kabar atau majalah boleh terkenal, dan 
percetakan boleh memiliki teknologi dan kualitas yang tinggi, tetapi tanpa 
dukungan dan peranan loper, surat kabar atau majalah itu tidak akan berarti 
apa-apa bagi pembacanya."

Ditilik dari peranan loper, yang menjadi jembatan pendistribusian media cetak 
dari penerbit ke pembaca, pernyataan itu ada benarnya. Sangat benar barangkali. 
Tapi, kemudian timbul pertanyaan, adakah semua itu menjadi penting jika pembaca 
media cetak sudah tidak ada?

Pembaca menjadi sangat penting, karena kalau tidak, peranan loper juga tidak 
berarti dan loper itu akan eksis jika pembaca masih ada atau jika pelanggan 
media cetak masih memadai. Sulit dibayangkan ke depan, apakah masih ada yang 
bersedia menjadi loper jika pembaca atau pelanggan terus merosot. Terus terang, 
jika loper adalah sebuah profesi maka pekerjaan itu haruslah bisa memberikan 
penghasilan bagi si loper untuk menghidupi dirinya dan keluarganya.

Sejak krisis moneter 1997, yang memerosotkan jumlah pelanggan, sebenarnya 
kehidupan loper sepertinya "hidup segan mati tak mau." Tidak seorang pun dari 
penganggur yang mencari pekerjaan untuk menjadi loper. Artinya, menjadi loper 
hanya menjadi pilihan kalau bidang lain, semisal lowongan pekerjaan di pabrik 
atau penjaga toko sudah tertutup.


Minat Baca 

Pada Loper's Day 2008, dikumandangkan Loper Berkarya, Rakyat Membaca. Ada yang 
diusung oleh kalimat ini, yakni mendorong setiap rakyat di negeri ini untuk 
membaca. Konon, rakyat negeri ini jauh tertinggal dari negara-negara lain di 
Asia, bahkan dari negara yang baru keluar dari cengkeraman AS, Vietnam. Padahal 
sudah menjadi hukum, Kecerdasan pastilah bergandengan tangan dengan kerajinan 
membaca dan sudah tentu jembatan pertama untuk itu adalah peranan media massa; 
surat kabar, majalah, tabloid, barulah setelah itu buku. 

Tapi, persoalannya, bagaimana mungkin minat baca bertumbuh atau berkembang, 
sebagaimana diinginkan oleh pemerintah, termasuk yang sering dikumandangkan 
oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, jika rakyat masih terbelit dengan 
kebutuhan primer dan harga media cetak terus naik, seakan-akan tidak kompromi 
dengan kebutuhan rakyat bahwa membaca itu penting?

Faktanya, setiap kenaikan tarif listrik, telepon, dan gas, pasti akan diikuti 
oleh naiknya harga sembako. Dan ketika itu terjadi, yang korban adalah media 
cetak, karena biasanya, pelanggan media cetak akan memutuskan untuk tidak 
membeli dan atau berlangganan media cetak. Bukankah informasi masih bisa 
didapat dari radio, televisi, dan atau internet sesuai kebutuhan?


Hapus Pajak

Menurunnya, daya beli masyarakat, khususnya yang berpenghasilan menengah ke 
bawah, tentu saja memusingkan penerbit, agen, dan terutama mungkin akan 
melenyapkan profesi loper. Kalau pelanggan terus menurun, akibatnya profesi 
loper terancam atau sebutlah bubar. Sebab, siapa pula yang mau jadi loper jika 
penghasilan tidak mencukupi? Maka, kalau itu terjadi, misi pemerintah 
meningkatkan minat baca bangsa tidak akan tercapai. Ujung-ujungnya jika budaya 
baca tidak tercipta, maka dapat dipastikan negeri ini akan semakin tertinggal. 

Oleh karena itu, rasanya pemerintah perlu turun tangan, atau bahkan bisa 
mengambil contoh yang dilakukan oleh India dan Inggris, yang menghapus segala 
macam pajak yang berkaitan dengan industri pers. Inggris, misalnya, sejak 1855 
sudah menghapus segala macam pajak yang berkaitan dengan industri media cetak. 
Tujuannya, agar para penerbit bisa mengalokasikan pajak tersebut untuk 
menyubsidi pembaca dan insentif untuk para agen media cetak agar bisa terus 
mengayomi loper. 

Kendati dapat dipastikan tidak akan ada seorang pun yang bercita-cita menjadi 
loper, namun ketika seseorang berada dalam keadaan sulit dan membutuhkan 
pekerjaan, paling tidak profesi ini bisa dijadikan pilihan sebagai batu 
loncatan. Buktinya, banyak petinggi di negeri ini yang ternyata mantan loper?


Penulis adalah loper dan Ketua Umum Yayasan Loper Indonesia (YLI)



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke