http://www.antara.co.id/arc/2009/2/6/obama-serang-republik-berargumen-palsu-dan-licik/

*Obama Serang Republik Berargumen Palsu dan Licik*


*Washington* (ANTARA News/AFP) - *Presiden Barack Obama* melancarkan
serangan tajam bergaya kampanye terhadap Partai Republik dan eks
pemerintahan Bush, Kamis waktu AS, dalam upaya meloloskan paket stimulusnya
yang bernilai 900 miliar dolas AS, melalui Kongres.

Di tengah debat yang terus memanas di Senat, Presiden menolak bantahan
Republik yang mengatakan paket stimulus ekonominya itu terlalu besar dan
mengandung disinsentif pajak yang tidak layak, dalam upaya mengubah
kemenangan politiknya pada pemilu lalu menjadi sebuah dominasi politik.

Obama melakukan debut pertamanya sebagai Presiden AS yang mengeluarkan
pernyataan dari pesawat kepresidenan Air Force One, dengan mengumpulkan
semua anggota DPR dari Demokrat di Virginia guna menyampaikan pidato paling
agresif dan partisan sejak dia mulai berkuasa bulan lalu.

Lewat serangan yang berapi-api terhadap Republik, Obama menyatakan bahwa
warga AS tidak memilih untuk mendukung teori-teori (ekonomi) yang salah di
masa lalu dan mereka juga tidak memilih argumen-argumen palsu dan licik.

"Rakyat tidak memilih status quo, mereka mengirimkan kami ke sini (Gedung
Putih) untuk membawa perubahan. Kami berutang pada rakyat untuk menyampaikan
(aspirasi) mereka," serang Obama dari sebuah resort di Williamsburg,
Virginia.

"Saat ini adalah masa bagi kepemimpinan untuk menjawab ujian terbesar dalam
sejarah kita."

Presiden juga menolak argumentasi Republik yang menyatakan paket stimulus
besar-besaran mesti ditolak karena akan memperbesar defisit APBN yang
sekarang sudah mencapai lebih dari satu triliuan dolar AS (Rp11.000
triliun).

"Saya melihat defisit ini karena saya menunjukkannya. Saya mendapatkan utang
negara yang berlipat-lipat itu dalam satu simpul besar yang menantikan saya
(untuk menanganinya) begitu saya melangkah memasuki Ruang Oval," kata Obama
dalam serangan verbal yang telak terhadap pemerintahan mantan Presiden
George W. Bush.

Sebelumnya Presiden menyatakan pada para anggota legislatif bahwa waktu
berdiskusi sudah habis di tengah gambaran muramnya angka pengangguran yang
dirilis Kamis dan diperkirakan semakin muram Jumat, yang menunjukkan begitu
parahnya krisis ekonomi terburuk sejak 1930an.

"Angka-angka yang sedang kita saksikan ini mengirimkan satu pesan yang tak
bisa diragukan, dan begitu pula rakyat Amerika melihatnya," kata Obama
bertepatan dengan upaya para senator mendapatkan rincian rancangan
undang-undang dari pemerintah yang berisi disinsentif pajak dan belanja
infrastruktur, dalam sebuah debat yang berubah menjadi tidak sehat.

"Waktu berbicara sudah habis, sekaranglah waktu untuk bertindak karena kita
tahu jika kita tidak bertindak maka situasi buruk akan secara dramatis
menjadi lebih buruk," kata Obama.

Begitu Senat menetapkan suaranya, kedua majelis dalam Kongres harus
menyepakatinya dan mendukung satu paket bersama, sebelum dikirimkan ke meja
presiden untuk ditandatangani menjadi undang-undang.

RUU ini disampaikan ke DPR minggu lalu, namun tanpa satu pun suara Republik,
sehingga meninggalkan lubang besar bagi rencana Obama membuat UU yang
bipartisan setelah partai beroposisi ini mengeluh bahwa mereka telah dicegah
mengikuti proses ligislasi itu.

Gambaran rilisan pemerintahan baru menunjukkan angka pengangguran di AS
melonjak hingga ke tingkat tertinggi sejak Oktober 1982 yang ditandai dengan
lebih banyaknya antrian pekerja dibanding masa manapun sejak data ekonomi
mengenai angkatan kerja itu dipublikasikan pada 1967.

Senator Illinois Richard Durbin, sekutu utama Presiden Obama, menyalahkan
Republik karena kekasaran yang ditimbulkannya seputar RUU itu di Capitol
Hill, namun menyatakan tidak mencemaskan kemunduran di awal masa ini bakal
mencederai kepresidenan temannya itu.

"Tidak ada yang bilang itu bakal mudah. Seperti telah disampaikan Presiden,
kebiasaan buruk itu sulit dihilangkan dan kami akan mengubah lingkungan,
iklim dan prilaku di kota ini (Kongres). Kami harus sabar dan melalui
beberapa masa sulit, " katanya kepada wartawan. (*)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke