http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2009020823281228
Senin, 9 Februari 2009
Bingung Memilih Pemimpin
Joko Mursitho
Kandidat Doktor Sosiologi Universitas Indonesia
Pemilu legislatif sudah di depan mata, rakyat dibingungkan dengan pameran
foto bintang-bintang calon legislatif baru. Para kandidat ini sebagian besar
belum dikenal masyarakat; sehingga mereka bertanya-tanya ini foto siapa,
anaknya siapa, sekolahnya di mana, dan yang lebih penting masyarakat bertanya
apa peran yang telah dilakukan dalam upaya mengangkat harkat dan martabat
masyarakat?
Pertanyaannya, apakah dengan lomba foto ini mereka akan menuai hasil yang
diharapkan? Apalagi mengingat slogan-slogan yang dikemukakan adalah mirip-mirip
hanya ganti kata, tetapi tidak ganti makna, yakni "berjuang untuk rakyat";
seakan-akan menjadi anggota legislatif adalah the only way to strive atau
satu-satunya cara untuk memperjuangkan nasib rakyat.
Bagaimana kalau niat berjuang untuk rakyat itu munculnya sejak dahulu?
Apakah ini ciri berjuang pada zaman modern? Sebagaimana yang dikatakan Simmel,
"Modernitas memberi keuntungan pada umat manusia. Modernitas sebagai 'epiphany'
dalam arti sebagai tanda kekuatan instrinsik manusia yang sebelumnya tidak
dijelmakan. Dengan demikian, para kandidat ini akan ber-epiphany--dengan cara
menakar kekuatan diri dengan melihat sampai di mana dukungan masyarakat
terhadapnya."
Modernitas selalu diikuti rasionalitas formal, menurut Weber, sehingga
manusia terkungkung kerangkeng besi rasionalitas sehingga sudah tidak bisa lagi
mengungkapkan humanis-nya yang paling mendasar. Dengan kata lain kalau
seseorang mengeluarkan tenaga, pikiran, dan harta sekian, dalam perhitungan
rasionalitasnya setelah tujuannya tercapai akan memperoleh modal simbolik
(gengsi, prestise, jabatan) setinggi sekian, dan harta sejumlah sekian. Inilah
rasionalitas formal.
Perhitungan semacam ini seluruh rakyat Indonesia pasti mengerti, walaupun
tidak bisa menghitungnya secara tepat. Kebingungannya adalah bagaimana ia dapat
memilih kandidat legislatif yang benar-benar iklhas memperjuangkan dirinya.
Penulis mencoba mengangkat kiat memilih pemimpin, menurut Ibnu Taimiyah,
yang sarat dengan nilai dan dapat dianut seluruh bangsa di dunia, yang tentu
saja bila diterapkan di negara Republik Indonesia rasanya pasti cocok.
Kiat memilih ini sangat sederhana hanya terdiri dari tiga kata, yakni
aslah, quwwah, dan amanah.
Pertama, seorang pemimpin harus dipilih dari yang aslah (paling layak dan
sesuai). Tentu saja ia adalah orang yang terbaik segala-galanya, di antara
semua orang yang ada di wilayahnya. Paling tinggi imannya di antara para calon
yang ada, paling baik moralnya di antara mereka, paling tinggi budi pekertinya,
paling tinggi ilmunya, dan paling luas wawasannya dalam mengatasi
masalah-masalah hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta yang
paling terampil memanage atau mengelola unit/wilayah yang dipimpinnya.
Kedua, apabila yang terbaik tersebut tidak diperoleh di antara mereka,
pilihlah kriteria yang di bawahnya, dan apabila hal tersebut juga tidak bisa
diperoleh, pilihlah yang setidak-tidaknya yang memiliki quwwah (otoritas) dan
amanah. Quwwah berarti memiliki kekuatan jasmani dan rohani, dia seorang
problem solver, seorang yang cerdas bisa memecahkan masalah-masalah yang
dihadapi masyarakat.
Sedangkan amanah, adalah bisa dipercaya, jujur, tulus dalam melaksanakan
tugas yang diemban atau diamanatkan kepadanya. Apa pun hambatan dan rintangan
yang dihadapi karena ia sudah sanggup menjalankannya, tetap akan menjalankannya
sepenuh tenaga dan sepenuh hati.
Bagi masyarakat pemilih harus dipahami sabda Rasulullah saw., "Barang
siapa yang mengangkat seseorang untuk mengurusi perkara kaum muslimin, lalu
mengangkat orang tersebut, sedangkan dia mendapatkan orang yang lebih baik dan
lebih layak serta lebih sesuai dari orang yang telah diangkatnya maka dia telah
berkhianat terhadap Allah dan Rasul-Nya." (Al-Hadis)
Berpijak dari Hadis ini kita tidak boleh sembarangan dalam memilih.
Apabila kita salah memilih orang, berarti dosa bagi diri kita, dan berakibat
berdosa pada masyarakat manakala pemimpin tersebut hanya mementingkan diri
sendiri dan merugikan masyarakat.
Oleh sebab itu, saya sarankan para kandidat yang berprestasi dan para
kandidat yang baik-baik, sebutkanlah Anda lulusan mana, amal apa yang telah
Anda lakukan selama ini, ibadah apa yang telah dilakukan sering di masjid, di
gereja, di wihara atau di kuil mana rasanya perlu dicantumkan dalam foto-foto
anda yang ada di jalan-jalan. Oleh sebab itu, menyebarkan riwayat hidup dalam
kampanye itu penting karena bagi masyarakat pemilih sebaiknya tahu Anda itu
siapa dan bagaimana.
Bagi para pemilih, saya harapkan lebih jeli dalam memilih, kalau perlu
selidikilah bagaimana kehidupan rumah-tangganya, berantakan atau tidak,
bagaimana prestasi anak-anaknya maju atau tidak? Kira-kira sama halnya kalau
kita akan memilih menantu atau memilih calon suami/istri. Logika sosialnya,
mana mungkin sesorang yang tidak bisa mendidik anaknya berani mencalonkan diri
sebagai seorang pemimpin yang nantinya akan mendidik masyarakat?
Masyarakat harus lebih waspada, jangan-jangan yang akan kita pilih adalah
seorang "preman" atau bahkan "penjahat kakap" yang menghalalkan segala cara
untuk mencapai tujuannya, yang setelah menjadi "pejabat atau anggota Dewan"
akan menjual aset-aset daerah atau memudahkan cara untuk menjual aset yang kita
miliki, ast-aset daerah yang menunjang hajat hidup masyarakat.
Kriteria kepemimpinan ini pada hakikatnya adalah criteria yang normatif
yang jelas-jelas lebih tinggi dibanding dengan kriteria kepemimpinan hasil
kajian ilmiah yang nomotetik (bebas nilai).
[Non-text portions of this message have been removed]