http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2009020900571817
Senin, 9 Februari 2009
BURAS
Revitalisasi Pers Perjuangan!
H. Bambang Eka Wijaya
"TEMA Hari Pers Nasional 2009, Kemerdekaan pers dari dan untuk rakyat!"
ujar Umar. "Intinya, revitalisasi idealisme pers perjuangan, pers yang mengabdi
pada kepentingan rakyat!"
"Revitalisasi itu relevan dengan realitas pers nasional yang kian jauh
terbawa perkembangan zaman!" sambut Amir. "Gejala itu, pertama, pers cenderung
kuat berorientasi komersial akibat tuntutan pemenuhan biaya menghidupinya yang
juga terus tambah berat oleh kenaikan harga bahan baku terutama kertas--untuk
pers cetak! Ini bisa mendorong pers lebih mengutamakan komersialisme demi
bertahan hidup, hingga saat terjadi benturan dengan kepentingan rakyat, ada
pers mengutamakan kepentingan usahanya--mengorbankan kepentingan rakyat! Kedua,
demokratisasi era reformasi terbawa jauh oleh liberalisasi politik yang
terseret liberalisasi ekonomi, dengan arus globalnya yang determinatif! Dalam
liberalisasi berporos ekonomi itu, yang terkuat--terutama secara
modal--mendominasi proses dan selalu menang! Akibatnya, lagi-lagi rakyat yang
lemah, kalah dan dikorbankan!"
"Menghadapi dua arus zaman itu, apakah usaha revitalisasi pers perjuangan
tak seperti Don Kisot yang melawan arus zaman pada masanya, cuma jadi pahlawan
yang karena idealisemnya dikesankan konyol oleh sejarah?" tukas Umar.
"Jelas tak mudah!" timpal Amir. "Apalagi esensi pers yang melaporkan apa
adanya itu hanya cermin masyarakat! Sehingga, misalnya, untuk membuat rakyat
optimistis terhadap politisi, tentu harus menunjukkan kinerja para politisi di
parlemen yang memang kerja keras! Ternyata, saat sidang kursi anggota parlemen
banyak kosong, yang terisi banyak pula yang tidur! Dengan esensi sebagai
cermin, melaporkan apa adanya begitu, pers jadi tak bisa memantulkan gambar
kerja keras di parlemen, sekaligus tak mungkin membuat rakyat optimistis pada
kinerja para anggota parlemen!"
"Bukankah dengan melaporkan apa adanya itu pers telah menjalankan fungsi
kontrolnya pada parlemen, sekaligus keberpihakan pada rakyat yang dibhongi
politisi atas janji memperjuangkan nasib rakyat--padahal saat dibutuhkan
kehadirannya untuk itu malah absen atau tidur?" tukas Umar.
"Begitulah! Revitalisasi pers perjuangan harus dilakukan dengan
mempertajam kontrol pers terhadap perilaku dan tindakan kelompok dominan,
kelompok yang berkuasa atau kuat dalam hubungannya dengan kepentingan rakyat
dan kelompok lemah umumnya! Revitalisasi pers perjuangan hanya bisa dilakukan
dengan memperkuat orientasi profesi wartawan sebagai profesi profetik--berpihak
pada kaum lemah dan tertindas! Dengan semangat demikian, pers harus selalu
mencari keseimbangan idealisme dalam komersialisme dan liberalisasme! Teorinya
sulit dirumuskan, tapi seperti naik sepeda, dengan kiat tercapai keseimbangan!"
[Non-text portions of this message have been removed]