http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2009020723344816
Minggu, 8 Februari 2009
BURAS
Babilonisasi Bahasa Indonesia!
H. Bambang Eka Wijaya
"WALI Kota Bandar Lampung menerima penghargaan Pelopor PHK dari Menteri
Tenaga Kerja!" ujar Umar.
"Apakah sekarang rekor PHK--pemutusan hubungan kerja--juga diberi
penghargaan?" sambut Amir.
"Hayo.., terkecoh kan?" timpal Umar. "Bukan PHK pemutusan hubungan kerja,
tapi PHK singkatan dari pokoknya harus kerja! Itu istilah kreasi baru Menteri
Tenaga Kerja, sebagai nama program mengatasi gelombang besar PHK pemutusan
hubungan kerja akibat resesi global!"
"Konyol sekali! PHK itu singkatan standar pemutusan hubungan kerja dalam
bahasa Undonesia yang telah dipahami dan menjadi bahasa sehari-hari masyarakat
dan istilahnya telah terlembaga dalam bahasa hukum perundang-undangan, dipakai
dalam kontrak atau surat perjanjian kerja bersama untuk ribuan buruh dengan
perusahaan maupun perorangan! Kenapa istilah yang telah tegas dan jelas
maknanya itu harus dikacaukan oleh pejabat pemerintah hanya untuk mengaburkan
gejala yang bisa menjadi petunjuk wanprestasi sang pejabat?"
"Bahasa plesetan sekarang kan sudah lazim dalam lawakan, komedi, dan
parodi di televisi!" tegas Umar.
"Kalau mau jadi pelawak dengan bahasa plesetan, silakan jadi pelawak di
panggung ketoprak, bukan di kursi jabatan menteri!" tegas Amir. "Karena, usaha
Babilonisasi, pengacauan istilah bahasa standar, amat berbahaya! Sejarah
memberi contoh kisah menara Babilonia, di mana setiap kelompok warga membuat
istilah sendiri (prokem) dari bahasa standar mereka, berakibat bahasa kelompok
satu dan lainnya saling tak dipahami, menimbulkan konflik sosial berujung
perpecahan massif!"
"Contoh mutakhir dalam film Babel yang melukiskan bencana akibat
kekacauan bahasa!" timpal Umar. "Turis bule yang kena peluru nyasar penggembala
kambing jadi kacau di kawasan konflik Arab akibat tak saling memahami bahasa
dengan warga lokal! Di Jepang, generasi tua dan muda saling tak memahami
bahasanya, hingga si muda bunuh diri. Di Amerika, majikan Kaukasian saling tak
memahami bahasanya dengan pembantu imigran Meksikan, hingga dua anak majikan
hilang di savana tempat imigran gelap diburu seperti hewan!"
"Pokoknya, bahasa plesetan domain pelawak dan tempatnya di pentas
banyolan!" tegas Amir. "Sedang menteri, apalagi dalam pelaksanaan tugas
jabatannya wajib menggunakan istilah bahasa standar! Karena, tugas menteri
untuk menciptakan ketertiban dan ikut mencerdaskan bangsa, bukan menciptakan
kekacauan dan memperbodoh rakyat!"
"Tapi, kalau tujuannya memang untuk mengacaukan persepsi publik tentang
PHK--pemutusan hubungan kerja--yang dewasa ini nyaris setiap hari terjadi,
selain diberitakan malah nasib malang buruh kena PHK dijadikan laporan human
interest oleh televisi, bagaimana?" tukas Umar.
"Pengacauan persepsi publik itu tugas badan intelijen!" tegas Amir.
"Bukan tugas menteri tenaga kerja yang bahasanya harus standar dan lugas, tidak
samar dan bermakna ganda yang bisa menyusahkan buruh!"**
[Non-text portions of this message have been removed]