http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2009020823281229

      Senin, 9 Februari 2009 
     
      OPINI 
     
     
     
Pers Nasional dan Nasionalisme Pers 

      Launa

      Program Officer ALNI Indonesia; Peneliti pada Komunitas Pemberdayaan 
Masyarakat Jakarta (KPMJ)

      Bagaimana kita mendudukan sejarah pers nasional dalam konteks 
nasionalisme Indonesia? Benarkah pers nasional mengontribusi penting dalam 
pembentukan ideologi nasionalisme Indonesia? Amir Effendi Siregar (Pers 
Mahasiswa: Patah Tumbuh Hilang Berganti, 1983) dan Francois Raillon (Ideologi 
Mahasiswa Indonesia, 1992), dua pakar yang mengulas sejarah pertumbuhan pers 
mahasiswa Indonesia menunjukkan pencarian identitas nasionalisme tumbuh seiring 
dengan kehadiran pers nasional yang dikelola para mahasiswa dan tokoh-tokoh 
pergerakan, jauh sebelum Indonesia merdeka.

      Tesis bahwa rancang bangun nasionalisme Indonesia dididikan dari tradisi 
olah pikir yang cerdas dan bermutu bisa dilihat dari fakta sejarah bahwa 
seluruh tokoh kunci pergerakan yang berperan penting dalam pembentukan 
nasionalisme Indonesia juga adalah tokoh-tokoh pers ternama. Dimulai dengan Mas 
Tirto Adhi Suryo, perintis pers nasional dan pemimpin redaksi Medan Prijaji, 
yang terbit pertama kali di Bandung pada 1907.

      Berikutnya, H.O.S. Tjokroaminoto yang dikenal sebagai "guru pergerakan" 
adalah pemimpin redaksi Oetoesan Hindia dan Sinar Djawa yang banyak mengulas 
ide-ide dasar nasionalisme Indonesia. "Tiga Serangkai" (Douwes Dekker, Ki Hajar 
Dewantara, dan Dr. Tjipto Mangunkusumo) juga menukangi De Express, koran yang 
dikenal kritis terhadap kejahatan sistem kolonial.

      Sebelum berkonsentrasi ke dunia pendidikan (Taman Siswa), Ki Hadjar juga 
dikenal sebagai pemimpin redaksi Persatoean Hindia dan majalah Pemimpin. Dalam 
usia 18 tahun, Semaun sudah memimpin Sinar Djawa (kemudian berubah menjadi 
Sinar Hindia). Sementara itu, S.M. Kartosuwiryo adalah reporter dan redaktur 
iklan di harian Fadjar Asia.

      Selanjutnya, Ir. Soekarno adalah kolumnis sekaligus pemimpin redaksi 
Persatoean Indonesia dan Fikiran Ra'jat. Semasa studi di negeri Belanda, 
Mohammad Hatta adalah pemimpin redaksi majalah Indonesia Merdeka; media yang 
menjadi corong perjuangan Perhimpunan Indonesia (PI), organ mahasiswa Indonesia 
di negeri Belanda. Sepulang dari Belanda, Hatta (dibantu Sutan Sjahrir) 
mendirikan sekaligus menakhodai harian Daulat Ra'jat. Sementara itu, Amir 
Sjarifuddin adalah pemimpin redaksi Banteng, penerbitan yang dikelola Partindo.

      Pers (bersama institusi pendidikan dan partai politik) praktis menjadi 
arena perjuangan baru pemimpin Indonesia abad ke-20. Sebelumnya, skema 
perjuangan lebih didominasi perang dan adu pasukan di medan laga. Perjuangan 
abad ke-20 memasuki pergeseran signifikan yang oleh hadirnya sebuah etos baru: 
Merakit visi nasionalisme sekaligus menggugah patriotisme rakyat melalui jalan 
pers. Jalan nasionalisme Indonesia melalui pers menjadi semacam pembeda dengan 
jalan nasionalisme India yang ditempuh melalui pola hierarki kasta; jalan 
nasionalisme Rusia melalui metode konflik kelas; atau jalan nasionalisme 
Inggris yang hadir dari gilda dan pasar milik kaum borjuis.

      Keinginan para tokoh pergerakan Indonesia menggunakan jalan pers sebagai 
penebar benih-benih kesadaran dan pencerdasan rakyat tak bisa dilepaskan dari 
ikhtiar serius mereka untuk membangun demokrasi, keadilan sosial, dan 
penghargaan terhadap HAM. Periode itu seperti hendak menunjukkan sebelum kita 
sebagai bangsa sanggup merebut kemerdekaan dan mengelola kedaulatan politik, 
rakyat harus dididik untuk menghargai kemerdekaan berfikir dan menyampaikan 
pendapat sebagai bagian penting dari penghormataan atas hak-hak individual 
mereka sebagai warga negara.

      Di sini, jalan pers yang dipilih para tokoh pergerakan menjadi peneguh 
tradisi demokrasi rakyat (civil liberties) dalam sebuah peradaban politik 
kolonial.

      Jalan pers sesungguhnya adalah pilihan rasional (rational choice) tentang 
bagaimana sebuah kebudayaan politik dan tradisi demokrasi dibangun di negeri 
ini. Jalan pers adalah sebuah pentas aktivitas demokrasi paling elegan saat 
prinsip-prinsip dasar demokrasi (kebebasan, keadilan, persaudaraan, dan 
kemanusiaan) hadir bersamaan dengan proses pembentukan watak bangsa (nation and 
character building).

      Lalu, bagaimana dengan wajah pers nasional kita kini? Mengutip Agus 
Sudibyo (2008), jika pada masa Orde Baru, wajah pers dalam perspektif 
ekonomi-politik media, lebih terlihat sebagai perpanjangan tangan negara (state 
centrism), pasca-1998 institusi pers lebih terlihat dalam coraknya yang market 
centrism. Konsep market centrism berangkat dari asumsi bahwa era regulasi 
negara telah berakhir seiring tampilnya era regulasi pasar.

      Dalam perspektif ini, negara tak lagi menjadi faktor determinan dalam 
kehidupan media, tapi hukum pasarlah yang menjadi penentu karakter ruang publik 
media di Indonesia. Dengan kata lain, wajah pers dalam konteks dinamika 
ekonomi-politik media era reformasi lebih tepat disebut berwatak kolaboratif: 
Berciri market regulation sekaligus state regulation.

      Problemnya, berbagai tren dan kasus menunjukkan era "kebebasan pers" 
(free press) dalam sebuah konstruksi "pers industrial" (free market) ternyata 
tak mampu memfasilitasi berbagai aspirasi publik untuk berperan efektif dalam 
sebuah ruang media yang demokratis; di luar tarik-menarik kepentingan negara 
dan pasar.

      Dalam sebuah struktur ekonomi-politik otoriter, industri media sepenuhnya 
berada di bawah kendali negara. Negara akan berperan sentral dalam 
mendefinisikan apa yang menjadi "kepentingan publik", "masalah sosial", 
"tantangan nasional", "tuntutan pembangunan", dan jargon-jargon sejenis.

      Sementara itu, dalam sebuah struktur pasar yang liberal, pasarlah yang 
menjadi institusi dominan dalam mendefinisikan harapan dan aspirasi publik. 
Dengan kata lain, wacana atau isu publik (public concern) dalam struktur 
ekonomi-politik bercorak kuasi otoriter akan sepenuhnya dikendalikan daya-daya 
kekuatan negara dan pasar.

      Faktual, di era pers berwatak industrial kini, kita tak lagi bisa 
menemukan watak nasionalisme dalam wajah pers nasional. Mayoritas pers dan 
industri media penyiaran saat ini nyata telah terkontaminasi watak banal negara 
dan tabiat predatorik pasar. Pers, kini menghadapi kesulitan serius untuk 
bertahan dalam sebuah ruang idealisme di antara kepungan negara dan pasar.

      Peran pers, sebagai pilar demokrasi keempat, makin samar. Pers industrial 
tampaknya lebih enjoy hadir dalam wajahnya yang dilematis, dangkal, artifisial, 
sloganistis, dan demagog.
     



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke