http://web.bisnis.com/artikel/2id1942.html

Jumat, 06/02/2009 11:13 WIB

Ekspor beras, kebutuhan atau sekadar janji pemilu?
oleh : Sepudin Zuhri

Rencana ekspor beras tahun ini sepertinya akan segera terealisasi, kendati 
hanya untuk beras jenis premium dan super. Apalagi, Presiden Susilo Bambang 
Yudhoyono juga mengizinkan itu. 

Menurut Presiden, rencana ekspor beras harus dipertimbangkan secara matang 
mengenai jumlah, jenis, waktu dan tujuan negara dengan catatan setelah 
mencukupi kebutuhan dalam negeri. "Kalau sudah mencukupi dan ada peluang untuk 
ekspor jenis beras tertentu yang mendatangkan keuntungan ekonomi, silakan 
ekspor," ucapnya saat berkunjung ke Bulog, Rabu. 

Bulog pun, berdasarkan hitungannya, siap melakukan ekspor. Jumlah beras jenis 
premium dan super yang akan diekspor sekitar 10.000 ton per bulan dan hingga 
saat ini sudah ada 11 perusahaan swasta yang siap dengan stok 224.000 ton. 

"Kami sudah bicara di Menko, kira-kira jika sebanyak 100.000 ton per tahun 
tidak akan mengganggu [stabilisasi harga dan pasokan di dalam negeri]," ujar 
Dirut Perum Bulog Mustafa Abubakar. 

Dia menambahkan ekspor beras kualitas super dan medium penting untuk memberikan 
efek stimulasi kepada petani dan pedagang sehingga dapat memanfaatkan nilai 
komersial yang cukup tinggi. 

Adapun beras kualitas medium kemungkinan ekspornya sebesar 1-1,5 juta ton baru 
dapat dilakukan setelah angka ramalan (aram) III/2009 BPS diumumkan dan 
produksi beras meningkat 5%. 

Namun, pemerintah tetap harus berhati-hati dalam memutuskan ekspor terutama 
terkait dengan waktu dan jumlahnya. Misalkan, pemerintah memutuskan akan ekspor 
beras pada April tahun ini tentu harus mempertimbangkan apakah diprediksikan 
hingga akhir tahun stok beras dalam negeri akan tercukupi. 

Pertimbangan lainnya, apakah ada kepastian dengan mampu ekspor tahun ini, pada 
tahun depan tidak ada impor beras? Sebagai catatan, selama 2007, Indonesia 
mengimpor komoditas tersebut sebanyak 1,3 juta ton. 

Kemudian pada 2008, tidak ada lagi impor beras untuk kualitas medium, kendati 
masih ada impor beberapa jenis beras khusus yang memang dibolehkan. 

Namun, seberapa besar faktor-faktor yang memengaruhi untuk melakukan ekspor 
beras. Apakah rencana ekspor hanya janji-janji pemerintah menjelang pemilu, 
seperti yang diiklankan oleh partai politik? 

Pengamat ekonomi pertanian Khudori mengatakan rencana pemerintah akan 
mengekspor beras premium dan super sebesar 10.000 ton per bulan dan jenis 
medium sebesar 1 juta-1,5 juta ton tahun ini harus dikaji kembali mengingat 
data BPS mengenai surplus tidak akurat yakni lebih rendah 17% dari data di 
lapangan. 

Selain itu, katanya, ekspor beras hanya menguntungkan eksportir dan pemerintah 
dengan citra keberhasilan melakukan ekspor, sedangkan petani malah tidak 
mendapatkan keuntungan. 

"Data BPS tidak akurat. Mantan kepala BPS pernah mengatakan itu. Produksi beras 
menurut BPS lebih tinggi 17% dibandingkan dengan di lapangan," ujarnya. 

Pemerintah, katanya, harus memastikan keputusan ekspor jangan hanya sebagai 
kebijakan politis sehingga harus benar-benar surplus. 

Khudori menambahkan yang diuntungkan adalah eksportir dan pemerintah dengan 
citra keberhasilan pemerintah bukan petani yang diuntungkan. 

Berdasarkan data BPS angka ramalan (aram) 2008 mencatat produksi gabah sebanyak 
60,28 juta ton setara dengan 35,26 juta ton beras. Adapun konsumsi sebanyak 32 
juta ton beras sehingga surplus komoditas itu diperkirakan sebanyak 3,26 juta 
ton. 

      Tarif batas dan implementasi di WTO (%) 
      P r o d u k Tarif batas Tarif implementasi 
      Beras 9-160 Rp450/kg 
      Gula 40-95 Rp790/kg 
      Kedelai 30-40 0 
      Jagung 9-40 5 
      Daging sapi 40-50 5 
      Daging ayam 35-40 5 
      Susu 40-210 5 
      Jeruk 40-60 5 
      Kambing/Domba 40-50 5 
      Rata-rata 40 5 
Sumber : Berbagai sumber, diolah 

Stabilitas harga 

Selain rencana ekspor, keberhasilan Perum Bulog selama 2008 dalam menjaga 
stabilitas harga beras dan penyerapan mendapatkan apresiasi dari presiden. 

Hal ini karena kinerja Bulog selama 2008 yang mampu menyerap beras petani 
sebanyak 3,2 juta ton dan menjaga stabilitas harga beras sepanjang 2008. 

Selain itu, pemerintah juga memberikan keleluasaan kepada Bulog untuk menangani 
komoditas lain selain beras dan gula. Untuk waktu dekat sepertinya Bulog juga 
akan ikut menangani minyak goreng. 

Peran Perum Bulog akan semakin besar, jika pemerintah menugaskan kepada badan 
tersebut untuk menangani komoditas selain beras dan gula. Pemerintah dan Bulog 
masih membahas skema untuk ikut serta menjadi distributor minyak goreng guna 
menjaga stabilitas harga. 

Walau sudah mendapatkan apresiasi, perjalanan Bulog masih panjang. Semua pihak 
menunggu komitmen Mustafa untuk melakukan perubahan di Bulog agar tidak seperti 
yang dilakukan para pendahulunya. 

Selain itu, kemampuan Bulog dalam menyerap beras sebanyak 3,8 juta ton dan 
menjaga stabilitas harga beras sepanjang 2009 masih ditunggu realisasinya. 

Hal lainnya, berkaitan dengan tugas Bulog lainnya untuk menangani komoditas 
bahan pokok lainnya selain beras dan gula. Keberhasilan Bulog dalam pengadaan 
bahan pokok juga perlu memperhatikan besaran tarif bea masuk. (Lihat tabel) 
Mari kita tunggu! ([email protected]) 


bisnis.com


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke